Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Cucu


__ADS_3

Pak Abidin, Gilang dan Ronald pun kini sudah ada di kantin rumah sakit, pak Abidin sengaja membawa mereka berdua biar mereka bisa bicara sesama pria tanpa ada gangguan.



"Thank,s ya bro, lo sudah menjaga Alina selama ini, gue sebagai laki-laki dan ayah dari anak-anak merasa iri dengan lo, gue melewatkan masa-masa Alina mengandung anak gue." ucap Gilang lalu menyeruput kopi yang di pesan nya.



"Sudah lah, anggap saja gue menebus semua kesalahan gue waktu itu, jujur gue sangat menyesal dengan apa yang telah gue lakukan kepada lo, hingga membuat persahabatan kita harus hancur hanya demi wanita matre." jawab Ronald.



"Bapak senang meliihat kalian sudah baikan seperti ini, walaupun bapak ngga tahu permasalahan kalian dengan jelas, bapak minta kalian ke depan nya lebih dewasa dalam mengambil sikap." ucap pak Abidin.



"Iya pak." jawab Ronald dan Gilang bersamaan.



Mereka bertiga pun terus berbincang dengan ditemani secangkir kopi dan beberapa cemilan.


*


*


"Kak, kita berdua izin ngga masuk sekolah ya? Kita ngantuk soal nya." ucap Nuri.


"Ya sudah, nanti kakak yang hubungi sekolah kalian, sekarang kalian istirahat saja." jawab Alina sambil memberikan ASI pada bayi perempuan nya, karena yang laki-laki sudah kenyang dan sekarang lagi di gendong oleh Dhea.



"Ya ampun, ini sudah pagi ya? Aku sampai lupa." ucap Suci sambil menepuk jidat nya.



"Kamu kenapa Ci?" tanya Dhea dan ALina bersamaan.



"Ibu sendirian dari semalam di kamar nya, kalau begitu saya pamit mau melihat ibu." ucap Suci sambil berdri.



"Ya sudah, kamu temani ibu mu dulu, nanti saya lihat ke ruangan, nanti saya hubungi kamu ya?" ucap dhea/



"Baik bu Dhea, bu Alina saya permisi dulu, dan selamat ya bu atas lahir nya si kembar." ucap Suci sambil tersneyum.



"Iya, sama-sama, saya juga makasih ya sama kamu yang sudah memberitahu Dhea." ucap Alina.



"Iya bu." jawab Suci lalu pergi meninggalkan ruangan ALina.



"Ci, tunggu." teriak Dhea dan membuat bayi laki-laki yang sedang di gendong nya menggeliat.



"Jangan teriak Dhea, nanti dia bangun." ucap Alina.



"Iya, aku lupa." jawab Dhea pelan.



"Iya bu, kenapa? tanya Suci yang kembali membalikan tubuh nya.


__ADS_1


"Ambil sebagian cemilan nya buat di ruangan ibu kamu, nanti buat di sini saya beli lagi." ucap Dhea.



"Ngga apa-apa bu, buat di sini saja." jawab Suci sopan.



"Udah Ci, ambil saja, di sini nanti kita beli lagi, dek kasih ke Suci sebagian." ucap Alina.



"Makasih bu, makasih semua nya." ucap Suci sambil menerima makanan yang di berikan Nura.



"Iya, semoga ibu kamu cepat sembuh ya?" ucap Alina.



"Aamin, makasih bu." jawab Suci lalu pergi meninggalkan ruangan Alina.



"Pagi semua nya?" ucap dokter Bela sambil masuk ke dalam ruangan.



"Pagi bu dokter." jawab mereka serentak.



"Gimana bu, ASI nya banyak tidak?" tanya dokter Bela sambil tersenyum dan menghampiri Alina dan kedua bayi nya.



"Alhamdulilah dok banyak." jawab Alina sambil melepas pu ting nya dari mulut mungil si kembar.




"Beneran dok?" ucap Alina dengan senyuman yang mengembang.



"Iya, tapi ibu harus menjaga pola makan ibu, makan makanan yang sehat dan banyak vitamin nya, ingat ya bu, jangan diet dulu, kasihan si kembar kalau ibu diet." ucap dokter Bela sambil memeriksa Alina dan ke dua bayi nya.



"Iya bu dokter." jawab Alina.



"Ah lucu sekali kalian ini, sudah di beri nama bu si kembar nya?" tanya dokter Bela.



"Belum bu, tapi saya memang sudah menyiapkan nama untuk mereka, tapi belum diskusi lagi sama ayah nya mereka." jawab Alina, Dokter Bela pun tersenyum mengerti.



"Si kembar sehat ya bu, dan ibu juga sudah ngga ada keluhan apa-apa, jadi ibu sudah bisa pulang sama si kembar hari ini juga." ucap dokter Bela sambil tersenyum.



"Terima kasih bu dokter." ucap Alina, dan di balas dengan angguk kan dan senyuman oleh dokter Bela.



"Sus, tolong lepas infus di tangan nya bu Alina, mereka sudah bisa pulang hari ini." ucap dokter Bela.



"Baik dok." jawab kedua suster yang mendampingi dokter Bela.

__ADS_1



"Baik saya tinggal ya bu, mau periksa ke ruangan lain nya, semoga ibu dan si kembar sehat selalu." ucap dokter Bela sambil tersenyum.



"Aamiin, makasih dokter." jawab Alina sambil tersenyum.



"Ya sudah bantu ibu beres-beres nak." ucap Bu Diah pada Nura dan Nuri.



"Baik bu." jawab Nura dan Nuri dengan setengah ngantuk.



"Kasihan kalian, gara-gara harus ngurusin kakak melahirkan, sampai belum tidur." ucap Alina sambil menatap adik kembar nya.



"Ngga apa-apa kak, walaupun kita ngantuk, tapi kita senang dengan si kembar." jawab Nura.



"Kalian juga kembar ya?" tanya Dhea yang baru sadar dengan kemiripan antara Nura dan Nuri.



"Kamu baru sadar Dhe?" tanya Alina sambil tersenyum.



"Sumpah yah, aku baru sadar, ternyata anak kamu kembar ada turunan kembar nya rupanya, ah aku bisa ngga ya melahirkan anak kembar." ucap Dhea.



"Berdo\*a saja supaya dikasih anak kembar." ucap bu Diah sambil membereskan barang-barang Alina dan si kembar.



Ponsel Dhea pun berdering, dengan sigap Dhea mengambil ponsel dan melihat siapa yang menghubungi nya.



"Mamah? Ya ampun aku sampai lupa ngga ngasih kabar sama mamah." ucap Dhea sambil menggulir icon warna hijau.



Alina yang mendengar kalau ibu nya Dhea yang menghubungi sedikit deg-deg gan, karena takut ngga di restui oleh orang kaya dan orang no satu di perusahaan nya dulu bekerja.



"Halo mah." sapa Dhea dengan sedikit meringis, karena mamah nya sudah bicara duluan dengan nada yang sedikit tinggi.



"Dek, kamu dimana? Pagi-pagi kamar sudah kosong, kakak kamu juga, kalian jangan macam-macam ya? Mamah ngga akan memaaf kan kalian berdua." ucap Bu Dewi dengan nada kesal nya.



"Maaf mah, Dhea lupa kasih kabar, mamah jangan marah-marah ini masih pagi lo mah." ucap Dhea sambil tersenyum dan manatap Alina.



"Gimana mamah ngga marah, kamu itu anak perempuan, jam segini sudah tidak ada di kamar, kamu tidur dimana? Apa kamu sama kakak kamu juga?" tanya bu Dewi.



"Iya mah, kakak sama adek, sudah lah mah jangan marah-marah terus, nanti kalau mamah marah-marah terus, kedua cucu mamah ngga akan betah tinggal sama nenek nya yang suka marah-marah." ucap Dhea,



"Cucu? Maksud kamu?" ucap bu Dewi yang belum paham dengan ucapan Dhea anak nya.

__ADS_1


__ADS_2