
"Bang, sana samperin kak Gilang mumpung selagi di samping pawang nya." ucap Dhea pelan.
Ronald pun menatap Dhea yang tersenyum dan mengangguk.
Ronald pun memberanikan diri dan menghampiri Gilang yang sedang duduk di samping nya Alina.
"Lang, sekali lagi gue minta maaf, dan untuk kejadian tadi, gue ngga bermaksud untuk merebut Alina dari lo, gue memang menyukai Alina, tapi Alina masih menunggu orang yang mencintai dan menyayangi nya." ucap Ronald sambil menunduk dan berdiri di hadapan Alina dan Gilang.
"Gue heran ya sama lo, kenapa sih lo selalu menyukai perempuan yang gue suka dan sangat gue sayangi?" tanya Gilang dengan suara sedikit tinggi, karena masih tersimpan api kemarahan pada hati nya.
"Sory Lang, gue ngga tahu kalau Alina ini orang yang sangat kamu cintai dan kamu sayangi, andaikan gue tahu dari awal, gue juga ngga bakalan deketin Alina." jawab Ronald.
Alina menatap Gilang yang hanya diam dan masih ngga mau menatap Ronald di depan nya.
Mereka yang sedang duduk di sofa yang ada di ruangan itu pun menatap ke arah Gilang dan Ronald, seakan-akan mereka lagi nonton drama ikan terbang.
"Kalau Rena dulu, dia lah yang pertama menggoda gue, dan gue tergoda oleh mulut manis nya, dan akhir nya gue terjerat dengan dia sampai gue di titik dimana gue hanya punya uang untuk pulang ke Indonesia." ucap Ronald.
"Oh, jadi ini masalah perempuan, kamu masih mengharap kan siapa tadi, Re, Rena ya mas?" tanya Alina sambil menatap wajah Gilang.
"Ngga, ngga ko Yang, aku sudah membuang nya jauh-jauh, aku sudah mengubur nya dalam-dalam nama perempuan itu matre itu." jawab Gilang.
"Kalau memang mas sudah benar-benar melupakan perempuan itu, terus kenapa mas masih menyimpan kebencian kepada kak Gilang?" tanya Alina.
"Sebenar nya mas juga sudah melupakan semua nya, mas juga sudah mau mencoba memaafkan dia, tapi dia berusaha mendekati kamu, jadi emosi mas datang lagi." jawab Gilang sambil melirik kearah Ronald.
Semua yang mendengar pun tersenyum atas pengakuan Gilang, karena tanpa di sadari Gilang telah mangakui nya kalau dirinya sedang cemburu pada Ronald.
"Apa mas cemburu kalau aku dekat dengan kak Ronald?" tanya Alina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ngga, siapa yang cemburu, aku cuma ngga mau saja dia selalu dekat dengan wanita yang selalu ku sayang." jawab Gilang.
"Mas, dengar kan aku, kalau aku niat untuk ninggalin kamu dan hidup dengan orang lain, sudah aku lakukan dari awal aku pergi dari kamu, tapi hati aku ini tidak bisa di bohongi, kalau aku masih menyayangi dan mencintai kamu, meski kamu sudah membohongi aku." ucap Alina sambil mengelus lembut tangan Gilang.
Begitu terharu dan adem nya hati Gilang mendengar penuturan dari Alina.
"Makasih Yang, kamu sudah mau menjaga hati kamu untuk ku, aku janji akan secepat nya menikahi kamu." ucap Gilang sambi meremas kedua tangan Alina.
"Aku akan menerima lamaran kamu, jika kamu sudah baikan dengan kak Ronald, walau bagaimana pun kak Ronald sudah aku anggap seperti kakak ku sendiri, dan dia juga yang selalu menjaga aku selama ini." ucap Alina.
Gilang pun terdiam lalu menatap Ronald dengan tatapan tajam nya, mereka yang melihat pun sedikit tegang melihat nya.
"Ya sudah gue maafin lo." ucap Gilang sambil menatap Ronald.
"Mas, meminta dan memberi maaf itu harus ikhlas, masa maafin orang udah kayak ngajak berantem." ucap Alina.
"Gilang pun berdiri menatap Ronald di depan nya, lalu tiba-tiba memukul pelan perut Ronald membuat mereka semua kaget.
"Gue sudah maafin lo, tapi jangan sekali-kali lo merebut ibu dari anak-anak gue, gue ngga akan melepaskan lo." ucap Gilang sambil memeluk Ronald.
Ronald pun menerima pelukan dari sahabat nya itu sambil berbisik, "Gue ngga akan merebut Alina dari lo, tapi kalau lo buat Alina menderita, gue orang pertama yang akan membawa nya pergi dari hidup lo."
Semua yang menyaksikan pun tersenyum lega melihat mereka sudah saling memaaf kan satu sama lain nya.
"Nah gitu dong, itu baru kakak dan abang Dhea." ucap Dhea yang lupa kalau dirinya pun belum jujur dengan status nya kepada Alina.
"Dhe, kamu hutang penjelasan sama aku." ucap Alina sambil menatap Dhea.
Dhea pun berdiri dari duduk nya lalu menghampiri dan memeluk ALina.
__ADS_1
"Selamat ya Lin, kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu, ah aku kangen kamu, kenapa kamu ngga kasih kabar ma aku?" ucap Dhea sambil memeluk Alina.
Alina hanya diam dalam pelukan Dhea, dia sendiri juga kangen sebenar nya, tapi dia ingin mengerjai Dhea sedikit karena sudah menutupi identitas nya.
"Lin, kamu kok diam saja, kamu marah ya sama aku? Maaf pin aku ya Lin, aku tahu kalau aku salah sudah menyembunyikan identitas ku, tapi kan kalau aku ngga menyembunyikan identitas ku, ngga bakalan ada drama seperti ini, kasihan pembaca masa baru dua puluh episode sudah end." ucap Dhea sambil tersenyum imut.
"Dan kamu tahu ngga LIn? di sini tuh ngga ada yang salah sebenar nya, yang salah itu si momy yang sudah nulis kisah kita menjadi rumit seperti ini." Dhea pun melanjutkan bicaranya hingga membuat Alina tidak tahan untuk tertawa.
"Kamu ini Dhe, ada-ada saja, ya sudah aku juga sudah memaaf kan kamu kok." ucap Alina sambil memeluk erat Dhea.
Sungguh indah saling memaaf kan, hidup tenang dan tentram, aku juga minta maaf ya readers, telah membuat kalian emosi dan kesal baca nya.
"Alhamdulilah." ucap semua yang ada di ruangan itu sambil tersenyum bahagia.
"Permisi, maaf mengganggu, adik kembar nya sudah waktu nya minum ASI." ucap dua suster yang masing-masing menggendong satu bayi Alina.
"Ah anak ayah haus yah?" ucap Ronald dengan antusias.
"Dia anak gue bukan anak lo, ingat itu." teriak Gilang sambil menatap tajam Ronald.
"Kalian berdua adalah ayah nya, no debat." ucap Alina sambil menggendong bayi laki-laki nya.
"Kok gitu sih Yang." Gilang pun protes.
"Mas, debat nya nanti saja, sekarang semua nya keluar dulu, karena aku mau ngasih ASI sama si kembar." ucap Alina.
Ronald pun merasa bahagia mendengar kalau dirinya pun ayah dari si kembar.
"Ya sudah yang laki-laki keluar semua nya, biarkan kami peri-peri cantik yang bersama si kembar." Dhea pun mengusir Gilang dan Ronald.
__ADS_1