
"Bayi pertama? Berarti ada bayi kedua dong?" gumam Gilang.
"Sus, tolong pegang dulu bayi nya." ucap dokter Bela sambil menyerahkan bayi laki-laki itu pada suster.
Alina pun kembali merasakan sakit di perut nya.
"Ah, mas sakit, aku mengandung mereka selama sembilan bulan, tapi kamu malah senang-senang dengan sahabat aku sendiri, aku bersumpah aku tidak akan memaafkan kamu." teriak Alina sambil terus menjambak, memukul dan mencakar Gilang.
Gilang hanya diam pasrah di perlakukan kasar oleh Alina, dia menerima semua nya karena dia memang salah sudah membohongi Alina.
Kedua suster yang mendampingi dokter Bela hanya tersenyum melihat kelakuan ALina kepada Gilang.
"Memang yang mau melahirkan beda-beda dan seru-seru ya?" bisik salah satu suster kepada rekan nya.
"Syut, diam ntar kedengaran, kita di tegur." jawab rekan nya sambil berbisik kembali.
Alina terus-terusan meluapkan amarah yang dia pendam selama ini sambil terus memukuli Gilang hingga terlahir lah anak ke dua mereka.
"Oak, oek ,oek." suara bayi perempuan terdengar nyaring di telinga mereka.
"Alhamdulilah, cucu-cucu kita sudah lahir pak." teriak bu Diah sambil memeluk suami nya.
"Nur, keponakan kembar kita sudah lahir Nur." teriak Nuri sambil memeluk saudara kembar nya.
"Anak-anak kalian sudah lahir, apa kamu akan menikah dengan ayah nya anak-anak LIn?" gumam bathin Ronald.
"Alhamdulilah bu anak kedua berjenis kelamin perempuan telah lahir, dia sangat cantik sekali seperti ibu nya." ucap dokter bela sambil tersenyum.
"Sus tolong telungkupkan kedua bayi ini di atas dada ibu nya." ucap dokter Bela.
Sementara kedua bayi itu sedang berada di atas dada nya Alina, dokter Bela membersihkan jalan lahir nya Alina.
"Pak, bu, ini harus sedikit di jahit nya karena robek." ucap dokter Bela.
__ADS_1
"Kalau di jahit nanti gimana dok?" tanya Gilang.
"Tenang pak, saya sisa in buat bapak memproduksi lagi." jawab dokter Bela sambil tersenyum.
"Ngapain nanya seperti itu, memang nya aku masih mau produksi sama kamu?" tanya Alina pelan.
"Sudah lah Yang, jangan marah lagi, maaf kan aku ya? Kita rawat dan didik mereka sama-sama, aku janji aku akan selalu jujur sama kamu, aku ngga akan menyimpan kebohongan lagi sama kamu." ucap Gilang sambil menyentuh tangan Alina.
"Lihat anak-anak kita, lucu ya Yang, dia tampan mirip aku dan yang perempuan cantik seperti kamu." ucap Gilang sambil menatap kedua anak nya.
Alina merasa terenyuh hati nya mendengar ucapan Gilang seperti itu, tapi dia diam saja karena masih kesal dengan Gilang.
"Terus Dhea mau kamu kemana in?" tanya Alina dengan ketus.
"Sudah selesai, saya sisain kok pak buat bapak sedikit." ucap dokter Bela.
"Terima kasih bu dokter." jawab Gilang sambil tersenyum.
"Sus tolong sekarang bersih kan bayi-bayi nya dan nanti pindahin ibu nya ke ruang perawatan." ucap dokter Bela sambil membereskan alat-alat yang sudah dia gunakan.
Gilang pun mengumandangkan adzan dan iqomah buat kedua anak nya sambil menitik kan air mata nya.
Kini Alina pun sudah berada di ruang rawat inap, sedangkan bayi nya berada di ruang khusus bayi.
Semua anggota keluarga Alina termasuk Ronald kini sedang berada di ruang bayi, mereka sudah ngga sabar ingin menggendong nya.
Sedangkan di ruang rawat inap kini hanya ada Gilang dan Alina saja.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi mas.." ucap ALina sambil menatap tajam Gilang.
"Pertanyaan yang mana Yang?" tanya Gilang dengan kening yang berkerut.
"Kalau kamu ingin menjaga dan mendidik mereka, terus Dhea mau kamu kemana in?" kembali Alina memberikan pertanyaan yang sama seperti sebelum nya.
__ADS_1
"Dhea akan tetap di hati aku Yang, ngga bisa aku membuang Dhea dari hati aku, kita akan merawat si kembar sama-sama." jawab Gilang sambil tersenyum, dia ingin menguji Alina, apakah Alina masih mencintai nya atau tidak.
"Breng sek kamu mas, aku ngga sudi di madu, lebih baik kamu pergi dari hadapan ku dan jauhi anak-anak ku, lebih baik dia mencari pengganti ayah nya dari pada harus bersama kamu yang sudah melibatkan sahabat aku di kehidupan kita." teriak Alina sambil terus memukul Gilang dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Siapa yang mau madu kamu? Selama ini aku selalu mencari dan menunggu kedatangan kamu" tanya Gilang sambil memegang tangan Alina lalu mencium nya dengan penuh kerinduan.
"Lepaskan tanganku, aku ngga sudi di sentuh kamu yang sudah di sentuh oleh sahabat ku sendiri." teriak Alina.
"Sahabat kamu itu adalah aunty nya anak-anak, Dhea adalah adik kandung ku sendiri? Apa mungkin dia akan menjadi madu mu?" ucap Gilang sambil menatap penuh kerinduan kepada Alina.
"Jadi? Dhea itu?" tanya Alina, sungguh Alina kaget mendengar penuturan Gilang.
"Ya, Dhea adalah adik kandung ku satu-satu nya, berarti kamu masih mencintai aku dong Yang?" tanya Gilang sambil memainkan kedua alis nya.
"Siapa bilang." jawab Alina sambil memalingkan wajah nya ke arah samping.
"Buktinya tadi kamu cemburu sama Dhea." jawab Gilang sambil tersenyum, sungguh hati Gilang sangat bahagia sekali melihat Alina yang sedang cemburu.
"Siapa juga yang cemburu." jawab Dhea dengan muka yang sedikit merah.
"Oh, jadi kamu ngga cemburu? Kamu mau jadi pembohong juga ya? Bukan kah kamu benci pembohong ya?" tanya Gilang sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Iya, aku cemburu, karena selama ini aku masih mengharapkan kamu dan aku masih mencintai kamu." ucap Alina sambil menatap ke arah Gilang.
"Berarti si kembar anak-anak kita dong Yang?" sungguh pertanyaan konyol yang keluar dari mulut nya Gilang.
"Menurut mas, mereka anak siapa? Bukan kah malam itu aku memberikan semua nya kepada kamu mas? Jadi kamu meragukan nya?" tanya Alina dengan nada sedikit tinggi karena kesal dengan Gilang yang sudah meragukan anak-anak nya.
"Tidak Yang, aku tidak meragukan nya, aku hanya ingin memastikan nya saja, biar tidak ada salah paham lagi ke depan nya." jawab Gilang lalu mencium lembut kening Alina.
Alina pun terdiam dan memejamkan mata nya merasakan sentuhan bibir Gilang yang selama ini dia rindukan.
"Aku ke toilet dulu ya Yang." ucap Gilang sambil melepaskan genggaman nya, Alina pun hanya mengangguk.
__ADS_1
Alina menatap punggung orang yang selalu ada di hati nya, "Kamu masih seperti dulu mas, ngga berubah." gumam bathin Alina dengan sedikit senyuman di bibir nya.