Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Mencintai Dari Jauh


__ADS_3

"Aduh, maaf pak Gilang saya ngga sengaja, tadi kaki saya terkilir." ucap Desi yang memang pura-pura terjatuh.



"Ah wangi benar tubuh pak Gilang ini, jangan di lepas ya pak pelukan nya, aku nyaman soal nya." gumam bathin Desi dengan tangan memegang bahu Gilang.



Setelah Gilang sadar kalau yang dia peluk Desi, Gilang pun langsung melepaskan nya dan membuat Desi terjatuh ke lantai.



"Aduh pak, bapak kok tega banget sih." ucap Desi dengan nada manja.



"Jangan curi-curi kesempatan kamu, saya tahu akal busuk kamu itu." ucap Gilang lalu pergi meninggalkan Desi yang masih terduduk di lantai.



"Breng sek, kenapa susah sih menaklukan hati dia, andai aku tahu kalau dia itu CEO di perusahaan ini, mungkin pas dia meminta aku menjadi pacar nya pas dia pura-pura jadi OB tidak akan aku sia-sia kan, ah sial, sial." gumam bathin Desi sambil memukul-mukul lantai.



Karena Desi lagi emosi, tanpa sadar Desi memukul lantai dengan keras hingga membuat Desi pun teriak kesakitan.



"Aw, lantai sialan, tangan aku jadi sakit." teriak Desi lalu berdiri dan kembali ke ruangan nya.



"Dasar wanita sombong dan matre, aku ngga akan tertipu sama tipu muslihat kamu, tipuan kamu pasaran, andaikan kinerja dia jelek aku sudah meminta papah untuk memecat nya, tapi kerja nya bagus dan di siplin, hanya ganjen saja, aku tidak boleh egois memecat nya hanya karena dia ganjen, tapi kalau sikap nya sudah keterlaluan aku tidak akan kasih dia kesempatan lagi, yang penting aku harus kuat dan selalu setia sama Alina, ah jadi kangen." gumam Gilang sambil membuka pintu ruangan nya.


*


*


Kini jam pulang para karyawan pun sudah tiba, semua karyawan sudah siap-siap untuk meninggalkan tempat nya bekerja.


"Ret, tunggu di taman jangan lupa Suci nya diajak." bisik Irman pada Retno.



"Ya iya lah diajak kan target kamu dia." jawab Rettno pelan.



"Kalian ngapain bisik-bisik, lo lupa ya Man, kalau dia itu calon istri gue." ucap Hendra yang cemburu melihat Retno dan Irman.



"Gue ingat benar kok kalau Retno ini calon istri lo, jadi lo santai aja, gue bukan tipe pagar makan tanaman." ucap Irman.



"Ya elo memang bukan pagar makan tanaman, tapi lo adalah tipe kura-kura yang ngga ada nyali." jawab Hendra.



"Kok kura-kura?" tanya Retno.



"Ya kan kura-kura jalan nya ngesod, lambat, seperti dia yang lambat untuk mengungkapkan perasaan nya, keduluan orang saja nanti dia prustai lalu bunuh diri." jawab Hendra.



"Rese lu Hen." teriak Irman sambil melempar Hendra dengan lap kanebo yang ada di meja, Retno dan Hendra pun tertawa puas.



"Ret ayo kita pulang." ajak Suci yang baru masuk ke pantry.


__ADS_1


"Ayo, tapi temenin aku dulu sebentar ya." ucap Retno.



"Temenin kemana?" tanya Suci.



"Sudah nanti juga kamu tahu, ayo kita pulang." jawab Retno sambil menarik tangan nya Suci.



"Terus aku gimana Yang?" teriak Hendra.



"Pulang sendiri aja." jawab Retno sambil terus berjalan keluar dari pantry.


*


*


Kini Retno dan Suci sudah berada di taman, mereka berdua duduk sambil melihat para karyawan yang keluar dari tempat nya bekerja.


"Kita ngapain sih mesti duduk di sini dulu? Mendingan kita langsung pulang dan istirahat." tanya Suci.



"Ini juga kan kita lagi istirahat, ngga kerja." jawab Retno.



"Maksud aku kalau kita sudah pulang kita bisa rebahan manja Markonah." ucap Suci dengan nada kesal.



Retno pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dari Suci.



"Kak ini ada yang titip bunga untuk kakak." ucap seorang anak sambil memberikan setangkai bunga mawar untuk Suci.




"Ngga tahu, tadi kakak nya cuma bilang, tolong kasihkan bunga ini untuk tante yang pake baju warna pink yang lagi duduk." jawab anak yang memberikan bunga.



Suci pun melihat ke sekitaran taman, dan hanya dia yang pakai baju warna pink sambil duduk.



"Makasih ya dek, dan juga tolong sampaikan sama kakak yang nyuruh nya makasih gitu ya." ucap Suci.



"Iya kak." jawab anak itu lalu pergi meninggalkan Suci dan Retno.



"Siapa ya Ret yang kasih aku bunga? Baru kali ini aku ada yang ngasih bunga seperi ini." ucap Suci.



"Mungkin pengagum rahasia kamu Ci." jawab Retno sambil menahan senyuman nya.



"Pintar juga kamu Man." gumam bathin Retno yang mengira kalau itu adalah bunga dari Irman.



"Ah, siapa pula yang mengagumi aku secara sembunyi-sembunyi." ucap Suci.

__ADS_1



"Aku yang mengagumi kamu, bagaimana dengan bunga nya? Apa kamu suka?" terdengar suara seorang pria dari belakang mereka.



"Putra." teriak Suci dan Retno kaget.



Putra hanya tersenyum sambil menatap wajah kaget mereka berdua.



"Jadi kamu yang ngasih bunga ini?" tanya Suci dan Retno bersamaan.



"Ya, aku sengaja membeli bunga itu untuk kamu, untuk wanita yang spesial dihati aku." jawab Putra sambil tersenyum.



Irman yang sudah siap untuk mengungkapkan semua perasaan nya tersenyum sambil berjalan menuju taman dengan bunga di tangan nya.



Sepanjang dia berjalan, Irman terus bersiul sambil terus memandang bunga yang sengaja dia beli untuk dia berikan kepada Suci wanita yang dia suka dari dulu.



Semakin dekat Irman berjalan semakin hilang siulan yang dia dendangkan sejak tadi begitu Irman melihat seorang pria yang sedang berbicara dengan Suci.



"Siapa pria itu? Apa pria itu yang menjadi pria idaman nya Suci." gumam bathin Irman yang belum melihat wajah Putra.



"Apapun yang terjadi pokok nya gue harus mengungkapkan nya hari ini juga, apa yang terjadi ke depan nya itu urusan nanti.



Setelah meyakinkan hati nya, Irman pun melanjutkan langkah nya menghampiri Suci.



"Suci." panggil Irman dengan jelas.



Suci, Retno dan Putra pun spontan membalikan tubuh nya dan melihat ke arah Irman yang baru datang dengan bunga ditangan nya.



"Irman."gumam Suci dan Putra, sedangkan Retno yang sudah tahu akan hadir nya Irman hanya diam.



"Oh elo Put, gue kira siapa." ucap Irman sambil tersenyum yang di paksakan.



"Ada apa Man?" tanya Putra sambil menatap Irman.



"Ngga ada apa-apa Put, cuma gue ada sedikit keperluan saja sama Suci." jawab Irman.



"Oh silahkan, tapi jangan lama-lama ya Man." ucap Putra.



"Sebelum nya aku minta maaf telah mengganggu waktu kalian di sini, tapi aku kesini hanya untuk bicara jujur sama kamu Ci, sebenar nya dah lama aku menyimpan rasa untuk kamu, tapi seperti nya perasaan aku sama kamu salah, karena kamu sudah ada orang yang akan selalu menjaga kamu." ucap Irman sambil melirik kearah Putra.

__ADS_1



"Ini bunga untuk kamu, maaf aku sudah menggangu kalian, selamat berbahagia ya Ci, aku hanya bisa mencintai kamu dari jauh, aku bahagia bila kamu juga bahagia." ucap Irman lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.


__ADS_2