Ternyata Suamiku Seorang CEO

Ternyata Suamiku Seorang CEO
Berbeda


__ADS_3

"Kak Ronald." teriak Nazwa begitu melihat Ronald keluar dari mini market ya.



Risma pun membalikan tubuh nya begitu mendengar Nazwa memanggil Ronald.



"Iya Wa, kenapa? Tumben kamu nongkrong di sini?" Tanya Ronald sambil celingukan.



"Nyari siapa Kak?" tanya Nazwa sambil ikut melihat ke kiri dan ke kanan.



"Lagi nyari tukang rujak yang biasa mangkal di sini." ucap Ronald.



Risma dan Nazwa pun saling menatap heran, tumben amat Ronald beli rujak, setahu mereka Ronald ngga suka pedas.



"Itu kak tukang rujak nya, baru sampai." ucap Risma sambil menunjuk tukang rujak.



"Oh iya, makasih Ris." ucap Ronald lalu menghampiri tukang rujak dan meninggalkan Nazwa dan Risma yang sedang menatap nya.



"Kok tumben ya, kak Ronald beli rujak, padahal waktu itu kita pernah beli rujak, kak Ronald dengan jelas menolak nya karena ngga suka pedas." ucap Nazwa.



"Aku saja heran Wa, apa jangan-jangan," ucap Risma menggantung kalimat nya.



"Jangan-jangan apa Ris? kamu itu kalau ngomong selalu saja bikin orang penasaran." tanya Nazwa.



"Apa mungkin wanita itu pacar nya kak Ronald? Kak Ronald kok perhatian banget sama tuh cewek, baru kali ini aku melihat kak Ronald rela membelikan sesuatu buat seorang perempuan,sama kita aja ngga pernah seperti itu." jawab Risma.



Nazwa pun hanya diam sambil terus memandang ke arah Ronald yang sedang membeli rujak



"Kakak masuk dulu ya." ucap Ronald sambil menenteng rujak di tangan nya.



Nazwa dan Risma hanya mengangguk sambil tersenyum terpaksa.



"Kak Ronald memang berbeda sekarang." gumam Nazwa yang masih bisa di dengar oleh Risma.



"Gimana kalau kita pantau terus wanita itu, apa jangan-jangan rumah wanita itu yang semalam kak Ronald kunjungi ya?' ucap Risma.



"Sudah lah Ris, aku mau pulang saja." ucap Nazwa sambil berdiri dengan mata yang sudah berkaca-kaca.



Risma tahu kalau Nazwa sedang sedih, jadi dia pun membiarkan Nazwa pergi.



"Aku akan mencari tahu tentang mereka Wa, kamu tenang saja." gumam bathin Risma sambil menatap kepergian Nazwa sahabat nya.


*


*

__ADS_1


"Lin, ini rujak nya." ucap Ronald sambil memberikan rujak pesanan Alina.


"Wah, makasih ya kak." ucap Alina sambil mengambil rujak dan melahap nya.



"Enak ya? Ucap Ronald sambil tersenyum, Ronald terlihat bahagia melihat Alina makan rujak dengan lahap.



"Andaikan kamu mau membalas perasaan kakak, kakak akan selalu menjaga kamu, lebih dari ini, kakak ngga akan membiarkan kamu untuk menanggung beban kamu sendirian, berbagilah bersama kakak Lin." gumam bathin Ronald sambil menatap Alina yang sedang menikmati rujak nya.



"Kakak mau?" tanya Alina.



"Ngga, kakak ngga suka pedas, kamu makan aja sendiri, biar anak-anak kamu bahagia keinginan nya tercapai." jawab Ronald.



Alina pun terus menyantap rujak nya hingga habis tak bersisa.



"Kak, tubuh ku sudah segar lagi, jadi aku mau lanjut kerja lagi." ucap Alina sambil berdiri.



"Yakin kamu udah enakan?" kembali Ronald bertanya untuk meyakinkan.



"Udah kak, berkat rujak ini, makasih ya kak." jawab Alina.



"Ya sudah kalau kamu udah merasa baikan, tapi jangan di paksakan kalau kamu nanti pusing lagi." ucap Ronald.



"Siap pak bos." jawab Alina sambil mengangkat tangan nya untuk hormat pada Ronald.



*


*


Sore hari waktu nya Alina pulang, dia tidak di izinkan untuk sip malam seperti karyawan lain nya, karena Ronald ngga mau Alina sakit.


Sebagian karyawan memang ada yang iri pada Alina, tapi mereka hanya bisa bicara dalam hati dan di belakang Alina dan Ronald.



Mereka ngga mau di pecat dari kerjaan nya, karena menurut mereka mencari kerja itu susah, dan kerja di mini market Ronald enak dan sudah membuat mereka nyaman.



Seperti biasa nya ALina pulang dengan jalan kaki karena jarak yang tidak terlalu jauh dengan mini market Ronald,



Ronald tidak bisa menemani Alina pulang karena dia lagi membuka cabang mini market di daerah lain nya.



Sesekali Alina melirik ke belakang, entah kenapa sore ini dia merasa ada yang mengikuti nya.



"Perasaan ada yang mengikuti deh, tapi kok ngga ada siapa-siapa ya? Apa mungkin cuma perasaan aku saja ya?" gumam bathin Alina sambil sesekali melirik ke belakang.



"Sudah lah mungkin hanya perasaan aku saja." ucap Alina sambil terus melanjutkan langkah nya.



Alina pun masuk ke dalam rumah, dan sekali lagi dia melirik ke arah belakang lalu menutup pintu rapat-rapat.

__ADS_1



"Benar kan dugaan aku, kalau semalam kak Ronald dari rumah cewek ini." gumam Risma.



Ya, Risma memutuskan untuk mengikuti Alina sepulang bekerja, karena Risma penasaran dengan sosok yang sedang dekat dengan Ronald, cowok yang di taksir oleh sahabat nya.


*


*


Hari ini Gilang membuat orang sekitar nya pusing dengan semua kemauan nya yang harus selalu di turuti.


"Hendra, tolong belikan saya pecel lele sekarang juga." perintah Gilang kepada Hendra.



Hendra hanya bisa melongo bingung, karena siang-siang begini dimana ada yang jual pecel lele.



"Hen, kamu dengar tidak saya bicara." teriak Gilang.



"Iya pak, saya dengar pak, tapi saya bingung beli nya dimana?" jawab Hendra.



"Ya kamu cari saja terserah kemana, yang penting kamu harus mendapat kan pecel lele itu sekarang juga." ucap Gilang sambil memberikan uang ratusan lima lembar.



Hendra pun mengambil uang yang di berikan oleh Gilang dengan wajah yang bingung.



"Udah buruan Hen," ucap Gilang.



"Iya baik pak," jawab Hendra sambil pergi dari ruangan Gilang.



Hendra pun berjalan dengan wajah bingung, dia memutuskan masuk ke pantry untuk memikirkan beli pecel lele saat ini, saking fokus dengan pikiran nya sampai-sampai Hendra tidak mendengar panggilan dari Irman.



"Hen, oe lo kenapa sih di panggil-panggil dari tadi diam saja." teriak Irman.



"Gue lagi bingung Man," jawab Hendra sambil duduk.


"Bingung kenapa sih lo?" tanya Irman.


"Gue bingung dengan perintah dari pak Gilang." jawab Hendra.



"Memang nya pak Gilang nyuruh lo apaan?" tanya Irman.



"Lo pikir aja sendiri, siang-siang begini pak Gilang nyuruh gue beli pecel lele, gila ngga." jawab Hendra.



"Apa! Memang nya ada jam segini yang jual pecel lele? ada-ada saja kelakuan nya." ucap Irman setengah kaget.



"Kalian berdua ini kenapa sih, bukan nya kerja malah ribut kerjaan nya." ucap Suci yang baru masuk ke pantry.



"Ini si Hendra, dia lagi bingung nyari penjual pecel lele jam segini." ucap Irman.


__ADS_1


"Gila lo Hen, masa jam segini lo mau makan pecel lele kayak orang yang lagi ngidam saja." teriak Suci.


__ADS_2