
"Sekarang kalian ikut tante, tadi kata papah kalian mamah kalian ngga bisa jemput karena ada urusan." ucap Rena mulai membujuk si kembar agar ikut dengan dirinya.
"Kan yang ngga mau di antar jemput aku ma adek, terus kenapa tante ini bilang kalau mamah ngga bisa jemput? Oh ini berarti akal-akalan tante menor ini." gumam bathin Azzam.
"Kak, apa kakak percaya sama tante menor ini?' bisik Azzura.
"Jangan percaya dek, semua yang dikatakan nya bohong, bagaimana kalau kita kerjain aja." jawab Azzam sambil berbisik.
"Sudah jangan saling bisik, sekarang kalian ikut tante nanti tante belikan ice cream yang banyak buat kalian." Rena terus membujuk si kembar dengan harapan si kembar akan luluh.
"Kami bisa beli sendiri kok tante, bahkan kedai ice cream nya juga bisa kami beli." ucap Azzam dengan gaya sombong nya.
"Kalian masih kecil mana bisa mambeli kedai ice cream? Jangan kan kedai ice cream beli ice cream saja ngga akan mampu." ucap Rena meremehkan si kembar.
"Tante lihat ini, ini kartu yang di berikan papah untuk jajan kita berdua, setiap bulan papah transfer sepuluh juta hanya untuk kita jajan, sekarang tante hitung sendiri, kita di kasih kartu ini sejak usia kita dua tahun dan sekarang kita sudah lima tahun lebih, jadi apa masih kurang untuk beli kedai ice cream? Menurutku jangan kan untuk beli kedai ice cream untuk membeli harga diri tante saja kita sanggup kok." jawab Azzam.
"Apa! Kalian punya uang sebanyak itu, apa kamu bilang? Dasar anak kurang ajar." teriak Rena.
"Bang apa perlu kita serang ni tante menor?" tanya Azzura yang dari tadi hanya diam saja.
"Ngga usah dek, kita suruh jadi badut aja, muka nya cocok kok kalau jadi badut." jawab Azzam sambil tersenyum.
"Kalian jangan kurang ajar ya sama tante, apa mamah kalian ngga becus untuk mendidik kalian." ucap Alina.
"Hai tante jelek, jangan bawa-bawa mamah kita, kita juga akan bersikap baik dan sopan kalau tante baik dan sopan sama kita, tapi dari awal saya perhatikan tante ngga ada niat baik sama kita berdua." teriak Azzam yang merasa emosi karena Rena menjelk-jelekan mamah nya.
"Breng sek kamu." teriak Rena sambil melayangkan tangan kanan nya hendak menampar Azzam.
"Berani sekali anda menipu saya dan mau memukul anak kecil." teriak pak Soni sopir nya Azzam dan Azzura.
Pak Soni ini memang sopir baru khusus untuk anak-anak, jadi belum tahu siapa Rena.
"Pak Soni." teriak Azzam dan Azzura.
__ADS_1
"Tenang den, non biar bapak yang bereskan wanita penipu ini." ucap pak Soni sambil mencengkeram erat tangan Rena.
"Bapak darimana saja?" tanya Azzura.
"Bapak di tipu sama perempuan ini, dia bilang istri bapak kecelakaan ternyata ini hanya akal-akalan dia saja yang ingin menculik aden dan nona." jawab pak Soni.
"Ayo kamu ikut saya ke kantor polisi." ucap pak Soni sambil sedikit menarik tangan Rena.
"Tidak, saya tidak mau, maafkan saya, saya khilaf." ucap Rena memohon.
Azzura yang memang mempunyai sifat lembut dan selalu iba melihat orang lain yang sedang sedih pun menahan pak Soni.
"Lepaskan saja pak, kasihan." ucap Azzura.
"Tidak bisa begitu dek, tante menor ini sudah melakukan kejahatan, jadi harus di hukum, sekarang tante mau di hukum sama saya atau di bawa ke kantor polisi?" tanya Azzam.
"Daripada aku di bawa ke kantor polisi mending aku di hukum sama bocah ini saja lah." gumam bathin Rena.
"Gimana tante? Pilih yang mana?" tanya Azzam dengan gaya seperti orang dewasa.
"Ya sudah kalau gitu serahkan barang-barang yang tante pegang termasuk sandal tante yang tante pakai." ucap Azzam.
"Kenapa tante harus menyerahkan barang-barang tante? Apa kamu mau merampok tante?" tanya Rena.
"Buat apa merampok tante dengan barang-barang murah yang tante pakai, sementara saya bisa membeli toko nya." ucap Azzam.
"Bang, kata mamah kita ngga boleh sombong." bisik Azzura.
"Kamu tenang saja dek, kakak melakukan ini hanya untuk membuat tante menor ini jera dan tobat terus ngga gangguin kita lagi." jawab Azzam sambil berbisik pula.
"Apa yang akan di lakukan den Azzam pada perempuan ini." gumam pak Soni sambil menatap Azzam.
"Ayo tante serahlkan semua nya, pak Soni ambil tas, ponsel serta sandal tante menor ini." perinta Azzam pada pak Soni.
__ADS_1
Pak Soni pun menuruti perintah Azzam, walau dengan sedikit paksaan tapi pak Soni berhasil membuat Rena tanpa memakai alas di kaki nya.
"Sudah den, terus gimana?" tanya pak Soni.
"Ayo kita masuk ke mobil.dan untuk tante menor, sekarang tante pulang ke rumah dengan jalan kaki dan saya akan membuntuti tante dari belakang." ucap Azzam.
Pak Soni, Rena dan Azzuira kaget mendengar perintah dari Azzam.
"Den Azzam sadis juga ternyata." gumam bathin pak Soni.
"Kenapa abang jadi sadis begini?"gumam bathin Azzura sambil menatap heran pada saudara kembar nya.
"Apa! Kenapa kamu lakukan ini pada saya? Saya akan tuntut kamu." teriak Rena.
"Tuntut saja, kan ini pilihan dari tante, bukan saya yang memaksa." jawab Azzam santai.
"Ayo pak Soni kita jalan." ajak Azzam.
Pak Soni dan Azzura pun mengikuti perintah dari Azzam dan masuk ke dalam mobil.
"Tante ayo silahkan tante jalan di depan mobil kami." teriak Azzam.
"Breng sek ternyata anak ini ngga bisa dikibulin dan di rayu, menyesal aku telah berurusan dengan mereka." gumam bathin Rena sambil melangkah kan kaki dengan perlahan.
Rena melangkah selangkah demi selangkah sambil menahan rasa perih dan panas nya aspal.
"Mungkin ini karma yang harus aku terima, aku sadar ternyata Gilang sudah ngga bisa di luluhkan lagi, ya Allah ampuni semua kesalahan yang telah aku perbuat selama ini, sekarang aku sadar hidup selalu berbuat jahat kepada orang lain ternyata bukan kebahagiaan yang aku dapatkan tapi penderitaan yang aku terima." gumam bathin Rena dengan keringat dan air mata yang membasahi wajah nya, serta kaki nya yang merasa sakit karena harus berjalan diatas aspal tanpa alas kaki.
"Bang stop, sudah cukup hukuman nya, kasihan tante itu, coba abang pikir kalau tante itu adalah mamah kita." ucap Azzura yang merasa kasihan melihat kondisi Rena.
"Pak berhenti." ucap Azzam lalu turun dari mobil nya.
"Tante berhenti." teriak Azzam sambil menghampiri Rena.
__ADS_1
Rena pun menghentikan langkah nya ketika mendengar suara dari Azzam lalu membalikan tubuh nya dan menatap ke arah Azzam dengan deraian air mata dan keringat.