Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 100 Undangan


__ADS_3

Uraian Refald tentang kedatangan sekelompok makhluk legenda yang mungkin takkan ada di dunia nyata, membuat Fey sangat sulit memercayai ini semua sampai akhirnya ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa ucapan suaminya merupakan fakta dan bukan kata-kata semata. Para makhluk mitos menakutkan itu benar-benar ada. Semakin lama, mereka semakin mendekat ke tempat Refald dan Fey berdiri saat ini.


Badai pasir ini bisa menyamarkan keberadaan mereka karena semua manusia bernyawa sedang sibuk berlindung di tempat-tempat yang mereka anggap aman. Tidak ada yang tahu datangnya sekelompok vampir itu di area ini. Bayangan-bayangan hitam tampa menakutkan bagi Fey, tapi tidak bagi Refald.


“A-apa … mereka … benar-benar vampir?” tanya Fey. Ia masih belum bisa percaya sepenuhnya meski jelas-jelas makhluk mitos itu semakin mendekat kearahnya.


Refald tidak langsung menjawab karena raja vampir itu sudah berdiri tepat dihadapannya. Fey benar-benar tertegun. Tidak ada alasan lain baginya untuk tidak percaya bahwa vampir memang ada. Ia bahkan sempat mengira bahwa pria tinggi besar dan berpakaian serba hitam itu mirip seperti Dedy Corbuzier saat masih menjadi mentalist.


Bedanya, sang mantan mentalist memakai riasan make up yang menunjukkan ciri khas dirinya, tapi kalau vampir ini wujudnya memang seperti itu. Tanpa diriaspun, wajahnya sudah mirip seperti Dedy Corbuzier. Namun, anggotanya yang lain tidak. Kalau dilihat-lihat, personil vampir ini memiliki ciri khas penampilan masing-masing dan tidak harus sama. Bahkan mereka semua terlihat sangat unik dan aneh, lebih mirip seperti para pemain sirkus.


“Raja dedemit Mirza Banta, lama tidak bertemu. Aku senang kau ada di sini juga,” sapa pria tinggi besar yang ada dihadapan Refald. Untunglah Refald juga tinggi, jadi tubuh mereka sejajar. Iapun mengulurkan tangannya pada Refald dengan senang seolah keduanya adalah teman lama.


“Raja vampir Salvataro, suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda kembali setelah dasawarsa berlalu. Anda sama sekali tidak berubah. Dan sepertinya, anggota keluarga Anda semakin bertambah.” Refald menerima uluran tangan sang vampir dengan sumringah.


“Hahaha … matamu jeli juga. Ah .., perkenalkan, pria tampan yang ada dibarisan paling belakang, Dia adalah Athan Salvataro, putra bungsuku yang terakhir kuubah menjadi sama sepertiku. Aku terpaksa mengubahnya karena ia terkena virus mematikan saat kami berkunjung ke Afrika. Dia masih anak-anak saat kau bertemu dengannya dulu. Kau ingat?” Salvataro memperkenalkan putra bungsunya pada Refald meski keduanya pernah bertemu saat sama-sama masih menjadi manusia dan Refald belum sekuat sekarang.


“Athan, kemarilah!” panggil Salvataro pada putranya dan dalam sekejap, vampir muda dan tampan itu sudah ada di depan Refald. “Saat ia menjadi vampir, ingatannya sebagai manusia telah memudar. Mungkin ia tak ingat pernah bertemu denganmu.”


“Tidak apa-apa, Tuan Salvataro, saya paham.” Refald tersenyum dan menyapa Athan yang ekspresinya sangat dingin. Sepertinya vampir muda satu ini tak suka banyak bicara.

__ADS_1


Refald pun mengulirkan tangannya pada Athan. “Halo Tuan Athan, senang bisa bertemu denganmu,” sapa Refald ramah.


Tanpa suara, vampir bernama Athan itupun membalas uluran tangan Refald dan seketika itulah Refald bisa melihat kehidupan Athan setelah ini sama seperti yang ia prediksikan sebelumnya. Melihat gelagat Refald, raja vampir Salvataro langsung tahu.


“Apa yang kau lihat dari putraku, Raja Refald?” tanyanya.


Meski sempat terdiam sesaat seolah sedang memikirkan sesuatu, Refald menjawab juga pertanyaan koleganya. “Dia akan menjadi penerus Anda yang luar biasa meski banyak sekali badai menghantam dirinya. Selamat Tuan Salvataro, keluarga Anda semua luar biasa.” Refald memaksakan diri untuk terus tersenyum dan Fey tahu apa yang dirasakan suaminya dibalik senyumnya itu.


Raja vampir Salvataro pun tak curiga dan memercayai ucapan Refald. Iapun menatap Fey yang sejak tadi ketakutan. “Apakah dia …”


“Ah, perkenalkan, ini istri saya, Lafeysionara. Maaf di hari pernikahan kami, saya tak bisa mengundang Anda.”


“Tidak apa-apa, terimakasih sudah membantu menjaga rahasia keberadaan kami. Hingga detik ini, tidak ada manusia manapun yang tahu kecuali satu orang, ah dua orang termasuk kau. Aku rasa kau tahu siapa orang itu. Untunglah dia merahasiakan keberadaan kami dan menyamarkan semua hal yang berhubungan dengan kami sama seperti yang kau lakukan.”


“Yah, aku harap demikian. Aku tak bisa lama-lama di sini karena badai pasir ini akan segera berhenti. Kami akan mengadakan pertunjukan di pusat kota malam nanti. Datanglah bersama istrimu, sebab setelah pertunjukan, kami akan segera kembali ke Kanada untuk menyambut musim dingin.”


“Terimaksih undangannya Tuan Salvataro, kami akan menghadiri pertunjukan Anda malam ini.” Refald kembali menjabat tangan raja vampir dan dalam hitungan detik, keluarga itupun menghilang tanpa jejak bagai tertiup angin seiring dengan berhentinya badai pasir yang tadi menyelimuti mereka semua.


Kondisi kembali tenang dan sudah tak ada angin lagi. Hanya Refald dan Fey saja yang masih standby di tempat mereka berdiri tanpa mengalami luka apapun akibat dihantam badai pasir besar. Memang terlihat aneh, tapi sebelum semua orang menyadari keberadaan Refald dan Fey diluar ruangan, raja demit itu langsung menggendong istrinya dan masuk ke dalam ruang peristirahatan mereka.

__ADS_1


Keduanya tidak saling bicara karena Fey benar-benar masih shock atas apa yang ia lihat barusan. Dirinya benar-benar melihat vampir sungguhan, bukan vampir-vampiran seperti yang ada dalam cerita novel atau film meskipun wujud yang digambarkan hampir sama. Hanya saja, ada yang berbeda tapi Fey masih belum tahu apa itu. Sementara Refald, pikirannya masih dipenuhi tentang apa yang bakal terjadi pada putra bungsu dari raja vampir itu. Meski itu bukan urusannya, tetap saja Refald kepikiran.


Kedatangan Refald dan Fey langsung disambut oleh Yeon dan Yuna yang sejak tadi mencemaskan keberadaan paman dan bibinya. Mereka berdua langsung lega setelah orang yang mereka khawatirkan sudah kembali dalam keadaan sehat walafiat tanpa kekurangan suatu apapun ditengah badai pasir dahsyat itu melanda kawasan ini.


“Paman dan Bibi darimana saja? Kami sangat mencemaskan kalian!” seru Yeon saat melihat Refald menurunkan Fey dengan pelan.


“Bibi, apa Bibi tidak apa-apa?” tanya Yuna penuh perhatian.


“Tidak apa-apa Yuna. Kami baik-baik saja.” Fey tersenyum sambil mengusap lembut pipi Yuna. Mata Fey kembali tegang saat melihat suaminya yang langsung berdiri di depan jendela sambil memerhatikan ujung piramid yang tampak jelas terlihat dari ruangan ini.


“Yeon … kembalilah ke rumah sekarang juga. Tempat ini berbahaya bagimu dan juga Yuna,” ujar Refald tiba-tiba.


“Tapi … semua penerbangan dihentikan sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan gara-gara badai pasir tadi. Bagaimana kami bisa kembali?” tanya Yeon. “Kami akan kembali, tapi harus bersama Bibi dan juga Paman. Kita semua harus meninggalkan tempat ini bersama-sama.” Yeon berdiri di samping pamannya dan ikut menatap bangunan piramida yang tampak semakin meninggi saja. Padahal lokasi bangunan lumayan jauh juga dari kediaman Yeon dan Refald saat ini.


BERSAMBUNG


***


NB: Itulah sedikit cuplikan kisah vampir saat bertemu dengan Refald. Saat ini aku masih menunggu acc novel vampirku. Semoga saja dapat feedback sesegera mungkin dan nggak ada yang perlu direvisi.

__ADS_1


Huaaaa … gak sabar pengen rilis … jangan lupa dukung terus semua karyaku ya .. love you all …


Oh iya … mohon bersabar kalau up nya lama. Bukan karena aku gak mau nulis atau melanjutkan cerita, tapi lagi sibuk mempersiapkan cerita-cerita selanjutnya. Selamat liburan natal dan tahun baru untuk kalian semua ya …


__ADS_2