
Refald mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Fey yang langsung berubah merah merona. Jantung gadis itu semakin berdetak kencang dan untuk menyembunyikan perasaannya, ia memutuskan menghindari Refald daripada ketahuan kalau ia terpesona akan ketampanan paripurna tunangannya sendiri.
Sadarlah Fey, jangan mudah terpedaya olehnya. Batin Fey sambil memegangi kedua pipinya yang serasa panas.
Sebenarnya, yang dilakukan Fey itu percuma saja. Refald adalah manusia langka yang diberkahi dengan kekuatan supranatural dan bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan manusia biasa. Tak terkecuali, ia dapat mendengar betapa kencangnya detak jantung serta suara hati Fey dan itu membuatnya senang.
Ingin sekali Refald memeluk Fey dari belakang begitu melihat Fey melarikan diri darinya, tapi ia menahannya agar tidak sampai kelepasan. Sebab, Refald baru akan memberitahu Fey segalanya tentang siapa dia sebenarnya di tempat yang aman dan netral, namun tidak di sini.
“Honey,” ujar Refald setelah ia berhasil menyusul perjalanan Fey. Saat ini, keduanya sudah keluar dari hutan yang berbatasan langsung dengan desa tempat Eric berada.
“Apa?” cetus Fey masih enggan menatap wajah Refald. Ia takut jantungnya bakal copot kalau sampai pemuda tampan itu mengeluarkan jurus rayuan mautnya lagi.
“Kau tidak penasaran pada lelaki berkulit hitam yang minta pelet sama cenayang?” tanya Refald sengaja memancing rasa penasaran Fey. Dan berhasil, Fey berhenti melangkah lalu menatap mata elang Refald.
Gadis itu berdiri tepat dihadapan tunangannya dan agak sedikit menengadah karena postur tubuh pemuda tampan itu lebih tinggi darinya. “Nah, ini yang ingin aku tanyakan padamu. Aku jadi lupa semua gara-gara aku pingsan dan kau mulai bertingkah aneh seperti ini. Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa pingsan dan bangun-bangun sudah ada di tenda. Dan juga … di mana cenayang itu? Lalu … laki-laki berkulit hitam … bukankah ….”
Fey berhenti bicara ketika jari telunjuk Refald menempel di bibir manisnya. Dengan suara lembut yang menggoda, dan kilatan mata penuh cinta … Refald berkata, “Aku tahu ke mana arah pembicaraanmu, Honey. Obat-obat yang kau inginkan sudah kubelikan untukmu, kau tak perlu lagi ke desa karena itu membuatku malu. Ikut saja denganku ke suatu tempat dimana kau akan paham, kenapa cenayang itu menuruti permintaan si pria berkulit hitam meski ia tahu bahwa tindakannya itu salah.” Refald menyerahkan sekantong plastik hitam berisi semua obat-obatan yang diinginkan Fey, komplit tanpa ada yang kurang sedikitpun.
__ADS_1
Tentu saja gadis itu bingung, bagaimana caranya Refald mendapatkan semua obat ini dan tidak mengatakannya lebih awal. Malah mengajaknya berputar-putra seperti ini.
“Kenapa kau tidak bilang daritadi kalau kau sudah mendapatkan semua obatnya? Kalau tahu gitu kan aku bisa menyusul teman-temanku yang sedang susur hutan di sisi lain sana. Kau buang-buang waktuku saja, Refald!” celetuk Fey mulai kesal dengan semua permainan yang dimainkan Refald. Ia benar-benar tidak paham dengan maksud Refald sesungguhnya.
“Honey, kalau aku memberitahumu, kita tidak punya waktu untuk berdua, kau terlalu sibuk dengan kegiatanmu. Kau juga butuh waktu istirahat, biarkan teman-temanmu mengerjakan tugas mereka masing-masing. Kau sudah melaksanakan tugasmu dengan baik. Sekarang gantian mereka,” terang Refald santai. Entah kenapa ia suka kalau Fey ngomel-ngomel padanya.
“Kita punya banyak waktu Refald, masih ada hari esok, lusa dan seterusnya. Untuk sekarang ini, aku tidak punya waktu main-main denganmu!” Fey hendak kembali ke tendanya dan menyusul teman-temannya, tapi Refald yang tidak suka ditentang langsung menarik tangan Fey ke dalam pelukannya sehingga gadis itu tersentak. “Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” bentaknya.
“Ikut aku atau jangan salahkan aku kalau 2 minggu lagi dari sekarang hadir Refald kecil di perut indahmu!” ancam Refald. Kilatan matanya membuat Fey tak bisa berkutik lagi.
Tak ingin berlama-lama, Refald menarik tangan kekasihnya dan mengajaknya pergi ke suatu tempat yang ternyata, tempat tersebut adalah sebuah sungai yang letaknya ada di tepian hutan. Fey sungguh tidak habis pikir, untuk apa Refald mengajaknya ke sungai berduaan begini?
“Refald … sebenarnya ada apa, sih? Kau bilang kau malu kalau pergi ke desa, dan sekarang malah mengajakku ke sungai. Jika kau tak mau menjelaskan apapun padaku … sebaiknya kau jangan ganggu aku lagi. Pergilah dari sini. Aku sudah lelah dengan semua teka-teki dan misteri yang kau berikan padaku.” Raut wajah Fey terlihat letih. Ia sudah tak bisa memahami seperti apa pikiran Refald yang selalu bertindak di luar pemahamannya sebagai manusia biasa.
Namun, bukannya menjawab permintaan Fey, Refald malah menatap lurus sesuatu yang ada diseberang sungai. Fey geram sebenarnya, tapi setelah ia mengetahui apa yang ditatap Refald, gadis itupun terkejut sampai menutup mulutnya dengan satu tangan sementara tangannya yang lain tetap digenggam erat Refald.
Bagaimana Fey tidak terkejut, di seberang sungai itu, ada seorang pemuda sedang bercanda ria dengan seekor kambing hutan. Kedua insan berbeda jenis itu tampak memadu kasih layaknya sepasang kekasih yang dilanda asmara dan terlihat sangat mesra. Pemuda itu, siapa lagi kalau bukan pria berkulit hitam yang Fey temui di sebuah gubuk bersama cenayang beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Sudah bukan rahasia lagi kalau manusia suka bermain-main dengan binatang peliharaan, dan memperlakukan binatang kesayangannya secara istimewa. Tetapi, yang aneh adalah, pria berkulit hitam itu memperlakukan sang kambing layaknya ia memperlakukan seorang kekasih yang dimanja, disayang dan dipuja-puja. Kambing hutan itu dielus-elus kepalanya, di genggam erat kedua kaki depannya, diajak bicara kata-kata cinta dan bahkan keduanya saling berhadapan layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan.
Mulut Fey bahkan melongo ketika pria hitam itu menggendong si kambing berputar-putar dan menari bersama ditepian sungai seperti orang gila. Ekspresi pria hitam tersebut tampak begitu bahagia. Dan hal itu jadi terlihat aneh di mata Fey.
Rupanya tak hanya Fey saja yang merasa melting dengan pemandangan yang ia lihat didepannya. Beberapa penduduk desa yang ikut menyaksikan pola tingkah si pria berkulit hitam dengan si kambing hutan, langsung tertawa tertawa terpingkal-pingkal memegangi perut mereka karena mengira si pria sudah sinting alias tidak waras. Kambing kok diajak kencan. Hanya orang edan yang bisa melakukannya.
“Re-Refald … ada apa dengan pemuda itu? A-apa … dia … kerasukan setan kambing?” tanya Fey sudah tak bisa membendung lagi rasa penasarannya.
Sebenarnya, ia juga ingin ikutan tertawa, tetapi tidak tega karena masih bingung, apa yang menimpa si pria berkulit hitam sampai jadi sinting dan tidak waras begitu? Bahkan kambing saja ia ajak kencan juga.
“Itu perbuatan si cenayang Honey, wanita yang ingin dipelet oleh pemuda itu, kebetulan adalah teman dekat si cenayang. Alhasil, dia mengubah target pelet yang harusnya wanita incaran si pria hitam, menjadi kambing hutan. Dimata pemuda tersebut, binatang itu adalah wanita pujaan hatinya, tapi dimata kita, itu hanyalah seekor kambing hutan.” Refald tertawa ketika si pria hitam melamar sang kambing hutan.
"Astaga ... aku kasihan sekali sama kambing hutan yang dijadikan kambing hitam," gumam Fey mencoba latihan tahan tawa.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1