
Sepertinya Refald melupakan sesuatu, pak Po adalah salah satu pasukan dedemit terbengek yang pernah ada di muka bumi ini dan menjadi hantu paling fenomenal dimana dunia asli Refald sesungguhnya berada. Peran pak Po memang tidak begitu banyak selagi Refald dan Fey belum bersatu seutuhnya karena ia hanya ditugaskan untuk menjaga pengerannya bila dihadapkan dalam bahaya. Sedangkan urusan diluar itu, pak Po sungguh tidak mengerti apa-apa.
Alhasil, ketika Refald meminta pak Po membawakan barang-barang yang diinginkan Fey, Pocong tampan itu malah membawa pulang banyak hantu wanita dari berbagai macam negara dibelahan dunia. Tentu saja Refald langsung naik pitam melihat kedatangan pak Po dengan banyaknya hantu wanita selain mbak Kun dan mbak Sun pastinya. Sebab, hantu-hantu tersebut berwajah bule semua dan berpakaian ala dokter atau suster. Refald tidak habis pikir, bagaimana bisa hantu-hantu wanita ini bisa ikut pak Po kemari.
“Apa-apaan ini pak Po? Kenapa kau bawa mereka semua kemari? Ini hutan, bukan rumah sakit! Apa kau sudah tidak waras, ha?” teriak Refald ketika ia ada di pinggir sungai.
Refald sengaja menjauh dari lokasi perkemahan Fey dan membiarkan kekasihnya sendirian di tenda selagi ia pingsan. Hanya tempat ini yang sepi, sehingga tidak akan ada yang tahu kalau Refald sedang mengomeli salah satu pasukan dedemitnya
“Lah saya kan sudah meninggoy Pangeran? Apakah ada rumah sakit khusus bagi para pocong tampan seperti saya?” bukannya menjawab, pak Po malah balik bertanya.
“Ada, rumah sakit jiwa! Kau bisa pergi kesana sekarang juga supaya tak buat masalah seperti ini? Siapa yang memintamu membawa semua hantu wanita itu kemari, ha? Kau pikir ini tempat reuni para hantu luar negeri, apa? Aku menyuruhmu membawakan barang-barang yang diinginkan Fey, bukan mereka?” Refald masih emosi menatap wajah anak buahnya.
“Pangeran, semasa hidup, semua hantu wanita ini bekerja di rumah sakit dan sangat tahu banyak tentang jenis-jenis obat dan cara membuatnya. Hanya saja, mereka meninggal karena kebanyakan di bunuh setelah dilecehkan atau dimanfaatkan, kecelakaan saat kerja, dibakar hidup-hidup, di cincang kakinya dan bahkan ada yang jadi korban percobaan obat gagal. Jika tuan Putri Fey butuh obat apa yang bisa digunakan pada semua teman-temannya yang terluka, dia bisa bertanya pada hantu-hantu ini. Mereka sendiri yang siap sedia membantu saya dan rela ikut datang kemari dengan sukarela tanpa dipaksa,” terang pak Po panjang lebar tanpa dosa dengan wajah khas polosnya dan itu semakin membuat Refald geram bukan kepalang.
“Bawa mereka semua pergi dari hadapanku sekarang juga pak Po, jika tidak … akan kutendang kau sampai ke planet Pluto!” ancam Refald menahan amarah yang begitu kuat melihat betapa oonnya pak Po ini.
Salah Refald sendiri sih, sudah tahu kalau pak Po ini adalah demit yang otaknya kurang beres, masih saja memintanya melakukan sesuatu diluar tugasnya sebagai pengawal setia Refald. Beginilah jadinya, bukannya menyelesaikan masalah, malah menambah masalah semakin menjadi rumit.
Kilatan mata Refald yang menakutkan membuat pak Po tak bisa berkutik lagi. Tanpa suara, ia mengkomando seluruh pasukan hantu wanita-wanita bule itu untuk segera pergi dari sini. Namun, ada satu hantu wanita yang bandel dan tetap berada diposisinya sambil terus menatap mata Refald.
__ADS_1
Merasa ada bahaya besar, Refald memusnahkan hantu bendel tersebut hanya dalam satu serangan api ditangannya sebelum hantu tersebut menjadi biang masalah di masa depan. Kali ini, Refald benar-benar protektif dan lebih waspada dari sebelumnya. Terlebih setelah tahu apa yang dialami Fey di tahun sebelumnya ketika kekasihnya masih menjadi seorang junior.
Adegan tak terduga tersebut membuat pak Po semakin bergidik ngeri, ia tahu Refald sedang dalam emosi terkendali sehingga ia hanya memusnahkan satu hantu wanita yang dianggap mengancam jiwa. Jika Refald mau, semua hantu wanita yang dibawa pak Po, bisa pangeran dedemit itu lenyapkan dalam waktu sekejap.
“Gawat, pangeran benar-benar marah, ayo kita pergi dari sini sebelum dibikin jadi debu oleh sang pangeran!” ajak pak Po pada para hantu wanita yang semakin terpesona dengan wajah oonnya pak Po.
Sebenarnya, para hantu wanita ini terpikat dengan ketampanan sang pocong, makanya mereka semua rela datang kemari meski tanpa diminta oleh pak Po. Padahal, tadinya pak Po cuma bertanya dimana ia bisa mendapatkan banyak obat yang diinginkan Fey. Nggak tahunya, hantu-hantu ini malah menawarkan diri ikut dengan pak Po setelah memperkenalkan diri siapakah mereka dan menceritakan semua kisah tragis mereka semasa hidup. Dasar pak kurang kerjaan! Jadi pocong kok polos amat.
***
Refald memutuskan kembali ke tenda Fey. Kekasihnya itu masih pingsan dan belum sadarkan diri juga. Ada banyak hal yang menjadi pikiran sang pangeran dedemit itu saat ini. Terkait kematian yang bakal menimpa kekasihnya. Refald tak bisa mencegahnya, bahkan ia tidak diperkenankan tahu kapan persisnya bahaya besar mengancam keselamatan Fey itu melanda. Sejauh ini, penerawangan Refald masih baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi dengan kekasihnya setelah ini. Namun, hati pemuda tampan itu masih risau dan tak karuan.
Melihat hal itu, Refald membangunkan kekasihnya dan memeluknya erat agar Fey kembali tenang. “Honey, tenanglah, ini aku. Refald! Kau aman bersamaku,” ujar Refald seakan tahu apa yang ada di mimpi kekasih hatinya.
Fey berhenti berteriak dan kembali tenang setelah memastikan bahwa ia hanya bermimpi. Gadis itu melepas pelukan Refald dan menatap wajah tunangannya lekat-lekat.
"Refald … apa yang terjadi? Kenapa …”
“Kau pingsan karena kau kelelahan,” jelas Refald singkat.
__ADS_1
“Obat-obatnya?” pekik Fey baru sadar kalau ia membutuhkan banyak obat untuk kegiatan puncak acara dan ia belum mendapatkannya.
Bisa gawat kalau obat-obat yang Fey butuhkan tak bisa didapatkan dalam waktu dekat ini. Hari sudah menunjukkan siang menjelang sore. Tengah malam nanti, acara puncak caraka akan segera dimulai. Fey memaksakan diri keluar tenda dan mengamati keadaan sekitar, tidak ada siapa-siapa di area perkemahan sekarang. Artinya, semua orang sedang sibuk melakukan kegiatan lain di luar tenda. Mereka pasti sedang susur hutan dan akan kembali sore nanti. Tanpa pikir panjang, Fey memakai sepatu bootsnya dan bersiap pergi turun ke desa.
“Honey! Kau mau ke mana?” teriak Refald dari belakang sambil menatap kepergian Fey yang semakin jauh meninggalkannya.
“Jangan ikuti aku lagi, terakhir aku bersamamu selalu saja ada kejadian yang membuatku kehilangan akal sehat! Tetap ditenda itu sampai aku kembali! Kau mengerti! Awas saja kalau sampai kau mengikutiku!” ancam Fey dan ia berlari secepat mungkin agar bisa lekas sampai ke desa untuk membeli obat-obat yang Fey butuhkan.
Mengira Refald patuh pada permintaannya, gadis itu merasa lega. Bersama Refald, Fey selalu merasa tegang. Berkali-kali gadis itu menoleh ke belakang untuk memastikan pemuda tampan itu tak lagi mengikutinya dan memang tidak ada siapa-sapa di belakang Fey.
“Haaah … syukurlah, ia tak lagi mengikutiku, dasar bule bodoh. Dia itu manusia atau bukan sih? Auranya seram sekali?” gumam Fey sesekali menoleh ke arah belakang sambil memegangi dadanya dengan salah satu tangannya.
“Aku bisa mendengarmu, Honey!” ujar seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Refald.
Pria itu ternyata sedang bersandar di salah satu pohon pinus tepat di depan Fey berjalan. Hampir saja gadis itu menabrak pohon bila Refald tak berdiri di depan tunangannya yang langsung terkejut setengah mati begitu melihat dirinya.
“Astaga Refald! Bikin kaget saja!” bentak Fey saking kagetnya. Tubuhnya bahkan sampai berjingkat mendengar suara emas Refald. “Tunggu! Bagaimana bisa kau ada di sini? Bukannya tadi kau … ada … di dalam tenda?” tanya Fey terheran-heran dan Refald cuma menjawab pertanyaan kekasihnya dengan senyuman manis semanis madu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***