Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 63 Hawa Jahat


__ADS_3

Fey sangat gelisah menanti kepulangan calon suaminya yang sekarang entah ada dimana. Sejujurnya, ia terus memikirkan banyak hal menjelang hari H pernikahannya dengan Refald. Gadis cantik itu cuma berharap jangan sampai pernikahannya kali ini tertunda lagi karena suatu hal. Sudah berkali-kali pasangan dua sejoli ini menunda pernikahan mereka dan sekarang, Fey sungguh tak ingin gagal lagi menyandang status sebagai istri dari seorang Refald.


Saat sedang asyik melamun di balkon rumahnya, tiba-tiba Fey dikagetkan dengan kedatangan Nura sahabatnya. Saking asyiknya melamun, tunangan Refald ini sampai tidak tahu kapan Nura datang dan masuk ke dalam rumahnya. Bahkan panggilan Nura terhadap Fey sama sekali tak digubrisnya. Tahu-tahu Nura sudah ada di samping Fey berdiri.


"Apa yang sedang kau pikirkan sih? Dari tadi aku teriak-teriak dari bawah sana manggil-manggil kamu eh malah kamunya diem aja kayak patung. Lagi mikirin dosti ya ... cie yang udah mau merried, sampai panggilan suara temen sendiri aja gak digubris," ledek Nura bercampur sindiran pedas level 9.


Wajah Fey langsung memerah mendengar ledekan sahabatnya yang kalau ngomong suka nggak pakai filter. Sebenarnya, Fey memang memikirkan Refald yang sampai detik ini belum memberikan kabar apapun sehingga ia merasa cemas. Padahal baru sejam yang lalu Refald pergi ke suatu tempat yang tak di ketahui Fey ada dimana tempat itu.


Apakah tunangannya dalam bahaya atau tidak mengingat seorang pangeran demit seperti Refald musuhnya pastilah bukan sembarang musuh biasa. Bahaya besar bisa mengancam kapan dan di mana saja pangeran demit itu berada. Itulah yang menjadi pikiran Fey kali ini.


"Sorry Nura, ada banyak hal yang sedang mengusik pikiranku. Jadi, aku nggak tahu kalau kamu datang kemari. Ada apa? Kok tumben?" Fey berusaha keras menutupi kegalauannya dari Nura.


"Kamu tuh yang tumben, weekend begini malah bengong sendiri di balkon, mana tuh sang pangeran pujaan hati? Biasanya kalian berdua tak terpisahkan. Aneh kalau Refaldmu tidak ada di sini menemanimu."


"Dia sedang ada urusan. Kalau urusannya selesai pasti juga dia bakal kemari. Kamu belum jawab pertanyaanku, ada apa kemari? Biasanya kamu sibuk terus."


"Tadi aku nggak sengaja lewat depan rumahmu. Eh liat kamu sedang melamun sendirian. Makanya aku mampir, rupanya temanku satu ini sedang galau akut gara-gara ditinggal sang pujaan hati pergi hehe." Nura benar-benar meledek Fey habis-habisan. "Eh Fey. Daripada kamu gabut nggak jelas begini, gimana kalau kita cari makan? Sudah lama sejak kau punya Refald kita jarang pergi makan sama-sama. Aku rindu masa-masa SMA kita dulu. Terakhir waktu kita study tour di Bali. Itupun kau dan Refald tak terpisahkan sama sekali." Nura bergelandot manja di lengan sahabatnya kalau sedang ada maunya.


Fey tersenyum mendengar ocehan panjang Nura dan tanpa pikir panjang, ia mengiyakan ajakan sahabat karibnya untuk pergi makan bersama. Kebetulan mobil volvo Refald sengaja ditinggal di rumah Fey sehingga ia bisa mengendarai mobil itu menuju tempat makan yang dipilih Nura.


"Hanya kita berdua saja? Apa kita tak mengajak Mia dan Yua juga?" tanya Fey saat ia dan Nura sudah ada di dalam mobil.

__ADS_1


"Aku sudah menghubungi mereka tapi sepertinya mereka semua sedang sibuk berkencan. Ini kan weekend, pasti mereka menghabiskan waktu dengan pasangan masing-masing. Nasib-nasib jadi jones alias jomblo ngenes," jawab Nura sambil memainkan ponselnya dan sukses membuat Fey tersenyum kembali.


"Makanya cepat cari pacar, Joni Yen nggak akan peduli sama kamu mau kamu ikut paham dia atau tidak. Tak menuntut kemungkinan juga dia sudah punya gebetan sekarang, ngapain kamu nyiksa diri dengan jadi fans fanatiknya seperti itu?" cetus Fey.


"Bukan begitu Fey, aku udah buka hati kok, tapi cowok yang aku taksir sama sekali nggak ngelirik aku. Gimana dong? Aku kurang apa coba?" Nura curhat pada sahabatnya dan Fey langsung tahu siapakah pria yang dimaksud Nura.


"Kurang cantik, kurang duit dan satu lagi, kurang tinggi, hehehe ..." Ledek Fey habis-habisan dan Nura langsung manyun habis.


"Kok kamu gitu sih Fey, tega amat ama temen sendiri."


Fey cuma tertawa di sebelah Nura. Tiba-tiba dia menghentikan mobilnya ketika melihat mbak Kun dan pak Po mendadak muncul di belakangnya. Itu demit memang nggak bisa lihat Fey bahagia dikit aja.


"Astaga pak Po, mbak Kun! Bikin kaget saja!" Seru Fey dan pastinya mengagetkan Nura juga.


"Dengan siapa lagi?" cetus Fey kesal.


Ketiga sahabat dekat Fey sudah ia beritahu tentang siapa Refald dan semua pasukannya dengan catatan mereka semua tak boleh membocorkan pada siapapun tentang rahasia besar ini. Jadi, tidak ada yang perlu Fey tutupi dari Nura tentang keberadaan pasukan Refald yang sewaktu-waktu bisa muncul kapan saja seperti yang dilakukan pak Po sekarang.


Seperti halnya Fey dulu, Nura juga takut membayangkan ada sosok makhluk astral disekitar mereka. Untungnya, Nura tidak bisa melihat pak Po ataupun mbak Kun jadi dia sedikit lega meskipun berkali-kali Fey mengatakan kalau para pasukan dedemit Refald semuanya tidak ada yang menakutkan. Sebaliknya, mereka sangat tampan dan cantik. Tetap saja, bagi Nura, yang namanya setan itu pasti serem, nggak mungkin kalau nggak.


"Anda mau ke mana Putri? Bukankah pangeran sudah mengingatkan untuk tidak pergi kemana-mana tanpa pengawalan ketat darinya?" tanya pak Po tanpa dosa karena sudah bikin kaget Fey dan Nura.

__ADS_1


"Pak Po, kami hanya pergi makan? Ayolah, tidak akan ada yang menculikkku di tempat keramaian dan disiang bolong begini." Fey mendengus kesal pada pak Po yang sangat protektif padanya melebihi Refald.


"Tetap saja tidak boleh Putri. Sebaiknya Anda kembali sebelum pangeran marah."


"Pak Po ... tidakkah peringatanmu ini sudah terlambat? Kami hampir sampai di lokasi. Harusnya kau melarangku sewaktu kami berada dirumah tadi dan sebelum aku menggunakan mobil tunanganku kemari. Kenapa baru sekarang kau muncul dan menyuruhku kembali? Kau gila?" Fey mulai marah pada pak Po.


"Bukan begitu Putri, tadinya saya pikir ..."


"Sudah, diamlah kau pak Po. Jangan ganggu makan siang kami atau ku gorok kau! Aku hanya ingin makan dengan temanku selagi Refald sibuk dengan urusannya. Masa makan saja tidak boleh, aku akan menyalahkanmu bila sampai aku mati kelaparan! Sekarang pergilah, cepat!" bentak Fey dan pak Po langsung menghilang di susul dengan mbak Kun.


Tunangan Refald ini kalau sedang marah bisa bikin hantu ketakutan juga. Mungkin ini adalah hantu generasi zaman now, mereka tidak lagi menakuti manusia tapi manusialah yang membuat mereka takut sekarang. Seperti yang dilakukan Fey barusan. Rusak sudah reputasi pocong sebagai demit menyeramkan gara-gara pak Po yang langsung kalang kabut kalau dibentak dan diancam Fey.


Karena setan pengganggu sudah tidak ada lagi, Fey dan Nura tiba di salah satu rumah makan favorit Nura. Gadis itu belum pernah datang kemari sebelumnya, tapi karena Nura yang mengajak, maka mau tidak mau Fey menurut saja.


Saat Fey menginjakkan kakinya di atas tanah, tiba-tiba angin berhembus sangat kencang seolah menerjang tubuh Fey agar terhempas masuk kembali ke dalam mobil. Refleks, Fey menutupi wajahnya dengan satu tangan agar terhindar dari tiupan angin bercampur debu. Cuaca saat ini sangat panas, aneh sekali bila mendadak ada angin berhembus sekencang ini.


"Ada apa ini?" gumam Fey. Sebab ia benar-benar merasakan ada hawa tidak menyenangkan di dalam rumah makan yang mereka berdua datangi.


"Ada apa Fey? Kok bengong? Kamu nggak suka tempatnya?" tanya Nura ikut merasa aneh karena Fey tak kunjung keluar juga dari dalam mobil volvonya gara-gara tiupan angin barusan.


"Nggak kok, aku suka. Tempatnya adem dan asri. Kamu pinter milih tempat," puji Fey tak ingin mengecewakan Nura meski Fey benar-benat bisa merasakan ada hawa jahat mengintai di dalam sana.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2