Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 51 Awal dari Segalanya


__ADS_3

Dunia ini memang sudah gila. Orang yang tergila-gila dengan cinta ternyata bisa melakukan apa saja termasuk tindakan diluar nalar manusia. Pria berkulit hitam itu, bukannya berusaha dengan usaha dan kemampuan yang ia miliki untuk meluluhkan hati wanita yang ia cintai, pria tersebut malah melakukan tindakan instan yang jelas menyalahi aturan agama serta peraturan lain yang ada di dunia. Akibatnya, iapun mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan atas perbuatannya sendiri. Yaitu menjalin hubungan dengan binatang dan dianggap tidak normal.


Segala sesuatu yang dilakukan secara instan maka hasilnya pasti tidak akan sesuai apa yang diharapkan. Kasihan sekali pria berkulit hitam itu, kini ia disangka salah satu penghuni rumah sakit jiwa karena mengira kambing hutan adalah wanita pujaan hatinya.


Masyarakat setempat yang melihat adegan mesra sang pria hitam bersama si kambing, sudah mengingatkan agar sadar bahwa kambing hutan itu adalah seekor binatang, bukannya manusia. Namun, pria tersebut tidak mau mendengarkan, ia malah marah-marah dan mengusir siapapun yang mencoba mendekati atau mengganggunya. Merasa tidak aman bermesraan dihadapan publik, pria itu membawa sang kambing hutan pergi dan masuk jauh ke dalam hutan rimba.


Semua orang tak bisa lagi berbuat apa-apa karena sudah diingatkan tapi tetap tidak didengar. Akhirnya, mereka memilih bodo amat dan lebih mengurus urusan mereka masing-masing.


“Ayo pergi Honey,” ujar Refald dengan pandangan mata menatap lurus ke depan.


“Tapi … bagaimana dengan pria berkulit hitam itu Refald? Sampai kapan ia akan mengira kambing hutan itu adalah kekasihnya?” Fey menangkap ada raut kesedihan di wajah Refald meskipun ia penasaran akan nasib sip ria hitam itu.


Sayangnya Refald terdiam, ia menunduk lesu dan memilih berjalan lebih dulu dihadapan Fey sambil menarik erat tangan kekasihnya. Fey jadi bingung melihat tautan tangannya di genggaman Refald. Kekasih tampan misteriusnya itu menggenggamnya sangat erat seolah ada hal yang sengaja Refald tahan tapi tak bisa ia ungkapkan.


Setelah agak jauh dari sungai dan tidak ada lagi orang-orang berlalu lalang di sekitar pasangan sejoli ini, Refald berhenti berjalan dan menghadap wajah Fey. Kedua insan itu saling berhadapan dengan perasaan mereka masing-masing.


Perlahan, Refald menyentuhkan satu tangannya di pipi lembut Fey sambil berkata, “Pria itu … akan mati Honey, dan aku … tidak bisa menolongnya. Kita juga tak bisa berbuat apa-apa. Ini sudah menjadi takdir hidupnya dan hukuman atas apa yang sudah ia lakukan karena menyekutukan Tuhan.”


“A-apa?” tanya Fey antara percaya dan tidak percaya pada apa yang Refald katakan barusan. “Ma-mati?”


Reflad mengangguk pelan.


Gadis itu tidak tahu apakah yang dibicarakan Refald itu benar atau tidak. Namun melihat ekspresi Refald saat ini, tidak mungkin kalau tunangannya berbohong apalagi ini menyangkut nyawa seseorang. Jika memang yang dikatakan Refald benar, kenapa kekasihnya ini tidak melakukan sesuatu untuk mencegahnya? Kenapa ia malah mengajaknya pergi dengan raut muka seolah merasa bersalah seperti itu?


“Refald …” ujar Fey setelah untuk sekian kalinya melihat wajah sedih Refald yang terus menunduk didepannya.


“Ehm, apa Honey.” Refald mengangkat wajahnya sedikit dan menatap wajah cantik tunangannya.


Fey bingung harus berkata apa karena baru kali ini ia melihat Refald sesedih itu dan tidak semenyebalkan seperti biasanya. Sekarang gentian, Fey yang memegang salah satu pipi Refald dengan lembut sementara tangan satunya tetap digenggam erat-erat oleh Refald.


“Kenapa kau tidak menolongnya, jika kau tahu kalau si pria berkulit hitam itu dalam bahaya? Kenapa kau tidak mencegahnya saat kau tahu bahwa yang ia lakukan itu salah? Kau bisa menghentikan malapetaka ini jika kau tahu bagaimana akhirnya?” Fey bertanya dengan sangat hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Refald yang mendadak berubah menjadi sensitif dan mellow.


Dugaan Fey bahwa Refald bukanlah manusia biasa semakin kuat, tapi ia akan tetap diam sampai Refald sendiri yang memberitahu siapakah kekasih tampannya ini sebenarnya. Refald tidak langsung menjawab pertanyaan wanita yang amat sangat dicintainya ini. Di luar dugaan, sang pangeran dedemit itru memeluk Fey dengan erat seerat-eratnya seolah enggan dilepaskan.


“Refald …” Fey agak berontak karena terkejut mendadak dipeluk Refald tanpa peringatan.


“Biarkan seperti ini dulu Honey. Biarkan aku memelukmu, aku mohon … hanya bersamamu aku bisa merasa tenang dengan segala hal yang ada disekelilng kita. Aku ingin terus bersamamu Honey. Selamanya …” Refald memejamkan mata dan Fey melemaskan tubuhnya agar tidak sakit dipeluk erat seperti itu.


Gejolak hati Refald sudah ada dipuncaknya, sebagai manusia yang memiliki kelebihan diatas manusia biasa lainnya, ia tak bisa melakukan apa-apa jika ada manusia lain memilih pergi ke jalan salah. Hal itu karena ia tak dapat menentang takdir yang sudah digariskan pada kehidupan manusia itu sendiri, begitupula dengan takdir kisah cinta antara Refald dan Fey. Meski ia tahu rintangan apa yang melintang, Refald tak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya.


Sebentar lagi, Fey akan menghadapi kematian menakutkan. Refald tahu itu, tapi ia tak bisa menghalangi kejadian tersebut agar tidak terjadi. Yang bisa Refald lakukan hanyalah melakukan segala cara untuk menyelamatkan Fey dari kematian sekalipun itu harus di tukar dengan nyawanya sendiri.

__ADS_1


“Aku bukan dewa Honey,” ujar Refald setelah tenang dipelukan Fey. “Aku juga bukan Tuhan. Aku manusia sama sepertimu yang tak luput dari kesalahan. Aku tak bisa menolong pria berkulit hitam itu ataupun mencegahnya melakukan hal yang menyalahi aturan karena itu sudah menjadi pilihan hidupnya. Kau tak tahu … sulit rasanya menerima suatau hal yang tak bisa dijelaskan kata-kata. Tapi … aku harap suatu hari nanti kau mengerti … kau akan mengerti arti semua ucapanku ketika kau menjadi bagian dari hidup dan jiwaku.” Refald memeluk tubuh Fey dengan sepenuh hati dan jiwanya.


Fey memang tidak mengerti makna semua ucapan Refald, tapi ia bisa merasakan bagaimana suasana hati kekasihnya sekarang ini. Feypun jadi ikutan sedih juga padahala ia tidak tahu apa-apa. Pria yang sudah membuatnya jatuh cinta ini juga pernah membuka mata dan hatinya untuk menjalani kehidupan lebih baik setelah ia sempat terpuruk karena kepergian ibunya beberapa tahun lalu. Fey menggenggam erat tangan Refald dan mengajaknya melupakan segalanya yang terjadi hari ini.


“Sudahlah, lupakan yang terjadi. Aku harus kembali untuk mempersiapkan acara caraka malan ini. Ini adalah malam terakhir kita berkemah di hutan ini dan aku minta padamu untuk tak membuat kegaduhan apapun seperti malam-malam sebelumnya, oke.” Fey memberikan senyum manisnya pada Refald, dan Refald membalas senyuman itu dengan kecupan mesra.


“Oke,” ujar Refald dengan gaya genitnya sehingga membuat Fey jadi kembali tersipu malu.


Keduanya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan menuju perkemahan karena acara caraka akan segera dimulai dan harus disiapkan sebaik mungkin. Betapa sweet dan romantic kisah mereka berdua ini, satunya punya kekuatan suprantural dan pelindung sempurna tak terkalahkan, satunya gadis langka keturunana raja yang menjadi incaran para makhluk halus karena darah biru yang mengalir dalam diri Fey, selalu menarik perhatian makhluk tak kasat mata.


Ini adalah malam terakhir Fey dan yang lainnya bermalam di hutan belantara dengan segudang aktivitas pecinta alam yang mereka lakukan. Malam ini, Refald lebih over protektif pada Fey dan menjaganya dengan sangat baik sehingga tak ada hal buruk apapun menimpa Fey ataupun semua rekan-rekan sang ketua pelaksana kegiatan Caraka.


Acara malam uji nyali atau yang biasa disebut Caraka berjalan dengan lancar meski ada saja yang pingsan karena tak kuat menahan ketakutan di tengah malam mencekam. Namun, tahun ini, caraka yang digelar sukses tanpa ada hambatan apapun. Dan itu semua berkat Refald.


Para dedemit tak bisa mendekat karena Refald mengancam mereka semua. Apalagi, pasukan dedemit Refald yang dipimpin pak Po siap siaga berperang jika ada demit yang abndel dan berontak. Makhluk-makhluk astral tersebut bakal musnah bila berani mendekati tunangan Refald dan orang-orang yang ada di hutan ini. Daripada berakhir menjadi debu, para dedemit penunggu hutan memilih mundur alon-alon demi keselamatan mereka sendiri.


Refald dan Fey mengarungi malam dengan baik tanpa ada kendala, tapi … berbeda dengan keesokan harinya. Tepat … ketika Refald memilih untuk menyiapkan mobil jeep canvasnya, tiba-tiba bencana alam datang melanda wilayah perkemahan Fey dan Fey sendiri menghilang di tengah bencana yang melanda.


Refald yang mengetahui hal itu cuma bisa tertegun sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia memang tak bisa menentang alam dan tak bisa meluapkan amarahnya ketika tahu, Fey sedang dihadapkan kematian di depan mata. Yah, Refald tahu kalau kekasihnya saat ini, jatuh ke dalam jurang menganga setelah berhasil menyelamatkan Epank dan Yua yang hampir saja jatuh ke dasar jurang akibat terseret banjir bandang. Karena kondisi tanah licin, kekasih Refald terpelset dan tubuhnya terhempas begitu saja mengikuti gaya gravitasi bumi.


Disaat itulah, Fey memanggil nama Refald dihatinya dan sang keksih bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Ingin rasanya Refald melesat cepat untuk menyelamatkan belahan jiwanya, namun ia tak bisa melakukannya. Refald menunggu sampai Yua bergerak untuk mencari bantuan.


“Bertahanlah Honey … aku akan menyelamatkanmu …” gumam Refald langsung menggunakan kekuatannya dan melesat pergi ke tempat Yua dan Epank berada tepat saat Fey ada diambang kematian.


***


Part ini sudah ada di novel Putra Raja yang udah Cetak


di novel Putra Raja ada part spesial dimana Refald n Fey bertemu dengan Ratu Desa Penari. Sang ratu tertarik pada darah biru yang mengalir di tubuh pasangan pengeran dedemit Refald dan nantinya akan menjadi musuh besar pangeran D.


Seperti apa kisah Refald dan Fey serta seluruh keluarganya, dan apa yang dilakukan Refald di desa penari? Yuk beli novelnya.



PART SPESIAL NOVEL CETAK PUTRA RAJA


(Khusus ada di novel cetaknya)


berikut adalah cuplikan part spesialnya. Yang penasaran yuk buruan beli 😍


Part Spesial

__ADS_1


“Refald, gadis itu … gadis penari yang sedang menari itu … sepertinya … dia … minta tolong padaku.” Aku mulai mengutarakan apa yang kurasakan dan kulihat pada Refald.


“Aku tahu, tapi kau tak bisa ikut campur apapun di dunia lain ini, Honey. Sebab, ini bukan wilayahku. Kau bisa tetap hidup dan aman karena di dunia lain ini, kau dikenal sebagai istriku. Makanya para dedemit di sini tak bisa menyakitimu. Namun, jika kau ikut campur urusan mereka, maka segala peraturan yang sudah dibuat, tak berlaku lagi.” Refald menjelaskan apa yang harus dan tidak harus dilakukan selama kami ada di dunia lain entah karena alasan apa.


Irama gamelanpun selesai dan para penari itu duduk di sebuah tangga tepat di bawah singgasana yang sepertinya, itu adalah singgasana Ratu Badaharui seperti yang Refald beritahukan padaku. Aku baru sadar, kalau aku dan Refald juga duduk disinggasana panjang, tapi posisinya lebih rendah dari singgasana yang dimiliki sang penguasa wilayah ini.


Mataku tak bisa lepas dari pandangan mata sang penari, yang terus menangis tanpa henti. Ingin sekali bertanya dan menenangkan gadis penari itu meski kami sudah berbeda alam. Namun, niatku kuurungkan karena Refald terus menggenggam erat tanganku dengan perlindungan ketatnya.


Maaf Nona, aku tak bisa membantu, batinku sedih.


Seolah mengerti apa yang kupikirkan, gadis penari itu semakin menangis tersedu-sedu. Aku terkejut, tapi yang lebih mengejutkan, tak ada seorangpun peduli pada tangisan gadis itu. Wajah mereka semua sangat datar tanpa ada ekspresi apapun, mereka semua terkendali dengan baik dan itu bukanlah jiwa mereka yang asli.


Sungguh, tempat ini benar-benar seperti neraka yang sangat menakutkan. Tidak salah lagi, mereka semua adalah budak dari penguasa wilayah ini.


Tak berselang lama, sesosok ular berukuran besar bagaikan naga, datang dan langsung berubah wujud menjadi wanita paling cantik di istana ini. Pakaian yang ia kenakan, sama seperti yang dikenakan para penarinya. Semua abdinya bersimpuh dan menundukkan kepalanya begitu sang ratu mereka datang.


“Selamat datang dikerajaanku, pangeran Mirza Banta dan putri Galuh Lafeysionara Kinara. Maaf bila aku membawa kalian secara tiba-tiba kemari. Aku mendapat kabar kalau pangeran Mirza Banta menolak undanganku. Padahal, aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua di alam ghaib ini.” Wanita yang amat teramat cantik itu memamerkan senyum pesonanya padaku dan juga Refald.


Aku bisa merasakan aura hitam menyelimuti seluruh tubuh sosok wanita ular atau mungkin ia adalah siluman ular yang menjelma jadi wanita cantik penguasa wilayah ini. Auranya sangat menakutkan meskipun wajahnya sangat cantik rupawan. Di samping wanita itu, ada sesosok pria berwajah pucat pasi tanpa ekspresi. Ia tak punya emosi apapun dan pandangan matanya kosong seolah ia hanyalah patung yang menjadi pajangan ratu di dunia alam ghaib ini.


“Maafkan saya Ratu,” seru Refald dengan suara lembutnya yang merdu. “Saya tidak bermaksud menolak undangan Ratu, tapi … kami mencari waktu tepat untuk kami berdua, berkunjung ke wilayah ini. Maaf jika kedatangan kami kemari tak direncanakan sebelumnya dan mengganggu ketenangan Ratu.” Refald berbicara dengan lantang dan tenang. Genggaman tangannya di tanganku, semakin mengerat.


“Kau pandai sekali menyembunyikan istrimu dari semua pasukanku, Pangeran. Huh, aku akui, kau pangeran dedemit terhebat yang pernah aku temui. Darah istrimu, mengalir darah wanita paling agung yang aku kagumi dan aku sangat menginginkannya. Aku suka saat dia masih perawan, tapi sekarang, ia sudah menjadi istri ghaibmu. Sangat sulit bagiku, untuk menjadikannya bagian dari para penari-penariku …. hahahahahaha …” tawa Ratu yang dipercayai sebagai ratu Badaharui itu terdengar kencang dan lantang sehingga membuat bulu kudukku semakin berdiri merinding disko.


Ratu itu mengincarku? Jeritku dalam hati antara percaya dan tidak percaya. Jika saja aku tak berada dalam perlindungan Refald, bisa jadi aku merupakan bagian dari penari-penari yang duduk manis di bawah kaki sang Ratu cantik tapi menakutkan itu.


Sekarang aku mengerti, inilah alasan Refald tak mengizinkanku ikut wisata sekolah di mana jalur yang kami lewati akan melewati alam ghaib yang dikuasai oleh Ratu Badaharui. Sejak awal, Refald tahu kalau ratu makhluk astral tak kasat itu mengincarku, makanya ia memberikan perlindungan ekstranya sekembalinya kami dari Jerman kala itu.


“Kita sudah buat kesepakatan sebelumnya, Ratu. Aku dan istriku takkan pernah mencampuri urusan kerajaanmu selama Anda juga tak mengusik ketenangan dan kebahagiaan kami.” Refald mengingatkan aturan dunia ghaibnya.


“Inilah yang sangat kusuka darimu, Pangeran. Tapi aku penasaran, apakah aku harus membunuhmu di sini, supaya aku … bisa menjadikan istrimu sebagai penariku dan kubuat dia menjadi penerusku. Hahahaha …” Ratu Badaharui itu tertawa lepas. Tapi bagiku, ada makna tersembunyi didalamnya meskipun itu hanyalah sebuah peringatan berbungkus candaan.


“Itu takkan pernah terjadi Ratu, Anda takkan bisa membunuhku ataupun mencoba menjadikan istriku sebagai bagian dari kerajaanmu. Anda tahu betul konsekuensi yang bakal Anda terima bila nekat melakukan hal itu. Saya rasa, kami tidak bisa lama-lama di sini, kami harus segera pergi.” Refald bersikap bijak dan tak terpancing sedikitpun. Ia mungkin tahu kalau Ratu di kerajaan ghaib ini mencoba memprovokasinya untuk memulai kericuhan.


Mata merah Ratu Badaharui langsung menatap tajam Refald sehingga suasana menjadi tegang. Orang-orang alias para makhluk astral yang ada didepanku tiba-tiba saja berbalik badan menatapku dan Refald lekat-lekat. Betapa terkejutnya aku ketika tahu wajah orang-orang itu begitu mengerikan dan tak beraturan, tak seperti para pasukan dedemit Refald yang menawan. Darah dan luka, ada disekujur tubuh wujud dedemit itu. Siapapun yang melihat mereka, pasti ingin muntah dan bahkan pingsan. Mereka benar-benar mengerikan lebih dari makhluk paling mengerikan yang pernah kulihat.


“Refald!” aku menggamit lengannya erat-erat. Sungguh aku sangat takut sekali.


“Tenanglah Honey. Mereka semua yang ada di sini, takkan bisa melukai kita.” Refald menatap waspada semua makhluk yang ada dihadapannya sembari menenangkanku.


.......................

__ADS_1


LANJUTAN KISAH INI AS DI NOVEL CETAKNYA YA ...


YUK BURUAN BELI 😍😍


__ADS_2