
Fey masih belum percaya pada apa yang ia lihat. Di depan matanya ia menyaksikan bagaimana suami tercintanya tersedot masuk ke dalam lubang api besar di mana manusia normal biasa pasti akan mati terpanggang di dalamnya. Hal tersebut tidak berlaku bagi Refald, ia memang manusia, tapi bukan sembarang manusia. Refald adalah raja dedemit yang diberkahi kekuatan supranatural melebihi para makhluk astral tak kasat mata.
Tidak ada iblis manapun di dunia ini dapat menandingi kekuatan Refald, sebab kekuatan tersebut adalah kekuatan suci dan murni yang tidak dimiliki oleh iblis manapun. Tetapi tetap saja, Fey masih mencemaskan kondisi suaminya. Ini pertama kalinya ia melihat Refald masuk ke dalam api sedahsyat itu.
Masih menunggu. Fey berusaha keras untuk tetap sabar menunggu. Sama halnya dengan para pasukan dedemit Refald yang sangat yakin kalau raja mereka baik-baik saja, Feypun demikian. Mendadak, Fey mengalami keram perut sehingga ia mengerang menahan rasa sakitnya. Kedua tangan istri Refald itu memegangi perutnya sambil membungkuk.
“Ratu … apa … Anda tidak apa-apa?” tanya mbak Kun cemas begitupula dengan pak Po. Mungkin ini efek rasa cemas berlebihan yang dirasakan Fey pada Refald.
“Aku tidak tahu, tiba-tiba saja perutku sakit sekali …” rintih Fey.
Keringat dingin mulai mengucur deras di wajah wanita yang sedang hamil muda. Ia ingin sekali bertemu dengan Refald yang entah apakah suaminya itu baik-baik saja atau tidak.
“Ratu … dengarkan Saya …,” ujar pak ikutan tegang juga, “bayangkan saja kalau saya adalah Raja … adaow! Kenapa kau memukulku, mbak Kun?” bentak pak Po pada rekannya karena kepalanya di jitak tiba-tiba.
“Berani sekali kau meminta Ratu menganggapmu sebagai Raja! Dasar tak sadar diri,” cetus mbak Kun kesal dengan pak Po yang mulai kumat bengeknya.
“Sudah, jangan bertengkar,” lerai Fey sambil terus memegangi perutnya. “Kemarilah pak Po …,” ujar Fey lirih sambil tersengal-sengal menahan sakit. “Usulmu bagus juga. Kemarilah, duduklah di dekatku.”
“Tapi Ratu … Raja bisa marah besar ….” Sergah mbak Kun.
“Tidak apa-apa, mbak Kun,” sela Fey cepat dan meminta pak Po duduk didekatnya.
__ADS_1
Pak Po ragu, tapi melihat kondisi Fey, ia tidak bisa menolak meski tadinya ia hanya ingin menghibur ratunya agar tak merasa cemas lagi karena suaminya sedang berperang di dalam lubang api neraka.
Begitu pak Po mendekat, Fey menjulurkan kedua tangannya seolah hendak memeluk pak Po, tapi ternyata ia menjambak rambut pak Po sekuat tenaga untuk melampiaskan seluruh emosinya. Sontak saja pak Po langsung berteriak mengerang kesakitan gara-gara rambut kebesarannya yang ia jaga, dijambak paksa oleh ratunya.
“Aaaaaaaa! Ratu … Sakit Ratu … huaaaa rambutku … nanti kepala saya bisa copot Ratu … pelan-pelan jambaknya … huaaaa … mbak Kun, tolongin woy …,” teriak pak Po ingin berontak tapi tak berani. Kedua tangannya meraih-raih sosok mbak Kun, tapi yang dimintai tolong malah asyik menikmati pemandangan tak terduga itu.
“Rasakan! Kau sendiri yang minta dianggap sebagai Raja, mungkin ini bentuk pelampiasan kemarahan Ratu karena sudah membuatnya secemas ini sampai ia harus mengalami sakit diperutnya,” ledek mbak Kun sinis ikut puas melihat Fey menjambak kuat-kuat rambut pak Po.
“Ampun Ratu … sungguh, saya tidak akan berani menyamakan diri dengan Raja Refald lagi. Tolong lepaskan rambut saya Ratu … alamak … alamat botak kepala saya Ratu …” rengek pak Po dan Fey pun langsung melepaskannya.
Pak Po langsung melayang terbang menjauh dari jangkauan Fey karena takut kena jambak lagi.
“Bagaimana kondisi Anda Ratu, apa masih sakit?” tanya mbak Kun sama sekali tak peduli dengan rengekan pak Po.
Mata Fey kembali menatap lubang api dan menunggu kedatangan suaminya. Jangan sampai adegan Ragu waktu itu terulang kembali sehingga membuat Refald merasa amat sangat sedih sekali.
Tiba-tiba saja, sekelebat ingatan terlintas jelas di kepala Fey dan ia sangat terkejut melihat ingatan-ingatan yang entah bagaimana bisa menghiasi kepalanya. Fey dapat melihat seorang wanita cantik, sedang bercumbu mesra dengan seorang pria berambut panjang pirang bergelombang, tapi sangat tampan. Pria itu adalah John yang berubah wujud menjadi manusia. Ia sengaja memperlihatkan adegan tak pantas itu pada suami si wanita yang berdiri menangis memejamkan mata di depan mereka. Sungguh situasi yang amat sangat memalukan dan tidak bermoral.
Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan sang suami ketika melihat si istri bercinta dengan pria lain di ranjang pengantin mereka. Hal itu merupakan salah satu wujud balas dendamnya John di kehidupan mereka sebelumnya atas perbuatan pasangan suami istri itu di masa kini. Fey malu sendiri melihat adegan ranjang gratisan itu dan menutup wajahnya dengan tangan.
“Hentikan! Jangan perlihatkan padaku! Hentikan semua itu!” teriak Fey dan langsung dibantu oleh mbak Kun.
__ADS_1
Sosok kunti cantik itu duduk bersila di depan Fey dan menempelkan dua jari yaitu jari telunjuk dan jari tengahnya tepat di kening Fey. Mbak Kun membantu Fey mengusir ingatan itu yang sengaja dikirim Iblis Asmodeus untuk mencari kelemahan Refald. Sepertinya, di dalam lubang api besar terjadi pertempuran sengit di mana sang iblis mencoba masuk ke dalam ingatan Refald yang ternyata, isi kepala sang Raja demit itu hanyalah Fey seorang.
Syukurlah ingatan tak senonoh itu berhasil di usir mbak Kun yang jadi ikutan geram juga dengan sang iblis. Pantas John dijadikan salah satu Raja neraka Asmodeus, iblis tersebut benar-benar tidak tahu malu dan menjijiikkan.
“Kurang ajar sekali iblis amoral itu! Beraninya dia … melakukan itu pada Ratu. Astaga … Raja Refald pasti bakal marah besar jika tahu ini,” gumamnya marah.
Fey sendiri juga mencoba menyingkirkan ingatan itu dari pikirannya. “Apa yang akan terjadi pada suamiku, Mbak Kun? Apa ada konsekuensi jika dia melenyapkan Asmodeus?” tanya Fey setelah ia tenang. Ia melirik pak Po yang sibuk mengatur rambut akibat jambakan darinya.
“Untuk raja neraka, tidak ada Ratu, tapi jika Raja Refald melenyapkan iblis Lucifer, barulah akan berdampak besar,” jawab mbak Kun.
Dari kejauhan, mendadak muncul semburan api besar dari dalam lubang api layaknya gunung berapi sedang meletus dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Bersamaan dengan semburan api besar itu, muncullah sosok pria dengan kecepatan tinggi melesat cepat ke atas langit-langit dan terbang secepat kilat menuju tempat Fey duduk bersandar.
“Honey! Kau tidak apa-apa?” tanya Refald mencemaskan keadaan istrinya. Meski ia sedang bertarung, Refald tahu betul apa yang dialami wanita pujaan hatinya ini.
Fey tampak bahagia melihat suaminya meski wajah raja demit tampan itu sedikit menghitam seolah habis terkena arang.
“Kenapa dengan wajahmu?” tanya Fey. Ia mengeluarkan sapu tangannya dan mengusap lembut wajah Refald. Syukurlah itu hanya asap api yang menempel, begitu di lap dengan bersih, wajah Refald kembali putih.
“Ayo kita pulang Honey, akan kuobati lukamu. Sepertinya, Refald kecil minta dijenguk,” goda Refald sambil memegang tangan istrinya yang sibuk mengelap wajah tampan Refald.
Fey sewot, tapi ia langsung tersenyum dan mengangguk pelan bahkan ia tidak menolak. Ia sangat lega setelah melihat suaminya baik-baik saja. Fey bersandar di dada bidang Refald sambil menutup mata ketika suaminya menggendongnya dan membawanya terbang ke atas awan.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***