Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB Undangan


__ADS_3

Wajah Refald manyun habis dan langsung merutuk dirinya sendiri karena tak menyadari lebih awal ada di mana dia sekarang. Dipikirannya saat itu hanya ingin mengisi nutrisi ulang dengan Fey. Siapa yang menyangka, disaat Refald ingin berdua saja dan beromantis ria dengan Fey, keduanya malah sedang berada ditengah-tengah acara pesta dimana semua orang termasuk seluruh keluarga Refald sendiri menatap tajam padanya atas aksi nggak ada akhlaknya.


Gagal sudah momen romantis itu. Refald jadi salting sendiri menatap ratusan pasang mata yang tak henti berpaling darinya. Lebih memalukan lagi, Fey malah meninggalkan suaminya begitu saja dan ganti Leo yang terus merecokinya.


"Kau urus masalahmu sendiri, gengster manja! Aku sedang badmood bicara denganmu atau dengan siapapun!" cetus Refald dengan nada kesal. Iapun memutuskan pergi tapi langsung balik badan kembali menatap Leo. "Ah, satu lagi ... jangan pernah kau ikuti aku ataupun merengek padaku ini itu, jika tidak kulempar kau ke lubang hitam," ancam Refald dan pergi meninggalkan adik sepupunya yang cuma bisa melongo tak percaya.


"Dasar biksu Tong! Apa gunanya jadi raja demit kalau tak bisa menggunakan kekuatanmu. Huh!" Leo mencibir sambil ngedumel sendiri dan ikut berlalu pergi. Ia membuka ponselnya dan membaca pesan yang dikirim oleh sahabatnya.


Cowok itu tersenyum senang karena ia sudah mendapatkan alamat keberadaan Shena. Tak ingin berlama-lama, si gengster yang terkenal nggak ada akhlak itupun pergi memakai helikopter pribadi milik keluarga Leo sendiri menuju kediaman Shena yang kebetulan lokasinya lumayan jauh dari sini. Namun, demi bisa bertemu dengan wanita pujaan hatinya, Leo rela melakukan apa saja.


Bila Leo sedang berusaha keras mengejar cinta yang hampir hilang, maka lain halnya dengan Refald yang masih ngambek karena pengisian nutrisinya jadi gagal total akibat pesta dadakan keluarganya.


Raja demit itupun memilih menyendiri di air terjun yang merupakan tempat kencan Fey dan Refald pertama kali. Tempat ini mampu membuat hati Refald kembali tenang dan senyam senyum sendiri kala mengingat momen romantis indah mereka dimasa remaja Fey dan Refald dulu. Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Dan sekarang, Fey dan Refald sudah bersama di satu ikatan cinta dalam sebuah pernikahan.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Fey yang datang diantar oleh pak Po.


"Sepertinya Raja sedang ngambek Ratu. Makanya dia semedi di sini. Raja kan gitu Ratu, kalau ngambek, ia selau menyendiri dibawah derasnya air terjun." Tanpa diminta, pak Polah yang menjawab.


"Diam kau pak Po? Kenapa kau kemari?" seru Refald masih kesal. Sepertinya, ia juga kesal dengan istrinya hanya karena nutrisi yang Refald minta tak dipenuhi oleh Fey.


"Saya datang ingin menyampaikan sesuatu pada Anda Raja, sekaligus mengantar Ratu yang mencemaskan Yang mulia karena seorang Raja Refald, sedang dalam mode ngambekan." Entah pak Po ini sengaja meledek atau bicara ala kadarnya, yang jelas ucapan pak Po membuat suasana hati Refald semakin buruk saja.


"Apa kau minta dilempari rudal pak Po? Beraninya kau meledekku! Katakan pada istri tercintaku supaya tak perlu lagi khawatir padaku. Aku baik -baik saja ... meski tanpa dia," ujar Refald sok yes.


Padahal, nyatanya kondisi Refald sekarang sangat berantakan dan tak bertenaga. Hal itu membuat Fey tersenyum geli melihat ucapan dan fakta di lapangan tidaklah sama. Refald tidak baik-baik saja dan kacau balau karena tak dapat jatah nutrisi darinya.


"Pak Po, katakan pada Rajamu kalau mulai sekarang aku tak akan mencemaskannya lagi sesuai permintaannya," ujar Fey masih menahan senyum.


"Eee ... Raja ... Ratu bilang ..."

__ADS_1


"Bilang juga pada Ratumu kalau jangan datang kemari lagi," sela Refald cepat memotong ucapan pak Po. Pak Po pun beralih menatap Fey kembali.


"Pak Po ... bilang pada si Raja mesum ini siapa juga yang mau menemuinya lagi. Mulai detik ini, aku takkan mau melihatnya." Feypun tak mau kalah.


"Eee ...," Pak Po bingung karena ia harus menoleh ke arah Refald dan juga Fey secara bergantian.


"Pak Po, suruh istriku pergi dari sini," sela Refald lagi. Kali ini malah pak Po belum sempat bicara.


"Bilang pada Raja mesummu ini pak Po. Aku ... takkan pernah mau datang kemari lagi untuk ...."


"STOP!" teriak pak Po sehingga membuat Refald dan Fey kaget. "Hentikan pertengkaran rumah tangga kalian ini. Kalian tak butuh aku sebagai perantara menyampaikan apa yang kalian ingin sampaikan karena kalian berdua bisa menyampaikannya sendiri tanpaku. Jadi berhenti memanggil karena ... ehm ... anu ... maaf kalau bahasa saya barusan lancang Yang mulia Raja dan Ratu," ujar pak Po mulai takut karena Refald sedang memelototinya.


"Ayo pak Po ... kita pergi!" ajak Fey kesal dengan sikap Refald yang kekanak-kanakan.


"Jangan pergi Honey, aku mohon. Maafkan aku," seru Refald menyesal karena bertengkar dengan istrinya hanya karena masalah sepele.


"Minggir, kau sendiri minta aku untuk pergi dari sini!" cetus Fey.


"Sedetik pun aku tak mampu berpisah darimu Honey. Jangan pergi!"


"Sedetik katamu? Apa kau sudah tahu berapa hari kau ada di sini hanya karena aksi ngambekmu itu, ha?" pekik Fey marah.


"Berapa hari? Apa maksudmu Honey, aku hanya meninggalkanmu sebentar?"


"Raja, sudah 3 hari Anda terus berdiri di tempat ini tanpa makan dan minum ataupun tidur. Makanya Ratu sangat mencemaskan keadaan Anda," terang pak Po.


"Apa? 3 hari?" tanya Refald, ia tak sadar kalau sudah selama itu dirinya ada di sini. Pantas kalau istrinya ini cemas.


Pak Po pun juga menyerahkan sepucuk surat pada Refald agar segera langsung dibaca. "Anda juga harus baca ini Raja," ujar pak Po.

__ADS_1


"Undangan lagi?" tanya Refald sambil memicingkan mata. Sementara Fey cuma diam saja menatap wajah serius suaminya.


"Ada apa Refald?" tanya Fey penasaran. "Itu undangan apa?"


"Honey ... Kau mencintaiku kan?" Bukannya menjawab, Refald malah balik bertanya pada Fey.


"Tidak, aku sangat membencimu. Kau menyebalkan!"


"Sama, aku juga membencimu alias benar-benar cinta padamu, Honey." Dengan cepat Refald meraih pinggang Fey lalu mendekatkan tubuh istrinya dekat dengan tubuh Refald.


"Lepaskan aku!" pinta Fey masih kesal.


"Maaf Honey, sungguh aku minta maaf. Sebagai permintaan maafku atas sifat kekanak-kanakanku, bagaimana kalau kubawa kau ke suatu tempat?" tawar Refald.


"Ke mana?" tanya Fey curiga.


"Bikin onar, kau pernah minta padaku untuk membebaskan jiwa seseorang dari ratu iblis yang menyandera mereka. Dulu, aku hanya seorang pangeran Demit, kekuatanku masih terbatas dan aku terikat perjanjian dengan wanita ular itu. Tapi sekarang, aku adalah Raja dedemit dunia lain yang punya kekuaasan mutlak. Aku bisa melakukan apa saja termasuk membebaskan mereka." Refald tersenyum bahagia begitupula dengan Fey yang langsung paham maksud ucapan suaminya.


"Benarkah?" Seketika Fey langsung shock. Ia kembali teringat akan kejadian sewaktu Refald dan Fey melakukan studi wisata ke Bali dan malah tertahan di dunia lain tempat kediaman iblis wanita berkedok sebagai siluman ular itu tinggal.


Waktu itu, secara terang-terangan Ratu ular tersebut sangat menginginkan tubuh Fey sebagai wadah baru di kerajaannya untuk menggantikan dirinya. Namun jelas Fey tidak bersedia bersekutu atau menjadi bagian dari Ratu Badaharui yang terkenal akan tipu muslihatnya untuk menjerat manusia menuju jalan yang salah dan sesat. Jika saja Fey bukanlah istri ghaib Refald pastilah ia menjadi bagian dari ratu iblis tersebut.


BERSAMBUNG


***


Kisah Refald dan Fey yang terdampar di dunia kerajaan Ratu Badaharui ada di part spesial cetaknya novel "PUTRA RAJA" yang sudah beli dan baca part itu pasti tahu apa yang diinginkan Fey tapj Refald tak bisa memenuhinya waktu itu.


Sedangkan kisah Leo yang mencari keberadaan Shena, ada di novel "PLAYBOY JATUH CINTA (THE KING IN LOVE)" momen sweet yang tak terlupakan, hiks hiks.

__ADS_1


__ADS_2