
Kedatangan Refald dan Fey, sudah diketahui Ilham dan istrinya. Pasangan suami istri itu hanya mengintip Refald dari balik tirai jendela rumah mereka. Susan terus memeluk suaminya erat-erat karena takut kalau-kalau Refald murka dan mengembalikan dirinya ke alam baka di detik ini juga. Sedangkan Ilham, sudah jelas tidak akan membiarkan hal itu terjadi karena dialah yang menginginkan istrinya yang harusnya sudah mati ini hidup kembali. Ilham bertekad akan melawan Refald bagaimanapun caranya karena ia masih tidak rela bila harus berpisah dengan wanita yang amat sangat ia cintai ini sekalipun sekarang, keduanya telah berbeda alam.
“Pak Ilham, kedatanganku kemari bukan untuk menyakiti kalian. Ada hal yang harus kita bicarakan … sebagai sesama laki-laki!” seru Refald dengan lantang tapi tangannya terus menggenggam erat tangan Fey yang memilih diam karena tidak ingin ikut campur dunia perdemitan kekasihnya.
Seruan Refald berhasil mengendorkan pertahanan Ilham. Apalagi ia melihat bagaimana cara Refald memegang tangan wanita cantik yang berdiri disisinya membuat Ilham yakin kalau Refald tak punya niat buruk padanya. Genggaman tangan Refald pada Fey, sama persis seperti yang Ilham lakukan sekarang terhadap Susan.
“Jangan keluar suamiku, dia hanya memancingmu,” sergah Susan yang menyadari suaminya sudah tidak sewaspada sebelumnya.
“Dia punya wanita yang ia lindungi sama sepertiku, Sayang. Jika dia adalah calon raja dedemit seperti yang kau katakan, tak sulit baginya untuk menembus rumah ini dan menemukan kita berdua. Namun, pemuda itu tidak melakukannya. Mungkin aku memang harus bicara dengannya.” Ilham meyakinkan istrinya dan perlahan, ia membuka pintu masuk rumahnya berniat menyambut kedatangan Refald dan Fey.
Tanpa basa-basi, Ilham langsung mempersilakan dua sejoli itu masuk ke dalam rumahnya dengan penuh waspada. Refaldpun memperkenalkan dirinya dan langsung ke inti kedatangannya kemari.
“Pak Ilham, sebelumnya … saya minta maaf dan tidak ada maksud untuk ikut campur urusan duniawi Anda, tapi … yang pak Ilham lakukan ini salah. Tolong hentikan sampai di sini dan ikhlaskan kepergian Nyonya Susan. Jika tidak … hal buruk akan terjadi pada Anda dan orang-orang yang ada disekitar Anda. Saya rasa … Anda juga mengetahui konsekuensi dari apa yang Anda lakukan ini.”
“Bagaimana jika apa yang kualami, terjadi padamu dan wanita yang duduk disampingmu? Apa kau bisa menerimanya? Tidak, kan? Begitupula denganku. Kecelakaan yang merenggut nyawa istriku, aku tak bisa menerimanya. Kami baru saja menikah dan hidup bahagia, aku tak bisa menerima jika Tuhan memisahkan kami di saat kami baru memulai hidup baru kami berdua? Aku akan tanggung apapun resikonya. Aku tak peduli pada apapun asalkan aku dan Susan bisa selalu bersama.”
“Tapi ini menentang takdir, Pak Ilham. Dan ini tidak baik!”
“Kau hanya bocah ingusan anak muda! Jangan ajarkan aku tentang mana yang baik dan yang bukan. Aku dan istriku hanya ingin hidup damai tanpa diganggu ataupun mengganggu siapapun, kami akan menjalani dua kehidupan berbeda ini bersama dan aku harap kau mau bekerjasama.” Ilham tetap pada pendiriannya meskipun Refald sudah berusaha keras mengingatkan bahwa akan ada akibat dari sebab yang ditimbulkan olehnya. Termasuk menyalahi dan menentang garis kehidupan yang sudah ditakdirkan.
Tak ingin berdebat lagi, Refaldpun tak bisa bertindak banyak. Sebagai pangeran dedemit dari dunia lain, sebenarnya Refald berhak memberikan keputusan mutlak untuk mengembalikan keadaan seperti sedia kala dan sebagaimana mestinya. Namun, ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan Refald tentang penentangan takdir ini. Dan hal itu juga tak mudah bagi Refald sehingga membuatnya lebih sering melamun sendiri.
Malam pesta yang diadakan para penduduk desa di desa Angker harusnya menjadi momen yang membahagiakan bagi semua orang, tapi tidak untuk Refald. Pandangan matanya hanya lurus ke depan dan tidak terlalu fokus pada pembicaraan orang-orang. Bahkan Eric sendiri kesal setengah mati karena dirinya terus-terusan di cuekin oleh sahabatnya sendiri.
“Fey … ada apa dengan suamimu? Apa dia ketempelan setan alas yang ada di dalam hutan sana?” tanya Eric bingung dengan tindak tanduk Refald yang berbeda dari biasanya.
“Sepertinya begitu, setan alas itu berambut hitam sama sepertimu,” goda Fey bermaksud mencairkan suasana dan menutupi apa yang dirasakan Refald saat ini.
“Memang ada setan alas bule tampan sepertiku di tempat ini? Jangan mengada-ngada kau Fey! Katakan saja apa yang terjadi pada pimpinan demit itu?” cetus Eric ikut kesal pada Fey juga.
“Aku juga tidak tahu Eric, tapi aku aklan cari tahu, Kau fokus saja pada pestanya oke! Aku akan mengajak Refald kembali pulang supaya setan yang menempelinya tidak memperparah keadaannya. Tolong sampaikan salamku pada kepala desa dan semua orang yang ada di sini. Kalau urusanmu di desa ini sudah selesai, temui kami.” Fey menepuk pelan bahu Eric dan pergi meninggalkannya untuk menghampiri Refald.
Fey membisikkan sesuatu di telinga kekasihnya dan Refald mengangguk pelan, tak berselang lama keduanya langsung pergi meninggalkan desa ini dengan menggunakan kekuatan telepati Refald. Eric yang melihat keajaiban itu cuma bisa geleng-geleng kepala dan bersiap memberikan penjelasan pada orang-orang yang akan menanyakan keberadaan Refald dan Fey nantinya.
__ADS_1
Hanya dalam hitungan detik, Refald sudah sampai di kamar tempat tinggal Fey yang sekarang. Bila biasanya Refald langsung bersikap jail, kali ini berbeda. Raut wajah Refald sangat datar karena ia sedang banyak pikiran. Satu hal yang membuat Refald nyaman berada dekat dengan wanita yang ia cintai. Fey tak banyak ikut campur urusannya dan cenderung sangat pengertian. Seperti saat ini, gadis cantik itu terus saja menatap Refald sejak tadi tanpa kedip.
“Kau pasti sangat mencintaiku sampai tak berkedip menatapku Honey,” goda Refald sambil tersenyum tipis.
“Ehm, kau benar.” Fey mengangguk pelan, “Aku memang sangat sangat sangat mencintai suami ghaibku ini. Tapi Sayang, saat ini suami mesumku sedang galau akut sehingga wajahnya mencurut kayak kerucut.”
Refald langsung tertawa lepas mendengar istilah kata aneh dan nyeleneh yang dikatakan Fey barusan. Dengan gemas pangeran dedemit itu mencubit lembut kedua pipi kekasihnya dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri.
“Kau mau kuapakan, ha?” tanya Refald setelah tawanya mereda. Tumben Fey tidak melawan dan hanya pasrah saat Refald mencubitnya. Biasanya Fey langsung ngambek kalau Refald memainkan kedua pipi tirusnya Fey.
“Aku rela kau apa-apakan asal kau mau memberiku penjelasan dari kegalauan yang kau rasakan. Meskipun kau tak mengatakannya padaku, aku bisa mengerti bagaimana perasaanmu saat ini, Refald. Kau dan aku … sudah bersatu. Katakan padaku, kenapa kau tak melakukan apapun pada pasangan suami istri itu? Padahal mereka kan beda alam? Bukankah itu tidak baik bagi kehidupan mereka kedepannya? Petaka akan datang Refald.”
“Tidurlah Honey, kau pasti sangat lelah setelah melewati banyak hal bersamaku,” ujar Refald lirih sambil memegang kedua pipi lembut Fey. Sepertinya, Refald enggan menjelaskan apapun pada Fey sehingga membuat kekasihnya marah.
Fey menghela napas panjang. Ia menjauh dari Refald dan langsung masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu dengan kencang sampai terdengar bunyi brak!
“Dasar Refald menyebalkan! Apa salahnya menjawab pertanyaanku? Memangnya dia anggap aku ini siapa? Okeh, fine. Kalau mau rahasia-rahasiaan! Silahkan! Tapi jangan harap aku mau bicara padamu lagi. Refald bodoh!” gumam Fey sambil memukul-mukul bantalnya sendiri dengan kuat untuk meluapkan amarahnya.
BERSAMBUNG
***
Sekalian numpang promo buat novel baruku ya 🤭🤭
berikut cuplikan kisahnya,
Malam itu … dua insan tak saling kenal dan berbeda dunia terpaksa bermalam di dalam goa sampai hujan disertai badai mereda. Dea memilih tidur dengan memakai jaketnya yang sudah kering. Sebenarnya ia risih karena semua pakaiannya kotor dan dipenuhi dengan lumpur. Namun apa boleh buat, ia tak punya pakaian ganti apalagi sampai membersihkan diri.
Tak berselang lama, Deapun terlelap dalam tidurnya tanpa ia sadari bahwa sepasang mata elang pangeran D sedang menatapnya tajam.
“Pangeran,” ujar sesosok makhluk tak kasat mata yang mendadak hadir dan bersimpuh di hadapan pengeran D tepat setelah Dea pergi ke alam mimpi.
__ADS_1
Sosok makhluk tak kasat mata itu biasa dipanggil dengan sebutan pak Po dan menjadi penjaga pengeran D sejak sang pangeran demit dilahirkan. Dan begitu tahu pangerannya terbebas, pak Po langsung bergegas kemari.
“Aku tak bisa menikahi gadis ini pak Po,” ujar pangeran D langsung curhat pada pengasuh ghaibnya. Hantu tampan ini sangat tahu maksud kedatangan pak Po kemari.
Sebenarnya, pak Po ini sudah kangen berat dengan pengerannya, lama juga putra kedua dari raja dedemit Refald terkurung dalam goa akibat kutukan ayahnya sendiri, tapi pocong tampan itu mencoba meredam rasa rindunya setelah melihat kegalauan yang dirasakan oleh sang pangeran demit asuhannya. Tanpa dijelaskanpun, pak Po juga tahu situasi yang terjadi saat ini. Sekilas, pak Po melirik tubuh Dea yang sedang terlelap dalam tidurnya.
“Anda harus menikahinya, Pangeran. Jika tidak … nyawa Anda dalam bahaya.” Sosok demit yang dipanggil pak Po mengingatkan konsekuensi kutukan yang diterima sang pangeran demit. Sebagai abdi setia dari turun temurun, tak ada yang tidak diketahui oleh pak Po dan sudah tugas pak Po pula untuk mengingatkan jika tuannya melakukan kesalahan.
“Tetap saja aku tidak bisa, pak Po. Katakan pada ayahku, si raja kesayanganmu itu, lebih baik aku mati daripada menikah dengan wanita yang tidak aku cintai.”
“Pangeran …”
“Keputusanku sudah bulat pak Po, aku … lebih memilih lenyap dari dunia ini daripada harus menikahi gadis asing itu.”
“Kenapa Pangeran menolaknya? Dia cantik, hatinya juga baik, kurang apalagi? Ehm … agak dekil sedikit sih, tapi gampanglah itu Pangeran, masih bisa dipermak dan dipoles,” ujar pak Po asal jeplak.
“Sudah tidak ada cinta dihatiku, pak Po. Meski aku menikahinya, aku hanya akan menyiksanya karena aku tak bisa mencintai siapapun lagi. Kuharap kau mengerti dan sampaikan keputusanku pada ayah dan ibuku. Pergilah!” keputusan pemuda tampan itu sudah bulat dan meminta salah satu pasukan Raja dedemit dari dunia lain untuk menyampaikan keputusan yang ia buat.
“Baik Pangeran, tapi Anda masih bisa berubah pikiran. Percayalah … gadis itu … sudah ditakdirkan untuk Tuan. Bunga mawar merah itu tidak akan layu selama ada digenggamannya, artinya … gadis itu istimewa. Dialah satu-satunya wanita yang akan mendampingi Anda kelak. Anda akan tahu keistimewaannya begitu Anda menikah dengannya.”
Setelah berucap demikian, pak Po pun akhirnya memilih pamit undur diri. Tentu saja percakapan singkat antara dua penghuni dunia lain ini tak diketahui oleh Dea karena ia tertidur sangat lelap saking lelahnya. Lelah fisik dan lelah hati juga menghadapi hiruk pikuknya dunia fana.
Pangeran D menatap tubuh lemah yang ada didepannya. Ia memikirkan ucapan pengasuh ghaibnya barusan. Sekian lama berada di dalam goa ini, tak satupun orang bisa mencabut mawar merah yang tumbuh subur di atas batu besar tempatnya disegel. Hanya Dealah yang bisa mencabut bunga mawar merah tersebut dengan mudah tanpa mengalami kesulitan seolah bunga itu memang sengaja menunggu kedatangan Dea.
Memang benar, gadis itu istimewa. Namun, Pangeran D merasa kasihan pada Dea atas segala hal yang menimpanya selama berada di dunia, makanya ia tak ingin mengikat gadis ini dengan sebuah pernikahan beda alam ini. Karena pangeran D tahu, menikahinya sama saja dengan membunuh Dea pelan-pelan.
“Hidupmu sudah dipenuhi penderitaan, jika kau menikah denganku … kau bisa mati, tapi … jika aku tidak menikah denganmu … maka akulah yang akan lenyap dari dunia ini selamanya. Huh, takdir ini lucu sekali dan kenapa malah kau yang terpilih?” ujar pangeran D lirih dan menyembuhkan luka-luka yang ada di tubuh Dea dengan hanya meletakkan tangan di atas kening Dea.
Secara ajaib, tubuh Dea yang terlihat letih langsung kembali bugar. Luka-luka lecet yang gadis itu peroleh saat di kejar singa hutan mulai sembuh seperti sedia kala. Semakin lelaplah Dea dalam tidurnya dan untuk pertama kalinya dalam hidup Dea. Gadis itu bermimpi indah.
Pangeran D bahkan tersenyum ketika ia tahu apa isi mimpi dari wanita yang ditakdirkan menjadi istrinya ini. Yaitu sebuah pesta pernikahan megah.
***
__ADS_1