Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB Perang di Mulai


__ADS_3

Fey sangat bingung sebingung bingungnya dengan sikap suaminya. Baru kali ini Fey melihat Refald seaneh ini ditengah-tengah keberadaan keduanya yang tidak jelas entah ada di mana. Dan yang membuat Fey heran, bagaimana bisa rasa kopi yang ia minum dan pria berkacamata itu minum, jadi berbeda rasa padahal kopi tersebut berasal dari gelas yang sama.


Sepertinya, manis pahitnya rasa kopi ini memiliki makna tersendiri yang hanya diketahui oleh Refald. Ketika Fey mengatakan bahwa kopi yang ia minum pahit, raja demit itu tampak senang dan lega. Tapi wajah Refald berubah masam ketika pria berkacamata mengatakan bahwa kopi yang diminum sangatlah manis sekali.


"Maaf Mas, kalau boleh tahu. Anda mau ke mana setelah ini?" tanya Refald. Satu tangannya menggenggam tangan Fey agar istrinya tidak cemas dan tetap tenang.


"Mau kembali ke rumah sakit Mas, karena saya baru saja mengantarkan istri saya masuk ke rumah sakit yang ada di depan sana!" Pria itu menunjuk ke sebuah lahan kosong yang ternyata, tidak ada bangunan apapun di belakang tempat ia menunjuk.


Sontak pria tersebut langsung kaget begitupula dengan Refald dan Fey. Dugaan Refald benar, pria yang ada di hadapannya ini sedang dalam masalah besar.


"Loh! Kok nggak ada? Tadi jelas-jalas saya masuk ke bangunan di sana untuk nganter istri ke dalan rumah sakit itu. Karena disuruh menunggu diluar saya cari angin sebentar, tapi kok rumah sakitnya hilang. Bagaimana dengan istri saya?" pekik pria berkacamata itu mulai panik. Ia pun bergegas lari secepat kilat menuju lahan kosong berharap masih bisa menemukan istrinya meski hatinya sudah was was tak karuan.


Sang pria berkacamata meneriaki nama istrinya tapi yang diteriaki tak menyahut juga. Semakin takut dan paniklah pria tersebut melihat lahan yang entah berapa hektar luasnya ternyata hanyalah sebuah lahan kosong. Tak ada apapun di sini. Berkali-kali pria itu meyakinkan diri karena ia tak percaya bahwa istrinya telah menghilang tanpa jejak.


"Di mana kau Sayang?" gumam pria itu yang langsung lemah lunglai karena mendadak kehilangan istri tercintanya secara misterius. Pria itu tertelungkup di tanah sambil memukul-mukul tanah rata yang tak tahu apa-apa. Fey jadi tidak tega melihat kondisi miris pria berkacamata itu.

__ADS_1


"Apa yang terjadi Refald? Ke mana istrinya sekarang?" tanya Fey. Untung tangannya di genggam Refald sehingga bumil cantik itu sedikit tenang. Selama ada Refald didekatnya, Fey merasa aman dan ia pasti baik-baik saja meski sekarang hal genting sedang menimpa mereka semua.


"Siluman ular itu benar-benar merepotkan Honey. Dia membawa pergi istri pria berkacamata itu. Awalnya dia mengincarmu, tapi karena dia tak bisa menggapaimu, makanya dia mencari target lain." Keterangan Refald sukses membuat Fey jadi merinding.


"Apa kita bisa membawa istri pria itu kembali kemari?" tanya Fey. Ia yakin sekali Refald pasti bisa menyelesaikan masalah ini.


"Bisa, tapi berat! Apa kau sanggup?" Refald balik bertanya dan menatap mata indah Fey apakah ada keraguan di dalamnya.


"Ini bukan kali pertama aku menghadapi bahaya yang mengancam nyawa saat berhadapan dengan musuh di duniamu. Aku tidak takut pada apapun karena kau terus bersamaku. Kau pria terhebat dan terkuat yang takkan pernah membiarkan siapapun menyakitiku. Aku percaya padamu, Suamiku." Fey mengatakan kalimat itu tanpa ragu dan membuat Refald tersenyum.


"Sebesar apapun badai itu, aku siap menghadapinya. Asalkan kau terus bersamaku, aku tak peduli yang lainnya." Jawaban Fey semakin membuat Refald berdecak kagum sampai tidak sadar kalau ia spontan mencium mesra Fey disaat genting begini.


Awalnya Fey kaget, tapi inilah Refald yang kelakuannya 11 12 sama adiknya. Si gengster Leo yang nggak ada akhlak. Tapi inilah keistimewaan dua bersaudara beda profesi itu. Dan sebagai istri Refald, Fey sangat bahagia dan bangga memiliki Refald disisinya.


Raja demit tampan itu menggenggam erat tangan istrinya. Bersama pasukan casper Refald, mereka semua bersiap menuju tempat ratu ular berada. Kedua tangan pasangan Raja dan Ratu demit, saling bertautan erat seolah siap berperang melawan iblis jahat yang suka menggangu manusia. Sementara di belakang Refald dan Fey, seluruh pasukan Casper Refald melayang-layang dan berjajar rapi ala pasukan medan perang yang siap bertempur menghancurkan musuh. Para demit itu malah saling bergandengan tangan seperti yang dilakukan raja dan ratu mereka. Kebayang betapa keren Refald dan pasukannya ini ketika hendak membuat onar.

__ADS_1


Sebelum berangkat menuju kediaman Ratu ular, Fey sempat berpesan pada pria berkacamata untuk tetap ada di kedai kopi yang tadi mereka singgahi. Sebab, pemilik warungnya ternyata adalah penjaga gerbang alam lain. Dia tidak berbahaya karena tugasnya hanya membuka dan menutup gerbang antara dunia nyata dam dunia lain. Penjaga gerbang ini tidak diperkenankan ikut campur urusan orang. Ia hanya diperbolehkan menutup dan membuka tanpa perlu bertanya apapun masalahnya. Itulah kenap matanya beda sebelah. Satu adalah mata manusia, dan satunya bukan mata manusia. Dengan kata lain, pemilik warung tersebut merupakan setengah manusia, setengah bukan.


"Masnya aman dengan Mamang itu, di tidak berbahaya. Tunggu sampai kami kembali membawa istrimu. Tolong, percayalah pada kami dan jangan jauh-jauh dari si Mamang." Itulah pesan yang disampaikan pada Fey sebelum ia pergi bersama Refald untuk buat onar di kerajaan Ratu Badaharui.


***


Rupanya, kedatangan Refald sudah diketahui oleh sang ratu dan tanpa basa-basi, iblis jahat itu menyerang bertubi-tubi. Beruntung, pasukan casper Refald sudah sigap menghalau semua serangan tersebut tanpa turut campur tangan Refald.


Selagi pasukan Refald dan pasukan iblis Ratu Badaharui bertarung dengan dahsyat di udara, Refald terus menggandeng tangan Fey sambil berjalan beriringan bersama-sam menuju tempat ratu ular duduk disinggasananya. Pandangan mata Refald lurus ke depan seakan acuh saja pada pertarungan antar demit yang sedang berlangsung sengit tepat di atas kepala Refald dan Fey.


Sementara Fey sendiri, juga melakukan hal sama seperti suaminya. Tetap tenang dan fokus. Tanpa kentara, Fey mencari keberadaan jiwa yang dulu sempat minta tolong pada Fey agar terbebas dari sini. Sayangnya, waktu itu Refald yang masih bergelar pangeran dan masih terikat perjanjian sehingga tak dapat menolong membebaskan jiwa yang terjebak dan dipaksa terus menari di sini tanpa henti.


Tak lama Fey menemukan wanita dengan ekspresi wajah bermuram durja berdiri dideretan paling belakang rekan penarinya. Ekspresi jiwa itu sama seperti beberapa tahun lalu. Dan kini, Fey hendak membebaskan jiwa malang tersebut.


"Honey, kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?" tanya Refald pelan tapi matanya menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Aku tahu, jangan khawatir. Aku pasti bisa melakukannya dengan baik," jawab Fey.


__ADS_2