Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 21 Cara Membasmi Kuyang


__ADS_3

PERINGATAN: Kisah ini hanyalah kisah fiktif yang tidak ada hubungannya dengan dunia nyata. Tidak ada maksud menyinggung atau menyebar SARA. Jika ada kesamaan nama, tokoh, ras/suku, adat istiadat atau kepercayaan, maka itu hanya kebetulan semata. Kisah ini murni muncul dari hasil imajinasi. Harap bijak dalam membaca dan anggap hanya hiburan semata. Ambil hikmah dari sisi positifnya dan abaikan sisi negatifnya. Terimakasih atas pengertian dan dukungannya all …


****


Tanpa berkomentar apa-apa, pak Diki langsung menyediakan apa yang diminta Refald. Sedikit banyak, pria kurus yang menjabat sebagai kepala desa itu tahu apa fungsi benda-benda dapur demi menangkal makhluk yang membuat resah seluruh warga khususnya ibu-ibu hamil. Nanalah yang memberikan sekantong bawang merah dan bawang putih jantan serta tali ujuk pada Refald. Sesaat, kilatan matanya menatap sinis Eric yang juga menatapnya dengan tajam.


Mungkin Eric yang kebetulan sedang berdiri di samping Refald, masih kesal dengan gadis desa berlogat jawa bernama Nana ini karena telah berani mengatainya gila, tidak punya otak dan bahkan tidak waras. Hal itu merupakan pukulan telak bagi Eric. Sepanjang sejarah, baru kali ini ada wanita desa berani menganggap dirinya tidak normal.


Namun, ini bukan saatnya Eric meluapkan amarah dan emosinya karena ada hal yang lebih genting harus dilakukan dari pada kemarahannya pada Nana. Eric cuma buang muka saja saat Nana menatapnya dan pura-pura tidak melihat Nana.


“Pak, lapo maneh cah cah lanang-lanang iku mbalek maneh? Kan wes mangkat tekan kene?” (Pak, ada apa lagi para pemuda ini kembali lagi? Kan sudah pergi dari sini?) bisik Nana pada Bapaknya.


“Cah loro iki arep nulung awak dewe, Nduk. Kowe kan ngerti, masalah opo sing ono king deso iki. Wez, ora usah takok maneh. Ndang melbu kamar kono! Kancani Nina, ojok sampe dewek’an.” (Kedua pemuda ini mau membantu kita, Nak. Kamu kan tahu sendiri masalah apa ada di desa ini. Sudah, jangan tanya lagi. Cepat masuk kamar sana! Temani Nina. Jangan sampai sendirian) Pak Diki meminta putrinya untuk tidak ikut campur urusan yang bukan urusan putrinya.


Kepala desa itu sangat bergantung pada Refald untuk membantu mengatasi masalah yang berhubungan dengan dunia mistis di desa ini. Refald sendiri tak ingin buang waktu, karena secepatnya ia juga harus menyelamatkan tunangannya.

__ADS_1


Namun sebelum Refald pergi, ia menaburkan garam spesial memutari seluruh rumah pak Diki dan berpesan kalau malam ini, jangan sampai ada yang keluar rumah bagaimanapun caranya. Garam tersebut Refald beli dari pasar tradisional sesuai anjuran dari almarhum kakeknya Fey. Ia memberi dalam jumlah banyak supaya bisa digunakan secukupnya.


“Brays, darimana kau tahu semua hal-hal seperti ini?” tanya Eric saat keduanya selesai menabur garam dan pergi ke rumah wanita hamil yang menjadi incaran kuyang. “Bertahun-tahun bersamamu, baru kali ini aku melihatmu melakukan hal yang sangat berbeda dengan biasanya. Kau punya kekuatan sebagai pangeran dedemit dan juga memiliki anak buah yang menjadi pasukan dedemit paling kuat. Kau bisa mengalahkan para hantu-hantu yang meneror desa ini dengan kekuatan tak tertandingi milikmu? Kenapa kau harus repot-repot menyiapkan ini dan itu jika kau dapat mengalahkan para makluk astral dengan mudah?”


Eric melontarkan banyak sekali pertanyaan terkait apa yang dilakukan sahabatnya. Refald sangat berbeda dengan Refald sebelumnya. Entah tunangan Fey itus adar atau tidak, Refald terlihat lebih dewasa sekarang. Eric ingin mengajukan pertanyaan ini setelah sahabatnya berhasil mengalahkan para dedemit di desa ini, tapi rasa ingi tahunya begitu kuat sehingga Eric tidak sabar mendengar penjelasan dari Refald atas pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan barusan.


Refald berhenti berjalan dan menatap wajah tegang Eric. “Beda tempat, beda aturan. Setiap wilayah punya peraturan masing-masing, Brays. Kau benar, aku memang bisa mengalahkan mereka dengan kekuatanku, tapi … hal itu tak menjamin makhluk astral lain tidak membalas dendam padaku. Dan imbasnya, adalah orang-orang yang aku cintai.


“Bila dengan kepercayaan masyarakat di sini bisa mengalahkan mereka, kenapa tidak? Meskipun kepercayaan-kepercayaan itu ada di luar akal sehat kita. Toh pada akhirnya tetap sama saja, kita sebagai manusia ingin supaya makhluk tak kasat mata itu tak lagi mengganggu kehidupan kita dengan cara yang mereka inginkan.” Refald tersenyum dan kembali berjalan.


Kalau saja ini bukan amanah dari sang Raja dedemit alias almarhum kakeknya Fey. Lebih baik Refald kembali pulang ke rumah dan mengabaikan apa yang bukan urusannya. Tapi, ini juga demi keamanan dan kebaikan Fey sendiri, jika Refald tak mengunci para makhluk astral tak kasat mata di desa ini, para makhluk-makhluk itu bisa saja menyerang tunangan Refald.


“Aku sama sekali tak mengerti satupun arti ucapanmu. Kau penuh misteri seperti biasa, tapi itulah dirimu. Dan tak ada yang bisa menebak apa yang akan kau lakukan dan kau pikirkan.” Eric sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan bila berbicara dengan Refald terutama tentang hal-hal mistis di dunia ini. Bersama Refald, hal tidak mungkin bisa jadi mungkin. Hal mustahil bisa Refald lakukan. Dan itu semua pastinya di luar nalar manusia biasa.


Tak lama kemudian, Refald dan Eric sampai di rumah ibu hamil seperti yang diberitahukan pak Diki padanya. Tanpa dipandu pun, Refald bisa menemukan rumah yang menjadi incaran kuyang. Berhubung, ini masih belum malam benar, Refald datang lebih dulu ketimbang si kuyang. Keadaan rumah di depan Refald ini tak jauh beda dengan keadaan rumah penduduk desa lainnya.

__ADS_1


Desa ini terletak lumayan jauh di dareh pedalaman, jarak antara rumah yang satu dengan lainnya lumayan renggang juga. Lahan kosong dan pekarangan serta kebun-kebun rindang lebih banyak dari pada perumahan penduduk yang populasinya memang tidak sampai 100 kepala.


Wajar kalau 1 rumah saja memiliki pekarangan kosong lebih bari rumah yang mereka bangun dalam satu keluarga. Apalagi desa ini dikelilingi hutan rimba belantara dan kekayaan alam melimpah ruah yang jaraknya lumayan jauh dari kota. Siapapun yang datang kemari, akan berpikir ulang untuk menetap di desa terpencil ini atau tidak.


Hanya orang-orang tertentu saja yang mau menetap di pedalaman, dan biasanya mereka semua adalah keturunan langsung dari nenek moyang pendiri desa. Menurut kepercayaan mereka, jika ada salah satu keturunan dari leluhur mereka tidak mau menetap di desa kelahiran mereka, maka umur sang keturunan tersebut tidak bisa panjang.


Mereka boleh meninggalkan desa untuk meningkatkan perekonomian, tetapi dalam jangka kurun waktu tertentu. Lebih dari itu, mereka dipastikan tidak akan berumur panjang beserta seluruh keturunannya yang lain. Itu hanya mitos dan sudah mendarah daging di desa ini. Benar atau tidaknya, tidak ada satupun orang yang tahu tapi memang terbukti benar.


“Eric … bantu aku menabur garam di sekeliling rumah ini seperti yang kita lakukan sebelumnya. Setelah itu, kita ikatkan seluruh tali ujuk ini disetiap pojok rumah. Jangan sampai ada yang tersisa. Kita harus cepat sebelum kuyang itu datang.”


Refald mengeluarkan plastik yang berisi bawang merah dan bawang putih jantan lalu mencari-cari sapu lidi di sekitar rumah ini. Sedangkan Eric, langsung melakukan apa yang diminta Refald dalam diam.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2