
Suasana di desa semakin tegang karena banyak orang berdatangan ke rumah yang diyakini sebagai kediaman pengikut ilmu hitam. Untunglah mereka tidak bisa melihat semua pasukan Refald dan target Refald sendiri juga belum keluar.
Hanya saja, yang bikin pangeran dedemit itu geram adalah tingkah pak Po. Demit oneng itu terus berusaha mengusir salah satu warga desa yang ada didekatnya dengan meniup-niupkan mulutnya. Tak ingin terjadi kekacauan, Refald memunguti pecahan genteng yang kebetulan ada di bawah kakinya lalu menggunakan ikat rambut Fey sebagai alat ketepil untuk melemparkan batu tersebut ke arah kulit pak Po.
Sebelum dilemparkan, Refald meniup pelan batu itu sambil berkata, "Terimalah ini pak Po!" Refald memicingkan satu matanya bersiap membidik salah satu pasukan demitnya yang sedang sibuk memonyongkan mulutnya.
Dan ... wuuuushhhh ... batu itu melesat cepat menuju sasaran.
Seketika mulut pocong tampan itu langsung dower akibat serangan tak biasa Refald. Ia merintih kesakitan dan mengundang tawa rekan demitnya sendiri. Mata Refald menajam memberi peringatan pada yang lainnya untuk tetap diam di tempat dan tak perlu melakukan apapun kalau tidak ingin dikirim ke planet Saturnus.
Tidak ada yang berani melawan perintah Refald. Seketika, semua demit yang tadinya tertawa karena ulah pak Po langsung diam membisu. Refald mengamati suasana sekitar dan mulai mengambil ranting patah yang ada didekatnya untuk ia jadikan anak panah tanpa peduli pada jeritan tanpa suara pak Po.
Sang Raja demit membidik salah satu pohon yang agak jauh dari lokasi rumah mewah ini sebagai pengalih perhatian. Dengan kekuatan supranaturalnya, Refald melemparkan anak panah itu jauh ke arah pohon sasarannya dan tepat mengenai sasaran. Saking kuatnya kekuatan Refald, pohon itupun tumbang dan berhasil membuat penduduk datang ke pohon tumbang tersebut.
Merasa ada yang tidak beres, mereka semua akhirnya berpencar mencari-cari orang yang mereka kira menumbangkan pohon dan bermaksud menangkapnya. Padahal bukan itu penyebab pohon itu tumbang dadakan. Alhasil, Refald dan semua pasukannya berhasil membuat warga desa pergi dari tempat ini.
"Tunggulah di sini bersama mbak Kun Honey. Aku akan turun ke bawah dan bereskan kuyang itu." Refald langsung melompat turun tanpa mendengar Fey bicara dulu.
Kekasih Refald itu juga tak bisa berbuat apa2 dan lebih memilih diam di tempat untuk cari aman. Anggap saja Fey sedang menyaksikan live streaming film horor ala Refald.
"Apa kita akan menabuh kentongan ini lagi, Pangeran? " tanya mas Ger pada Refald yang sudah berdiri di depan anak buahnya.
Kenapa bukan pak Po yang tanya, karena si poci pocicu itu masih kesulitan bicara karena mulutnya bengkak akibat serangan kekuatan Refald barusan. Pak Po cuma bisa a ... em ... a ... em ... saja kalau ingin bersuara atau berbicara.
__ADS_1
Sebenarnya, Refald ingin tertawa melihat bentuk bibir pak Po karena mirip dengan bibirnya donal bebek. Salah sendiri, siapa suruh suka bikin ulah, kena kekuatan Refald kan jadinya. Kalau manusia biasa yang melempar batu, mungkin gak berasa untuk demit sekelas pak Po. Berhubung Refald, tentu saja kekuatan lemparannya sangat dahsyat.
Terbukti dari bentuk bibir pak Po yang berubah bentuk mengalahkan bibirnya donal bebek. Masih mending cuma bibir dower ketimbang ia kena lempar keluar galaksi bima sakti. Bisa-bisa pak Po tidak dapat kembali kemari.
"Berikan pancimu padaku!" Pinta Refald pada mas Gen tanpa memedulikan rintihan pak Po karena mulutnya semakin lama semakin bertambah besar bengkaknya.
Mas Ger menyerahkan alat pancinya tanpa merasa curiga sedikitpun. Refald juga memerintahkan semua pasukannya berjejer rapi dalam satu barisan lurus.
"Kalian semua diam di tempat dan jangan bergerak!' lanjut Refald. "Aku akan mulai memancing kuyang itu keluar. Jika dari kalian ada yang bergerak ataupun bersuara sedikit saja, maka akan kupastikan kalian tinggal di galaksi lain selain di bumi ini!"
"Siap pangeran!" seru semua pasukan demit Refald kompak kecuali pak Po karena ia masih kesulitan bicara.
"Mbak Kun, apa yang akan Refald lakukan? Firasatku mengatakan ada yang janggal," ucap Fey pada mbak Kun dari atas atap. Sejak tadi, pandangan mata Fey tal lepas dari sosok kekasihnya.
Benar dugaan Fey, Refald memang merencanakan sesuatu untuk menghukum aksi bengek seluruh pasukan demitnya. Sambil menyelam minum air, itulah yang akan dilakukan Refald.
Calon raja dedemit itupun melayang dan melesat cepat memukul satu persatu kepala para pasukannya rata dari ujung ke ujung tanpa ada yang terlewat sedikitpun sampai terdengar bunyi bising, tak kalah nyaring dari ketukan para demit yang dipimpin oleh pak Po sebelumnya.
Plontang planting plentung
Plontang planting plentung
Plontang planting plentung
__ADS_1
Begitulah bunyi bising yang ditimbulkan dari setiap kepala pasukan demit yang dipukul Refald dengan panci milik mas Gen. Sesuai perintah sebelumnya, mereka dilarang bergerak ataupun bersuara. Alhasil, para dedemit itu cuma meringis kuda ketika Refald menggetok kepala mereka dengan panci satu persatu.
"Astaga Refald. Kejam sekali kau pada para pasukanmu. Bunyi kepala mereka sampai jadi klentang klenting gitu. Itu kepala apa besi, sih?" ujar Fey terpaku melihat aksi bengek suaminya.
Refald cuma tersenyum puas. Inilah yang ia maksud menyelam sambil minum air. Memaksa istri pulang dari rumah tetangga tukang ghibah.
Tak ada reaksi dari mbak Kun karena mungkin ia juga terkejut sama seperti Fey. Dalam hati, Kunti cantik itu bersorak sorai senang karena tak ikut bergabung kena jitak seperti rekan-rekannya.
Sesuai prediksi, Refald berhasil memancing si kuyang keluar dari tempat persembunyiannya dalam wujud kuyang asli seutuhnya karena mendengar suara bising akibat dari kepala demit yang di jitak Refald dengan panci.
Tanpa peringatan, Kuyang itupun menyerang Refald. Suami Fey itu menghindar dengan gerakan super duper cepat sehingga serangan sosok kuyang meleset dan tidak bisa mengenainya. Hantu berkepala dan hanya bertubuh organ dalam berserakan itu tak menyerah begitu saja.
Kuyang tersebut terus mencoba menyerang Refald lagi. Untuk kedua kalinya, sang pangeran demit juga masih bisa menghindar. Tapi begitu serangan yang ketiga, Refald langsung memegang kepala kuyang dengan kedua tangannya kuat-kuat lalu membantingnya ke tanah dengan sangat keras hingga kuyang tersebut tak dapat bergerak ataupun melayang lagi. Wujudnya bahkan seakan tertancap di tanah saking kerasnya bantingan Refald.
"Kau bukan tandinganku!" geram Refald setelah memastikan kuyang itu tergeletak lemah tak berdaya.
Kekuatan Refald memang patut diacungi jempol. Sekali banting, kuyang itu benar-benar mati kutu. Fey sampai tegang sendiri ketika melihat kekasihnya berhadapan langsung dengan kuyang. Syukurlah Refald bisa mengatasinya dengan mudah hanya dengan sekali banting.
"Masukkan kuyang itu ke dalam karung dan kirim ke lubang hitam yang akan kusiapkan jauh dari tempat ini!" seru Refald pada seluruh pasukannya dan mereka semua langsung melaksanakan titah pangerannya.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1