
Bila Fey dan Refald sedang terjebak di sebuah lubang hitam dan masuk ke alam dunia lain, maka lain halnya dengan Eric yang sudah mulai melaksanakan ritual pertamanya. Awal pelaksanaan sih biasa saja dan tidak ada kendala apapun. Semua berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan. Para penduduk desa juga aman tenteram di rumah mereka masing-masing tak terkecuali Nana dan ayahnya. Refald sudah berpesan kepada pak Diki selaku kepala desa di desa ini untuk tak terlalu mengkhawatirkan Eric karena pemuda bule itu melaksanakan hal yang baik demi kesejahteraan desa dan juga yang lainnya.
Pak Diki dan seluruh wargapun mengerti dan berjanji untuk tak mengganggu ritual yang sedang dijalankan Eric hingga selesai. Namun siapa yang menyangka, kehadiran lubang hitam membuat suasana di desa tempat Eric bersemedi, tiba-tiba saja diguncang angin yang begitu kencang layaknya badai topan. Padahal, lubang hitam itu tidak muncul di desa tempat Eric berada, melainkan muncul di tempat Fey dan Refald sehingga keduanya tersedot kedalamnya seolah memang sengaja diatur sedemikian rupa.
Sepertinya, hal semacam ini juga sudah diprediksikan Refald sebelumnya, makanya pangeran dedemit itu membuatkan garis batas pelindung untuk melindungi Eric dari marabahaya yang bisa mengguncang dan menyerang Eric kapan saja. Persiapan Refald untuk melindungi sahabat terdekatnya sekilas memang tampak sempurna tanpa celah. Sayangnya, tak ada yang bisa menentang takdir dari Tuhan sang penguasa alam bila sudah berkehendak.
Datangnya badai topan ditengah suasana yang sebelumnya cerah, membuat semua penduduk desa jadi heran dan bertanya-tanya. Mereka semua berhamburan keluar rumah dan melarikan diri ke tempat aman. Hanya Eric yang tetap standby ditempatnya dan tetap fokus pada semedinya. Bahkan mungkin Eric tidak tahu kalau ada badai dahsyat sedang mengguncang area sekitarnya.
Hal serupa juga terjadi pada Nana yang sedang asyik dengan cerita novel fantasinya sambil mendengarkan lagu Deadwood kesukaannya karena sangat cocok dengan novel fantasi misteri yang sedang ia baca. Sama halnya dengan Eric, Nana masih belum sadar kalau telah terjadi badai topan diluar sana dan ia malah sibuk sendiri membaca novel sambil menggunakan airphone.
Sedangkan pak Diki jangan ditanya, ia sudah lebih dulu menghimbau seluruh warga menuju tempat aman karena tugas beliau sebagai kepala desa yang harus mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadinya sendiri. Pria paruh baya itu mungkin tidak sadar kalau putrinya masih ada di dalam kamar saat badai itu datang dan mulai menyerang.
Dengan sigap, pak Diki lari keluar rumah terlebih dulu untuk mengamankan seluruh penduduk desa. Kepala desa itu tetap menenangkan warganya agar tidak panik sembari mencari tahu apa yang sedang terjadi. Padahal putrinya masih tertinggal di dalam rumah.
__ADS_1
“Kok goyang-goyang ngene ranjange?” (kok goyang-goyang begini ranjangnya?) gumam Nana mulai menyadari ada keanehan di rumahnya. Iapun melepas headset dan menaruh buku yang ia baca.
Betapa shocknya Nana setelah tahu apa yang terjadi. Ia kaget sekaget-kegetnya ketika melihat ada badai topan begitu kencang sedang melanda desanya. Gadis itu berteriak dan memanggil-manggil nama ayahnya. Namun tak ada sahutan apapun. Nana mengamati sekitar rumahnya dan sudah tidak ada siapapun disekelilingnya. Hanya ada Eric yang tetap bersemedi ditempatnya tanpa peduli pada angin topan yang menerjang tubuh sang pertapa dadakan itu.
“Gendeng! Aku ditinggal weh! Tego men wong-wong iki!” (Gila! Aku ditinggal! Tega benget mereka ini!) pekik Nana panik sendiri.
Gadis desa polos itupun menatap Eric yang tetap tak bergeming ditempatnya sementara bahaya sedang menghantam mereka. Nana sungguh tidak tahu, kalau sebenarnya Eric baik-baik saja dan tak perlu dicemaskan sebab pelindung Refald, bisa melindungi Eric dalam bahaya apapun termasuk badai dahsyat ini.
“Bocah kuwi luweh senteng! Wes ngerti onok topan malah toto semedi, Ra nggenah blas!” (Pria itu lebih gila lagi! Sudah tahu ada topan, malah semedi, dasar nggak jelas!) gumam Nana sambil memikirkan cara keluar dari sini.
Di sisi lain, putri semata wayang pak Diki ingin segera pergi ke tempat para penduduk desa lainnya berada saat ini. Namun, di sisi lain lagi, ia tak tega meninggalkan Eric sendirian di tempat ini apalagi anginnya semakin lama, semakin dahsyat saja. Akhirnya, Nana memutuskan untuk membawa Eric ke tempat aman dengan dalih Eric bisa melanjutkan semedinya di tempat lain. Tanpa Nana tahu bahwa apa yang dilakukan Nana adalah suatu kesalahan besar.
“Woy Mas, melek woy! Pean ora ngerti opo, lek onok badai topan, malah enak-enakan lungguh nyantai, piye lak yo.” (Woy, Mas. Buka mata woy! Kamu nggak ngerti apa kalau ada badai topan? Malah enak-enakan duduk santai, gimana sih?) Seru Nana dengan suara lantang.
__ADS_1
Namun seruan gadis cantik itu sama sekali tak digubris oleh Eric karena pemuda bule tersebut sedang berkonsentrasi penuh pada semedinya dan benar-benar menutup hati, mata dan telinganya agar tak terganggu dengan apa yang terjadi disekelilingnya. Merasa dicuekin, Nana jadi geram sendiri dan juga kesal.
Tanpa berpikir panjang, gadis berlogat jawa kental itu mencoba menerobos masuk ke dalam pelindung buatan Refald dengan tujuan membangunkan Eric agar mau lari bersamanya ke tempat aman. Niat hati ingin menyelamatkan Eric, ternyata usaha Nana itu malah membuat semedi Eric jadi berantakan dan gagal total. Disaat tangan indah Nana menyentuh bahu Eric, saat itulah, sebuah lubang hitam mendadak terbuka dan menyedot keduanya masuk ke dalam lubang hitam tersebut seperti halnya yang terjadi pada Refald dan Fey.
Sontak saja Nana terkejut, dan langsung pingsan ketika dirinya dan Eric melewati sebuah lorong ruang dimensi yang manakutkan dan menyakitkan serasa tubuh seakan terbakar. Sampai akhirnya keduanya terdampar disebuah ruangan gelap. Ruangan tersebut hampir sama dengan tempat Fey dan Refald berada ketika keduanya juga pertama kali terdampar masuk ke dalam lubang hitam.
“Aaarrgghh!” Eric mengerang kesakitan karena tubuhnya terhempas dan jatuh ke tanah gelap begitu saja tanpa peringatan. Ia sangat terkejut ketika ada seseorang terkapar tepat di atas tubuhnya.
Pemuda itu merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel sebagai penerangan karena ia sama sekali tak bisa melihat apa-apa dan betapa terkejutnya Eric ketika ia tahu bahwa orang yang terbaring di atas tubuhnya adalah Nana. Eric berusaha bangun dan mencoba memeriksa keadaan gadis desa itu.
“Nona, bangunlah, kau tidak apa-apa?” tanya Eric antara bingung dan juga khawatir. Ia sungguh tidak tahu apa yang terjadi dan bagaimana bisa ia dan gadis desa ini ada di satu ruang gelap tak berdinding ini bersama-sama. Padahal seingatnya ia sedang bersemedi di depan rumah Nana.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***