Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 26 Karma dan Janji


__ADS_3

PERINGATAN: Kisah ini hanyalah kisah fiktif yang tidak ada hubungannya dengan dunia nyata. Tidak ada maksud menyinggung atau menyebar SARA. Jika ada kesamaan nama, tokoh, ras/suku, adat istiadat atau kepercayaan, maka itu hanya kebetulan semata. Kisah ini murni muncul dari hasil imajinasi. Harap bijak dalam membaca dan anggap hanya hiburan semata. Ambil hikmah dari sisi positifnya dan abaikan sisi negatifnya. Terimakasih atas pengertian dan dukungannya all …


***


Entah apa yang dikatakan Refald pada kunti merah membuahkan hasil atau tidak, siapa yang bisa menebaknya. Tragedi berdarah yang dialami kunti merah sungguh sangat tragis untuk dikenang dan meninggalkan luka hati terdalam. Tak ada satu wanitapun di dunia ini yang mau dilecehkan, tak dihargai dan bahkan kehormatannya sebagai wanita diinjak-injak seenaknya.


Namun, semua tragedi menyedihkan sekaligus menyeramkan itu telah lama berlalu meski bekas lukanya masih ada hingga ke anak cucu sang pelaku kejahatan yang menewaskan kunti merah itu hingga akhirnya ia menjadi arwah penasaran dipenuhi amarah dan dendam. Melupakan masa lalu memang tidak mudah dan bahkan tidak akan mungkin bisa dilakukan, Namun, seiring berjalannya waktu, hal yang bisa dilakukan untuk sekarang adalah memaafkan.


Bagaimanapun juga, tindakan kunti merah yang sudah menghilangkan banyak nyawa tetap salah dan tidak bisa dibenarkan meski ia punya alasan kuat mengapa sampai bisa menghabisi nyawa manusia atas dosa-dosa mereka. Untuk itu, Refald ingin membuat jiwa kunti merah bergentayangan ini bisa kembali ke alam baka dengan tenang dan tak mengganggu kehidupan manusia lagi.


“Mbak Kun.” Refald mulai berbicara lagi. “Aku tahu ini tidak mudah … tapi diluar sana, ada ritual yang dikhususkan untukmu. Dan orang yang melakukan ritual berbahaya tersebut adalah keturunan langsung dari orang yang menyakitimu di masa lalu. Aku tak minta kau memaafkan Eric karena dia adalah sahabatku apalagi di dalam darahnya, mengalir darah orang yang paling kau benci. Aku memintamu … hargailah usaha kerasnya demi bisa membuatmu tenang di alam sana. Terimalah ritual ini sebagai penebus kesalahan yang pernah kakek buyut Eric lakukan padamu.” Refald terus berusaha membuat kunti merah tak terus menambah kesalahan-kesalahan yang membuat jiwanya semakin tidak tenang.


Kunti merah itu mulai goyah dan terlihat galau setelah mendengar ucapan Refald. Ia sendiri juga lelah karena sudah banyak mengganggu para manusia dan bahkan sudah banyak menghilangkan nyawa-nyawa manusia yang dipenuhi dengan dosa. Ia mulai berpikir bahwa apa yang dikatakan Refald memang benar. Sudah waktunya kunti itu kembali ke alam baka dengan tenang. Namun, di sisi lain, ia tetap tak bisa menerima perlakukan keji semasa kunti merah ini hidup dulu.


“Baik … aku setuju dengan ucapanmu. Kau satu-satunya manusia yang tak bisa kuganggu. Melawanmu merupakan malapetaka bagiku. Aku … akan kembali ke alam baka ….” Kunti merah itu sengaja menggantungkan kalimatnya seolah ia sedang bersiap-siap mengatakan sesuatu. “Tapi … setelah aku membunuhmu dan membunuh sahabatmu itu!” teriak sang Kunti merah dengan amarah meluap-luap dan langsung melesat cepat menyerang Refald.

__ADS_1


Seperti biasa, pak Po langsung maju ke hadapan Refald dan menjadikan sosoknya sebagai tameng atas serangan yang dilakukan kunti merah pada Refald. “Minggir kau pocong jelek!” teriak kunti merah itu karena jelas serangan apapun yang ia berikan takkan mempan bagi pak Po.


Kenapa bisa tidak mempan? Sebab, mereka sama-sama sudah meninggal dan sama-sama jadi hantu meski beda aliran. Otomatis, sesama dedemit mana bisa saling melukai.


“Kau yang minggir! Kunrah jelek! Sebelum kau menyentuh Pangeranku, langkahi dulu mayatku!” tantang pak Po balik saat keduanya saling beradu kekuatan.


“Dasar bodooh! Kau itu sudah mati! Bagaimana bisa aku melangkahi mayatmu! Jasadmu dikubur dimana saja aku tidak tahu!” bentak kunti merah tapi pak Po langsung menggunakan kekuatannya untuk mendorong kunti tersebut hingga terpental jauh ke udara.


“Benar juga ya?” ujar pak Po bingung sendiri, iapun balik badan menatap Refald yang melipat kedua tangannya di depan dada menahan sabar atas keoonan anak buahnya. “Pangeran! Apa Anda tahu dimana jasad saya dimakamkan?” tanya pak Po dengan polosnya.


“Mana aku tahu bodooh! Kau bahkan sudah jadi pocong jauh sebelum aku dilahirkan! Apa jasadmu itu penting sekarang, ha? Berhati-hatilah karena kunti merah itu akan menyerangmu lagi!” bentak Refald mengingatkan dan benar saja, Kunti merah mulai menyerang pak Po.


Sang Kunti merah kembali melayang-layang di udara dan tak ada niat untuk menyerang lagi. Menyerang Refald, sama saja dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sekeras apapun kunti merah itu berusaha melukai Refald, tetap saja ia gagal karena ada pak Po disisinya dan kekuatan luar biasa yang dimiliki pangeran dedemit.


Refald sendiri, terus mengamati situasi. Pada dasarnya, semua ini memang bukan urusannya. Namun saat ini, ia berdiri ditengah-tengah jembatan antara dunia manusia dan dunia lain di mana makhluk tak kasat mata juga merupakan bagian dalam hidupnya meski tidak semuanya.

__ADS_1


Tugas utama Refald sebagai manusia pengeran dedemit adalah menjaga keseimbangan alam agar dunia lain dan dunia nyata tidak bercampur aduk sehingga menyebabkan kekacauan serta kehancuran dimana-mana. Dalam hal ini, Refald tidak bisa bertindak gegabah dan harus netral di tengah.


“Kau sudah tahu seperti apa kekuatan yang kumiliki kan mbak Kun? Jika aku mau, aku bisa melenyapkanmu lebih awal tanpa perlu repot-repot datang ke tempat berbahaya seperti ini. Tapi, aku tidak melakukannya. Bukan karena takut akan ancaman yang kau berikan padaku ataupun ikut campur urusanmu. Menurutku, kau layak mendapatkan kesempatan kedua. Kau bisa bahagia bila sudah tiba waktunya. Terimalah semua yang menjadi takdir hidupmu dengan ikhlas. Tidak ada gunanya juga kau melawanku sekarang.” Kilatan mata tajam Refald menatap tajam kunti merah.


Makhluk berbaju merah itupun terdiam. Yang dikatakan Refald memang benar, di dunia lain, kekuatan Refald jauh lebih unggul bila dibandingkan dengan makhluk astral lainnya karena pemuda tampan itu memiliki kekuatan istimewa dari para sesepuh dimana leluhur Refald merupakan raja-raja besar yang pernah berjaya dimasanya.


Tidak ada manusia manapun di dunia ini memiliki pasukan dedemit dari dunia lain seperti leluhur Refald, dan sekarang diturunkan langsung kepada Refald. Orang mungkin tidak akan pernah percaya pada hal ghaib dan ajaib semacam ini, tapi pada kenyataannya memang ada, Refaldlah buktinya meski sang pangeran dedemit harus menyembunyikan rapat-rapat identitasnya agar tak diketahui orang lain kalau dirinya adalah manusia istimewa.


“Kembalilah ke asalmu mbak Kun. Dan lupakan masa lalumu. Jangan ganggu manusia lagi karena dunia kalian sudah berbeda. Sebagai pengeran dari dunia lain, aku berjanji, takkan kubiarkan apa yang terjadi padamu, terjadi pada wanita lainnya selama aku masih bernapas di dunia.” Refald membuat kagum pak Po dengan janji yang ia ucapkan pada kunti merah.


Sejauh pak Po melayani raja-raja demit sebelum Refald, baru kali ini ia menyaksikan sendiri, ada seorang calon Raja menjanjikan hal luar biasa pada seorang dedemit meskipun dedemit itu bukanlah pasukan dari Refald sendiri.


“Wuah … Anda hebat, Pangeran!” ujar pak sambil melongo menatap Refald yang terus melihat raut wajah kunti merah.


“Tentu saja pak Po, aku memang selalu keren dan tampan. Janji yang kuucapkan ini bukan hanya sekedar janji, aku melakukan semua ini, demi wanita yang kucintai.” Refald tersenyum membayangkan sekelebat bayangan Fey terlintas dipikirannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2