Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 35 Lubang Hitam


__ADS_3

Akhirnya, Refald memutuskan untuk bergabung kembali dengan Fey dan rekan-rekan Fey lainnya. Mereka semua terhanyut dalam obrolan seru dekat api unggun dimana Fey sendiri sedang menjadi bahan candaan para seniornya. Bukannya melindungi kekasihnya, Refald malah semakin memperkeruh suasana dengan mengamini semua hal yang dikatakan senior Fey tentang hubungan keduanya.


Kekesalan Fey semakin tak bisa dibendung lagi. Ia heran dan tidak habis pikir, bagaimana bisa Refald berpihak pada para senior resek dibandingkan dirinya. Tak tahan mendengar candaan mereka yang menyudutkan Fey, gadis itu memutuskan pergi menjauh saja daripada ia kena gagal jantung dadakan.


“Kalian semua benar-benar menyebalkan!” cetus Fey kesal dan iapun bangkit berdiri dari sisi Refald lalu melangkah jauh ke tempat sepi dengan perasaan kesal yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


“Kenapa kau tak menyusul istrimu yang sedang merajuk itu? Cepat kejar dia daripada nanti dia hilang digelapnya malam,” canda Yoshi pada Refald dan Refaldpun langsung berdiri mengamini candaan Yoshi, salah satu seniornya.


“Kau benar, aku bisa gila jika kehilangan dia. Kalian semua membuatku cinta mati sama tunanganku sendiri,” ucap Refald dan langsung berlari menyusul Fey tanpa peduli pada cibiran seluruh orang yang menyaksikan Refald pergi meninggalkan kerumununan dengan lebay karena bicara sok romantis.


Sesuai perkiraan Refald, Fey berlari ke arah yang salah. Gadis itu terlalu kesal sehingga ia tidak sadar kalau dirinya sudah melewati pagar pembatas pelindung. Anehnya, pembatas itu menghilang dengan sendirinya ketika Fey lewat dan sebuah lubang hitam mendadak terbuka seolah memberikan jalan pada tunangan Refald agar gadis itu masuk ke dalamnya.


Dari kejauhan, Refald sudah memperingatkan wanita pujaan hatinya agar berhenti di tempat, tapi entah apa yang terjadi, seruan Refald sama sekali tak bisa didengar oleh Fey. Seluruh pasukan Refald yang berjaga di sekeliling keduanya juga tak bisa berbuat apa-apa seakan ada yang menahan mereka semua agar tak bisa masuk ke dalam bersama Fey yang terlanjur tersedot ke lubang hitam.


“Honey! Berhenti!” seru Refald tapi Fey tetap tak bisa mendengar suaranya. “Sial!” umpat Refald kesal. Sebab, lubang hitam didepannya sudah hampir menutup kembali begitu Fey masuk kedalamnya.


Di detik-detik terakhir pintu lubang hitam yang semakin mengecil, Refald melesat cepat menggunakan kekuatannya agar bisa memasuki lubang hitam tersebut tepat waktu sebelum pintunya benar-benar menutup. Refald dan Fey akhirnya sama-sama tersedot di dalam lubang hitam dan langsung menghilang dari pandangan.


Bagi Refald sih tidak masalah karena ini bukan pertama kalinya ia berada di tempat paling menyeramkan di dunia lain, tapi berbeda dengan Fey yang langsung tertegun dan shock ketika ia mulai sadar ada di mana dirinya sekarang.


Gadis itu berdiri mematung, bingung, tak bisa bergerak saking terkejutnya. Semua tempat diseklilingnya sangat gelap gulita dan sama sekali tidak ada pencahayaan. Kebayang nggak betapa paniknya Fey ketika ia tak bisa melihat apa-apa di sekelilingnya, di tambah dengan suasana kelam yang mencekam sehingga bulu kuduk gadis cantik itu berdiri semua.


“A-ada … di mana aku? Ke-kenapa … gelap sekali?” gumamnya dengan suara gemetar. Seluruh tubuh Fey langsung menggigil dan ingin menangis karena ia berada di tempat gelap ini sendiri. Bahkan rasanya, Fey sudah tak mampu berdiri lagi saking gemetarnya.

__ADS_1


Ini pertama kali Fey sendiri. Benar-benar sendiri tanpa bisa melihat apa-apa di tempat asing yang Fey tidak tahu dimana tepatnya. Dalam hal ini Fey langsung menyesali tingkahnya yang kekanak-kanakan hanya karena dijadikan bahan candaan. Ia menyesal karena tak seharusnya ia menjauh jika pada akhirnya, membawanya ke tempat aneh sendirian.


Kendati demikian, Fey mati-matian mencoba bersikap tenang dan mencari jalan keluar. Meski suasana disekitar Fey sangat gelap gulita, ia masih bisa merasakan apapun yang mencoba melintas disekitarnya dan itu membuat Fey semakin bergidik ngeri sendiri.


“Kau kuat Fey, jangan panik. Berpikirlah dan cari jalan keluarnya. Menangis, tidak akan membantu menemukan cara keluar dari tempat gelap ini.” Fey mencoba menguatkan dirinya agar tak lagi takut meski ia tidak tahu apa yang akan ia hadapi sekarang.


Tiba-tiba saja, sebuah tangan terulur dari belakang dan langsung menempel pelan di bahu kanan Fey. Merasa ada yang memegang pundaknya, seketika gadis itu berteriak sekeras dan sekencang mungkin sampai langit-langit seakan ikut runtuh saking kerasanya suara gelegar Fey.


“Aaaaaaaarrggghh!” teriak Fey sambil jingkrak-jingkrak ketakutan karena bahunya dipegang sesuatu dari belakang. “Pergi! Pergi kau! Jangan ganggu aku!” teriak Fey sambil bergerak ke sembarang arah.


“Honey! Tenaglah ini aku!” ujar Refald menenangkan. Dialah yang memgang bahu kekasihnya.


Fey masih belum percaya begitu saja pada pria yang berusaha memegangnya dan Refald menyalakan lampu senter kecil yang selalu ia bawa kemana-mana sehingga tampaklah wajah tampannya. Fey tertegun bingung, ia sedang sekaligus takut. Tak dapat dipungkiri Fey ragu apakah sosok pria tampan didepannya ini benar-benar tunangannya atau makhluk ghaib yang menyamar menjadi Refald.


“Kau mau aku membelah dadaku? Supaya kau percaya bahwa aku adalah tunanganmu?” tanya Refald sok serius.Ia menggigit unjung senter sehingga cahaya lampunya tersorot ke wajah cantik kekasihnya. Iapun mulai membuka kancing bajunya.


Fey yang berdiri tepat di depan Refald langsung terkejut. “Apa yang kau lakukan?” pekik Fey.


Firasatnya sangat buruk sekarang, tapi ketika melihat aksi konyol Refald yang tiba-tiaba saja membuka bajunya, Feypun jadi percaya kalau pemuda tampan didepannya ini memang benar-benar tunangannya.


“Aku akan membelah dadaku supaya kau percaya padaku,” terang Refald sambil masih menggigit senter kecil dimulutnya.


“Hentikan Refald, apa ini sangat lucu bagimu?”

__ADS_1


“Honey, kau tidak percaya padaku, jadi aku membuktikannya pada ….”


“Aku percaya, hentikan kekonyolan ini Refald.” Fey memotong ucapan tunangannya sebelum melantur kemana-mana. “Kancingkan kembali kemejamu. Kenapa kau mesum sekali, ha? Tidakkah lebih baik kalau kau membantuku mencari jalan keluar dari sini? Tempat apa ini? Ada di mana kita sekarang? Aku bahkan tidak tahu,” ujar Fey antara sedih dan putus asa sekaligus kesal. Bisa-bisanya Refald mengajaknya bercanda disaat genting begini pakai acara adegan buka baju segala.


“Tenanglah Honey. Aku tahu tempat ini, kita tidak bisa keluar dari sini dengan mudah.”


Bukannya mengatakan hal yang menyenangkan, Refald malah membuat Fey semakin ketar ketir saja. Dengan santai, pemuda tampan tak kenal takut itupun mengambil senter dari mulutnya setelah ia selesai mengancingkan satu persatu kancing kemejanya yang sempat ia buka.


Fey kembali tertegun. Ia menatap wajah Refald lekat-lekat untuk meminta penjelasan lebih rinci lagi. “Apa maksudmu? Kita … akan terjebak di sini selamanya?” tanya Fey mulai cemas.


“Tidak, kecuali kalau kau ingin tinggal di sini.”


“Aku tidak mau di sini! Tempat ini gelap sekali. Ayo kita pergi dari sini Refald. Jangan bermain-main begitu? Aku sedang tidak ingin bercanda denganmu,” pekik Fey.


“Ehm … sebenarnya, sangat mudah untuk kita keluar dari sini secepatnya seperti yang kau inginkan,” ujar Refald mencurigakan. Matanya menatap penuh makna manik mata pujaan hatinya.


“Apa itu?” tanya Fey agak ragu. Ia tak yakin Refald serius dengan ucapannya.


“Menikahlah denganku!” tandas Refald tanpa ragu.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2