Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 85 Kopi Hitam


__ADS_3

Ucapan Refald benar-benar membuat dongkol akut Fey. Bisa-bisanya suaminya itu masih santai sementara Fey masih beluk tahu ada dimanakah mereka sekarang. Kalau saja situasinya tidak sedang dalam keadaan genting seperti ini, mungkin wanita cantik yang sedang hamil muda itu tak ingin lama-lama ada di dekat Refald.


Di depan, ada kabut tebal sedang menyelimuti jalan disekitar lokasi yang sama sekali tak diketahui oleh Fey. Sebab, ini pertama kalinya Fey datang ke tempat gelap gulita di mana kanan kiri jalan hanya ada hutan pinus saja. Sepanjang jalan tampak sangat sepi dan sunyi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Fey jadi semakin yakin kalau dirinya kini ada di alam lain. Bukan dunia manusia tempatnya berasal.


Berbeda dengan Fey yamg masih menerka-nerka akan keberadaan Fey sekarang. Refald, selaku raja demit dari dunia lain sudah tahu dan sengaja mengikuti alur. Para pasukan casper Refald juga terus melayang di udara mengawal raja dan ratu mereka memasuki kawasan dimana hawa mistis semakin kental terasa. Kendati demikian, baik Refald atupun para pasukan caspernya tetap meningkatkan kewaspadaan kalau-kalau mendapat serangan dadakan.


Di kejauhan, tampak sebuah kedai di mana ada satu mobil sedan silver sedang terparkir di depannya. Sepertinya, sang pemilik mobil adalah pelanggan kedai tersebut karena di depan kedai ada 2 orang pria sedang berbincang-bincang. Satunya sambil berdiri dan memberikan pesanan, satunya duduk sambil menikmati pesanannya.


Sebenarnya, Fey merasa aneh. Di tengah hutan begini, dimana Fey meyakini ini adalah lokasi dunia lain, ternyata ada manusia yang berani mendirikan kedai di tempat misterius, seorang diri pula. Istri Refald itu jadi penasaran apa yang sedang terjadi di sana dan meminta suaminya untuk berhenti juga di kedai itu. Pikiran Fey sedang tak karuan atara takut dan juga cemas kalau orang yang membawa sedan sedang dalam bahaya.


"Refald, bisakah kau berhenti di kedai itu? Aku ingin beli sesuatu," pinta Fey pada suaminya.


"Oke!" Refald mengiyakan tanpa syarat. Artinya, kedai itu aman untuk mereka berdua karena Refald tak berkomentar apa-apa.


Fey keluar lebih dulu dari dalam mobil setelah Refald memarkirkan volvo silvernya tepat di belakang mobil sedan. Tampak jelas ada seorang pria berkacamata sedang ngobrol serius dengan si pemilik kedai.


Awalnya, Fey agak terkejut, karena salah satu mata pemilik kedai tersebut memliki kelainan. Bola matanya seolah ingin melompat keluar dalam artian sebenarnya. Entah bagaimana bisa ada bola mata tidak berada pada tempatnya sehingga membuat orang jadi ngeri sedap bila memandang wajah sang pemilik kedai. Serem sih, tapi Fey yang merupakan ratu dari dunia lain sudah biasa melihat hal-hal aneh semacam ini.


Selamat datang Nona," sapa si pemilik kedai dengan sopan. Matanya yang aneh jadi serasa merinding disko.


"Selamat malam Kisanak, maaf mengganggu, apa di sini jual minuman mineral kemasan?" tanya Fey tak kalah ramah sambil melempar senyum pada pria berkacamata yang sedang menikmati kopinya. Pria berkacamata itupun membalas senyuman Fey dengan sikap sopan sebagai bentuk ramah tamah ketika bertemu dengan orang asing tak dikenal.


"Ada, Non! Sebentar saya ambilkan." Pria paruh baya itupun masuk ke dalam warung dan mengambilkan apa yang Fey pesan.


"Mang, bikinkan kopi juga!" seru Refald dari belakang istrinya yang langsung membuat Fey terkejut.


"Kau kan tidak suka kopi, Refald? Kenapa tiba-tiba pesan kopi?" tanya Fey bingung.

__ADS_1


"Kopi itu bukan untukku Honey, tapi untukmu," jawab Refald sambil tersenyum simpul.


"Untukku? Kenapa? Kau kan tahu kalau aku juga tidak begitu suka minum kopi, apalagi aku sedang hamil." Fey semakin mengernyitkan alisnya tanda tidak mengerti maksud Refald.


"Nanti kujelaskan Honey. Kau tak perlu menghabiskan kopinya, cukup seruput sedikit saja." Refald sengaja mempersilakan istrinya untuk duduk satu meja dengan pria berkacamata yang lebih awal sudah ada di sin.


Fey pun semakin bingung, berhubung Refald adalah Raja dengan segudang kemisteriusannya, maka Fey menurut saja untuk cari aman.


"Maaf Mas," sapa Refald pada pria berkacamata. "Boleh kami duduk di sini?" tanya Refald dengan lembut. Padahal dia dan Fey sudah duduk manis dihadapan pria berkacamata.


"Oh tentu, buat diri kalian berdua nyaman di sini." Pria berkacamata itu tersenyum ramah.


Fey hanya menatap pria berkacamata itu dalam diam dan membiarkan Refald bicara. Fey yakin suaminya pasti punya rencana dibalik aksi dan tindakannya termasuk memesankan kopi untuknya. Padahal, Refald jelas-jelas tahu kalau Fey tidak begitu suka kopi. Kalaupun suka, itu hanya kopi tertentu yang sudah dicampur dengan susu. Bukan kopi pahit hitam legam yang ampasnya udah kayak adonan dedak ayam.


Saat kopi hitam itu disuguhkan, Fey memelototi kopi itu sambil menelan salivanya.


Karena Refald bisa mendengar jeritan hati seorang istri, ia menggenggam erat tangan Fey seolah memberi tahu bahwa dia akan baik-baik saja setelah meminum kopi tersebut.


"Minumlah Honey, nggak enak kalau keburu dingin," suruh Refald dengan nada suara penuh makna didalamnya.


"Bagaimana kalau perutku mual Refald, kau tahu aku sensitif," protes Fey.


Kali ini Refald tak peduli. Dia membantu meminumkan kopi tersebut ke arah mulut Fey sambil menatap mata istrinya dengan tajam.


Minumlah kopi ini atau kita akan terlambat!


itulah makna dari tatapan mata Refald yang terkesan sedikit memaksa. Dan Fey tetap menggelengkan kepala keukeuh pada pendiriannya tak ingin meminum kopi hitam itu.

__ADS_1


"Kau mau aku menciummu Honey?" Refald mulai mengeluarkan jurus intimidasinya. Tak main-main, Refald bahkan permisi dulu pada pria berkacamata sebelum melancarkan aksinya.


"Maaf sebelumnya ya Mas, kami berdua baru saja menikah dan aku sedang berada di puncak asmara. Mohon jangan keberatan jika aku menyalurkan gelora cinta yang kurasakan pada istriku di depan Anda, sebab kami sudah sah."


Fey melongo tapi Refald tidak peduli. Seperti biasa, jahilnya Refald mulai kumat.


"Si-silahkan saja," ujar pria berkacamata sambil garuk-garuk kepala karena bingung, ada ya manusia aneh seperti Refald yang bila ingin bermesraan dengan istrinya permisi dulu pada orang disekitar mereka.


Mau tidak mau, Fey pun memaksakan diri mencicipi kopi hitam itu sambil menjepit hidungnya dengan tangan agar dia tidak mual daripada dibuat malu oleh Refald. Fey memicingkan matanya menahan rasa pahit yang memenuhi seluruh lidahnya. Buru-buru Fey menelan kopi hitam itu lalu ia menghabiskan sebotol air mineral yang juga tadi ia pesan.


"Bagaimana rasanya?" tanya Refald.


"Pahit sekali," jawab Fey masih sambil memicingkan mata. Refald tersenyum lega dan senang entah karena alasan apa.


"Masa pahit sih, Mbak? Kopi buatan Mamang manis kok," ujar Pria berkacamata pada Fey.


"Kalau Masnya nggak percaya, nih kopinya buat Mas aja!" cetus Fey karena merasa dia dianggap sok manja.


Padahal asli, kopi yang baru saja Fey minum rasanya memang pahit legit banget seolah tanpa diberi gula sedikitpun. Kebayang kan, gimana pahitnya. Bagi pecinta kopi sih gak masalah, semakin pahit malah semakin nikmat. Namun bagi Fey, ia tak sanggup meminumnya lagi. Perutnya serasa bergejolak hebat.


Demi membuktikan bahwa ucapan pria berkacamata itu benar, ia menuangkan kopi milik Fey ke alas cangkir kopi lalu meminumnya. Pria tersebut tampak sangat menikmati kopinya dan bahkan saking enaknya, ia menghabiskan secangkir kopi itu dalam sekali teguk.


"Ehmm ... manisnya pas!" seru pria berkacamata itu senang.


"Gawat!" gumam Refald sembari menautkan kedua jari-jemarinya seolah sedang terjadi sesuatu hal yang besar.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2