
Entah apa yang dibicarakan Refald dengan sang vampir. Mereka berdua sepertinya serius membahas tentang sesuatu. Namun, hal itu tidak berlangsung lama, Refald pamit undur diri dan mengajak Fey pergi ke suatu tempat di mana para pasukan dedemit Refald sedang disandera saat ini.
Sementara pak Po dan pasukan demit lainnya, terkurung dalam satu lingkaran aneh yang membuat mereka tak bisa keluar dari tempat itu. Sebenarnya sih bisa kalau pak Po mau. Hanya saja, ia sudah lama tidak bersenang-senang dan berencana membuat onar di sini terlebih dulu sebelum keluar. Mumpung raja dan ratu demitnya tidak ada di sini jadi si pocong tampan tapi onengnya nggak ketulungan itu ingin mengerjai para penculiknya serta reka-rekan demitnya.
Para pengabdi setan yang sempat disinggung Refald, sedang bersiap melakukan suatu ritual mistis untuk mencapai tujuan mereka. Rupanya mereka membutuhkan banyak makhluk astral dari berbagai macam kalangan untuk membantu memperlancar mereka yang ingin mendapatkan kekayaan dan kekuasaan secara instan. Benar-benar kepercayaan yang menyesatkan. Sejak kapan setan bisa membantu memperlancar urusan manusia yang jelas dunia mereka sangat berbeda.
Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa pasukan Refald yang terkenal sebagai demit baik hati dan tidak suka mencampuri urusan orang lain ikut terjaring oleh para manusia pengikut aliran sesat ini. Usut punya usut, rupanya pak Po lah biang keladinya. Saat proses penangkapan para makhluk astral oleh para manusia sesat tersebut, pak Po sengaja melibatkan diri dan menyeret seluruh rekan seperguruannya untuk ikut tertangkap juga.
Alhasil, disinilah mereka sekarang. Beruntung, Refald adalah raja demit serba tahu dan ia langsung menyadari apa yang terjadi pada seluruh anak buahnya meski semua itu gara-gara ulah pak Po.
“Oey pak Po? Kau kan bisa membuka segel itu, cepat bukalah supaya kami bisa keluar dari sini. Manusia-manusia itu menggelikan sekali, buat apa pakai acara ritual nggak jelas begitu? Dipikir kita suka hal-hal kayak gitu, apa? Nggak banget, malah geli melihatnya,” ujar mas Gen yang merasa aneh melihat banyak orang mengangkat kedua tangan mereka sambil latihan membacakan mantra-mantra yang mereka anggap sebagai mantra sihir.
“Jangan tergesa-gesa keluar, kita dengarkan saja dulu mantra yang mereka ucapkan, lucu tahu?” ujar pak Po sambil ketawa ketiwi.
“Mantra?” tanya mas Gen bingung.
“Saat mereka menangkap kita tadi, mereka kuberitahu mantra yang tepat agar bisa mencapai tujuan mereka, hahaha …” pak Po masih terkekeh dan mas Gen sudah bisa menebak apa yang bakal terjadi setelah ini. Sebab itulah mereka dikurung dan tidak dibebaskan, rupanya semua ini masih ulah pak Po juga.
__ADS_1
“Pasti mantra yang kau ajarkan itu sesat! Tidak ada mantra apapun yang bisa memerintahkan kita kecuali perintah dari Raja demit Refald.”
“Aku tahu, kita semua tahu. Semua setan di sini juga tahu. Tapi para manusia itu kan tidak tahu. Daripada mereka mengucapkan mantra kewas kewes nggak jelas, lebih baik mereka menggunakan mantra yang kuajarkan, itu jauh lebih menghibur. Siapkan saja perut kalian. Jangan sampai kebelet ke belakang! Wkwkwkwk!” belum apa-apa Pak Po sudah tertawa terbahak-bahak melihat para manusia pengabdi setan itu mondar mandir dan sibuk menghafalkan naskah mantra pemberian pak Po.
Entah seperti apa prosesnya sehingga manusia itu mau saja percaya dengan pocong oneng itu. Padahal kalau sudah berurusan dengan pak Po, pasti bakal bikin spaneng sampai gagal ginjalpun jadi.
Pembacaan mantra akhirnya di mulai. Semua demit termasuk para demit pasukan Refald berdiri paling depan karena penasaran mantra seperti apa yang sudah pak Po beritahukan kepada mereka. Yang jelas mantra tersebut bukanlah mantra sungguhan layaknya penyihir terkenal.
Salah satu pemimpin pasukan pengabdi setan, maju dan berdiri paling depan. Mereka berdiri tepat dihadapan para demit yang sedang mereka kurung dan juga menatap mereka semua dengan tajam di atas udara. Para manusia itu berharap dengan mantra yang diberikan pak Po, para demit itu luluh pada mereka dan mau membantu mereka menggapai visi misi mereka tanpa ada ya hambatan apapun. Padahal jelas, yang mereka lakukan ini telah menyalahi aturan agama dan hukum.
Pembacaan mantrapun di mulai. Semua tampak khidmad dan bahkan para demit yang menunggu mantra dibacakanpun ikutan tegang.
Baru satu kalimat pembuka itu saja langsung membuat para demit yang terkurung tertawa. Lah gimana nggak ketawa? Bahasanya aneh begitu. Sayangnya, tawa mereka hanya bisa di dengar oleh sesama demit saja. para manusia-manusia gila harta dan kekuasaan didepannya tidak tahu kalau setan-setan yang mereka tangkap sedang menertawai kebodohan mereka.
“Pring Reketek! Gunung gamping gempal,” lanjut sang pemimpin ritual sambil membawa tongkat kebesaran dengan salah satu ujung tongkatnya berbentuk tengkorak manusia. “Cilik tak emeg-emeg, bareng gede gempal,” serunya lagi sambil emngangkat tangan diikuti oleh para pengikutnya di belakang.
Tak tertahankan lagi seperti apa tawa para demit yang mendengar mantra itu. Mereka tertawa keras sampai tubuh mereka bergoyang-goyang sehingga menimbulkan getaran. Getaran-getaran tersebut semakin meyakinkan para pengabdi setan bahwa mantra mereka didengar dan disukai para setan. Padahal aslinya mereka ngakak mendengar mantra ajaran pak Po diucapkan.
__ADS_1
“Diamlah kalian semua! Mantra panjang akan dibacakan, simak dan dengarkan baik-baik!” seru pak Po menenangkan rekan-rekan demitnya yang tidak bisa berhenti tertawa. Anehnya mereka menurut saja omongan pak Po dan kembali menatap para manusia yang mulai melanjutkan membaca mantra mereka.
“Kwo khwaai kho khon kho ra-khang ngo nguu cho chaang so soo cho cheu yo ying to monthoo tho phuu thao no neen thot ha haan tho hong no nuu pho phaan fo fan pho samphao mo maa yo yak ro reuua lo ling wo waeen lo cu laa ho nok huuk gowel gowel,” seru pemimpin ritual itu dengan lantang diikuti oleh pengikutnya meski mantra yang mereka bacakan terdengar sangat aneh terutama dibagian paling akhir.
Para demit termasuk pak Po sendiri langsung ngakak guling-guling di udara setelah mendengar pembacaan mantra paling aneh bin nyeleneh yang pernah mereka dengar. Mereka bahkan sampai tak bisa berkata-kata karena belum bisa meredakan tawa mereka.
Refald dan Fey yang baru saja datang dan mendengar mantra tersebut dibacakan juga langsung ikutan tertawa, tapi mereka tidak berani bersuara karena posisi pasangan suami istri itu ada di sebuah celah dinding goa. Kalau sampai mereka ketahuan, para demit yang mereka kurung bisa dalam bahaya.
“Astaga Refald, apa yang baru saja para manusia itu ucapkan?” tanya Fey setelah tawanya mereda.
“Itu adalah huruf dalam bahasa Thailand, Honey. Si pak Po-lah yang mengajarkan mantra itu pada mereka. Dasar pocong edan,” jawab Refald yang jadi ikutan tertawa lagi. “Kau lihat para demit yang terkurung itu Honey, mereka bahkan sampai ngakak guling-guling jungkir balik gara-gara ulah demit kesayanganmu,” tambahnya.
“Si poci pocicu itu benar-benar …” Fey sungguh tidak tahu kata-kata apa yang harus ia ucapkan untuk keonengan pak Po. “Sekarang, apa yang harus kita lakukan? Para manusia itu buang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna.”
Refald tersenyum sinis karena ia punya ide untuk membereskan hal konyol ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***
Peringatan! Dilarang ngakak wkwkwkwk!