
Refald dan Fey datang ke sebuah acara pernikahan yang di gelar di salah satu tempat paling indah di Italia. Teman Refald yang bernama Pierre Teandeon itu sengaja menyewa kastil untuk merayakan hari pernikahannya dengan sang pujaan hati tercinta. Kastil tersebut adalah Odescalchi Castle, yang letaknya ada di Roma, Italia.
Artis papan atas sekelas Tom Cruise dan Katie Holmes pernah menyelenggarakan pernikahan di kastil ini. Berkat pernikahan mereka, kastil ini menjadi kian populer. Kapasitas, kastil ini dapat menampung 1000 tamu. Keunikan dari kastil ini adalah bangunan arsitekturnya mengadopsi gaya pada abad 15.
Pierre adalah seorang pilot yang memiliki jam terbang tinggi. Tak heran bila ia memilih lokasi ini sebagai pesta pernikahannya.
Pasangan Refald dan Fey akhirnya tiba di lokasi. Karena Fey sedang hamil, Raja demit itu sedikit posesif dan over protektif. Sedetikpun, Refald tak pernah meninggalkan Fey sendirian. Bahkan genggaman tangannya tak pernah lepas begitu keduanya memasuki kastil mewah yang menjadi tempat pernikahan Pierre.
"Tempatnya indah sekali Refald," komentar Fey saat ia masuk ke dalam kastil. "Entah kenapa, aku merasa tekstur bangunannya mirip dengan istana kerajaan yang kau bangun di dunia lain."
"Tentu saja Honey, yang membangun istana di dunia lain, adalah pasukan dedemitku sendiri. Mereka semua berasal dari abad 15. Sama seperti kastil ini dibangun," terang Refald. Raut wajahnya datar seolah ada yang ia pendam.
Fey tidak bisa menebak apa yang ada dipikiran suaminya ini. Kenapa dengan Refald hingga bermuram durja begitu. Harusnya suaminya ini bahagia karena temannya akan menikah. Tapi, nyatanya, Refald malah murung seakan enggan menghadiri pesta pernikahan ini jika saja Fey tidak memaksanya pergi.
Hal aneh semakin dirasa Fey kala yang berdiri di altar pernikahan bukanlah Pierre, melainkan pria tampan lain yang tidak Fey kenal. Fey kembali memeriksa kembali undangannya takut kalau ia salah masuk kastil. Setelah diperiksa berkali-kali, tidak ada yang salah dengan kastil dan siapa yang menikah. Semua sama seperti yang tertera sesuai dengan di undangan.
"Refald ... di mana Pierre? Kenapa bukan dia yang berdiri di altar itu?" tanya Fey. Keduanya saat ini merupakan tamu VVIP yang mendapat kursi dibarisan paling depan.
"Sebentar lagi dia akan datang, kita tunggu saja Honey," ujar Refald sedih. Fey yakin kalau suaminya itu sedang berkaca-kaca entah karena apa.
"Refald ... kau tidak apa-apa? Kenapa kau menangis?" tanya Fey. Ia mencemaskan keadaan suaminya yang mendadak baperan begini.
__ADS_1
"Aku tidak menangis Honey, cuma kemasukan debu," kilah Refald sambil memalingkan wajahnya.
"Kastil ini sangat bersih dan kinclong. Tak ada debu di sini. Sudahlah, jangan berbohong. Kau ini sedang menangis bahagia atau menangis sedih? Jangan buat aku bingung Refald, katakan ada apa?" tanya Fey sungguh sangat ingin tahu.
Belum juga Refald menjawab, alunan musik pernikahan mendadak dibunyikan karena sang pengantin wanita sudah datang dan mulai berjalan masuk untuk melangsungkan pernikahan.
Fey pun sudah tidak sabar untuk melihat acara pernikahan ini. Bumil cantik itu terpukau akan betapa anggun dan menawannya sang pengantin wanita yang ternyata berjalan beriringan dengan calon suaminya, Pierre. Bule Jerman itu juga tampak tenang tanpa ekspresi meskipun ini adalah hari bahagianya.
Sungguh, pasangan pengantin itu adalah pasangan serasi. Satunya cantik nan elegan, satunya tampan rupawan dengan khas wajah bule mereka. Senyum merekah langsung menghiasi wajah Fey ketika melihat pasangan sejoli itu saling menatap dan berjalan pelan untuk melangsungkan pernikahan mereka.
Namun, berbeda dengan Refald yang justru terlihat semakin sedih saja. Air mata Refald bahkan mulai jatuh mengalir membasahi pipi.
Seketika senyum Fey langsung menghilang begitu melihat suaminya menangis dalam diam. Iapun heran kenapa Refald tampak sesedih itu. Karena penasaran, Feypun mengikuti arah pandang suaminya dan betapa terkejutnya Fey pada apa yang ia lihat sekarang. Bumil cantik itu bahkan sampai menutup kedua tangannya saat mengetahui alasan kenapa Refald menangis dan terus bersedih sedari tadi.
"Tidak mungkin ... Pierre ... dia ... ini tidak mungkin. Bagaimana ... Pierre, kakinya ... ka-kinya ... me-melayang?" Fey bicara sampai terbata-bata saking shock dan tidak percayanya.
Sosok Pierre yang tampan memang berjalan beriringan dengan wanita yang akan dinikahinya. Hanya saja, ada yang berbeda. Bila pengantin wanita berjalan pelan dengan sepatu high heelsnya, maka lain halnya dengan Pierre yang kakinya melayang diudara sehingga tampak jauh lebih tinggi dari si wanita.
Fey mengusap-usap matanya berharap apa yang ia lihat ini tidaklah nyata. Namun, ini bukan mimpi, Pierre ... sudah bukan manusia lagi. Air mata Fey ikut mengalir kala semua yang ia lihat ini bukanlah khayalannya.
"Yang kau lihat itu ... adalah arwah Pierre, Honey. Dia ... sudah meninggal seminggu yang lalu tepat sepulang mengantarkan undangan pernikahannya pada kita akibat kecelakaan," terang Refald dengan nada sedih.
__ADS_1
"A-apa?" Fey menganga lebar menatap wajah pilu suaminya.
"Calon istrinya sangat shock kala itu. Ia bahkan melakukan percobaan bunuh diri setelah tahu Pierre pergi untuk selamanya. Keinginan terakhir Pierre adalah meminta mantan kekasih calon istrinya untuk menggantikan dirinya menikahi wanita yang ia cintai di tempat ini. Di balkon rumah kita, arwah Pierre datang meminta bantuanku agar ia bisa mengantarkan kekasihnya menikah dengan pria yang kini berdiri di mimbar pernikahan. Itulah keinginan Pierre yang terakhir. Ia akan tenang di alam sana kalau kekasihnya ini sudah tidak sendirian lagi."
Fey langsung terisak ketika mendengar kabar menyedihkan ini. Betapa memilukannya kisah cinta Pierre dan calon istrinya. Pasangan yang harusnya hidup bersama dalam ikatan janji pernikahan, harus terpisah karena mereka telah berbeda alam.
Sekarang, Fey tahu kenapa suaminya berubah murung di balkon begitu lama dan tampak sedih seolah ia tak ingin menghadiri pernikahan sahabatnya. Ternyata, inilah alasannya, Pierre sahabatnya, telah tiada. Dan yang menggantikan posisinya adalah mantan dari kekasihnya meski diundangan pernikahan masih tertera nama Pierre.
Sepertinya, hanya Refald dan Fey saja yang dapat melihat arwah sahabatnya. Para tamu undangan hanya dapat menyaksikan pengantin wanita berjalan sendirian ke tempat pria yang berdiri di mimbar sebagai pengganti Pierre.
"Tidak, tidak ... aku tidak bisa menikah dengannya," isak sang pengantin wanita tepat dihadapan Fey dan Refald berada.
Semu orang memandang bingung karena tiba-tiba so pengantin wanita menangis dan berhenti berjalan. Sedangkan Fey dan Refald hanya bisa meneteskan air mata. Fey bahkan tak kuasa melihat tangisan si wanita.
"Kau harus menikah Sayang. Aku akan tenang di alam sana kalau sudah ada yang menjaga dan menemani hidupmu setelah kepergianku. Tolong penuhi keinginan terakhirku ini Sayang," bujuk Pierre.
"Tidak ... bagaimana bisa aku menikah dengan orang lain sementara tempat ini ... adalah tempat kau melamarku. Aku ... aku tidak sanggup hidup tanpamu Pierre. Bagaiman aku bisa hidup bahagia dengan Daniel sementara statusnya dihatiku hanyalah mantan," Si wanita menangis tersedu-sedu kala teringat akan kenangan indah mereka dulu.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1