Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 45 Refald vs Fey


__ADS_3

Semua pasukan dedemit Refald pergi menghilang meninggalkan pangeran mereka bersama dengan Fey hanya berdua saja. Saat ini, suasana masih tampak gelap gulita menandakan kalau hari masih malam dan sebentar lagi akan terbit fajar. Karena ini di tengah hutan, tempatnya sangat sepi dan sunyi. Terdengar beberapa suara binatang kecil menghiasi malam tempat Refald memeluk Fey dalam pangkuannya. Dengan penuh kasih cinta yang besar, Refald mengusap lembut kening wanita pujaan hatinya.


Tatapan mata Refald tak pernah lepas dari wajah cantik tunangannya. Ia sangat tahu, perjalanan cintanya tidak akan mudah dan semulus jalan aspal. Ada begitu banyak rintangan alang melintang yang bakal menghalangi perjalanan kisah cinta Refald dan Fey. Dimulai dari saat ini. Namun, Refald sudah bertekad akan menghadapi semuanya, dan memang sudah saatnya Fey tahu siapakah Refald sebenarnya dan masa depan mereka akan menjadi seperti apa.


Saking khidmatnya Refald menatap wajah Fey, tanpa sadar matahari mulai terbit dari ufuk timur. Perlahan, gadis cantik itu mulai terjaga dari pingsannya dan langsung bingung karena tiba-tiba, tubuhnya ada dipelukan Refald.


“Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di sini?” tanya Fey sedikit was-was.


Agak canggung juga karena Fey tertidur dalam pelukan pria yang dicintainya. Samar-samar ia mendengar suara rekan-rekannya dari kejauhan dan dari situlah Fey sadar ada dimana dia dan Refald berada sekarang.


Belum juga Refald menjelaskan secara detail apa yang terjadi, kekasihnya itu langsung berlari pergi meninggalkan Refald begitu saja. “Haiss, sial! Aku kesiangan! Kenapa kau tidak membangunkanku sejak tadi!” protes Fey sambil berlari sekencang mungkin dan langsung ikut berbaris membaur dengan rekan-rekannya yang sedang berbaris rapi.


Fey merapikan rambutnya yang berantakan serta pakaiannya yang semrawut tak karuan. Dari kejauhan, Refald cuma tersenyum melihat bagaimana wajah Fey berubah menjadi semerah semangka ketika ditanya temannya bagaimana bisa Fey terlambat dalam keadaan awut-awutan begitu. Fey jelas tidak tahu harus menjawab apa dan cuma bisa gelagapan. Dalam hati, gadis itu cuma bisa merutuki kekasihnya tanpa ia tahu kalau Refald bisa mendengar semua rutukan yang dilontarkan Fey pada Refald.

__ADS_1


Selagi Fey sibuk dengan kegiatannya. Refald melesat pergi ke desa tempat Eric dan Nana berada tak jauh dari lokasi perkemahan kegiatan Fey saat ini. Nana langsung tertegun melihat kedatangan Refald yang tiba-tiba. Namun, ia tak banyak bicara dan cuma tersenyum sopan saja.


Sama halnya dengan Fey, gadis desa itu juga tidak ingat apa-apa mengenai apa yang terjadi selama ia ada di lubang hitam. Nana hanya ingat kalau ia tertidur di sisi Eric yang sedang serius bertapa di posisinya sebelum angin topan menerjang desa semalam. Bahkan hingga sekarang, sahabat dekat Refald tetap standby ditempatnya dan tak bergeming sedikitpun seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa.


Seluruh penduduk desa juga sudah kembali ke rumah mereka masing-masing untuk membereskan kekacauan yang terjadi akibat serangan angin besar secara tiba-tiba. Mereka semua bahu membahu membenahi rumah-rumah yang rusak agar bisa ditempati kembali. Untuk beberapa saat, Refald membantu aktivitas warga dan berbicara serius dengan pak Diki mengenai kondisi Eric.


Dalam pembicaraan tersebut, Refald memberikan jaminan bahwa desa pak Diki akan aman terkendali dimulai dari sekarang selama Eric tak diganggu dalam pertapaannya. Jika ada sedikit saja gangguan, maka hal seperti semalam bisa saja terjadi lagi. Makhluk astral selain kunrah, akan mencari celah untuk mengganggu desa ini jika sampai Eric tak bisa memusatkan konsentrasinya menyelesaikan ritualnya.


“Kami akan menjaga den Eric sebisa dan semampu kami, Den. Aden jangan khawatir lagi, syukurlah kalau badai semalam adalah musibah terakhir yang menimpa desa ini. Sungguh, kejadian semalam, sangat diluar nalar akal pikiran saya. Sejak kurang lebih 20 tahun lamanya, kami masyarakat di sini, tak pernah merasakan hidup tenang. Kami sangat berharap, apa yang dilakukan den Eric, bisa menjadi awal mula perdamaian bagi desa ini.” Pak Diki menatap seluruh warga desa yang sudah hampir selesai membenahi seluruh rumah-rumah warga.


Ucapan Refald memiliki makna mendalam dan hanya Refald saja yang tahu. Sebagai pangeran dedemit dari dunia lain, Refald harus menanggung resiko atas setiap tindakan yang ia lakukan demi menjaga keseimbangan alam baik di dunia lain maupun di dunia fana ini. Akan ada bahaya besar yang menimpa Fey, dan Refald harus bersiap siaga dari sekarang. Namun, ia juag tak bisa mengesampingkan keselamatan Eric di sini selagi ia menjaga dan melindungi Fey. Pak Dikipun paham akan situasi sulit yang dihadapi Refald. Ia juga tak banyak memberikan komentar apapun karena ia yakin Refald jauh lebih tahu darinya.


Setelah diskusi singkat itu, Refald pamit undur diri. Namun sebelum pergi, sekali lagi Refald memastikan keselamatan Eric dengan mengerahkan separuh pasukan dedemitnya untuk menjaga Eric 24 jam penuh. Refald juga berpesan agar tak membiarkan siapapun mendekati Eric lagi agar insiden tersedotnya pria bule itu dan Nana masuk ke dalam dunia lubang hitam tak terulang kembali.

__ADS_1


Refald bergegas pergi ke tempat Fey berada, tepat disaat tunangannya memang sedang mencarinya. Pemuda tampan itu selalu berkilah dan menjelaskan analogi-analogi yang sama sekali tak dimengerti Fey ketika gadis cantik itu meminta penjelasan dari Refald atas hilangnya Refald yang melebihi jelangkung. Datang tak dijemput, pulang tak diantar.


“Aku sama sekali tak mengerti satupun ucapan yang kau ucapkan.” Fey akhirnya menyerah dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan pada Refald.


Sebab, jawaban Refald sama sekali tak dapat dipahami Fey. Kalaupun bertanya lagi juag percuma, jawaban Refald semakin mbulet dan njelimet saja. Gadis itu lebih memilih berlalu pergi meninggalkan kekasihnya karena ada hal yang lebih penting dilakukan daripada meladeni ocehan Refald. Tapi, mungkin Fey lupa, bukan Refald namanya kalau ia dengan mudah diacuhkan begitu saja. Pangeran dedemit itu terus membuntuti kemanapun Fey pergi.


“Kau mau pergi ke mana?” tanya Refald setelah berhasil menyusul langkah tunangannya.


“Aku harus ke desa untuk membeli beberapa keperluan untuk berjaga-jaga.” Fey masuk ke dalam tenda diikuti Refald dari belakang. Ia menyiapkan apa saja yang harus dibawa ke desa setelah ini.


“Kenapa kau tidak minta orang lain saja yang membelikannya. Kau tak perlu keluar dari hutan ini sendirian.” Refald duduk memerhatikan kesibukan Fey.


“Siapa bilang aku sendirian, kau harus ikut bersamaku. Bukankah kau berjanji akan melindungiku?” tantang Fey.

__ADS_1


Refald terdiam, Sial! Aku baru saja kembali dari desa, masa aku pergi ke desa lagi? Batin Refald.


BERSAMBUNG


__ADS_2