Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 48 Ketulusan Cinta Refald


__ADS_3

Fey cuma bisa tepok jidat mendengar penjelasan Refald atas apa yang ia lihat sekarang. Di zaman modern seperti ini, masih saja ada orang percaya pada sihir atau semacamnya. Bukannya lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa bila tertimpa masalah, para manusia bodoh itu lebih memilih jalan menyimpang dimana semua agama pasti melarang hal-hal yang berbau sihir semacam ini diikuti apalagi samapi dilakukan.


Namun, sejak Fey mengenal Refald, entah mengapa hal mistis dan ghaib sudah tak asing lagi bagi gadis cantik itu karena ini bukan pertama kalinya Fey melihat hal-hal diluar nalar manusia biasa. Fey jadi curiga pada tunangan anehnya ini, jangan-jangan Refald adalah salah satu dari mereka juga. Itu hanya spekulasi Fey saja, Fey sendiri tidak yakin 100% kalau Refald adalah orang seperti itu.


Sejujurnya, wajah tunangan tampannya itu sama sekali tak mecing jika dikaitkan dengan dukun manapun. Nggak cocok sama sekali, sebab wajah rupawan Refald lebih pantas jadi idol K-Pop ketimbang dukun, cenayang, atau yang lainnya.


“Makan dan minumlah ini, Joko.” Cenayang Chica menyerahkan semangkuk minuman yang entah terbuat dari apa.


Bau obat yang disodorkan cenayang Chica pada Joko sangat menyengat sekali hingga Fey tidak tahan dengan aromanya. Begitu selesai memberikan jampi-jampi dan komat kamit nggak jelas, cenayang tersebut menyodorkan semangkuk minuman yang wujud airnya berwarna hitam pekat.


“Kok ambune ngeten mbak Cen?” (Kok baunya seperti ini, mbak Cen?) tanya pemuda berkulit hitam bernama Joko.


“Wez, ora usah kakean cocot (sudahlah tidak usah banyak bicara), minumlah jika kau ingin mendapatkan hati wanita yang kau cinta!” perintah cenayang Chica yang dipanggil ‘mbak Cen’. Diluar dugaan, ternyata ia bisa bahasa jawa juga.


Tak ada yang bisa dilakukan Joko selain menuruti perintah cenayang Chica demi bisa memenuhi hasratnya mendapatkan wanita pujaan hatinya. Dalam sekali teguk, Joko langsung menghabiskan minuman berbau menyengat itu dan meletakkannya tepat di depan sang cenayang. Pria tersebut meleletkan lidahnya saking pahitnya obat yang ia minum.


Untuk kesekian kalinya, Fey melongo menatap adegan yang sungguh tak dapat ia percaya tapi ini memang nyata. Hari gini, masih saja percaya hal-hal seperti ini. Meskipun tak ada yang menjelaskan, Fey bisa mengerti bahwa pria bernama Joko itu sedang berusaha melakukan ritual ilmu pelet untuk memikat wanita incarannya.


Benar-benar gila, Fey mengira kejadian seperti ini hanya ada di zaman bahula dan mungkin di cerita film atau novel saja. Tunangan Refald sama sekali tidak menyangka kalau sekarang ia menyaksikan sendiri salah satu aliran ilmu hitam ini. Tepat di depan matanya pula?

__ADS_1


“Apa yang pria bodoh itu lakukan Refald? Dan kenapa kau diam saja? Kau sengaja membawaku kemari untuk menyaksikan tindakan menyimpang ini? Kau tahu kalau perbuatan pria itu salah!” Fey melampiaskan amarahnya pada Refald dan cenderung menyalahkan kekasihnya.


“Tenanglah Honey. Bukan ini tujuanku membawamu kemari. Sudah kubilang, aku ingin bertemu dengan cenayang itu karena ada yang ingin kutanyakan padanya. Mana aku tahu kalau ia sedang ada tamu.” Refald bersikap tenang dan tetap menatap lurus dua orang yang sedang menyelesaikan ritual pelet memeletnya.


“Kau ingin aku tenang? Kau percaya padanya? Apa hubunganmu dengannya? Apa kau juga salah satu dari mereka?” pekik Fey sudah tak bisa mengendalikan emosinya lagi. Sudah cukup dirinya diajak main teka teki dengan Refald dan ia ingin tahu kebenaran tentang siapakah Refald sebenarnya.


Namun, belum juga Refald menjawab pertanyaan keasihnya, cenayang Chica melayangkan satu tangannya ke arah Fey dan gadis itu langsung pingsan tanpa sebab. Untung Refald sigap menangkap tubuh kekasihnya sebelum Fey jatuh terjerembab ke tanah. Sontak, Refald menjadi marah dengan perilaku sang cenayang karena menyerang Fey tanpa peringatan.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Refald, tapi kedua tangannya masih menahan beban tubuh kekasihnya.


“Jangan beritahu dia sekarang, banyak yang sedang mengawasi kalian diluar sana,” terang sang cenayang dengan tenang tanpa menoleh pada Refald dan Fey.


“Pergilah dan ingat satu hal, Joko …,” ujar si cenayang pada Joko dan memilih mengacuhkan pernyataan Refald. “Jangan pernah kau menyentuh wanita yang kau dekati, kalau sampai kau menyentuhnya sebelum kalian resmi menikah, maka kau akan tanggung sendiri akibatnya. Camkan kata-kataku ini baik-baik.”


“Baik, mbak Cen. Permisi,” ujar si Joko dan langsung pamit undur diri tanpa berkata apa-apa lagi. Baginya, yang penting niatnya sudah kesampaian. Mau orang lain berkata apa, Joko bodo amat.


Kini, tinggal Refald, Fey dan sang cenayang itu saja yang ada di gubuk tua renta ini. Refald terus menatap wajah kekasihnya lekat-lekat. Ia tak buru-buru menyadarkan Fey dari pingsannya karena suatu hal. Mungkin lebih baik, kalau Fey pingsan sementara ketimbang dia mengajukan pertanyaan yang tidak bisa Refald jawab sekarang.


“Kau dan kekasihmu akan menghadapi banyak bahaya dan lika-liku kehidupan manusia dimulai dari sebentar lagi.” Cenayang memulai pembicaraan sekaligus memberikan jawaban yang ingin Refald dengar. “Takdir tunanganmu tak bisa dihindari lagi kali ini. Nyawa calon istrimu sedang ada diujung tanduk. Sebagai seorang pangeran dedemit dari dunia lain, kau pasti bisa mengubah takdir kematian kekasihmu dan ada harga yang harus kalian bayar untuk itu.

__ADS_1


“Namun, kau jangan khawatir, kehidupan pernikahan kalian berdua tetap harmonis dan bahagia selamanya. Kalian juga akan dikaruniai 2 putra dengan rentan jarak cukup lama. Nikmatilah peroses hidup mahligai kisah cinta kalian. Hadapi semua rintangan dan cobaan. Sampai bertemu kembali, Pangeran.” Setelah mengatakan kalimat panjang lebar mengenai masa depan Fey dan Refald, si cenayang berjalan keluar gubuk dan menutup pintunya meninggalkan pasangan sejoli berduaan di dalam.


Refald sendiri cuma terdiam tanpa berkomentar apa-apa. Ia sedang berpikir mengenai bahaya yang akan menimpa Fey sebentar lagi. Selalu ada hikmah dibalik musibah, Refald sudah bertekad akan melakukan segala macam cara dan rela mengorbankan nyawanya demi menjaga keselamatan wanitanya. Artinya, Fey juga harus tahu siapa Refald dan kekuatan yang ia punya. Semua itu terjadi tidak akan lama lagi.


“Honey, kau mungkin kau akan terkejut bila tahu siapa aku. Tapi … aku harap cintamu padaku tak mengelami abrasi atau berubah setelah kau mengetahui semuanya tentangku dan juga duniaku,” gumam Refald lirih sambil menatap sendu wajah cantik Fey.


Tak ingin berlama-lama di dalam gubuk, pemuda tampan itu menggendong Fey keluar dan begitu kakinya melangkah di luar pintu, tiba-tia gubuk renta tersebut menghilang tanpa jejak seolah tak ada apa-apa.


Sepertinya, si cenayang sengaja mengetes seperti apa Refald sebenarnya. Jika pemuda tampan itu mau, ia bisa saja memanfaatkan kesempatan untuk menyalurkan hasrat cintanya pada Fey yang tak berdaya dan tak sadarkan diri di dalam gubuk tua itu tanpa ada yang tahu. Namun, cinta Refald begitu murni dan suci, Mana mungkin ia menodai wanita yang amat ia cintai melebihi nyawanya sendiri.


“Kau bodoh Pangeran, aku memberimu ruang untuk melakukan apa yang ingin kau lakukan sebagai pria. Sayang sekali, kau melewatkan kesempatan itu.” Terdengar suara cenayang Chica dari balik punggung Refald.


“Ehm, aku memang bodoh, sampai aku tak tega bila menodai kekasihku sendiri meskipun aku berhak karena aku calon suaminya. Aku takkan menyentuhnya, tidak sebelum kami benar-benar resmi menikah. Bukan karena aku takut kehilangan kekuatanku, tapi aku akan mati-matian menjaga kesuciannya untukku.”


Usai bicara seperti itu, Refald membawa Fey pergi kembali ke perkemahan dalam gendongannya dan malah menyuruh pak Po membelikan semua benda-benda yang diinginkan Fey.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2