
Fey hanya bisa menghela napas dalam-dalam di gendongan Refald saat diajak kembali pulang ke negara asal ibunya. Ia tidak tahu apakah harus bahagia atau gimana. Ini pertama kalinya Fey melewati gerbang portal yang menghubungkan suatu tempat yang satu dengan tempat lainnya hanya dalam hitungan menit tanpa perlu menempuh perjalanan jauh bukan hanya dengan Refald saja, melainkan dengan seorang vampir juga.
Biasanya Fey dan Refald tinggal clang cling clang cling sana sini dan langsung sampai kemanapun mereka mau, tapi kali ini, Refald harus mengimbangi kekuatan Richard yang butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke tempat tujuannya, yaitu di sebuah desa terpencil.
Ada rasa canggung yang dirasakan Fey ketika mereka bertiga berteleportasi bersama. Namun Fey mengindahkan saja perasaan aneh itu. Sudah bukan hal yang aneh bila Fey harus dihadapkan dengan sesuatu hal yang mustahil ada dan harus dilakukan. Sebab, dalam dunia Refald, tidak ada yang tidak mungkin. Semua yang ada di luar nalar dan akal pikiran manusia biasa, bisa saja ada ketika berhubungan dengan Refald.
Karena tak ingin mengundang banyak perhatian orang, Richard alias Athan, memilih tinggal di sebuah bangunan tua yang entah milik siapa. Letak bangunan tersebut ada di sebuah bukit pinggiran desa lumayan jauh dari pemukiman warga. Awalnya, Richard kira ia hanya akan tinggal sendirian di tempat ini tapi ternyata ia punya satu tetangga yang rumahnya sangat berbanding terbalik dengan istana yang bakal menjadi tempat tinggal pria yang biasa Refald panggil sebagai Athan.
“Sebenarnya, ini istana siapa?” tanya Richard pada Refald ketika mereka semua sampai di depan bangunan tua.
“Milik kakek buyutku. Ini pertama kalinya aku dan istriku menginjakkan kaki di sini. bangunannya memang sudah tua, tapi masih bisa berdiri kokoh ditempatnya. Mungkin cuma butuh renovasi sedikit saja,” terang Refald.
“Tidak usah direnovasi, biarkan seperti ini saja. aku tak mau ada orang lain tahu kalau aku akan tinggal di sini. Terimakasih banyak atas semuanya Raja Mirza Banta. Aku berhutang banyak padamu.” Richard menundukkan kepalanya tanda memberi hormat pada Refald.
“Syukurlah kalau kau suka Pangeran. Selamat datang di istana tua ini. Semoga kau betah di sini. Kami tidak bisa lama menemanimu, kami harus permisi dan segera pergi.” Refald mengatupkan kedua tangan dan memberikan salam permisi pada sang vampir. Feypun melakukan hal sama seperti yang dilakukan suaminya.
Vampir tampan itu mempersilahkan Refald dan Fey untuk pergi dan berjanji akan mengunjungi mereka sesegera mungkin nanti. Tak banyak kata yang diucapkan Refald selain senyuman penuh makna.
Sekilas, Fey melihat rumah gubuk sederhana yang tepat berada di samping istana yang ternyata dulunya milik keluarga Refald dan sekarang sudah diberikan pada pangeran Athan. Meski Refald tidak menjelaskan secara detail, Fey sudah sangat mengerti arti dari semua ini. Apalagi ia sempat melihat ada seorang gadis cantik keluar sedang menjemur pakaiannya di samping rumah. Gadis itu lumayan cantik dan bila disandingkan dengan sang vampir, mereka tampak serasi.
__ADS_1
“Apa kau sengaja mendekatkan mereka? Itu aka menjadi kisah cinta vampir dan manusia? Mirip seperti Edward an Bella sungguhan?” tanya Fey antusias saat berjalan beriringan dengan Refald.
“Iya Honey, mereka mirip Bella dan Edward sungguhan. Kau jangan kecewa, oke. Sudah menjadi takdir mereka untuk bersama. Meski tanpa campur tanganku, mereka tetap akan bersatu suatu hari nanti. Aku hanya mempercepat pertemuan keduanya sekaligus menyelesaikan permasalahan yang ada di desa ini.” Refald menggandeng tangan Fey dengan erat sambil menikmati panorama alam pedesaan yang terhampar luas dihadapannya.
“Aku sedikit iri, tapi tidak apa-apa, mereka juga tak kalah serasinya dengan kita. Bersamamu saja aku juga sudah bahagia meski aku bukan Bella.” Fey tersenyum manis pada suaminya dan berlarian kecil menikmati pemandangan desa yang amat indah.
“Haaaah … desa ini indah sekali,” seru Fey senang tapi ia segera sadar akan suatu hal. Fey balik badan dan kembali menatap lurus suaminya. “Barusan kau bilang permasalahan? Masalah apa yang sedang penduduk desa itu hadapi sampai kau harus repot-repot datang kemari? Bukankah cukup dengan mengirim pak Po atau pasukanmu yang lain? Kau tak perlu turun tangan,” tanya Fey heran.
Dengan pelan, Refald berjalan mendekat dan memeluk leher istrinya. “Honey, aku lupa memberitahumu … mungkin ini terdengar lucu, tapi pak Po dan para pasukanku lainnya … sedang disandera!” ujar Refald yang berdiri menatap wajah istrinya.
“Apa? Kau bilang apa? Disandera? Siapa yang disandera? Pak Po? Maksudmu … pasukan demitmu … disandera? Yang benar saja? Nggak salah?” Fey terkejut tapi juga ingin tertawa. Rasanya tidak mungkin kalau pocong oneng itu bisa dijadikan sandera.
“Tapi Refald … siapa yang berani menculik para pasukanmu, ha? Bukankah mereka sangat kuat dan tak terkalahkan dari makhluk tak kasat mata lain yang bukan pasukanmu?”
“Kau sungguh ingin tahu?” Refald balik bertanya dan Fey langsung menganggukkan kepalanya. “Beri aku 1 ciuman dulu,” ujarnya mulai genit.
“Kau baru saja melakukannya padaku,” cetus Fey mulai keki dengan sikap ganjennya Refald.
“Ya sudah kalau tidak mau.” Refald pura-pura ngambek dan berjalan lebih dulu meninggalkan Fey.
__ADS_1
“Kau ini kekanak-kanakan sekali? Kita sudah bukan anak kecil lagi? Tak perlu ini itu, cepat beritahu aku siapa yang menculik para pasukanmu? Apa mbak Kun di culik juga? Tapi ini sangat aneh sekali, masa hantu bisa diculik? Kau jangan melucu Refald, ini sama sekali tidak lucu.”
“Honey,” ujar Refald tiba-tiba dari belakang punggung Fey. Sontak saja wanita itu terkejut karena ia baru saja melihat Refald berjalan cepat didepannya tapi sekarang malah ada dibalik punggungnya.
“Jangan terkejut begitu, kau tahu aku bukan manusia biasa.” Refald memeluk istrinya yang sempat terkejut karena ia berpindah tempat dengan sangat cepat.
“Kau memang rajanya setan, jelas bukan manusia biasa. Lepaskan aku!” sentak Fey.
Refald sangat suka menggoda istrinya. Dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah. Raja demit itu menggendong Fey dan terbang menuju pemukiman warga tanpa peduli pada aksi protes Fey yang minta untuk segera diturunkan. Refald baru berhenti bergerak dan bertengger di salah satu dahan pohon nangka besar yang tumbuh liar dipinggiran jalan sambil memerhatikan lalu lalang para penduduk desa.
“Aku tidak main-main dengan ucapanku, Honey. Aku juga sedang tidak melucu, semua pasukan demitku diculik oleh sekelompok pengabdi setan. Dan mereka semua … ada di dalam rumah itu.” Refald menunjuk salah satu rumah yang terbuat dari batu bata tanpa polesan apapun sehingga tumpukan dinding batu batanya terlihat jelas.
“Para pengabdi setan yang kau sebutkan itu … adalah manusia dan merupakan penduduk di desa ini?” tanya Fey ikut memerhatikan bangunan yang ditunjuk Refald. Ia masih belum percaya kalau pasukan demitnya diculik, oleh kelompok manusia pula.
“Benar, mereka bersekutu dengan para iblis dan menyandera semua pasukanku untuk mencapai tujuan mereka. Ini pertama kalinya dalam sejarah dunia perdemitanku, para pasukanku dijadikan sandera, oleh manusia pengabdi setan pula? Benar-benar memalukan.” Refald menghembuskan napas karena disanderanya pasukan demitnya, sangat mencoreng citra baiknya sebagai raja dedemit Refald ala Edward.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1