
Permintaan Fey yang ingin bisa melihat wajah makhluk astral sangat dimengerti oleh Refald. Bahkan pangeran Demit itu salut akan ide brilian yang ada dalam otak wanita pujaan hatinya meskipun hal itu lumayan berbahaya.
Namun, bukan Refald namanya kalau takut kalah, ia sudah berjanji akan menjaga dan melindungi Fey apapun yang terjadi. Sebenarnya, Wewe itu bukanlah tandingan Refald, hanya saja ia tak bisa bertindak gegabah karena ada bayinya Zal dan Harita.
Perbandingan kekuatan keduanya begitu kontras, dan si iblis Wewe sangat tahu itu. Ia juga tahu kalau diluar rumah ini sosoknya sedang dikepung oleh seluruh pasukan Refald. Namun, ia punya bayi yang ia culik, jadi ia memanfaatkan bayi tersebut agar Refald tak melukainya.
"Honey, kau yakin kau ingin melihat wewe gombel itu? Wajahnya sangat menyeramkan. Kau yakin kau tidak akan takut?" tanya Refald memastikan bahwa keputusan Fey sudah bulat untuk ikut terlibat.
"Kalau aku yang dulu, mungkin takut dan tak mungkin mau berada di sini bersamamu. Aku adalah calon istrimu, mau tidak mau aku harus berhadapan dengan semua makhluk astral tak kasat mata bagaimanapun bentuk dan wujud mereka. Lagian, ini bukan kali pertama aku bertemu setan," tandas Fey dan seketika membuat Refald bangga.
"Baiklah, aku paham. Aku akan melindungimu, Honey. Mendekatlah padaku dan dekap aku," pinta Refald sambil tersenyum. Sepertinya, Refald sedang memanfaatkan kesempitan dalam kesempatan.
"Sebentar, kenapa aku harus mendekapmu?" tanya Fey curiga karena tak mungkin mereka berdua berpelukan di tempat umum apalagi dalam situasi yang tidak memungkinkan seperti ini. Yang benar saja?
"Bukankah kau bilang ingin melihat wewe gombel itu? Dekap aku sekarang," ujar Refald lirih agar ucapannya tak didengar oleh yang lainnya.
Meski merasa aneh, perlahan Fey mendekap Refald dengan erat sesuai permintaannya dan tanpa peringatan lebih dulu, Refald mengecup cepat kening Fey sehingga gadis itu tersentak sampai terhuyung mundur kebelakang. Ia mengamati sekitar dan untunglah semua orang tidak begitu memerhatikan Refald dan Fey dan cenderung sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" pekik Fey dengan suara pelan.
"Jangan marah dulu Honey, sekarang kau bisa lihat wewe gombel itu," terang Refald senang karena berhasil mencuri kesempatan untuk bermanis-manis ria dengan wanitanya.
__ADS_1
Fey terdiam karena yang dikatakan Refald benar, seketika ia melirik wewe yang sedang berdiri di samping lemari sambil menggendong bayi mungil sembari menyusui Pandawo alias Awo sehingga bayi itu tertidur sangat lelap dan tidak menangis.
Mungkin cara itu wewe lakukan agar keberadaanya tidak diketahui orang. Jika bayi itu menangis, maka bisa fatal. Awalnya, Fey kaget dan hampir saja menjerit, untungnya ia bisa cepat mengontrol diri.
"Jika kau sudah bisa melihatnya, jangan tatap matanya Honey, rencanamu akan gagal total. Bersikaplah biasa seolah kau tidak dapat melihatnya," bisik Refald ditelinga Fey dengan lembut selembut sutra sampai wewe itu tak dapat mendengar apa yang dikatakan Refald.
Sebenarnya, Fey sangat shock melihat wujud menyeramkan si wewe dimana hampir semua tubuhnya berwarna hitam legam. Hanya matanya saja yang tampak memerah karena ia adalah salah satu iblis jahat yang sangat suka pada anak-anak. Fey jadi teringat film animasi itoon litle krishna saat melawan iblis Putana. Sosoknya yang menyeramkan membuat Fey lumayan sedikit takut juga apakah ia berhasil atau tidak merebut bayi itu darinya.
Namun, melihat bagaimana keadaan Harita dan keluarganya saat ini, Fey berusaha mengatasi ketakutannya dan bertekad untuk mendapatkan bayi itu bagaimanapun caranya. Ia tidak boleh lemah apalagi ada suaminya yang selalu melindunginya dalam keadaan apapun. Seolah mendapatkan kakuatan dan keberanian yang begitu besar, Fey berbalik berbisik di telinga suaminya sambil menatap ke arah pasangan sejoli yang kehilangan anak mereka.
"Lindungi aku, Suamiku. Aku akan mulai." Fey tersenyum penuh makna pada Refald dan suami tampannya itu membalas senyuman manisnya.
Refald mengangguk pelan, "Ehm, tentu Honey." Semakin cintalah si pangeran demit ini akan keberanian calon istrinya.
Meski tanpa saling bicara, iblis penculik anak-anak itu telah memberikan ancamannya. Jika sampai Refald melakukan hal-hal yang menurut iblis itu berbahaya maka ia tak segan membunuh bayinya. Itulah mengapa Refald sangat mendukung istrinya meski sekarang Refald juga sedang mengatur sebuah strategi yang pastinya melibatkan seluruh pasukan dedemit Refald.
Pura-pura tidak bisa melihat sang Wewe, calon istri Refald itu mondar mandir kesana kemari melewati sang wewe yang sejak tadi tetap berdiri di samping lemari. Sedangkan semua orang yang ada di sini berunding bagaimana cara mereka menangkap kuyang yang sebenarnya hanyalah kambing hitam si Wewe.
Sementara si Zal sendiri terus memeluk istrinya yang semakin lama, semakin lemah saja. Akhirnya, beberapa orang mulai keluar dan berpencar ke tempat yang di yakini merupakan tempat yang biasa di datangi kuyang.
"Tenanglah Sayang, jangan shock begitu. Semua orang sudah berusaha keras mencari Awo. Kamu juga harus kuat, kalau aku kehilangan anak, masih bisa buat lagi sama kamu, tapi kalau aku kehilangan kamu, aku harus berkembang biak sama siapa?" celetuk Zal yang langsung membuat Fey tersedak begitu pula dengan Refald yang langsung melotot manatap tajam pria yang omongannya suka benar itu.
__ADS_1
"Wuah, ada yang lebih parah dariku dan Leo rupanya," komentar Refald dan Fey langsung memicingkan mata pada suaminya.
"Dasar gerobak jalan, seenaknya saja kalau bicara, memangnya istrimu itu amuba apa, yang bisanya cuma berkembang biak! Menyebalkan sekali orang ini," gumam Fey dan Refald langsung tersenyum.
Harita malah semakin menangis kencang mendengar ucapan bengek suaminya. Dalam keadaan seperti ini, bisa-bisanya Zal memikirkan perkembangbiakan dirinya.
"Kau tega sekali sih Sayang, kau tak pernah merasakan bagaimana rasanya hamil, dan melahirkan, makanya enteng banget kau bicara seperti itu," isak Harita.
"Aku hanya tidak ingin kau setress Sayang. Aku juga merasa kehilangan, tapi mau bagaimana lagi. Kita semua sedang berusaha juga tapi harus siap mengikhlaskan semuanya. Yah salah satunya dengan ..."
"Cukup!" teriak Harita memotong kalimat suaminya karena ia tahu kearah mana pembicaraan itu. "Aku tidak mau dengar lagi, berada bersamamu aku jadi darah tinggi, pergi sana dan bantu warga mencari anak kita!" bentaknya.
"Tapi ...,"
"Pergi Nggak!" pekiknya kesal.
"Oke oke, jangan marah begitu, aku pergi. Istirahatlah dulu supaya tenagamu pulih kembali dan kita ...,"
"Pergiiii!" teriak Harita sambil Zal dengan bantal. Cowok itu langsung menghindar dengan berlari keluar.
Momen bengek antara Harita dan Zal sukses membuat Wewe mengalihkan perhatian. Momen tersebut Fey gunakan untuk mendekati lemari dan dengan gerakan cepat ia merebut bayi yang ada dalam gendongan Wewe. Sayangnya, gerakan Fey terbaca sehingga Wewe itu menahan bayinya.
__ADS_1
Terjadi perebutan bayi untuk sesaat tapi Refald langsung menyerang Wewe dengan kekuatannya sehingga iblis wanita tersebut terpental hingga menembus dinding setelah tangannya terlepas dari tubuh sang bayi. Fey langsung memeluk untuk menenangkan bayi itu karena menangis. Iapun segera meyerahkan sang bayi yang terus menangis pada ibunya yang tercengang tak percaya pada apa yang barusan dilihatnya.
BERSAMBUNG