
Meski Refald terkesan sengaja menggoda tunangannya dengan menakut-nakutinya, pangeran dedemit itu tetap terus bersikap waspada dan serius menjaga Fey dari segala kemungkinan yang ada mengingat mereka berdua bukan berada di dunia manusia, melainkan dunia dimana seluruh makhluk ghaib berkumpul.
Tak banyak orang yang bisa masuk ataupun keluar dari tempat ghaib ini dalam keadaan hidup. Mungkin Refald adalah satu-satunya manusia yang bisa keluar masuk lubang hitam tanpa mengalami cedera ataupun luka sedikitpun karena ia adalah seorang pangeran dedemit yang memiliki kekuatan untuk menjembatani kedua dimensi beda alam tersebut. Meski begitu, ia tetap terus berhati-hati dimanapun ia berada apalagi Refald tidak sendirian sekarang, ada Fey bersamanya dan keselamatan Fey sepenuhnya ada ditangan Refald.
Apa yang dikatakan Fey pada Refald memang benar. Tempat dua sejoli berpijak sekarang ini adalah desa tempat tinggal salah satu bunga desa yang terpaksa menjadi kuntilanak karena meninggal secara mengenaskan dan tak berperikemanusiaan. Gadis bunga desa tersebut diperlakukan tidak adil oleh para manusia tak bertanggungjawab. Dan salah satu manusia itu adalah kakek Eric sendiri. Itulah desa ini Refald namai sebagai desa kuntilanak yang bila di tahun sekarang merupakan tempat pak Diki dan Nana tinggal.
Namun, saat ini Refald tak ingin menjelaskan apapun pada Fey karena ia tidak mau tunangannya jadi cemas dan takut jika wanita pujaannya itu mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Terlebih, semua ini merupakan hal diluar nalar manusia dan takkan mudah diterima oleh akal pikiran. Fey bisa saja mengalami shock berat dan dapat mempengaruhi psikisnya bila Fey belum siap menerima fakta mengerikan ini. Sebagai ganti, Refald akan terus mengalihkan perhatian Fey bagaimanapun caranya.
“Ayo Honey,” ajak Refald setelah melihat Fey tenang. Ia tahu kekasihnya itu menyimpan sejuta pertanyaan dan bingung harus bertanya apa.
Bagi Refald, akan lebih baik kalau Fey tidak mengetahui apapun dan lebih mengikuti proses kejadian yang terjadi di sini sampai anak buah Refald alias pasukan dedemitnya bisa membuka gerbang lubang hitam dari luar. Sebab, pasukan dedemit Refald takkan bisa masuk ke dalam lubang hitam ini kecuali pak Po karena demit itu merupakan salah satu dedemit paling kuat diantara pasukan demit Refald lainnya.
Namun, Refald tetap meminta pak Po berjaga diluar dan membantu semuanya karena proses membuka paksa lubang hitam takkan mudah dilakukan jika tak ada Refald bersama mereka. Pak Po pun setuju dan saat ini ia dan para koleganya sedang berjuang membukakan pintu lubang hitam untuk Refald dan Fey.
“Kita … mau kemana, sih? Tolonglah Refald, jelaskan semua padaku. Sungguh, aku sangat ingin tahu. Aku bingung.” Fey meminta pada Refald agar sedikit terbuka padanya.
“Honey, bukannya aku tidak ingin memberitahumu. Tapi, jika kujelaskan sekarang, ketika kita berdua keluar dari sini kau takkan mengingat apapun yang terjadi di sini dan apa yang kita alami sebentar lagi. Kusarankan padamu untuk tetap bersamaku dan mengikuti saja alur lintas waktu ini. Yang penting kau aman. Semakin kau banyak tahu, akan semakin sulit bagi kita keluar dari tempat ini hidup-hidup. Percayalah padaku, Honey.” Mata Refald menatap lurus wajah melas Fey.
__ADS_1
Gadis itu bingung dan semakin merasa aneh dengan ucapan pria tampan yang berstatus sebagai tunangannya ini. Ia merasa Refald punya kemisteriusan tingkat dewa dan ia tak bisa memecahkan ataupun mencari tahu misteri apa yang dirahasiakan Refald darinya. Kendati demikian, tak ada yang bisa Fey lakukan selain menuruti kata-kata Refald mengingat mereka berdua berada di dunia lain yang tidak akan pernah ia tahu apa yang bakal terjadi pada mereka setelah ini.
Fey memalingkan wajahnya dan menghela napas panjang. Percuma juga mendebat Refald, gadis itu takkan pernah mendapat jawaban yang ia inginkan. Meski Fey tak puas dengan permintaan Refald, ia berusaha mempelajari situasi dan menebak-nebak sendiri tentang siapa Refald dan apa yang membuat mereka bisa tersedot ke dalam dimensi lain ini.
“Nah, begitu. Jangan sewot atau cemberut lagi. Jika wajahmu manyun terus, jangan salahkan aku kalau kupaksa kau menikah denganku di sini,” ancaman yang manis dari Refald dan Fey sama sekali tak menganggap serius ucapan kekasihnya. Gadis itu hanya melengos mengamati sekitarnya.
Karena kekasihnya sudah bersikap kooperatif, Refald menggandeng tangan Fey dan mengajaknya pergi ke suatu tempat menyusuri jalan setapak di desa ini. Sepanjang jalan, Fey hanya diam. Desa ini benar-benar sangat berbeda dengan desa lain yang pernah Fey temui di abad 20.
Di tahun 80-an atau abad 18, tak ada jalan aspal di desa ini. Yang ada hanyalah jalan yang terbuat dari bebatuan terjal. Rata-rata penduduknya juga menggunakan alat transportasi sepeda pancal dan hanya beberapa orang saja yang memiliki kendaraan bermotor. Itupun orang-orang yang tergolong mampu seperti tuan tanah atau juragan sawah. Sedangkan penduduk desa pas-pasan lainnya lebih memilih berjalan kaki dan menaiki sepeda ontel/pancal bila ingin bepergian. Sekilas, kehidupan di desa ini terlihat seperti desa-desa lainnya.
Yang aneh di sini adalah, tak ada seorangpun penduduk desa yang menyapa Refald ataupun Fey ketika mereka semua berpapasan di satu jalan sama. Semua orang di desa ini seolah tak menganggap mereka ada. Entah karena busana kekinian yang dikenakan Fey dan Refald sangat berbeda dengan pakaian yang digunakan orang-orang desa atau memang karena hal lainnya.
“Kenapa mereka diam saja dan tidak menyapa kita Refald? Mereka bahkan seolah tak peduli kalau kita ada meski kuakui kita sangat berbeda dengan mereka terutama pakaian kita ini. Kok aku merasa aneh sendiri sih?” tanya Fey.
“Makanya aku bilang lebih baik kau diam dan lihat saja Honey. Jangan lakukan apapun sebab, mereka semua takkan bisa melihat kita,” terang Refald.
Fey berhenti berjalan dan menatap tajam Refald. “Apa maksudmu mereka tidak bisa melihat kita? Memangnya kita ini arwah gentayangan apa?” cetus Fey dan menepuk pipinya sendiri. Ia merasakan sedikit sakit akibat tepukannya yang menandakan kalau apa yang Fey alami ini bukanlah mimpi. Dan ia benar-benar masih hidup.
__ADS_1
Tak puas dengan itu, Fey mencubit pinggang Refald yang berjalan pelan didepannya sehingga pria itu pura-pura mengerang manja. Padahal aslinya cubitan Fey sama sekali tak terasa sakit karena Refald punya kekuatan fisik yang sangat kuat. Jangankan cuma dicubit, dipukul pakai bogem saja Refald kebal dan tak mempan.
“Auuww, kenapa kau menciumku Honey?” erang Refald dengan suara manja yang dibuat-buat sehingga terlihat lebay.
“Apa kau sudah tidak waras? Aku mencubitmu, bukan menciummu!” sentak Fey. Ia sungguh kesal dengan sikap Refald yang terlalu hiperbola.
“Sama saja, kau mencium pinggangku dengan tanganmu. Kau tak takut aku membalas menciummu?” goda Refald.
“Awas saja kalau kau berani macam-macam denganku!” ancam Fey dan ia berjalan meninggalkan Refald lebih dulu.
Dari balik wajah kesalnya Fey, ia tersenyum karena erangan Refald membuktikan kalau ia dan kekasihnya yang lebay itu masih hidup dan tetap menjadi manusia, bukan arwah gentayangan seperti yang diungkapkan Refald barusan. Baru juga Fey berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dari belakang tangan Fey ditarik Refald mundur. Alhasil, tubuh gadis itu tertarik dan mendekat ke arah Refald lagi.
Awalnya, Fey protes tapi tidak jadi karena melihat Refald serius menatap sesuatu. Fey mengikuti arah pandang Refald dan mereka berdua sedang berdiri tepat di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah megah nan indah tapi tampak tak terurus. Rumah berlantai dua itu merupakan rumah paling besar di desa ini dan pemiliknya pastilah satu-satunya orang kaya mengingat baru kali ini Refald-Fey menemukan bangunan megah yang berbeda dengan rumah-rumah penduduk desa lainnya.
“Kenapa kita berhenti di sini? Rumah siapa ini?” tanya Fey pada Refald.
“Ini adalah rumah kakek buyut Eric, ayo kita masuk!” ajak Refald pada Fey dan tiba-tiba saja pintu gerbang hitam tinggi menjulang itu terbuka dengan sendirinya seolah rumah ini memang sedang menunggu kedatangan Refald dan Fey.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***