
Mata Eric melotot seolah hampir keluar melihat kuyang benar-benar ada di depan mata. Hanya tusuk bawang merah dan bawang jantan itulah satu-satunya penengah antara wajah Eric dan wajah kuyang yang menakutkan dan haus akan darah janin manusia. Untunglah. Eric laki-laki tulen dan tidak bisa hamil. Jadi, bukan Eric incaran kuyang itu.
Refald sempat tersenyum simpul melihat ekspresi ketakutan sahabatnya. Bukan berarti ia mencelakakan Eric. Refald memang seorang pangeran dedemit paling unik dan tidak bisa ditebak jalan pemikirannya. Disaat genting begini, Refald masih saja bisa bercanda dengan menjadikan Eric sebagai umpan.
Hal itu Refald lakukan bukan tanpa alasan. Dimata manusia biasa, tusuk bawang jantan dan bawang putih di sapu lidi tampak seperti tusuk biasa layaknya tusuk sate. Tapi, bagi sosok kuyang, tusuk tersebut merupakan pedang bercahaya yang membuat hantu berkepala manusia utuh tak bertangan ataupun berkaki ketakutan dan merasa panas bila ada di dekat tusukan yang terdiri dari bawang merah dan bawang putih jantantersebut. Aneh memangm, tapi tidak ada yang masuk akal di dunia mistis.
Dengan gerakan cepat, Refald langsung mengarahkan tusukan bawang merah dan bawang putih jantan yang ada ditangan Eric ke tubuh Kuyang sehingga hantu itu terpental mundur ke belakang. Eric hampir pingsan saat menyaksikan adegan tak terduga itu, tapi ia juga penasaran akan reaksi kuyang yang langsung menjauhi Eric dan tak lagi mau dekat-dekat dengannya.
“Brays!” seru Eric mulai protes. Suaranya bergetar hebat saking takutnya karena mengira dirinya bakal ditelan mentah-mentah oleh di kuyang. “Kau gila? Kau jadikan aku umpan dan kau malah menghindar disaat kuyang itu menyerang? Apa kau ingin dimakan hidup-hidup olehnya, ha?” teriak Eric antara marah dan juga takut.
“Jangan lebay! Kuyang itu tidak pernah naffsu dengan pria tulen sepertimu. Kecuali kalau kau buka prisa sungguhan, baru dia melirikmu,” jawab Refald enteng dan semakin menambah kesal Eric.
"Kau meragukanku? Jelas aku cowok tulenlah, bukan cowok jadi-jadian!" geram Eric.
"Aku tahu karena aku pernah lihat wkwkkw." Refald terkekeh meledek Eric. "Aku menghindar bukan karena menjadikanmu umpan, tapi melemahkan kekuatan kuyang dengan tusuk bawang merah dan bawang putih jantan yang kau pegang. Itulah kenapa aku memintamu bersembunyi dibelakangku agar tusukan bawang tersebut tak terlihat olehnya. Jika kuyang itu tahu ada benda yang bisa melemahkan kekuatannya, maka ia akan menghindar dan itu akan semakin membuat repot kita.” Refald menjelaskan alasan kenapa ia melakukan aksi gilanya dengan mengorbankan temannya sendiri sebagai umpan.
Sebelumnya, Refald sudah memperhitungkan sejak awal apa yang akan dilakukan kuyang begitu tiba di tempat sasarannya. Karena Refald sudah tahu, makanya ia mengambil strategi ini tanpa mengindahkan keselamatan sahabatnya, Refald sangat yakin kalau Eric akan tetap aman selama strategi Refald berhasil dijalankan. Dan terbukti, kekuatan Kuyang itu benar-benar melemah sekarang.
Kuyang yang terpental itu masih belum mau menyerah meski ia telah kehilangan separuh kekuatannya akibat serangan tak terduga Refald. Makhluk mengerikan itu terus mencoba masuk ke dalam rumah dari segala arah, tapi tetap saja, usahanya itu agal total. Sosoknya tidak bisa menembus rumah tesebut seolah ada dinding penghalang kuat yang membuat kuyang kesulitan masuk.
__ADS_1
Tak ingin membuang kesempatan, Refald mengambil satu tusukan bawang merah dan bawang putih jantan dari sapu lidi yang ia persiapkan untuk dirinya sendiri dari balik bambu pagar rumah dan terbang ke atas secepat kilat mendekat ke arah kuyang berada. Eric yang melihat betapa hebatnya sahabat karibnya cuma bisa melongo sambil mendongak ke atas.
“Hai pangeran dedemit dari alam lain! Kenapa kau ikut campur urusanku! Pergi kau dari sini dan urus masalahmu sendiri!” teriak Kuyang mulai emosi.
“Sebenarnya, aku juga ingin begitu, tapi … buat apa aku jadi pangeran dedemit dan punya kekuatan bila iblis jahat sepertimu membunuh janin-janin tak berdosa dan meresahkan semua orang? Kau yang harusnya pergi dari sini dan jangan ganggu lagi semua penduduk di desa ini!” balas Refald. Ia sama sekali tak takut berhadapan dengan kuyang.
“Akan kubuat kau menyesal karena telah berani ikut campur urusanku! Kurang ajar sekali kau!” Kuyang itupun menyerang Refald yang sudah bersiap-siap sejak tadi.
Dalam sekali sabetan, Refald berhasil melukai leher yang menjadi kelemahan terbesar sosok kuyang menggunakan sapu lidi yang ia pegang. Kuyang tersebut menjerit kesakitan hingga siapapun yang mendengarnya pasti gemetar ketakutan. Eric saja sampai menutup kedua telinganya karena suara jeritan kuyang membuat pusing kepalanya. Berbeda dengan Refald yang tampak sangat biasa dan tetap waspada menatap lawan mistisnya.
“Apa yang kau lakukan bedeebaahh!” teriak Kuyang itu dengan marah, darah segar mengalir deras dari lehernya.
Makhluk paling ditakuti banyak orang itupun marah dan terus meneriaki Refald. Sayangnya, kuyang sadar diri bahwa ia tak mungkin bisa mengalahkan Refald. Apalagi keadaannya sedang terdesak karena terluka dan lemahnya kekuatannya secara drastis. Merasa kalah, kuyang pun memilih mundur dan melarikan diri. Ia menggunakan seluruh kekuatannya dan terbang dengan kecepatan penuh menjauh dari jangkauan Refald.
“Den, Aden!” Seru Nana dengan napas ngos-ngosan saat melihat Eric, tapi tidak melihat Refald.
Perlu diketahui, tak boleh ada yang tahu identitas asli Refald sebagai pangeran dedemit kecuali orang-orang yang dikehendaki Refald. Seperti kerabat ataupun teman dekatnya, contonya Eric. Hanya Ericlah satu-satunya teman Refald yang tahu siapa Refald sebenarnya. Lainnya, tidak asa yang tahu.
Ketika suami Fey melihat Nana datang, Refald langsung turun dan mendarat di atas pohon mauni agar apa yang baru saja ia lakukan tidak diketahui oleh siapapun kecuali Eric tentunya. Dan sahabat dekat Rerfald ini juga dilarang membocorkan rahasia besar Refald kalau tidak ingin kena balak.
__ADS_1
“Ada apa, Nona?” tanya Eric dan melirik Refald yang ada di atas pohon.
Refald tidak langsung turun menemui Nana karena ia sedang mengamati situasi. Sepertinya, pemuda tampan itu juga sedang bicara dengan pasukan dedemitnya yang datang melapor untuk memberitahukan apa yang terjadi.
“Nang endi koncomu sing ngganteng iku, Den?” (Dimana temanmu yang tampan itu, Mas?) tanya Nana celingak-celinguk mencari sosok Refald.
“Can you speak English, please? I don’t understand what you talking about?” pinta Eric karena ia masih belum mengerti sama sekali bahasa Jawa.
“Where is your friend?” Nana memelototi Eric.
“Oh ... up in the trees,” ujar Eric sambil menunjuk salah satu pohon tempat Refald berada.
Refald melompat turun karena ia sudah tahu hal apa yang akan disampaikan Nana padanya.
“Lapo sampean nang ndukur wit, Den?” (Kenapa kau ada di atas pohon, Mas?) Nana mulai kepo karena Refald tiba-tiba saja turun dari atas pohon.
“Tidak apa-apa, mari kita segera pulang ke rumah!” ujar Refald tanpa menoleh sedikitpun pada Nana dan ia langsung berlari tanpa memberi kesempatan gadis desa itu untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.
“Lah kok mangkat, kan urung tak kandani ono opo? Piye toh?” (Lah kok pergi? Kan belaum aku kasih tahu apa yang terjadi? Gimana sih?) Nana menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***