
Fey sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan Refald saat ini. Ia sedang buru-buru dan harus segera mendapatkan barang yang Fey butuhkan untuk menunjang kegiatan carakanya malam ini. Ia tak ingin terjadi kesalahan seperti tahun-tahun sebelumnya dan hampir saja mencelakai hidupnya, makanya Fey harus siap siaga karena ia adalah ketua pelaksana kegiatan Caraka. Fey benar-benar akan merutuki Refald jika sampai acara tahunan gadis itu gagal total hanya karena kekonyolan yang dilakukan Refald saat ini. Sebagai ketua panitia, Fey tak ingin ambil resiko apapun apalagi bila menyangkut keselamatan banyak orang.
Gadis itu hendak beranjak pergi, tapi satu tangan Refald tetap menahannya kuat-kuat dan enggan untuk melepaskan. Tanpa suara dan tanpa menoleh pada Fey, Refald menarik tangan kekasihnya dengan lembut agar kembali berdiri disisinya. Fey sendiri tak bisa menolak karena sekuat apapun ia melepas tautan tangannya digenggaman Refald, tetap saja ia tidak bisa. Tenaga Refald terlalu besar bagi Fey untuk dilawan.
Apa yang sedang kau pikirkan, Refald? Ada apa ini? Batin Fey sambil terus menatap wajah tampan suaminya.
Tanpa diduga, Refald langsung menoleh ke arah Fey seolah pemuda tampan itu dapat mendengar jelas suara hati kekasih hatinya. Tentu saja Fey langsung terperanjat karena tidak menyangka bakal ditatap lekat oleh kekasihnya sendiri.
“Bersabarlah Honey, aku ingin mendengar jawaban dari seorang cenayang mengenai kita berdua …”
“Tapi Refald.” Fey berusaha menyela namun Refald kembali meneruskan kalimatnya.
“Dia adalah cenayang Chica Asmarantaka …”
“Aku tahu, tapi aku …”
“Nama Asmarantaka merupakan salah satu dewi dimana nama tersebut juga berkaitan erat denganmu.” Lagi-lagi Refald menyela dan tak memberi kesempatan Fey untuk bicara. “Kau tidak perlu tahu sekarang maksud dari ucapanku karena kau akan mengetahuinya sendiri suatu hari nanti. Tepat ketika aku menikahimu.” Refald sengaja memperjelas kalimat ambigunya sebelum Fey bertanya lagi.
Gadis cantik itu terdiam seketika dengan kalimat terakhir yang diucapkan Refald. ‘menikah’ entah kenapa Fey merasa aneh ketika mendengar kata itu terucap dari bibir manis seorang Refald. Dari ekspresi pria tampan itu, terlihat jelas kalau ia sejak tadi menahan tawa. Fey tahu kalau tunangannya ini sedang bercanda dengannya. Mereka berdua masih duduk di bangku SMA, mana mungkin membicarakan soal pernikahan di tempat dan situasi yang belum saatnya mereka bicarakan.
Untuk sementara, Fey mengesampingkan perkataan Refald barusan dan menganggap hanya guyonan semata. Sejujurnya, gadis itu sangat penasaran dengan apa yang terjadi di gubuk tua ini, Fey memang merasa kalau ia tak perlu ikut campur urusan orang lain karena yang harus ia urus sudah sangat banyak. Hanya saja, ada yang mengganjal di hati kekasih Refald itu.
Saat pertama datang ke hutan ini, Fey sungguh tak melihat ada gubuk tua ini di area sekitar sini. Bahkan saat surveypun, ia dan rekan-rekan lainnya juga tak pernah menemukan gubuk seperti yang Fey lihat sekarang dimanapun.
__ADS_1
Jika tiba-tiba sekarang ada gubuk di tengah hutan, hal ini jadi serasa aneh dan tidak masuk akal. Fey bingung sendiri, masa hanya dalam kurun waktu sehari semalam ada orang bangun gubuk di tengah hutan. Fey mulai curiga, jangan-jangan wanita muda nan cantik dan sedang berkomat kamit baca mantra itu pastilah sungguh-sungguh seorang cenayang yang entah datangnya darimana.
“Apa yang sedang wanita itu lakukan, Refald? Dan siapa laki-laki itu? Bukankah pada saat survey kemrin kita tidak menemukan gubuk seperti ini?” tanya Fey akhirnya buka suara. Fey tak mungkin pergi ataupun melarikan diri dari sini karena tangannya kena borgol cinta Refald.
“Lihat dan saksikan saja Honey, lumayan untuk sekedar hiburan.” Refald berkata demikian sambil tertawa. Ia bahkan mengajak Fey duduk di kursi yang sepertinya memang sudah disediakan oleh sang cenayang.
Canggih bener si cenayang ini, sampai kedatangan Fey dan Refald saja sudah ia prediksikan dan dengan sengaja menyediakan 2 kursi kayu segala. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin Fey tanyakan. Namun, entah kenapa tiba-tiba ia kesulitan bicara seolah tenggorokannya tertahan sesuatu agar tak bisa bersuara. Gadis itu berdeham untuk mengetes pita suaranya tapi tetap saja tidak bisa.
Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa mengeluarkan suaraku? Jerit Fey dalam hati dan tentunya didengar jelas oleh Refald.
Tanpa permisi, Refald membantu meredakan sakit tenggorokan Fey dengan mencium mesra leher kekasihnya secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan lebih dulu. Siapa yang tidak kaget coba? Dicium begitu? Otomatis, Fey langsung terperanjat sampai matanya hampir melotot keluar melihat aksi mesum Refald yang sengaja ia lakukan di depan dua orang aneh antara cenayang dan objeknya.
“Apa yang kau lakukan?” pekik Fey bergidik ngeri sekaligus geli ketika Refald selesai mencium dadakan lehernya.
Anehnya, suara Fey yang tadinya menghilang, tiba-tiba saja kembali sehingga ia bisa bersuara lagi. Hal itu membuat bingung Fey sehingga ia tidak jadi marah pada Refald. “Tenggorokanku, kembali lagi … padahal tadi aku kesulitan untuk bersuara.” Fey memegang lehernya yang habis kena cium dadakan Refald.
Tak perlu diucapkanpun Refald memang terlihat sangat senang dan itu membuat Fey terpancing amarah lagi. Fey benar-benar marah dan kesal. Bisa-bisanya Refald mencuri kesempatan dalam kesempitan.
“Dasar nggak ada akhlak! Dimana saraf malumu itu, ha? Kau sadar nggak sih, dengan apa yang kau lakukan barusan?”
“Sadar, kenapa aku harus malu? Aku menyelamatkan kekasihku? Jangan memujiku Honey, aku sudah bilang kalau kau tak perlu berterima kasih padaku.”
“Siapa yang memujimu? Aku sedang marah padamu!”
__ADS_1
Refald cuma tersenyum manis dan kembali ke posisinya semula sambil menatap lekat apa yang sedang dilakukan si cenayang pada pria berkulit hitam. Fey sudah tak bisa berkata-kata lagi, berada di samping Refald sepertinya bikin tensi darah Fey kembali naik. Kalau terus-terusan seperti ini, tak menuntut kemungkinan ia bisa kena stroke dadakan.
“Palalang lali lali litujunna batam pellingia galogaloppa galogalosso,” seru cenayang itu sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya di atas kepala pria berkulit hitam sebagai penutup mantra yang sudah ia ucapkan sedari tadi.
Mulut Fey menganga lebar mendengar sebuah mantra aneh bin nyeleneh dan nggak jelas itu diucapkan. “Astaga, apa yang dia ucapkan itu? Mentang-mentang cenayang? Pakai kata oppa dan osso juga? Arasso?” ujar Fey antara tak percaya dan ingin tertawa. Soalnya mantra itu sungguh lucu kalau diucapkan di negara Indonesia.
“Jangan salah Nona,” seru cenayang itu setelah memutari tubuh pria berkulit hitam yang bersimpuh didepannya. “Mantra yang aku ucapkan ini adalah mantra serbaguna.”
“Oh iya? Memang itu mantra untuk apa?” tanya Fey dengan lantang.
“Mantra ini bisa bikin cewek mendekat, bisa memanjangkan yang pendek, bisa membesarkan yang kecil dan bisa mengeraskan yang pendek. Datanglah padaku jika kau kurang puas dengan suamimu nanti.” Si cenayang memberikan penjelasan yang bikin Fey jadi traveling kemana-mana.
Mulut Fey menganga lebar dan langsung menatap Refald yang sejak tadi memegangi perutnya karena menahan tawa atas ucapan sang cenayang barusan. Refald sangat tahu kalau cenayang itu sengaja menggoda kekasihnya yang polosnya nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Kenapa kau melihatku seperti itu Honey. Yang cenayang itu katakan benar, datanglah padanya jika aku kurang memuaskanmu.” Refald kembali tertawa melihat wajah ngeri Fey. Iapun keranjingan menggoda kekasihnya sendiri.
“Apa cenayang cantik itu sejenis mak Erot? Ini gila! Bagaimana bisa dia … memperpanjang, memperpendek, dan juga … mengeraskan? Apa yang dia katakan itu, ha?” pikiran Fey sudah kemana-mana dan semakin keraslah Refald tertawa.
“Kau jangan salah paham Honey, yang cenayang itu maksud adalah sosis,” ujar Refald
“Sosis!” pekik Fey sambil melotot. Fey menatap ke arah daerah sensitif kekasihnya dan jadi malu sendiri.
“Iya, sosis. Lihat di atas kendi kemenyan itu, kan ada sosis dipanggang diatasnya. Itu yang ia maksud. Kau saja yang mesum dan berpikiran bukan-bukan. Kau nakal rupanya, ya?” Refald membenturkan keningnya tepat dikening Fey yang wajahnya sudah sangat merah semerah tomat antara malu dan juga terkejut.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***