Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 43 Dendam Kuntilanak


__ADS_3

Bukan tanpa alasan kenapa Refald mencegah Eric meninggalkan rumah ini. Semua itu Refald lakukan demi menjaga keselamatan sahabatnya karena Eric bisa dalam bahaya besar bila sampai keluar dari batas keberadaan yang seharusnya bukan tempat Eric dan Nana berada sekarang. Itulah kenapa ketika Eric tersedot masuk ke dalam lubang hitam, dirinya dan Nana terkurung dalam sebuah ruangan gelap dan mereka tak bisa membuka pintu kecuali ada orang yang membantu membukanya dari luar.


Meski hati Eric menentang keputusan Refald yang memintanya untuk tidak pergi, pemuda bule itu tak bisa berbuat apa-apa. Puluhan tahun mengenal Refald, Eric tahu betul kalau Refald tidak perah salah dan tidak pernah main-main dengan ucapannya. Mau tidak mau, Eric memutuskan kembali ke posisinya dan menyaksikan anak buah kakek buyutnya mengeksekusi wanita desa tak berdosa. Jasad wanita itu memang ternyata sengaja ditimbun di bawah lantai tepat di bawah anak tangga rumah ini.


“Pantas saja waktu itu kita diperlihatkan sebuah tangan yang muncul di dinding warung kopi, inikah maksudnya?” tanya Eric pada Refald yang kebetulan mereka semua ada di balkon tangga lantai atas rumah.


“Benar, firasatku tidak pernah salah,” ujar Refald. Ia juga menatap orang-orang yang sedang beraksi menutupi sebuah kejahatan. "Mereka semua tidak tahu bahwa yang mereka lakukan adalah kesalahan fatal."


Fey dan Nana tak berkomentar apa-apa karena tidak mengerti apa yang para pria itu bicarakan. Selain itu, Nana masih terlalu shock sehingga ia kehilangan suaranya untuk bicara. Ia yakin begitu keluar dari sini, Nana membutuhkan psikoterapi untuk menyembuhkan trauma yang menyerangnya ini.


Fey memang terdiam, tapi matanya tak pernah lepas dari sosok Refald. Dari sini Fey semakin Yakin bahwa tunangannya pasti bukanlah sembarang orang, Terbukti dengan keberadaan mereka di tempat ini. Jika Fey menceritakan ini pada orang lain, sudah pasti gadis itu bakal dianggap gila dan tidak waras.


Kejadian ini merupakan awal malapetaka kutukan serta terror yang menyerang desa kelahiran Nana. Arwah wanita desa yang mati mengenaskan itu bergentayangan karena dendamnya begitu kuat membara. Karena dunia lain ini adalah kenangan sang hantu kuntilanak, maka ia langsung memperlihatkan pada Refald dan yang lainnya bagaimana wanita yang dibunuh oleh kakek buyut Eric itu mulai membalas dendam dengan membunuh seluruh anak buah orang yang membunuhnya.


Yah, dengan mata kepala Refald serta semua orang yang ada di sini, Kunti itu langsung menunjukkan cara ia menghabisi kakek buyut Eric sebagai pelampiasan balas dendamnya. Semua kejadian-kejadian mengerikan itu disaksikan langsung oleh Refald dan semua orang yang terjebak dalam lubang hitam ini.

__ADS_1


Tepat di depan mata Eric, wanita yang sudah berubah menjadi hantu kuntilanak itu membunuh kakek buyut Eric dengan cara sama seperti yang pria jahat itu lakukan ketika membunuh sang kunti semasa hidup. Kakek buyut Eric digantung terlebih di atas ketinggian, lalu setelah dalam keadaan sekarat, tali tersebut dipotong sehingga tubuh pria jahat itu jatuh terhempas ke tanah. Pria tersebut meninggal seketika sama seperti saat kunti meninggal dulu.


Fey benar-benar tak kuasa melihatnya, tapi untung ada Refald yang menenangkannya tanpa berucap apa-apa. Sedangkan Nana jangan ditanya, ia memalingkan tubuhnya ke arah lain karena tak berani menyaksikan kejadian tragis itu.


Sayangnya, dengan kematian si kakeknya Eric, bukan berarti dendam kunti sudah selesai dibalaskan. Makhluk astral itu masih belum puas karena disaat dirinya mengalami penyiksaan brutal dari kakek Eric hingga ia mengandung, tak ada seorangpun di desa ini mau membantu atau menyelamatkannya sehingga ia juga menaruh dendam pada semua penduduk desa tanpa terkecuali.


Kunti meneror semua warga desa yang hingga sebagian besar dari mereka meninggal dunia. Refald sudah tidak tahan melihat kunti semakin brutal dan sudah melewati batas. Sang pangeran dedemit terpaksa menghentikan aksi kunti sebelum ia membunuh seorang kakek-kakek tua renta.


“Hentikan! Cukup!” seru Refald dengan lantang. Ia menatap kunti dengan tatapan marah. “Kau sudah membunuh banyak orang tak berdosa. Hentikan semua ini dan kembalilah ke alammu!” pinta Refald sambil terus waspada.


“Jangan ikut campur urusanku! Kau tahu kalau semua ini terjadi akibat ulah siapa! Kau adalah pangeran di dunia lain makanya aku tak mengusikmu dan masih sedikit menghormatimu. Tapi jika kau mengusikku dan mencampuri urusanku, jangan salahkan aku jika aku juga akan menyakiti wanitamu!” ancam Kunti dengan suaranya yang menakutkan. Matanya menatap tajam Fey yang langsung bergidik ketakutan.


Siapa yang tidak gemetar ditatap hantu paling mengerikan di dunia ini. Meskipun wujud Kunti ini sangat cantik, tetap saja yang namanya hantu itu pasti seram. Namun Fey agak tersentak ketika kunti itu menyebut Refald sebagai pangeran. Ia jadi bingung, masa iya Refald yang suka mesum padanya adalah seorang pengeran. Rasanya tidak mungkin.


“Alasan kenapa aku tetap diam” ujar Refald jadi geram mendengar ancaman kunti yang melibatkan kekasihnya. Fey jadi semakin menatap tajam Refald.“Aku tidak ingin mengubah takdir. Namun, tindakan yang kau lakukan ini sudah melawan takdir yang seharusnya tidak kau lakukan. Di dunia sana, masamu sudah berakhir. Jika kau membunuh orang tak berdosa, masa depan akan berubah.”

__ADS_1


“Memang itu yang kuinginkan! Kau mau apa?” teriak kunti marah dan terkesan menantang Refald.


“Jangan pikir aku tidak tahu.” Refald masih bersikap tenang dan tampak berwibawa diusianya yang sangat muda. “Kau sengaja mendatangkan angin ****** beliung untuk merusak pertapaan Eric sehingga kau bisa mengulang kembali sejarah yang dulu pernah kau lakukan dan menambah daftar korban yang seharusnya tidak ada dalam daftar pelenyapan. Aku takkan membiarkan itu terjadi sekalipun kau melakukannya karena alasan balas dendam. Yang kau lakukan ini, sudah menyalahi aturan.”


“Persetan dengan aturan! Mereka semua yang ada di sini layak mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka yang tak punya belas kasih padaku!” teriakan kunti itu semakin menggebu-gebu pada Refald sampai lengkingan suaranya membuat telinga manusia biasa seperti Fey dan yang lainya serasa sakit.


“Apa yang bisa diharapkan oleh seorang kakek tua renta terhadap pemimpin yang berkuasa, ha? Meskipun ia ingin menolongmu, ia takkan mampu melakukannya. Kau pikir semua penduduk di desa ini super hero? Mereka bukan batman atau Superman, mereka juga hidup dibawah tekanan sama sepertimu. Kau sama sekali tak punya hak untuk menghakimi mereka!” balas Refald berteriak marah semarah-marahnya sehingga membuat Fey lumayan terkejut juga.


Baru kali ini Fey melihat Refald semarah itu pada sosok hantu. Namun karena Refald tak ingin kehilangan kekuatannya, pria tampan itu berusaha keras meredakan emosinya sendiri agar tak meluap keluar lagi.


“Pergilah ke alammu. Mumpung aku masih bersikap baik!” tandas Refald lagi, tapi sepertinya kunti itu sama sekali tak mengindahkan ucapan Refald.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2