Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 64 Buku yang Terbuka


__ADS_3

Hawa jahat itu semakin kuat terasa ketika Fey memasuki rumah makan yang lumayan dipenuhi dengan pengunjung. Ingin rasanya dia mengajak pergi Nura untuk makan ditempat lain tapi tidak tega melihat betapa bahagianya sahabat Fey akhirnya bisa kembali makan siang bersama seperti yang dulu pernah mereka lalukan semasa duduk di bangku SMP hingga SMA. Fey pun memutuskan ikut saja apa yang dilakukan Nura karena ia sangat menyukai rumah makan ini. Yang penting temannya itu senang.


Tak lupa Fey juga harus berhati-hati dan tetap waspada mengingat Refald bisa marah besar kalau sampai dirinya kenapa-napa. Gadis itu yakin, tunangannya itu pasti sudah tahu apa yang sedang terjadi di tempat ini. Selana Fey tidak berbuat kesalahan, ia akan tetap aman meski tanpa Refald disisinya.


Tunangan Refald yang pemberani ini mengamati semua keadaan sekitar dimana semua orang sangat lahap memakan hidangan yang mereka pesan di rumah makan ini. Pemandangannya sangat berbeda dengan rumah makan-rumah makan lainnya yang tampak lebih sepi dibandingkan di sini.


Semoga dugaanku salah, batin Fey.


"Kau mau pesan apa? Rumah makan ini paling laris dan paling enak di sini," seru Nura riang. Ia langsung memesan makanan kesukaannya begitu keduanya duduk di meja makan pilihan Nura.


"Aku ... nanti saja pesannya, masih belum terlalu lapar. Kau pesan duluan saja," ujar Fey ragu apakah akan memesan makanan di tempat aneh dan berhawa jahat kuat ini atau tidak.


"Ada apa Fey? Katakan padaku. Apa yang kau sembunyikan? Jangan hanya karena ingin membuatku senang kau merahasiakan sesuatu hal besar dariku?" cetus Nura seakan tahu gelagat aneh temannya.


Sebagai teman yang sudah lama bersama dengan Fey. Tentu Nura paham betul bagaimana seluk beluk sahabatnya ini termasuk status barunya yang seorang calon istri dari pangeran dedemit yang peka terhadap hal-hal mistis.


Fey sendiri langsung menghela napas panjang karena ia memang tak pandai menyembunyikan sesuatu dan langsung kebaca kalau ia sedang menutupi sesuatu tersebut. Refald bahkan sering menyebut dirinya buku yang terbuka karena selalu ketahuan kalau Fey menyembunyikan sesuatu dari Refald atau siapapun.


Tak terkecuali sahabat dekat Fey satu ini. Nura memang gadis polos yang agak oneng juga, tapi dia bukan gadis bodoh yang mudah dibohongi. Itulah kenapa Nura kesulitan menjalin hubungan dengan pria manapun karena dia bukan wanita yang mudah digombalin.

__ADS_1


"Aku tak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Kau takkan paham meskipun aku menjelaskan apa yang aku lihat sekarang. Kita tunggu pesananmu datang tapi jangan langsung di makan," terang Fey dengan ekspresi tenang setenang permukaan air kolam walau hatinya sedang bergejolak kuat.


Nura mengernyitkan alisnya. Entah mengapa bulu kuduknya merinding disko mendengar ucapan Fey barusan. Nura, memang sering mengalami hal mistis meskipun ia tak dapat melihat makhluk astral seperti Fey, tapi ia bisa merasakan hawa keberadaan makhluk-makhluk tak kasat mata tersebut disekitarnya.


Dulu, waktu kegiatan pecinta alampun, Nura juga pernah diperlihatkan bertemu dengan naga yang membuatnya lari terbirit-birit ketakutan. Ia juga pernah bertemu dengan demit sejenis Genderuwo yang menakutkan. Makanya ia tidak percaya begitu saja ketika Fey memberitahu bahwa mas Gen pasukan demit Refald itu sebenarnya gantengnya nggak ketulungan. Sebab, Nura pernah melihat langsung wujud Genderuwo yang sangat seram.


Tak berselang lama, pesanan Nura pun datang. Sang pramusaji menyajikan makanan pesanan Nura di atas meja lengkap dengan minumannya. Setelah itu pramusaji tersebut pamit undur diri tanpa mengucap sepatah katapun.


"Keliatannya ini sangat enak ...." air liur Nura hampir menetes melihat hidangan mi goreng seafood yang ditaburi saos barbique dicampur lada hitam ada di depan matanya.


"Jangan di makan!" tandas Fey mengingatkan.


Namun, Fey bersikukuh mencegah Nura menyantap makanan itu. "Nura, sadarlah! Lihat aku, bacalah doa sebelum makan lalu lihat makanan yang menurutmu enak ini," pinta Fey sambil memegangi tangan temannya yang sudah menyentuh sendok dan garpunya tanda siap untuk makan.


Nura pun kembali meletakkan sendok dan garpu tersebut. Dan mengikuti apa yang dikatakan Fey. Gadis itu membaca doa makan dengan khusuk sambil memejamkan mata. Setelah selesai, betapa terkejutnya Nura ketika melihat mi goreng yang tadinya tampak sangat lezat mendadak berubah dipenuhi dengan cacing tanah. Seketika Nura terperanjat dan berdiri dari kursinya sambil berteriak saking kagetnya.


"Aaahhh!" teriaknya, otomatis semua orang langsung memandang ke arah Nura dan Fey berada.


Sadar kalau sahabatnya sedang jadi pusat perhatian, Fey buru-buru menutupi apa yang terjadi pada Nura agar tidak menimbulkan kekacauan. Sebab, tak menuntut kemungkinan orang-orang di sekitar sini tidak akan percaya bila Fey menjelaskan apa yang ia dan Nura lihat sekarang tentang makanan yang dihidangkan pada semua orang.

__ADS_1


"Maaf, sendok teman saya jatuh, jadi dia kaget! Silahkan kembali nikmati lagi makanannya, maaf ya ..." seru Fey sambil tersenyum pada semua orang dan membantu Nura duduk kembali di kursinya.


Semua orangpun kembali menikmati makan siang mereka dan mengacuhkan Fey dan Nura tanpa curiga lagi. Sedangkan Fey mencoba menenangkan sahabatnya.


"Bersikaplah biasa Nura, jangan panik. Mereka semua bisa menyerang bila kita bertindak gegabah," bisik Fey pelan.


Mata Nura langsung terbelalak melihat wajah penuh makna sahabatnya. "Mereka? Mereka siapa?" tanya Nura dan Fey langsung menunjukkan jari telunjuknya di atas kepala temannya.


Nura mengikuti arah jari telunjuk Fey dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan begitu tahu apa yang sedang bergelantung diatasnya. Hampir saja Nura menjerit ketakutan kalau saja Fey tidak langsung membekap mulut gadis itu dengan tangan kanan Fey. Agar tidak menimbulkan kericuhan yang ke dua kali, Fey menarik tangan Nura dan mengajaknya pergi ke toilet.


"Gila! Apa itu tadi?" Pekik Nura begitu keduanya ada di dalam toilet yang kebetulan sedang tidak ada siapa-siapa di dalam sana.


"Ssssttt! Pelankan suaramu. Jangan sampai ada yang dengar atau kita dalam masalah besar. Anggap saja kita tidak tahu apa-apa dan bersikaplah biasa!" Fey memerhatikan sekeliling ruang toilet berharap tidak ada yang mencuri dengar pembicaraannya.


"Tapi Fey mereka semua ... mereka ... astaga ... bagaimana bisa ...." Nura benar-benar tidak percaya pada apa yang ia alami saat ini. Tapi ini nyata dan benar terjadi di depan matanya. Saking shocknya, Nura sampai tidak tahu harus berkata apa.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2