
Refald tak ingin berdebat dengan keponakannya. Dengan kekuatan yang Refald punya, ia mengirim Yeon dan istrinya pergi kembali kekediaman mereka melalui portal luang hitam yang sengaja dibuka Refald secara tiba-tiba. Tanpa banyak bicara, Refald langsung mendorong tubuh Yeon dan memaksa Yuna masuk kedalam portal tersebut. Pasangan suami istri itupun menghilang dalam waktu sekejap mata sampai tidak sempat bicara.
Fey agak terkejut dengan aksi suaminya. Tidak biasanya Refald sedikit bersikap arogan seperti itu. Apalagi, Yeon adalah keponakan tersayangnya Refald. Sangat aneh bila sekarang Refald bersikap sekasar itu pada keponakan kesayangannya sendiri.
“Ada apa, Refald? Kau kasar sekali pada Yeon.” Fey mulai protes pada suaminya.
“Ini demi kebaikan mereka Honey. Ini darurat.” Refald menatap wajah lembut istrinya.
“Lalu, bagaimana dengan kita? Apa kita juga dalam bahaya?”
“Aku raja demit Honey, dan kau ratuku. Tidak akan ada yang bisa membahayakan kita. Hanya saja, manusia biasa seperti Yeon, tak seharusnya ada di tempat ini. Sebenarnya, aku tidak ingin menghadiri acara sirkus dari vampir Salvataro. Tapi, tidak enak jika menolak undangannya. Dia akan berpikir aku merendahkannya. Namun, aka nada resiko besar bila kita datang ke sana apalagi bila Yeon dan Yuna ikut. Aku tak bisa menjelaskan ini semua padamu, Honey. Tolong mengertilah.” Refald berjalan memunggungi Fey untuk melepaskan kegelisahannya.
Sebagai istri yang selalu setia mendampingi suaminya dalam suka maupun duka, Fey memutuskan untuk memahami apa yang dirasakan Refald saat ini. Wanita cantik itu berjalan dan memeluk punggung suaminya dari belakang.
“Bagaimana kalau kau mengajakku jalan-jalan keliling Mesir,” ujar Fey mengalihkan suasana agar Refald tak terlalu gelisah memikirkan kedatangan para vampir di kota tertua ini.
Refald memutar tubuhnya dan menatap wajah cantik Fey. “Ayo,” ujarnya sambil tersenyum.
Raja dedemit itu langsung menggendong tubuh Fey dan keluar melalui jendela ruangan mereka. Seperti biasa, Refald mengajak terbang istrinya dengan kekuatannya untuk menikmati keindahan kota Mesir dari atas langit-langit malam bertaburan bintang.
Inilah yang paling Fey suka dari suaminya. Diajak terbang dalam gendongan pria yang amat sangat dicintainya. Wanita cantik ini tak bisa berhenti memandangi wajah datar Refald saat sedang terbang berkeliling diatas awan.
“Honey, napasku kok sesak banget, ya?” ujar Refald disela-sela ia terbang.
__ADS_1
“Ada apa? Apa kau sakit?” tanya Fey langsung panik. Sejauh dia mengenal Refald, Fey tak prnah melihat suaminya ini sakit kecuali ketika ia kehabisan tenaga setelah berperang dan minta jatah nutrisi.
“Iya Honey. Rasanya sesak banget karena separuh napasku ada di kamu.” Refald memancarkan tatapan mautnya dan langsung membuat Fey tertegun mendengar suaminya, ternyata sedang menggombal ria.
Tak seperti biasanya, kali ini Fey tidak marah saat Refald mulai mengeluarkan jurus pergombalan mautnya. Sebaliknya, ratu demit itu malah membalas gombalan Refald dengan gombalan pula.
“Mungkin di dunia ini aku sudah ditakdirkan buta,” ujar Fey sambil memasang wajah sedih sehingga Refald tak sadar kalau istrinya juga bisa menggombal.
“Apa maksudmu, Honey? Kau tidak buta. Kau bisa melihat.”
“Maksudku, buta tidak bisa melihat pria lain selain dirimu. Pesonamu membuatku buta kalau di dunia ini, ada banyak sekali pria tampan lain yang lebih tampan darimu. Tapi bagiku, yang tertampan hanyalah kau seorang.”
Lagi-lagi Refald tersenyum. Ia mulai mendarat diatas awan ciptaannya dan menurunkan Fey di atas awan malam. Dari bawah memang tidak terlihat, tapi kalau dari atas, dua insan yang saling berdiri berhadapan tampak begitu sweet dan sangat romantis banget.
“Apa?” tanya Fey penasaran. Jurus pergombalan apalagi yang bakal dikeluarkan Refald untuknya.
“3 Hal itu adalah matahari, bulan dan kamu. Matahari untuk siang hari, bulan untuk malam hari, dan kamu adalah siang malam dihatiku untuk selamanya. I love you Honey, forever.” Sebagai pamungkas dari adegan pergombalan ini, Refald mencium mesra istrinya tepat dibawah sinar rembulan yang bersinar terang.
Begitulah cara Refald dan Fey mengatasi kegalauan yang melanda keduanya ditengah-tengah permasalah yang menimpa keduanya. Selalu ada keromantisan didalamnya yang diibaratkan bumbu bumbu pernikahan pada umumnya. Refald dan Fey saling melengkapi satu sama lain karena keduanya telah ditakdirkan untuk terus bersama menghadapi asam manisnya kehidupan berumah tangga.
***
Akhirnya, pertunjukan sirkus keluarga Salvataropun dilaksanakan sesuai dengan jadwal pertunjukan mereka. Tak banyak yang datang sebenarnya, tapi lumayan juga bagai orang-orang yang butu hiburan. Refald dan Feypun tiba bersama dengan tamu-tamu undangan yang lain. Tangannya tak pernah lepas dari genggaman tangan Fey.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan pelan memasuki area pertunjukan sirkus yang terbuat dari tenda berukuran sangat besar dan paling tebal di dunia. Namanya juga pertunjukan sirkus, pasti yang ditunjukkan adalah hal-hal ekstrem dan pastinya tak dapat dilakukan oleh manusia biasa.
“Apa … yang datang ini vampir semua?” tanya Fey pada suaminya saat ia mengamati semua orang yang hadir dalam pertunjukan sirkus ini.
Bagi Fey, ini pertama kalinya ia melihat sirkus. Biasanya, ia hanya melihat melalui saluran televisi atau dari novel J.K Rowling yang pernah ia baca semasa sekolah dulu.
“Tidak Honey, di sini hanya keluarga Salvatarolah yang vampir, lainnya manusia biasa sama seperti kita. Bahkan sebagian besar pemain sirkus itu juga manusia. Hanya saja, mereka sangat berbeda. Jangan bahas mereka di sini. Nikmati saja pertunjukannya. Selama bersamaku, kau aman.”
Fey mengangguk pelan. Tak pernah terbayangkan dibenaknya bakal beneran melihat sirkus dan sebagain dari mereka adalah seorang vampir. Fey prnah membaca kisah seperti di dalam novel dan waktu itu, semua yang terjadi hanyalah fiktif belaka. Siapa yang mengira kalau vampir dan para pemain sirkus bisa bekerjasama memberikan pertujukan spektakuler.
“Jangan-jangan, vampir Edward dan Bella itu benar-benar ada. Ini sama seperti kisah yang aku baca,” gumam Fey pada dirinya sendiri dan tentu saja Refald bisa mendengarnya.
Namun, Refald tidak menyangkal seperti dulu ketika istrinya ini terobsesi dengan vampir Edward dan selalu menyamakan dirinya dengan sang vampir tampan fenomenal itu.
“Honey,” ujar Refald dengan santai ketika detik-detik pertunjukan sirkus akan segera dimulai. “Kau mau kucium?” tawarnya yang jelas langsung ditolak mentah-mentah oleh Fey.
“Yang benar saja? Masa ciuman di tempat umum begini? Jangan aneh-aneh, deh!”
“Kalau begitu, berhentilah memikirkan apa yang kita alami ini sama seperti yang dalam cerita novel? Jelas itu sangat berbeda meski pada dasarnya … semua yang kau lihat dan alami ini nyata. Kau membuatku gemas sekali seolah aku … hanyalah tokoh fiksi untukmu.” Mata Refald menatap manik mata istrinya lekat-lekat.
Gawat! Refald mulai kumat baperan lagi, apa ini karena efek anaknya yang ada di dalam rahimku. batin Fey sambil menelan salivanya.
BERSAMBUNG’
__ADS_1
***