
40 hari telah berlalu dengan cepat. Artinya, pertapaan Eric di desa Angker juga sudah berakhir. Dalam kurun waktu kurang lebih sebulan itu, Eric bisa menyelesaikan ritualnya dengan baik berkat penjagaan ketat para pasukan Refald yang diperintahkan langsung oleh pangeran dedemit mereka. Selain itu, kerjasama penduduk desa serta sang kepala desa sendiri juga ikut andil dalam mensukseskan ritual Eric agar desa mereka tak lagi mendapatkan terror dari makhluk astral lainnya.
Hari ini adalah hari kebebasan Eric setelah ia berhasil menjalankan ritualnya. Ia juag sedang menunggu kedatangan sahabatnya yang katanya akan menjemputnya begitu ritual berakhir. Semua penduduk desa bermaksud merayakannya dengan mengadakan syukuran kecil-kecilan. Tentu saja acara tasyakuran itu wajib dihadiri oleh Refald dan istri ghaibnya, yang tidak lain dan tidak buka adalah Fey.
Yah, baik Refald dan Fey, telah menikah di dunia lain. Dan banyak sekali hal yang dua sejoli itu lalui dalam kurun waktu 40 hari itu. Salah satunya, pernikahan ghaib tersebut terpaksa dilakukan sebagai ganti nyawa Fey dan Refald yang hampir melayang.
Refald melakukan sebuah perjanjian dengan kakek buyutnya demi menyelamatkan nyawanya dan nyawa Fey ketika keduanya terjatuh dari ketinggian air terjun yang dalam karena suatu kejadian telah menimpa mereka bertepatan dengan hilangnya kekuatan Refald. Saat itu, Refald sedang terjepit dan jelas tak mungkin ia membiarkan Fey mengorbankan nyawa demi dirinya. Maka dari itulah Refald memutuskan untuk membuat perjanjian dengan kakek buyutnya.
Perjanjian itu berisi, Refald harus melangsungkan pernikahan yang dinamakan dengan pernikahan ghaib dengan Fey di dunia lain dan disaksikan oleh seluruh leluhur Refald serta leluhur Fey. Status pernikahan tersebut menjadikan Fey dan Refald sebagai pasangan suami istri, tetapi status tersebut hanya berlaku di dunia lain saja. Sedangkan di dunia nyata, Fey dan Refald hanya berstatus tunangan sampai peresmian hubungan keduanya di gelar. Darisitulah, semua fakta tentang Refald dan Fey terkuak.
Dua pasangan sejoli itu bukan sembarang manusia biasa. Mereka berdua adalah manusia terpilih yang memiliki tugas menjaga perdamaian dan keseimbangan alam dimana sekarang kondisi alam sudah rusak akibat ulah tangan manusia tak bertanggung jawab dan menciptakan banyak mala petaka di mana-mana. Sebagai calon Raja dan Ratu dedemit, Refald dan Fey yang merupakan keturunan darah biru dari kerajaan mereka masing-masing, mengemban tugas untuk tetap menjaga kelestarian alam yang ada di dunia ini agar tidak goyah ataupun rusak sehingga tidak menimbulkan banyak bencana.
Seperti beberapa waktu lalu, Refald dan Fey baru saja pulang dari Jerman setelah acara pertunangan mereka, tapi keduanya sudah dihadapkan dengan salah satu musuh dari kerajaan dunia lain yang sangat menginginkan darah dari Fey. Untunglah kekuatan Refald semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu sehingga ia bisa terus melindungi istrinya dari bahaya apapun. Namun, Pengeran dedemit itu tetap waspada dari segala hal yang mencoba mengusik kehidupannya dan Fey terlepas dari siapakah mereka berdua sebenarnya.
“Aku kira kau melupakanku setelah menikahi istrimu,” ujar Eric setelah Refald menjelaskan pada Eric alasan kenapa ia baru bisa memunculkan batang hidungnya sekarang.
Refald cuma bisa tersenyum simpul sambil mengamati Fey yang sedang asyik mengobrol dengan Nana. Dua wanita yang fasih berbahasa jawa itupun sedang membicarakan sesuatu.
“Sejak dia jadi istri ghaibku, aku makin jatuh cinta padanya,” ujar Refald sambil tersenyum penuh cinta. Sayangnya, yang disenyumin cuma buang muka dan memilih acuh saja.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan kenapa Fey kesal dengan Refald. Sejak memasuki desa ini, gadis itu merasakan ada hal yang aneh, tapi ia tak bisa mengungkapkannya. Namun, karena ini momen pentingnya Eric, Fey berusaha tidak mengacaukannya dan menyimpan semua rasa aneh yang Fey rasakan. Sebagai gantinya, ia mengalikan perhatian dengan banyak mengobrol dengan Nana menggunakan logat Jawa.
Senyum Refald langsung memudar setelah melihat pak Po datang dengan wajah tidak karuan. Begitupula dengan rekan-rekan pak Po yang lain. Alih-alih terlihat tampan, semua pasukan dedemitnya lebih mirip gerobak pemulung ketimbang lutung.
“Astaga pak Po! Apa yang terjadi dengan wajahmu dan wajah rekan-rekanmu?” tanya Eric juga ikutan terkejut melihat keanehan yang terjadi pada pasukan Refald.
Tidak biasanya mereka berpenampilan aneh bin nyeleneh begitu. Sebab yang Eric tahu, para pasukan Refald wujudnya itu sangat tampan menawan. Ketampanan manusia tertampan saja kalah telak dengan dedemit-dedemit Refald. Namun, kali ini kayaknya pak Po ingin tampil beda dari biasanya. Eric ingin tertawa sebenarnya, tapi tidak enak aja dengan sahabat Eric yang sudah mulai mengepalkan kedua tangannya saking emosinya melihat ulah bogainya pak Po. Entah mau Refald apakan para dedemitnya ini karena disetiap kemunculan pak Po, selalu saja ada ulah yang bikin Refald gagal ginjal.
Bukan rahasia lagi bagi Eric bila ia bisa melihat seperti apa para makhluk astral tak kasat mata yang menjadi anak buah sahabat karibnya. Bahkan Eric sangat mengenal baik mereka semua karena sebagai sahabat, tak ada yang tidak diketahui Eric soal Refald. Termasuk sifat-sifat para dedemit ini.
“Saya baru saja mengajak rekan-rekan saya ini oplas di Korea tuan muda Eric. Kebetulan pangeran habis menendang saya ke Korea 40 hari yang lalu. Sebagian rekan yang tidak menjaga anda, sekalian saya ajak oplas juga supaya kami semua terlihat tampan. Bagaimana Tuan … muka kami semua udah oke, kan?” Pak Po pasang pose ala model yang sedang action di depan kamera.
Bukan apa-apa, Eric sih menghargai banget penampilan baru pak Po yang sebenarnya sangat jauh dari kata keren. Sebab. Oplas yang dimaksud pak Po ini adalah menempelkan plastik bening ala pembungkus makanan ke wajah mereka sehingga bentuk muka para pasukan dedemit itu sangat lucu dan tidak beraturan.
Siapapun yang melihat wajah yang ditempeli plastik pembungkus makana tersebut pasti bakal tertawa terpingkal-pingkal. Alih-alih menjadi tampan, muka mereka malah seperti badut gagal dandan. Tidak karuan dan benyok dimana-mana.
Refald yang sudah menahan geram sejak tadi, langsung berjalan cepat dihadapan Pak Po dan menatapnya lekat-lekat.
“Hamba sudah melakukan oplas seperti yang Anda sarankan, Pangeran. Begitu Pangeran dan Putri menikah kemarin, kami semua langsung pergi ke Korea untuk oplas. Dan inilah hasilnya.” Pak Po memamerkan wajah anehnya dengan bangga. Dimana-mana pocong itu dibungkus dengan kain, lah khusus untuk pak Po, mukanya dibungkus plastik.
__ADS_1
“Oh iya … siapa yang membantumu untuk oplas?” tanya Refald sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Dokter spesialis rumah sakit jiwa Korea selatan Pangeran. Orang itu baik sekali dan bisa melihat kami semua, makanya dia membantu kami pasang oplas di wajah, hehe. Prosesnya cepet loh Pangeran, nggak ribet. Lain kali Anda bisa coba supaya tuan putri Fey makin terpesona dengan.” Pak Po masih berpose sok keren seolah oplas yang ia jalani itu sudah berhasil mengubah image pocong tampannya. Padahal muka pak Po malah makin tidak karuan.
“Apa kau sudah bercermin?” tanya Refald lagi dengan nada tenang setenang permukaan air.
“Haruskah kami bercermin Pangeran? Kami takut kami terpukau dengan ketampanan kami setelah melakukan oplas.”
“Siapapun yang sudah oplas, wajib bercermin supaya tahu seperti apa mukanya. Kau pasti penasaran banget!” ujar Refald penuh makna dan ternyata, tanpa dikomando, sejak tadi Eric sudah pergi meminjam sebuah cermin besar milik warga desa dan sengaja ia taruh cermin berukuran besar tersebut tepat di depan Refald.
Cermin itupun langsung dihadapkan pada pak Po dan rekan-rekannya supaya mereka bisa melihat seperti apakah penampilan mereka semua saat ini. Wajah mereka memang oplas alias tampol plastik. Bukan mengubah bentuk wajah melalui meja operasi. Yang dilakukan pak Po dan teman-temannya adalah oplas dalam artian sebenarnya. Yaitu menempeli muka mereka dengan plastik sungguhan. Untung mereka ini sudah meninggoy jadi tidak perlu memikirkan bagaimana cara bernapas ketika wajah mereka dibungkus plastik.
“E puseeettt tret tret tret trettttt … itu muka apa panci tepos?” seru pak Po terkejut karena mukanya dibalut rapat dengan plastik.
BERSAMBUNG
***
KISAH PERNIKAHAN GHAIB REFALD DAN FEY sudah ada di novel PUTRA RAJA. Dan Apa yang terjadi pada Refald dan Fey sepulang mereka dari Jerman, itu ada di novel cetaknya .... yang penasaran boleh beli novelnya wkwkkwk
__ADS_1