
Siapa yang tidak merasa takut, bila tiba-tiba saja diajak masuk ke dalam sebuah rumah misterius dan terkesan angker. Seperti yang dialami Fey saat ini. Baru menginjakkan kaki di pekarangan rumah saja, bulu kuduk Fey sudah berdiri. Gadis itu ingin menolak ajakan Refald untuk melanjutkan masuk ke dalam bangunan angker tersebut, tapi tangannya di genggam erat-erat oleh tunangannya sehingga ia tak bisa melarikan diri ataupun kabur dari sini.
Kalaupun kabur juga percuma, ia tidak tahu harus pergi kemana. Fey sungguh tidak tahu apa tujuan Refald membawanya masuk kemari, yang jelas gadis itu merasakan ada sesuatu hal buruk dan mengerikan terjadi di rumah ini, atau mungkin bisa lebih. Sekeliling tempat ini begitu sepi dan sunyi. Bahkan suara binatangpun tak terdengar disekitar sini. Benar-benar tempat menakutkan, persis seperti yang ada dalam film cerita-cerita horor.
Refald sendiri tidak banyak bicara dan terus menatap lurus ke depan. Ia juga tahu kalau tunangannya sedang ketakutan, tapi Refald tak mungkin membiarkan Fey sendirian di dunia lain sementara ia harus mengurus satu hal di tempat ini sembari menunggu anak buahnya membukakan pintu lubang hitam dari luar begitu waktunya sudah tiba. Disisi lain, ada ekspresi sedih menyelimuti Refald sehingga ia takkan pernah mau melepaskan genggaman tangannya pada Fey.
Bertahanlah Honey, batin Refald sambil melirik wajah cantik Fey yang menggemaskan kalau sedang ketakutan.
Kini, Refald dan Fey sudah ada di depan pintu utama rumah berlantai dua. Aura kekuatan ghaib terasa begitu kuat dan kental di sini. Fey menatap ngeri pintu kayu yang terbuat dari jati didepannya. Pintu berukuran besar tinggi dan tampak berat tersebut begitu kokoh. Bisa dibayangkan seberapa berat pintu kayu ini.
“Refald … kenapa kita harus datang kemari? Tidak bisakah kita pergi ke tempat lain? Semua bulu kudukku berdiri berada di sini.” Tanpa sadar, tangan Fey menggamit erat lengan tunangannya. Ia tak berani menatap tempat lain karena takut melihat hal-hal yang tak ingin Fey lihat.
“Jangan takut Honey, selama kau bersamaku dan menggenggam erat tanganku ini, takkan terjadi apa-apa padamu karena aku akan terus melindungimu dari apapun. Percayalah, kita akan keluar dari sini secepatnya.” Refald menoleh pada Fey untuk meyakinkan kekasihnya bahwa semua akan baik-baik saja selama Fey tetap ada disisinya meski Refald tak bisa menjelaskan alasan kenapa ia bicara begitu pada tunangannya.
Sepertinya, Fey memang sudah tidak punya pilihan lain lagi sekarang. Gadis itu tak bisa maju ataupun mundur bila Refald sudah memantapkan keputusannya walaupun Fey sangat menentang aksi gila Refald ini. Sejak awal, ia memang merasa ada yang beda dengan pria bule tampan bernama Refald dan Fey sedang dalam tahap memahami siapakah calon pendamping hidupnya ini sebenarnya. Termasuk keberadaan Fey di sini bersama Refald.
Orang lain takkan pernah bisa percaya bila Fey menceritakan semua ini karena semuanya benar-benar tidak masuk akal. Siapakah Refald dan seperti apa dia? Fey masih belum tahu. Yang bisa Fey lakukan sekarang hanyalah tetap bersama Refald bila masih sayang dengan nyawa.
__ADS_1
Pintu kayu besar di depan Fey dan Refald mendadak terbuka lebar. Kekasih Refald langsung menutup matanya dengan satu tangan karena cahaya dari pintu yang terbuka, telah menyilaukan pandangannya, tapi tidak dengan Refald. Pemuda tampan itu tampak tenang dan seolah sangat terbiasa dengan hal-hal mistis seperti ini.
Tanpa banyak bicara, pangeran dedemit itu mengajak Fey masuk, pelan dan perlahan-lahan. Begitu keduanya sudah ada di dalam rumah, pintu utamapun tertutup rapat dengan keras dan membuat Fey kaget bukan kepalang saking kerasnya pintu tersebut saat menutup.
Brak!
Itulah bunyi pintu yang menutup dengan sendirinya ketika Refald dan Fey memasuki ruang tamu.
“Refald! Apa … kita benar-benar terjebak di sini?” tanya Fey mulai panik dan lagi-lagi, Refald berusaha menenangkannya.
“Honey, jangan panik oke. Biarkan saja pintunya, dan tetap tenanglah.”
“Maafkan aku Honey, bukannya aku tidak ingin memberikan penjelasan apapun padamu. Meski kujelaskanpun, kau takkan percaya padaku karena semua kejadian di sini merupakan peristiwa diluar nalar manusia. Anggap saja ini hanya mimpi buruk dan begitu kau terbangun, maka mimpi itu langsung hilang.” Refald memegang kedua bahu Fey dan memeluk wanita yang sedang gemetar ketakutan itu dengan sangat erat.
“Aku janji padamu, aku akan membawamu pergi dari sini secepatnya. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku untuk tetap tenang. Yang akan kau lihat sebentar lagi mungkin bakal lebih mengerikan dibandingkan peristiwa G 30 S beberapa puluh tahun silam.”
Fey merenggangkan pelukan Refald dan menatapnya lekat-lekat. “Darimana kau tahu peristiwa itu? Apa hubungannya dengan kita terjebak di sini?” tanya Fey terheran-heran karena Refald bukan asli warga negara Indonesia. Harusnya cowok bule tidak tahu salah satu sejarah kelam bangsa ini. Tapi ucapan Refald barusan membuat Fey sangat terkejut.
__ADS_1
“Jangan lupa kalau aku anak IPS Honey, tentulah ini masuk dalam materi pembelajaran,” jawab Refald sambil tersenyum simpul melihat wajah bingung kekasihnya. “Sudahlah, wajahmu itu mirip seperti mayat, jangan diambil hati ucapanku. Aku tahu kau itu sangat patriotisme. Sejarah adalah sejarah, orang tidak akan kembali ke sejarah dan hanya menjadikan sejarah sebagai pembelajaran agar menjadi lebih baik.
“Sekarang negara ini sudah maju dan semua masyarakatnya pandai-pandai. Peristiwa itu takkan pernah terjadi lagi di sini ataupun di belahan dunia lain.” Refald menjelaskan maksud ucapannya tapi Fey masih menatapnya dengan tatapan tidak suka.
“Ayolah Honey, bukan hanya negara ini yang punya sejarah kelam, hampir semua negara punya. Bahkan negara asalku, di Jerman sana juga punya peristiwa yang jauh lebih mengerikan seperti robohnya tembok Berlin.”
“Stop! Sudah, kok malah bahas sejarah sih? Cepat cari jalan keluar seperti yang kau janjikan. Kau bikin aku jadi puyeng saja.” Fey sengaja menghentikan ucapan Refald.
Baru juga Refald mau buka suara karena tak terima ucapannya dipotong Fey tiba-tiba, mendadak terdengar suara berisik di lantai dua rumah ini. Suara itu seperti suara gedoran kencang yang berasal dari sebuah pintu. Pasangan sejoli Fey dan Refald yang sedang sibuk bahas sejarah negara mereka masing-masing, akhirnya terdiam.
Keduanya langsung menaiki tangga utama menuju lantai dua tempat sumber suara itu berada. Fey berjalan di belakang Refald sambil berharap-harap cemas. Takut kalau ada hantu atau apapun yang tiba-tiba saja muncul di balik pintu.
Semakin lama, suara gedoran itu semakin terdengar kencang dari sebuah pintu yang sedang didekati Refald. Refald sendiri juga bersikap waspada karena ia yakin, yang menggedor pintu tersebut bukanlah hantu, melainkan seseorang. Hanya saja, Refald tidak yakin siapakah orang itu. Ada keraguan di hati Refald apakah mau membukanya atau tidak. Namun, karena rasa penasarannya sangat tinggi, maka Refald nekat membuka pintu tersebut.
“Refald! Hari-hati,” ucap Fey sambil menelan kuat-kuat salivanya begitu tangan Refald menyentuh gagang pintu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***