Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 73 Mantra Pak Po punya


__ADS_3

Bagaimana Fey tidak menganga melihat pak Po begitu mudah mengalahkan si wewe hanya dengan menjewer telinganya layaknya emak-emak yang sedang menghukum anaknya ketika berbuat nakal. Padahal, Fey dan Refald harus hati-hati dalam bertindak dan mengambil langkah kaki seribu untuk bisa membuat wewe itu keluar dari kamar Harita serta mendapatkan bayinya.


Pasukan demit Refald yang satu itu memang luar biasa. Dialah satu-satunya setan yang tak tergoda akan kemolekan tubuh palsu si seksi wewe seperti rekan-rekannya yang lain sehingga mereka hampir saja celaka jika saja pak Po tak hadir tepat waktu. Sedangkan Refald sendiri, enggan melihat wewe dengan pakaian vulgarnya itu agar matanya tak ternodai.


Tanpa melepas pelukannya dari Fey, dan tetap membelakangi pak Po, Refald mulai membuka suaranya. "Pak Po, kau kan bisa membuka lubang hitammu sendiri? Kenapa kau memintaku? Kau sengaja memanas-manasiku? Bawa pergi iblis itu dan jangan sampai aku melihatnya lagi!" titah Refald masih belum mau balik badan dan tetap memeluk Fey. Ia kesal karena pak Po merusak momen sweetnya dengan calon istrinya.


"Oh iya Pangeran, maaf saya supe," ujar pak Po mulai mengikuti jargon tren anak muda kekinian. Entah darimana ia tahu jargon model begitu.


Pak Po yang tidak memakai seragam kebesarannya, mulai menjulurkan satu tangan kirinya sementara tangannya yang lain masih menjewer si wewe. Tiba-tiba ....


"Dung daing tik daing, dung daing tik daing, dung dang dik daing ..."


Pasangan sejoli Refald dan Fey langsung keki mendengar kalimat aneh bin nyeleneh yang diucapkan pak Po barusan. "Heh pak Po! Apa yang kau lakukan?" bentak Refald jadi spaneng sendiri melihat pola pak Po yang sudah diluar nalar dunia perdemitan itu.


"Jangan di sela Pangeran, ini adalah mantra yang saya gunakan untuk membuka lubang hitam," jawab pak Po santai.


Refald sudah hampir kehilangan kesabaran menghadapi anak buahnya yang satu ini. "Sejak kapan membuka lubang hitam pakai mantra segala? Jangan aneh-aneh kau pak Po. Kau hanya perlu menggunakan kekuatanmu! Tak perlu menggunakan mantra nggak jelas begitu!" bentak Refald kesalnya sudah sampai ubun-ubun.


"Oh maaf Pangeran, mungkin karena saya terlalu kebanyakan lihat tik tok sehingga kebawa-bawa," ucap pak Po dengan entengnya.

__ADS_1


Pocong tampan itupun melempar si wewe ke dalam lubang hitam buatannya tanpa belas kasih sedikitpun. Lubang tersebut langsung terbuka dengan sendirinya dana menutup setelah menelan korbannya.


"Nah beres! Rasain! Siapa suruh jadi wewe gombal gambel hahahaha. Bagaimana Pangeran, aku hebat kan?" tanya pak Po.


"Ayo Honey, kita juga pergi untuk menangkap kuyang," ajak Refald tanpa menghiraukan pak Po yang mulai bikin kesal.


"Rasain kau dicuekin!" balas Fey meledek pak Po. Sebab ia jadi ikutan keki juga dengan ke bloonnya.


Keduanya langsung menghilang begitu saja menggunakan jurus teleportasi Refald. Semua pasukan Refald juga ikut pergi ke tempat di mana pangerannya berada saat ini begitu pula dengan pak Po yang sudah menyelesaikan tugasnya sebagai demit dengan baik meskipun ia ditinggal karena bikin bengek Refald dan lainnya.


Semua warga sudah berpencar ke berbagai titik yang mereka yakini sebagai tempat keberadaan kuyang. Namun, hingga sekarang tak satupun dari mereka menemukan sosok hantu mengerikan itu. Dimanapun mereka mencari, tetap saja hasilnya nihil.


Akhirnya, mereka semua memutuskan untuk kembali ke rumah Zal dan betapa terkejutnya semuanya ketika melihat Harita dan bayinya sedang tertidur lelap di kamar. Zal langsung menanyakan apa yang terjadi pada keluarganya, tapi mereka tidak ada yang tahu. Pria bengek itupun juga membangunkan istrinya lalu menanyakan semuanya.


Para penduduk desa langsung merasa lega dengan kabar baik ini meskipun sang kuyang yang meresahkan masih belum juga ditemukan. Untuk sementara ini, mereka memutuskan kembali ke rumah masing-masing dan membuat penjagaan ketat secara bergiliran agat apa yang terjadi pada Zal dan keluarganya, tak terjadi pada warga yang lainnya. Tak lupa, mereka juga meminta maaf pada Ei karena telah menuduhnya sebagai kuyang.


***


Tempat yang didatangi Fey dan Refald jauh dari ekspektasi. Tadinya, Fey mengira kalau dirinya bakal dibawa kekasihnya ke tengah hutan belantara atau tempat-tempat angker lainnya. Eh, nggak tahunya malah ke pekarangan rumah orang yang masih satu desa dengan tempat tinggal Harita dan Zal. Rumah tersebut dangat indah dan terkesan paling bagus diantara rumah-rumah penduduk desa lainnya. Aneh rasanya bila Refald mencari kuyang di tempat semewah ini.

__ADS_1


"Kenapa malah datang kemari? Katanya mau nangkep kuyang? Apa kau mau mau menemui seseorang dulu?" Fey sudah tidak bisa membendung lagi rasa penasarannya, jadi ia bertanya.


"Honey, kau tahu kan? Wujud penampakan kuyang sangat menyeramkan. Hanya berupa kepala yang terbang melayang dengan organ tubuh terurai. Sebenarnya kuyang bukan lah hantu, tapi seseorang yang sedang menekuni ilmu hitam, sehingga dapat mengubah wujudnya menjadi kuyang," terang Refald yang artinya rumah gedong lumayan bagus ini adalah kediaman dari kuyang yang dimaksud Refald.


Feypun langsung paham. Sebab, Kuyang adalah seorang wanita yang mendalami ilmu hitam agar awet muda dan disayang suami. Agar ilmunya makin matang, ia memangsa darah dan bayi yang akan dilahirkan. Dia mencari mangsa di malam hari dengan cara terbang. Ada pula kisah yang menceritakan jika kuyang hanya mengisap ari-ari janin dan darah pada wanita.


Konon, pada wanita yang tengah hamil, ia harus tidur dengan menggunakan kelambu agar tidak didatangi kuyang. Sementara itu pada gadis, harus membuang pemballut sewaktu datang bulan dengan baik dan benar agar tidak diganggu kuyang.


Di siang hari, kuyang berwujud seperti manusia biasa.Tapi dia mencari mangsa ibu hamil dengan cara pura-pura kenal dan mengelus perut ibu tadi. Jika berhasil memegang perut, maka bayi di dalam kandungan akan hilang. Mitosnya sih begitu. Tak heran bila kuyang ini dianggap sangat meresahkan masyarakat.


Karena tidak ingin buang-buang waktu, Refald menyuruh semua pasukannya untuk mengepung rumah megah yang ia yakini sebagai tempat kediaman kuyang. Para dedemit itupun langsung bergerak cepat. Tak ketinggalan pak Po yang langsung berdiri di samping Refald siap menerima perintah.


"Pak Po, ambilkan aku panci atau wajan, cepat!" pinta Refald.


"Apakah anada mau memasak di sini Pengeran?" tanya pak Po heran dan langsung membuat Refald gula darah.


"Apa kita sedang dalam kondisi acara memasak pak Po? Aku memintamu mengambil panci atau wajan bukan untuk memasak, melainkan untuk memancing kuyang yang keluar dari persembunyiannya. Ada banyak jebakan di dalam rumah itu, kita tidak dapat masuk kesana dan harus memancingnya keluar!" terang Refald sedikit emosi, untung Fey segera meredakan amarahnya agar tidak lepas kendali setipa berdekatan dengan pak Po.


"Oh, begindang. Siap pangeran! Hamba permisi dan akan kembali secepatnya," ujar pak Po manggut-manggut dan menghilang bagai jin Tomang dari hadapan Refald dan Fey.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2