
Siapa yang tidak terkejut bila tiba-tiba melihat ada orang terkapar tak berdaya dengan kondisi mengenaskan setelah jatuh dari atas ketinggian. Tepat di depan mata Fey-Refald serta Eric-Nana, wanita yang habis terjatuh itu langsung menghembuskan napas terakhirnya. Nana terduduk lunglai setelah sempat menjerit karena shock berat. Sedangkan Refald dan Eric tak bisa berkomentar apa-apa melihat hal tak terduga terjadi dihadapan mereka.
Hanya saja, di sini perhatian Refald terpusat pada tunangannya, yaitu Fey yang masih gemetar ketakutan. Bukan karena ia menyaksikan langsung detik-detik kematian yang terjadi pada wanita asing itu, melainkan karena Fey jadi teringat kembali kenangan masa kelam yang merenggut nyawa ibunya karena sakit yang diderita.
Meskipun Fey tak mengatakan apapun, Refald bisa merasakan kesedihan begitu dalam menyerang gejolak hati dan jiwa tunangannya. Luka hati yang dirasakan Fey merupakan masa kelam sehingga menjadi penyebab utama perpisahan Refald dan Fey beberapa tahun lalu.
Susah payah Fey membangun kembali jati dirinya dan terus mengarungi hidup tanpa ibu tercintanya, tapi kenangan itu tetap saja meninggalkan duka mendalam dihati Fey. Hanya saja, Fey yang sekarang sudah tidak sama dengan Fey yang dulu berkat kehadiran Refald kembali dalam hidup gadis malang itu.
“Tenanglah Honey, tidak apa-apa. Yang kita lihat ini hanyalah potongan kenangan pemilik rumah ini.” Refald mendekap erat kekasihnya. Padahal yang histeris Nana, tapi yang mendapat perlakukan istimewa malah Fey.
Feypun merasa tidak enak pada Eric dan gadis desa yang sedang shock sama sepertinya ketika dirinya dipeluk erat Refald. Meskipun Fey akui, pelukan kekasihnya begitu menenangkan hatinya. Sayangnya, ini bukan waktu tepat untuk bermesraan. Tak ingin terlarut akan kenangan menyakitkan, Fey pun berusaha mengontrol diri dan memercayai apa yang dikatakan tunangannya.
“A-apa … kita hanya … akan berdiam diri di sini?” tanya Fey dengan suara gemetar dan perlahan melepas pelukan Refald agar bisa menatap wajah tampan tunangannya. Meski Fey tampak bersikap normal, rasa shocknya masih terus menyelimutinya. “Ada seseorang meninggal di sana? Kenapa kita tidak melakukan apapun?”
“Honey,” ujar Refald lembut sambil menatap wajah cantik Fey. Satu tangannya menyentuh mesra pipi kekasihnya. “Tidak ada yang bisa melihat kita di sini. Jadi, percuma kalau kita melakukan sesuatu. Itu sama saja mencari jarum dalam tumpukan jerami. Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah melihat dan mengamati apa yang terjadi setelah ini. Dan kau harus siap bersamaku. Hanya saja … aku khawatir pada Eric.” Refald menoleh ke arah sahabatnya yang masih menatap lurus jasad wanita cantik dengan tatapan mata kosong.
__ADS_1
Pemuda tampan itu yakin, Eric sudah tahu siapa wanita yang baru saja meninggal itu dan ada di mana mereka sekarang. Dari ekspresi Eric, sudah jelas terlihat apa maksud ucapan Refald, tapi tidak untuk Fey dan Nana. Dua wanita itu sama sekali tidak mengerti makna kata-kata dari pangeran dedemit yang kuat itu.
Fey menatap wajah tegang Eric yang masih betah memandang ke arah bawah. Sementara Nana berusaha keras keluar dari rasa shocknya.
“Refald tolong, jangan main teka-teki lagi denganku. Ini bukan ujian nasional yang harus kupecahkan dan mencari jawabannya sendiri. Katakan ada apa ini?” desak Fey. Kali ini ia sudah tak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
Untuk sesaat, Refaldpun terdiam dan tanpa menunggu persetujuan dari Eric selaku sasaran utama kejadian ini, sang pangeran dedemit mulai menjelaskan semuanya. Dimulai dari saat Refald tiba-tiba saja pergi meninggalkan Fey tanpa pamit setelah keduanya sempat berdebat karena sesuatu. Saat itu, Fey yang belum tahu bahwa Refald adalah tunangannya, mengira kalau pria yang ia cinta pergi meninggalkannya untuk selamanya. Namun kenyataannya tidak demikian, Refald memberitahukan alasan kenapa waktu itu dia memutuskan pergi bersama Eric sampai akhirnya terjebak disebuah desa angker yang membawa mereka sampai kemari.
Mulut Fey menganga lebar dan bahkan sampai mengatupkan kedua tangannya saking terkejutnya mendengar penjelasan panjang lebar Refald. Terlalu banyak hal yang terjadi sampai Fey tidak tahu harus bilang apa. Rasa shock saja sepertinya tidak cukup untuk menanggapi apa yang terjadi sekarang.
Pantas saja Eric jadi seperti itu, rupanya, rumah ini adalah rumah kakek buyut Eric dan wanita yang baru saja meninggal mengenaskan itu adalah bunga desa di desa ini. Tidak salah lagi, wanita itulah yang menjadi kuntilanak merah. Kematiannya yang tidak wajar ini membawa dendam membara sehingga ia meneror semua warga di desa yang sempat Refald dan Eric kunjungi.
Keempat orang ini tidak bersuara karena terlalu shock menerima fakta yang ada. Beberapa menit setelah kematian sang wanita, muncullah sosok pria yang diketahui adalah pemilik rumah ini alias kakek buyut Eric.
Tubuh Eric langsung menegang ketika ia melihat seperti apa sosok kakek buyutnya yang dulu sempat ia kagumi dan banggakan karena kegagahannya di lukisan keluarga besar Eric, tapi ternyata, pria gagah itu memiliki perangai kejam melebihi binatang. Tak bisa dibayangkan betapa kecewanya Eric saat ini. Fey bahkan sempat melihat kedua tangan Eric mengepal kuat seolah menahan suatu amarah tak tertahankan.
__ADS_1
“Kubur dia! Kalau perlu cincang saja tubuhnya dan lemparkan saja ke sungai supaya menjadi santapan buaya!” seru kakek Eric pada anak buah kepercayaannya.
“Tapi Tuan, wanita ini sedang hamil muda, dia hamil anak Tuan,” ujar salah satu anak buahnya.
“Siapa yang peduli? Lakukan saja apa yang kuperintahkan jika kau tak mau jadi seperti wanita ini! Pastikan tidak ada yang tahu soal kejadian ini. Dan kau!” Kakek buyut Eric menunjuk anak buahnya yang lain. “Bersihkan tempat ini kembali seperti semula. Jangan sampai ada yang terlewat!” tandasnya.
“Baik Tuan!” seru anak buah tersebut sigap tanpa berkomentar apapun.
Kakek buyut Eric langsung keluar rumah tanpa bicara apa-apa lagi. Eric bergegas ingin menyusul kepergian kakeknya untuk mencari tahu ke mana pria arogan itu pergi setelah melakukan perbuatan keji. Namun, lengan Eric dicekal kuat oleh Refald agar Eric tak meninggalkan tempat ini.
“Lepaskan aku Brays!” ujar Eric menahan geram. Baru kali ini Fey melihat Eric semarah itu meski bukan Refald penyebab kemarahannya.
“Kau tidak bisa pergi dari sini. Kalau kau keluar dari rumah ini, kau … akan mati.” Mata Refald menatap tajam mata sahabatnya seolah merasakan apa yang sedang dirasakan teman satu-satunya ini.
Sungguh, Refald tak menyangka kalau Eric bakal tersedot ke dalam lubang hitam ini bersama dengan Nana. Padahal harusnya, pria bule itu bertapa untuk menebus dosa yang dilakukan kakek buyutnya ini. Namun, Refald langsung tahu bahwa penyebab Eric bisa ada di sini adalah Nana. Sekarang Refald mengerti kenapa kuntilanak merah memberikan kutukan menyakitkan pada Eric kala itu. Sebab, wanita pertama yang akan menjadi istri Eric kelak, adalah Nana.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***