Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 28 Tantangan


__ADS_3

PERINGATAN: Kisah ini hanyalah kisah fiktif yang tidak ada hubungannya dengan dunia nyata. Tidak ada maksud menyinggung atau menyebar SARA. Jika ada kesamaan nama, tokoh, ras/suku, adat istiadat atau kepercayaan, maka itu hanya kebetulan semata. Kisah ini murni muncul dari hasil imajinasi. Harap bijak dalam membaca dan anggap hanya hiburan semata. Ambil hikmah dari sisi positifnya dan abaikan sisi negatifnya. Terimakasih atas pengertian dan dukungannya all …


****


Setiap kali Refald memarahi pak Po, semua pasukan Refald hanya menundukkan kepala. Bukan karena takut, melainkan karena menyembunyikan tawa mereka agar jangan sampai ketahuan. Sudah bukan rahasia lagi bila pak Po memang selalu membuat darah tinggi Refald atas kepolosan dan keoonan otaknya pak Po yang entah bagaimana cara menyembuhkannya.


Namun, mereka semua juga mengakui bahwa pak Po lah yang paling kuat diantara lainnya dan paling menjadi yang terdepan bila Refald sedang dalam bahaya. Refald dan pak Po memang bagai minyak dengan air, tapi mereka berdua punya satu ikatan yang tak mungkin bisa dilepaskan, terlebih lagi … pak Po akan menjadi besan Refald sendiri di masa depan bila keduanya sudah bersanding dengan pasangan mereka masing-masing.


“Kalian semua pergilah!” seru Refald pada semua pasukannya. “Sebentar lagi, matahari akan terbit. Akan kupanggil kalian semua bila aku butuh sesuatu.”


“Baik Pangeran!” seru mas Gen dan semua rekan-rekannya. Mereka semua langsung menghilang pergi meninggalkan Refald dan Eric kecuali pak Po.


“Kenapa kau masih di sini pak Po?” Refald terkejut karena pocong tampan kesayangannya masih saja menangis sesenggukan.


“Hidup kunti merah itu sungguh tragis Pengeran, saya tak kuasa …,” isak pak Po tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Lebay banget pokoknya pak Po sekarang.


Refald menghela napas panjang. Menghadapi pak Po yang bloonnya nggak ketulungan ini mesti ekstra sabar. Jangan sampai Refald kehilangan kekuatannya hanya karena sifat alami salah satu pasukan dedemitnya yang selalu saja membuat Refald emosi.


“Pak Po … kalau kau merasa kasihan pada kunrahmu itu, bagaimana kalau kau temani dia di dalam sana! Aku bisa membukakan lubang hitam itu lagi untukmu!” tandas Refald dengan tawaran mematikan. Seketika itu juga, pak Po langsung berhenti menangis.

__ADS_1


“Tidak, Pangeran! Jika saya di dalam artinya saya tidak akan bisa keluar!” Pak Po menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kalau begitu, untuk apa kau terus ada disini, ha! Pergi!” sengal Refald mulai geram lagi.


“Tapi Pangeran, masih ada hantu satu lagi yang berkeliaran di desa. Mana bisa saya meninggalkan Anda sendirian.” Pak Po memang bloon dan oneng, tapi kalau soal kesetiaan, tak ada yang bisa menandinginya.


“Kuyang itu urusanku, kau bisa terkena sanksi alam jika kau terus berada di sini bersamaku. Pergilah, jangan khawatir. Saat siang, kuyang itu tidak berbahaya dan hanyalah manusia biasa. Akan kubereskan dia sebelum aku pergi dari desa ini dan menemui Fey secepatnya. Kembalilah ke mbak Kun dan bantu dia kawal calon istriku. Jangan biarkan di terluka sedikitpun”


Tanpa berani bicara lagi, Pak Po pun langsung menghilang pergi menyusul teman-temannya. Lebih baik dia cari aman daripada kena tendangan saltonya Refald. Setelah semua pasukan dedemit Refald pergi, Refald segera membangunkan Eric yang kelelahan akibat semalaman bertapa untuk memulai awal ritual penebus kesalahan.


Pemuda tampan itu memberikan vitamin khusus penjaga stamina yang ia beli di apotek sewaktu mereka ke kota untuk berjaga-jaga bila Eric membutuhkannya. Dan terbukti, sepertinya saat ini Eric benar-benar membutuhkan vitamin tersebut.


“Brays, buka matamu.” Refald memegang pelan bahu Eric.


Secercah mentari mulai menyinari kawasan hutan dan memunculkan sinar-sinar bias cahayanya yang terdiri dari molekul molekul ion. Betapa rapinya ion-ion itu dalam pancaran sinar matahari dicerahnya pagi. Keindahan alam ini menandakan bahwa desa ini juga memiliki secercah harapan indah di masa depan seiring dengan hilangnya terror dari semua hantu yang selama ini menjadi bayang-bayang kehidupan seluruh penduduk desa.


Burung-burung pagi saling bersahutan memamerkan kicauan syukur dan bahagianya menyambut indahnya pagi yang cerah. Pagi ini, sangat berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Bila sebelumnya desa ini tampak suram, maka lain halnya dengan sekarang. Sebuah kehidupan baru, akan dimulai di desa ini. Tak ada lagi dendam, tak ada lagi ketakutan, yang ada hanyalah kedamaian.


Tak berselang lama, para penduduk desa akhirnya menemukan lokasi keberadaan Refald dan Eric setelah semalaman mereka semua khawatir dan mencemaskan keselamatan ketiga orang yang ternyata kini tampak baik baik saja. Beberapa warga langsung membopong Nina untuk dibawa ke desa dan dirawat di sana begitupula dengan Eric. Mereka semua meninggalkan hutan rimba.

__ADS_1


Sebelum pergi, Refald menoleh kebelakang dan tersenyum pada semua jiwa-jiwa yang melambaikan tangan padanya. Hanya sosok kunti saja yang tidak ada di antar jiwa-jiwa itu karena ia masih harus melalui proses panjang di lubang hitam sampai Eric menyelesaikan ritualnya sampai 40 hari ke depan.


“Terima kasih atas semua bantuanmu, Den Refald. Entah apa yang akan terjadi pada kami semua jika Anda tidak ada-ada,” ujar pak Diki sambil berkaca-kaca karena keponakannya selamat dari kematian dan kembali dalam kondisi sehat meskipun Nina masih belum sadarkan diri hingga sekarang akibat shock berat yang dialaminya..


Seluruh warganya tidak ada yang terluka sedikitpun. Hawa di desanya juga tampak sangat berbeda dari hari sebelumnya. Tidak lagi angker dan menakutkan seperti yang banyak orang bicarakan.


“Masih ada hal lain lagi yang harus kita lakukan Pak. Kuyang itu masih ada di desa ini. Tapi sekarang, kekuatannya melemah akibat terkena benda-benda yang saya pasang. Tapi Bapak jangan khawatir, saya tahu dimana kuyang itu berada sekarang. Kalau siang begini, ia hanyalah manusia biasa. Saya yakin, tubuh manusianya yang lemah tak bisa lagi menopangnya. Mari kita ke sana dan lihat apa yang terjadi dengan kuyang itu begitu karena ia sudah tak berdaya.” Wajah Refald terlihat sangat serius.


“Baik, Den. Saya ajak beberapa warga juga.” Pak Diki langsung menyetujui usulan Refald.


Dan tanpa diminta, pak Diki membawa tikar anyaman yang ia buat sendiri. Tikar anyaman ini jauh lebih kuat ketimbang tikar buatan pabrik. Selain berbahan dasar dari tumbuhan yang bersifat alamiah, tikar anyaman bisa membuat makhluk tak kasat mata akan merasa panas bila tergulung dalam tikar anyaman tersebut.


Tak ingin membuang banyak waktu, Refald dan yang lainnya langsung menuju kediaman yang ia tahu sebagai seorang kuyang. Semua penduduk desa saling pandang karena rumah yang ditunjukkan Refald adalah rumah seorang ibu paruh baya yang sudah 5 tahun ini menjanda.


Kagetlah mereka semua karena tidak pernah menyangka, bahwa ibu-ibu janda yang terkenal baik dan ramah kepada setiap orang, ternyata adalah kuyang. Ada sedikit pro dan kontra sewaktu Refald memberitahu bahwa ibu-ibu itu memanglah kuyang yang mengancam keselamatan ibu-ibu hamil dan calon bayinya di desa ini.


“Hei, Nak! Yang benar saja! Jangan ngasal kau, Nak! Ini bisa jadi fitnah!” teriak salah satu warga yang tidak terima kalau janda satu-satunya di desa ini adalah kuyang sebenarnya.


“Iya! Mana mungkin, mbak Dharmi adalah kuyang! Pasti ada yang salah di sini!” sahut yang lainnya dan mulailah ramai dan heboh dimana-mana.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2