
PART SPESIAL
KETIKA PAK PO JATUH CINTA
NB : kisah ini flashback kembali ke novel PUTRA RAJA episode 205 berjudul ‘PENGAKUAN PAK PO’ yang belum baca putra raja, bisa melimpir dulu ke sana supaya ketika baca part ini tidak bingung.
Alasan kenapa aku flashback lagi, karena ada yang ingetin kalau mala mini adalah malam satu suro. Meski aku nggak tahu ini bisa lulus review cepat atau lambat, yang jelas kalian tahu, kalau aku nulis part ini tepat di malam satu suro.
Kenapa aku bikin part nya pas di malam tersebut, karena pas satu suro adalah hari pernikahan Pak Po dan Divani. Dan untuk merayakan karakter Pak Po yang begitu kuat dan melekat di hati pembaca PUTRA RAJA, maka aku sengaja bikin part special di novel ini.
Kenapa kok bukan di novel putra raja saja par spesialnya? Karena hanya novel ini yang masuk rekomendasi beranda ‘temukan’ di noveltoon, dan masuk di rak buku. Makanya, dengan bikin part special di novel ini, berharap ada yang mau baca kisah fantasi romantis, komediku. Yang mungkin berbeda dengan fantasi-fantasi lainnya.
Semoga kalian terhibur dengan kisah special Pak Po dan Divani. Bila ada kesamaan tempat, nama, tokoh dan alur cerita, berarti hanya kebetulan semata karena semua tulisanku ini, murni dari hasil imajinasiku yang kalau kadung kumat konsletnya suka nggak diluar nurul. Yang sudah tahu seperti apa karakter tulisanku … harap maklum dan memahamiku. Terimakasih untuk semuanya … love you sekebon biji pete.
***
Bermula dari sikap Pak Po yang tampak sangat berbeda dari biasanya, istri Refald menjadi ikut tidak tenang dan mencemaskan pocong oneng itu. Sebelumnya, Refald sudah memberitahu kalau Pak Po sedang jatuh cinta. Awalnya Fey tidak percaya, masa iya setan bisa jatuh cinta, pada manusia pula. Sungguh itu tidak masuk akal dan jelas diluar nurul manusia.
Namun, setelah melihat dengan mata kepala sendiri, gelagat pocong tampan itu, Fey jadi ngelus dada juga. Gimana nggak ngelus dada, biasanya Pak Po suka buat onar di mana-mana dan bikin pusing kepala, tapi sekarang, sang pocong tampan malah lebih suka melamun di pojokan, di bawah pohon pisang, di atas pohon beringin dan bahkan tiduran di got rumah orang. Biar apa coba kayak gitu?
Memang sih, setan bisa berbuat apa saja seenak mereka karena dunia para makhluk astral tak kasat mata sangat berbeda dengan dunia manusia. Apapun yang dilakukan Pak Po takkan bisa dilihat siapapun kecuali kalau orang itu diberkahi keistimewaan bisa melihat makhluk ghaib seperti halnya Refald dan Fey sekarang. Namun tetap saja, sikap Pak Po malah bikin resah. Tak hanya Fey, tapi juga seluruh rekan-rekannya.
“Kasihan sekali Pak Po,” ujar Fey saat ia melihat Pak Po bertengger di atas puncak pohon kelapa sambil menatap bintang-bintang di langit yang gelap segelap hati Pak Po. “Baru kali ini lihat pocong jatuh cinta modelnya seperti itu. Untung dia sudah mati. Seandainya masih hidup, dia pasti sudah bunuh diri.”
“Pak Po sudah bunuh diri ratusan kali dalam sehari ini Putri,” lapor Mbak Kun yang berdiri di sisinya sehingga Fey langsung menoleh kearah salah satu anak buah Refald ini.
“Oh iya? Kok aku tidak tahu?”
“Kami semua dibikin geleng-geleng kepala olehnya, Putri. Masa dia minta kami menendangnya masuk ke dalam larva gunung yang sedang aktif? Nggak hanya satu gung loh, tapi puluhan gunung yang ada di muka bumi ini.”
“Terus?” wajah Fey shock.
“Iya dia nggak matilah Putri. Terus, dia minta Mas Gen buat nembak dia, ngebom pakai bom atom, serta pakai rudal juga, Pak Po masih utuh juga. Nggak hancur seperti yang diharapkan. Berkali-kali Pak Po menancapkan diri di pisau, pedang, tombak, kapak dan bahkan anak panah, tetap dia masih belum lenyap juga. Kami sudah melakukan semua hal yang dia minta, tapi karena dasarnya Pak Po sudah mati ya tetap aja nggak bisa lenyap dari muka bumi ini Putri. Yang terakhir tadi, dia menabrakkan jiwanya ke pesawat, kereta, bus, metro mini, truck trailer, tetap nggak lenyap juga.”
“Astaga dragon Mbak Kun, apa yang ada dipikiran kalian. Pak Po itu sudah mati, mau kalian cemplungin dia ke lumpur lapindo juga dia nggak bakal mati Mbak Kun. Mana ada setan mati itu pengen mati lagi.” Fey agak keki juga mendengar laporan bunuh diri Pak Po yang dibantu oleh rekan-rekan hantunya.
Kebayang gimana aksi mereka saat membantu Pak Po bunuh diri dan selalu saja gagal. Fey sungguh hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tepok jidat.
“Nah, ide bagus Putri, tinggal lumpur lapindo yang belum di datangi Pak Po. Saya permisi Putri, mau ngajak Pak Po bunuh diri di sana.” Mbak Kun langsung menghilang sebelum Fey buka suara lagi.
Hantu Kuntilanak cantik itu terbang melesat cepat ke tempat Pak Po berada. Fey hendak berteriak memanggil-manggil nama mbak Kun, tapi langsung dicegah oleh Refald.
“Hentikan Honey, biarkan saja,” cegah Refald. Entah sejak kapan suami Fey itu berdiri di dekat Fey dan memeluk sang istri dari belakang.
“Apa para pasukan demitmu itu sudah tidak waras Refald? Bisa-bisanya mereka membantu anak buah onengmu itu bunuh diri? Mereka semua kan sudah mati?”
“Honey, mereka melakukan semua itu … bukan karena mereka tidak waras, mereka menuruti apapun keinginan Pak Po untuk menghiburnya. Kau tahu kan, apa yang terjadi padanya sekarang ini.”
“Tapi nggak harus bunuh diri juga kan? Masih ada cara lain untuk mengatasi masalah Pak Po. Ya Gusti, ada setan model begitu ya? Dan hanya kutemukan pada pasukanmu saja. Kau tahu? Mereka mau ke lumpur lapindo dan nyemplungin Pak Po di sana? Buat apa coba?”
Refald ingin tertawa, tapi hal semacam itu sudah biasa ia lihat. Kelakuan bengek pasukannya bukan kali pertama ini dilakukan. Namun berbeda dengan Fey yang merupakan orang baru dalam hidup Refald dan segala dunia mistisnya. Wajar kalau istrinya ini shock.
“Ada hal yang jauh lebih penting dan harus kita urus Honey. Kau dan aku sedang menikmati jadi suami istri. Kenapa yang kau cemaskan Pak Po.”
__ADS_1
“Tapi mereka akan pergi ke lapindo,” ujar Fey masih heran dan bingung antara mencegah dan menuruti Refald.
“Dalam semenit mereka akan kembali karena mereka tahu Pak Po tidak bisa mati lagi. Ayo pergi,” ajak Refald.
“Ke mana?” tanya Fey.
“Bulan madulah … kau akan suka tempat itu, tempatnya indah.”
“Tapi lapindonya …”
“Biar diurus para dedemitku saja.” Refald langsung membopong tubuh Fey dan dalam sekejap mereka sampai di Lofoten Island, Norwegia. Sebuah kepulauan dan distrik tradisional Nordland.
Alasan Refald memilih tempat itu, pemandangan di sana khas dengan pegunungan dan puncak dramatis, laut lepas serta teluk yang terlindung. Pantai dan daratan di sana juga belum tersentuh. Makanya cocok bagi pasangan yang sedang ingin menghabiskan waktu bersama seperti Refald dan Fey.
Namun, Refald juga memiliki tujuan lain datang ke Norwegia. Negara itu adalah negara asal wanita yang di sukai Pak Po. Wanita yang membuat Pak Po seakan lupa kalau dia bukan manusia, wanita yang berhasil membuat Pak Po merasakan indahnya jatuh cinta sehingga bikin puyeng kepala. Wanita cantik itu adalah Divani.
Divani, biasa dipanggil ‘Di’. Di memang memiliki paras cantik, tapi sayang, dia tidak bisa melihat alias tunanetra. Kendati demikian, hal itu tidak membuat Di kesulitan dengan kecacatan fisik yang dimilikinya. Dia tetap bisa melakukan aktivitas seperti layaknya wanita normal lainnya dan bahkan lebih peka dari apapun.
Sebagai wanita buta yang hidup sendiri di dunia fana, Divani tahu siapa orang yang baik dan orang yang jahat. Ia bahkan sering mengalami hal buruk dan hampir dilecehkan. Untungnya, masih banyak orang baik yang membantu Divani. Sehingga ia dijauhkan dari hal yang membahayakan dirinya.
Pepatah pernah bilang, kalau orang baik, pasti bakal dikelilingi orang-orang baik pula dan dijauhkan dari hal buruk pula. Itulah yang dialami seorang Divani. Gadis cantik pujaan Pak Po memiliki profesi sebagai penjual bunga. Setiap pagi sampai siang, ia akan berdiri di depan rumahnya dan membuka took bunganya. Ia memiliki banyak pelanggan sehingga Divani hafal apa saja yang dibutuhkan oleh pelanggan-pelanggan baiknya.
Hari ini, seperti biasa, Pak Po yang baru saja gagal bunuh diri di lumpur lapindo. Memutuskan untuk datang menemui sang pujaan hati. Karena Pak Po ini makhluk astral, wujudnya tidak terlihat, tapi bisa dirasakan oleh Divani.
Mungkin inilah keistimewaan gadis penjual bunga, ia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata normal manusia. Apa yang dilakukan Pak Po, tak sengaja dilihat Fey. Ia yang menunggu Refald, langsung menghampiri Pak Po.
“Kau sedang apa?” tanya Fey mengagetkan Pak Po.
“Anu Putri … saya ….”
“Aku kasih kau kesempatan untuk merebut hati Divani. Kau bisa jadi manusia dalam sehari ini. Tapi hanya hari ini. Jangan bilang Refald karena semalam aku mencuri kekuatannya diam-diam. Kau harus dapatkan pujaan hatimu.” Tak disangka, Fey memberikan semangat dan dukungan penuh untuk anak buah kesayangan suaminya.
“Benarkah Putri?” tanya Pak Po, wajah yang tadinya bermuram durja mendadak berubah jadi semringah.
Fey memegang telapak tangan pak Po dan seketika, wujud Pak Po yang tadinya tidak terlihat, kini bisa tampak jelas dan nyata bahkan bisa disentuh pula. Namun karena malu, pak Po menutup wajahnya dengan masker pemberian Fey serta kacamata hitam dan juga topi.
“Nah, kau sudah jadi manusia. Refald sedang menukar uang di Bank. Mungkin dia tahu, tapi aku sudah terlanjur mengubahmu jadi manusia hanya sehari ini saja. Kau bisa mengajak Divani berkencan sekarang. Tanpa membuatnya malu dilihat orang. good luck Pak Po. Bye! Ah Pak Po, ingat … kau harus pakai nama samaran agar yang lainnya tidak tahu kalau kau itu Ezi oke.” usai membuat hati Pak Po senang, Fey pun melangkah pergi ke tempat semua ia menunggu suaminya.
Pak Po mengangguk setuju dengan syarat yang diberikan Fey. Sejujurnya, dia masih shock dan tidak bisa berkata-kata. Kini Pak Po benar-benar bisa melihat wujudnya di cermin dan wajahnya lumayan tampan meskipun ia hanya pakai masker dan topi serta kacamata hitam untuk menutupi ketampanannya agar tidak menjadi pusat perhatian banyak orang.
Karena sudah tidak sabar, Pak Po pun menuju toko Divani dan berdiri bengong didepannya.
“Kau datang lagi? Sudah kukatakan, jangan temui aku. Kita ada di dunia yang berbeda. Kau dan aku tidak mungkin bersama,” ujar Divani saat merasakan hawa keberadaan Pak Po. Ia mengira kalau wujud Pak Po tidak bisa dilihat orang lain sehingga Divani sempat disangka gila saat ngobrol dengan Pak Po.
Ketika Divani tahu siapakah Pak Po sebenarnya, Divani memutuskan hubungan dengan hantu tampan itu. makanya Pak Po sedih, sebab dia galau habis diputus Divani dan mencoba bunuh diri. Karena gagal, akhirnya Pak Po datang ke sini lagi.
“Di … aku nggak mau kita putus,” ujar Pak Po. “Aku cinta kamu, Di. Sungguh.”
“Aku tidak mau bicara denganmu, aku tidak mau dianggap gila. Mereka sudah mengira aku tidak waras karena setiap hari bicara dengan hantu. Mereka tidak percaya pada keberadaanmu. Tolong mengertilah, aku …”
“Diiii!” seru seseorang dari depan took memanggil-manggil Divani.
Sontak Divani gugup karena ia takut disangka gila lagi saat bicara dengan pak Po.
__ADS_1
“Kau bicara dengan siapa?” tanya wanita itu pada Divani sambil menggoda.
“Tidak dengan siapa-siapa, aku bicara sendiri pada diriku,” jawab Divani gugup.
“Sungguh? Kau bohong!”
“Tidak aku tidak bohong … aku tidak gila, aku normal meski secara fisik aku bukan wanita normal,” sela Divani cepat.
“Kau pikir aku buta? Kalau kau bicara sendiri? Siapa pria berkacamata dan memakai masker yang berdiri di sampingmu, ha? Hantu? Jelas-jelas aku melihat kalian ngobrol bersama. Apa dia pacarmu haaaa,” goda ibu itu dan pernyataannya barusan langsung membuat shock Divani.
“A-apa … Ibu tadi bilang apa? Pria? Berkacamata? Pakai masker?” tanya Divani masih sangat terkejut.
Pak Po langsung memegang tangan Divani dan itu langsung membuat tubuh sang gadis cantik gemetar. “Di … ayo kita kencan, sudah waktunya semua orang tahu, kalau kau sudah punya aku,” ujar Pak Po dan sukses membuat Ibu-ibu tadi baper akut.
“Ouwwww … so sweetnya. Siapa namamu Nak?” tanya Ibu-ibu itu.
Pak Po ingat pesan terakhir Fey sebelum pergi. Ia tak boleh menyebutkan nama asli Pak Po. “Demitri Saklitunov,” jawab Pak Po.
“Wah, kamu lahir di Rusia?” tanya ibu-ibu lagi.
“Tidak Bu, saya lahir di Bantul.”
Karena bingung, ibu-ibu itu manggut-manggut saja. “Pasti Papa kamu seorang Dubes, kan?” tanyanya setelah melihat penampilan Pak Po yang kece badai.
“Bukan Bu, kurir andong,” jawab Pak Po jujur dan semakin bingunglah ibu-ibu ini. Secara ini bukan pulau jawa, tapi pulau Lofoten, andong tidak ada di sini. Dan ini sudah bukan zaman primitif, tapi zaman modern.
“Lalu nama papa kamu siapa?”
“Triyono,” jawan Pak Po sopan dan bangga.
“Mamamu?”
“Sademi.”
Alis ibu-ibu ini semakin mengkerut mendengar jawaban Pak Po yang mulai bikin bengek. Bahkan Divani saja sampai melongo.
“Nama papamu, Triyono, mamamu, Sademi, tapi kenapa namamu mirip kayak orang Eropa?” tanya ibu-ibu ini kepo dengan silsilah nama dan keluarga Pak Po.
“Itu singkatan Bu, saDEMI dan TRIyono, jadinya DEMITRI,” terang Pak Po.
“Ooohhh … terus nama Saklitunova, singkatan dari apa?”
“Saya lahir SAbtu KLIwon, TUjuh NOVember, makanya jadi SAKLITUNOV.”
“Namamu, unik loh, bagus lagi. Kalau namamu Demitri Saklitunov, nama panggilanmu apa?”
“Demit Bu,” jawab Pak Po polos dan ibu-ibu tadi langsung lari tunggang langgang.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan nama samaran yang digunakan Pak Po. Dia memang demit pasukan Refald. Dan sedang memperjuangkan cinta agar Divani mau menerimanya.
Suatu kehormatan besar dalam hidup Pak Po Fey mau mengubah dirinya menjadi manusia walau hanya sehari saja. Sungguh ini anugrah terbesar dalam hidup Pak Po karena dari sinilah, Divani mulai memantapkan hati untuk bersedia menerima Pak Po apa adanya tak peduli meski mereka berasal dari dunia yang berbeda.
***
__ADS_1