Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 41 Kasih tak Sampai


__ADS_3

Ketika pasangan Refald-Fey sedang dihadapkan dengan suatu hal yang membuat mereka penasaran, maka lain halnya dengan Eric dan Nana yang masih berusaha keras mencari jalan keluar dari sebuah ruangan gelap dimana ruangan tersebut telah mengurung mereka berdua. Keduanya langsung terdiam ketika mendengar suara berisik di luar ruangan. Meski samar-samar, Eric dan Nana yakin kalau sedang ada orang di luar sana, entah siapapun itu.


Tanpa pikir panjang, untuk menarik perhatian, Nana dan Eric sama-sama menggedor pintu sekuat tenaga. Mereka berharap orang-orang diluar mendengar gedoran mereka dan mau membantu mengeluarkan keduanya dari tempat gelap ini.


“Sek tah Mas, bagaimana kalau orang diluar sana bukan orang yang baik? Sama aja bohong dong?” tanya Nana menghentikan aksinya gedor-gedor.


“Kita tidak akan pernah tahu kalau tidak mencobanya kecuali kau mau terkurung selamanya di sini bersamaku,” ujar Eric.


“Ogah!” cetus Nana cepat dan ia mulai menggedor-gedor pintu lagi.


Eric hanya geleng-geleng kepala, ia setuju dengan pemikiran Nana tentang suara siapa yang ia dengar. Bisa jadi orang-orang di balik pintu ini bukanlah orang baik. Tapi, bagi Eric, ia perlu keluar dari ruang gelap ini untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Masalah apakah orang di luar sana merupakan orang baik atau bukan, itu urusan belakang. Yang penting bisa keluar, itulah yang ada dipikiran Eric saat ini.


Usaha gedor pintu yang dilakukan Eric dan Nana ternyata membuahkan hasil. Dua orang yang dimaksud Eric, tadinya berdebat karena suatu hal. Namun mereka berdua langsung terdiam begitu mendengar suara bising dari sebuah pintu di lantai 2 rumah dimana ada Eric didalamnya.


Hening, suasana mendadak kembali sepi seperti sebelumnya, tapi hal itu semakin memicu Eric dan Nana untuk gempar menggedorkan tangan di daun pintu sambil berteriak kencang minta tolong.


“Tolong buka pintunya? Siapapun di luar sana! Bukakan pintu ini!” teriak Eric. Tangannya terus memukul-mukul pintu. Nana juga melakukan hal sama seperti yang dilakukan Eric.


Tak berselang lama, Eric melihat gagang pintu bergerak dan ia menghimbau Nana untuk menjauh dari pintu didepannya dan mulai berjaga-jaga jika ada bahaya. Sebab, Eric tidak tahu siapa yang membukakan pintu tersebut untuk mereka. Apakah ia orang baik atau orang jahat, baik Eric ataupun Nana masih belum tahu. Keduanya cuma bisa berharap mereka berdua bertemu dengan orang baik saja.


Begitu pintu terbuka, Eric dan Nana langsung terkejut tak percaya begitupula dengan orang yang membukakan pintu untuk mereka. Sebab ternyata … orang yang membuka pintu tersebut tak lain dan tak bukan adalah Refald.


“Brays!” seru Eric senang. “Ini sungguh kau?” tanyanya lagi, berharap Eric tidak bermimpi. Ia bahkan hampir memeluk Refald saking tidak percayanya.

__ADS_1


Sayangnya, niat Eric dihalau oleh Refald karena ia hanya ingin memeluk Fey, bukannya Eric.


“Apaan sih kau Brays! Aku masih normal tahu!” ujar Refald bergidik ngeri sekaligus lega karena orang asing yang dirasakan Refald ternyata adalah sahabatnya sendiri.


“Mister! Kowe nang kene pisan toh, wuah senenge atiku!” (Mister, anda ada di sini juga? Wuah senangnya hatiku) seru Nana girang dan tanpa sadar mengucapkan kembali logat jawanya.


Nana merasa Refald adalah pahlawannya dan hendak berlari memeluk Refald untuk mengucapkan terima kasih, tapi niatnya ia urungkan setelah melihat ada seorang wanita cantik berdiri di balik punggung Refald sambil digandeng erat oleh pria tampan itu. Seketika wajah sumringah Nana berubah jadi perasaan resah dan gelisah kalau-kalau wanita yang ia lihat ini adalah tunangan Refald yang sering Refald dan Eric bicarakan sebelumnya.


Tentu saja Fey yang mengerti arti dari ucapan Nana langsung mengernyitkan alisnya dan menatap sinis wajah tunangannya. Tak disangka, kepopuleran Refald tak hanya menyeruak di dunia nyata, di dunia lainpun Refald masih digandrungi wanita.


Bagaimana gadis itu mengenal Refald? Eh, dia orang bukan sih? Kok bisa sama Eric, ya? Batin Fey. Ia tak berani bertanya langsung pada Refald.


Refald sendiri menahan senyum karena untuk pertama kalinya, Fey merasa terusik dengan kehadiran wanita lain diantara mereka. Sebelumnya, Fey sangat acuh padanya, bahkan kekasihnya ini berani membayar siapapun yang bisa menjauhkan Refald sewaktu mereka di sekolah meski sekarang pangeran dedemit itu tahu kalau wanita pujaannya ini sudah mulai jatuh cinta padanya.


“Gadis itu bernama Nana Honey,” bisik Refald mesra seolah ia tahu apa yang sedang dipikirkan Fey sekarang.


Kok si kamvret ini bisa tahu sih? Apa dia punya indra ke-6, ya? Batin Fey lagi dan senyum Refald semakin lebar. Inilah salah satu kelebihan yang dimiliki Refald. Ia bisa mendengar pikiran orang.


“Aku bisa tahu apa yang kau pikirkan Honey. Karena kau milikku.” Lagi-lagi Refald menjawab apa yang diucapkan Fey dalam hati dengan dibumbui rayuan asa. “Nana adalah putri kepala desa tempat Eric sekarang tinggal. Bersikaplah baik padanya karena kalian berdua sama-sama punya jiwa patriotik tinggi.” Refald menundukkan wajahnya tepat di depan wajah Fey sambil menikmati kebingungan kekasihnya.


“Menjauh dariku. Kau membuatku takut. Apa kau tidak merasa, kalau sedang terjadi kebakaran hebat yang menyerang penggemarmu saat kau mendekatiku,” sindir Fey dan ia menggeser tubuhnya ke kanan untuk melihat Eric lebih dekat.


Namun tangan Fey enggan dilepaskan Refald sejak tadi. Benar-benar sok romantis.

__ADS_1


“Jika yang kau maksud adalah putri kepala desa itu, cemburumu terlalu berlebihan Honey,” bisik Refald pelan dari belakang telinga Fey sehingga membuat Eric ingin muntah melihat temannya mulai mengeluarkan jurus rayuan mautnya.


Tak ingin tergoda oleh Refald, Fey lebih fokus saja pada Eric dan acuh pada pria yang sok keren itu. Walau nyatanya, Refald memang keren sih. Nana saja langsung patah hati melihat betapa mesranya Refald pada tunangannya. Mengsedih, tapi Nana tak bisa berbuat apa-apa karena dari awal ia sudah tahu kalau cintanya bertepuk sebelah tangan.


Ditambah lagi, Fey sangatlah cantik dan kharismatik, ia juga memiliki aura yang jelas berbeda dengan gadis remaja lainnya. Sangat cocok bersanding dengan Refald. Siapalah Nana yang hanya gadis desa biasa, sama sekali tak sepadan dengan pria tampan seperti Refald. Itu namanya pungguk merindukan bulan alias kasih tak sampai.


“Hai Eric,” sapa Fey ramah, tapi matanya menatap Nana yang menundukkan kepalanya.


“Hai Fey. Aku sungguh tidak tahu kalau kalian berdua sedang bulan madu di sini. Kalau tahu, kami tidak akan gedor-gedor pintu.


Mata Fey langsung melotot, “Siapa yang bulan madu!” pekik Fey tak terima dituduh Eric yang bukan-bukan. Buru-buru ia langsung menjelaskan. “Kau jangan salah paham. Cecunguk itu yang memaksaku masuk kemari, makanya kami tadi sempat berdebat sedikit tentang sesuatu hal yang tidak penting. Bagaimana kau bisa punya sahabat model dia, ha?”


“Yah, itu takdir! Kau harus memakluminya kalau otaknya mulai kongslet,” ujar Eric seenaknya. Fey dan Eric malah saling berbincang-bincang ghibahin kejelekan Refald. Bukannya segera mencari jalan keluar dari dunia lain ini.


“Honey.” Refald menyela obrolan keduanya. “Aku melindungimu, bukan memaksamu. Bagian manakah perlindungan yang kulakukan padamu menjadi pemaksaan?” tanya Refald karena kekasih dan temannya bersekongkol hendak menyudutkannya.


Tak bisa menjawab pertanyaan Refald, Fey mengubah haluan topik pembicaraan. “Bagaimana kau bisa ada di sini, Eric?” tanya Fey langsung mengubah topik pembicaraan setelah melihat sekilas lirikan Refald yang tajam melebihi tajamnya pedang.


Belum juga Eric menjawab pertanyaan Fey, mendadak mereka semua dikejutkan dengan suara jeritan wanita yang minta tolong dan minta pengampunan. Tak hanya itu, beberapa detik kemudian, tepat di depan mata Fey dan juga yang lainnya, seorang wanita muda berambut panjang melayang jatuh dari lantai atas terjun bebas ke bawah dan mendarat di lantai dalam kondisi berlumuran darah dan kepala pecah.


Sontak semua mata langsung terbelalak melihat kejadian naas yang menimpa wanita muda itu.


“Aaaaaarrgghhh!” teriak Nana sekencang-kencangnya, sedangkan Fey langsung dipeluk erat oleh Refald karena kekasihnya sangat shock menyaksikan pemandangan mengerikan tak terduga tadi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2