
Kunti yang dihadapi Refald saat ini memang licik, ia adalah wujud setan dan iblis sebenarnya. Makhluk tak kasat mata ini tak pernah puas pada apa yang sudah mereka dapat dan terus meminta lebih. Untunglah Refald cepat menyadari hal itu dan bersiap untuk mengahalau segala kemungkinan terburuk.
Yang membuat Fey sangat terkejut adalah, Refald … pria tampan urakan yang ia kira cuma bisa buat onar dan biang masalah dihidupnya, kini begitu terlihat kuat dan berkharisma saat berhadapan dengan sosok menakutkan dihadapannya. Refald tampak sangat berani dan tak gentar dengan apapun. Bahkan sepertinya, kunti itu mulai takut pada Refald.
Mata Fey tak pernah lepas dari tubuh tunangannya yang berdiri tegak didepannya seolah siap melakukan sesuatu jika Kunti itu tak menuruti keinginan Refald. Hal itu membuat Fey jadi semakin penasaran akan siapakah sebenarnya Refald ini. Benarkah ia seorang pangeran seperti yang diucapkan si kunti?
Kau pasti bukan manusia biasa, kau sangat berbeda. Refald … siapa kau sebenarnya? Pangeran apa kau? Batin Fey dari balik punggung Refald.
Tentu saja Refald bisa mendengar suara hati Fey karena ia punya kemampuan mendengar dan membaca pikiran orang lain. Namun saat ini, Refald harus fokus pada kunti yang sudah sengaja melanggar aturan. Di dunia lain ini, Refald tahu kalau ia bakal mangalami sedikit masalah jika bertarung langsung dengan kunti, tapi disisi lain, gerbang lubang hitam sudah hampir terbuka karena seluruh pasukan Refald termasuk pak Po mulai berhasil membuka lubang hitam yang menutup. Hanya tinggal menunggu waktu, kapan lubang itu bakal terbuka dari luar.
“Huh, sepertinya aku tidak punya pilihan lain,” ujar kunti itu dengan senyuman liciknya. “Bagaimana kalau kumusnahkan saja kalian semua sehingga aku bisa bebas melakukan apa saja!” sentak Kunti dengan lantang lalu bersiap menyerang.
Orang pertama yang menjadi sasaran kunti adalah Fey. Kebetulan, gadis itu berdiri tidak jauh di belakang Refald. Kunti itu melayang tinggi untuk mengalihkan perhatian Refald dan langsung melesat cepat menuju tempat Fey berada. Mungkin kunti itu belum tahu akan kemapuan seorang pangeran dedemit.
Seolah bisa membaca pergerakan sang kunti, Refald meraih tubuh kekasihnya dan langsung menggeser tubuh mungil Fey tersebut ke arah lain sehingga serangan kunti meleset dan gagal total. Bertepatan dengan itu, sebuah lubang hitam di hadapan Fey dan Refald berpelukan mendadak terbuka lebar. Refald langsung memanggil pak Po masuk ke dalam lubang hitam ini sementara mas Gen dan Mas Ger berkonsentrasi penuh pada lubang hitam bagian luar.
“Hamba datang Pengeran!” ujar pocong tampan itu setelah mendengar panggilan pangeran dedemitnya.
Semakin tercenganglah Fey ketika melihat apa yang ada di depan matanya sampai mulut gadis mungil itu tak bisa dikatupkan lagi. Bagaimana tidak tercengang, ada sosok pocong masuk menghampirinya, tapi mukanya tidak seram sama sekali. Justru wajah dedemit yang dipanggil Refald dengan sebutan ‘pak Po’ itu sangat tampan ala oppa-oppa Korea. Fey jadi tambah bingung ketika pocong tampan itu menundukkan kepalanya pada Refald tanda memberi hormat.
“Saya turut bahagia karena akhirnya, kalian sudah menikah di dunia lain ini, Pengeran? Wah selamat ya, kalau tahu begitu, harusnya tadi saya tidak buru-buru membuka lubang hitam ini agar kalian bisa menikmati momen menjadi pengantin baru,” ujar pak Po mulai meledek sambil senyam senyum sendiri ketika melihat Refald memeluk erat Fey.
__ADS_1
Posisi pak Po tetap menundukkan kepala dan ekspresinya tampak bahagia melihat pasangan Refald dan Fey. Padahal dedemit itu salah paham pada keduanya.
“Menikah kepalamu pecah!” bentak Refald mulai kesal dengan ucapan pak Po yang terkesan meledeknya. “Kami sedang dalam bahaya sekarang, lihat dibelakangmu itu!” Refald sungguh tidak mengerti, bagaimana anak buahnya yang oon ini selalu salah duga dengan situasi yang sedang dialami Refald.
Pak Po pun menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok kunti sedang melaju secepat kilat kearahnya, Dengan sigap, pak Po melepas seragam kebesaran alias jubah pocongnya dan mengeluarkan kedua tangannya untuk menghalau serangan dadakan kunti tersebut. Sayangnya, tenaga kunti terlalu besar sehingga pak Po yang tidak benar-benar siap terhempas mundur ke belakang bersamaan dengan sosok kunti yang terus menyerangnya tanpa henti.
“Eric!” seru Refald pada sahabatnya yang shock dengan apa yang terjadi. Terlebih seolah pak Po bisa dipukul mundur oleh makhluk sejenisnya sendiri. “Cepat bawa pergi Nana dari sini!”
Eric tersadar dari shocknya dan langsung menggendong tubuh Nana sesuai dengan instruksi dari Refald. Setelah dua orang itu keluar dari lubang hitam, Refald berteriak memanggil pak Po tanpa memedulikan ekspresi Fey yang sejak tadi menatapnya lekat-lekat.
“Woy pak Po! Cepat! Kita juga harus keluar dari sini! Lubang hitamnya akan segera menutup dan butuh 100 tahun untuk membukanya kembali!” seru Refald sambil masuk menuju jalan keluar lubang hitam sama seperti yang dilakukan Eric barusan.
Entah apa yang ada dipikiran pak Po, di saat genting begini masih sempat membicarakan soal pernikahan pangerannya.
“Terserah apa katamulah!” akhirnya Refald pasrah saja daripada buang-buang tenaga meladeni kekongsletan pak Po yang mulai kumat.
Refald menggendong tubuh Fey keluar dari lubang hitam dan diikuti pak Po dari belakang. Kunti jahat itupun tak mau tinggal diam dan hendak ikutan keluar. Namun dideti-detik terakhir lubang hitam itu tertutup. Tiba-tiba saja kepala kunti melongok keluar diantara lubang yang hampir menutup.
“Mau apa kau kunti jelek! Jangan ikutan keluar dan tetap saja di dalam situ!”
Dengan gerakan cepat, pak Po sengaja menginjak-nginjak kepala sang kunti supaya kembali masuk ke dalam lubang sampai lubang hitam tersebut benar-benar menutup sempurna dan menghilang. Refald yang sedang menggendong Fey langsung ternganga melihat aksi pak Po begitu sadis, tapi sukses bikin ngakak juga. Refald ingin tertawa, namun ia tidak tega.
__ADS_1
Bisa-bisanya pocong tampan itu menginjak-injak kepala kunti sedemikian rupa dan membuat harga diri kunti langsung runtuh seketika dihadapan pak Po. Padahal sebelumnya, Kunti itu benar-benar menyebalkan.
“Dasar pocong nggak ada akhlak! Awas kau! Aku akan balas perbuatanmu ini 100 tahun lagi dari sekarang! Tunggu saja!” terdengar suara teriakan kunti menggema diseluruh hutan atas apa yang pak Po lakukan pada sosok makhluk tak kasat mata tersebut.
“Akan kutunggu! Aku sama sekali tak takut padamu wahai kunti jelek!” tantang pak Po sebelum sang kunti benar-benar menghilang dari dunia fana ini.
Sebenarnya, tubuh Refald terhempas jatuh menabrak batang pohon begitu ia dan Fey keluar dari lubang hitam. Meski begitu, Refald tetap memeluk erat tubuh kekasihnya yang tak sadarkan diri. Fey kehilangan kesadarannya saat melewati gesekan lubang penghantar dua dunia dan semua hal yang terjadi di dalam lubang hitam juga telah menghapus semua ingatannya.
Begitu Fey terbangun, ia takkan pernah ingat apa-apa lagi. Ia juga tidak akan tahu lagi siapa Refald serta kelebihan yang dimiliki kekasihnya, Fey takkan bisa mengingat apa yang terjadi di dalam lubang hitam kecuali Refald sendiri memberitahunya.
“Terimakasih atas bantuan kalian semua. Sekarang pergilah, biar aku yang mengurus sisanya. Ah, jangan lupa … pastikan Eric dan Nana juga aman di desa. Suruh dia melanjutkan semedinya. Kali ini, takkan ada yang bisa mengganggunya lagi.” Refald memberikan perintah pada pasukan dedemitnya.
“Jadi …” pak Po hendak bicara tapi ucapannya langsung dipotong Refald.
“Kami berdua belum menikah, pak Po! Berhenti membicarakan pernikahanku! Dasar tidak sabaran! Pergi dan bantu rekan-rekanmu yang lain atau kau bakal kutendang dari planet bumi menuju planet lain jika masih tetap di sini!” ancam Refald.
Nyali pak Po menciut dan langsung pamit undur diri daripada kena tendangan maut Refald.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1