
Marahnya Refald itu memang beda dengan yang lain, bila ada seorang kekasih marah pada pujaan hatinya, biasanya mereka akan diam atau meluapkan emosi mereka sampai ada yang meledak-ledak bagai bom atom mengebom kota Hiroshima dan Nagasaki, yang pada akhirnya dapat menimbulkan pertengkaran dalam berpacaran. Lain halnya dengan Refald yang malah bersikap sweet dan romantis pada Fey agar ia tak marah lagi. Bahkan lebih sweetnya lagi, Refald mengajak terbang Fey di atas awan tepat saat suasana memasuki twilight atau rembang petang.
Hati siapa yang tidak berbunga-bunga ketika pria yang dicintai menunjukkan betapa besar dan agungnya cinta yang dimiliki. Fey sampai tidak bisa berkata-kata dengan perlakuan Refald padanya yang romantis habis. Sungguh ia jadi bahagia dan terbuai asmara pesona pria tampan yang menatap mesra dirinya. Meski suasana bukan yang pertama kali, tetap saja jantung Fey berdetak kencang bila ada didekat Refald.
Tepat di atas awan dengan sejuta pesona keindahan alamnya, Refald mencium lembut bibir wanita pujaan hatinya sebagai tanda bahwa Refald sudah tidak marah lagi pada Fey. Matahari bahkan menenggelamkan diri karena malu melihat dua sejoli sedang memadu kasih didepannya. Ditambah lagi, keromantisan mereka semakin lengkap karena diselimuti awan yang menari-nari disekeliling Refald dan Fey.
"Kau sudah ... tidak marah lagi?" tanya Fey setelah Refald selesai menciumnya. Matanya berbinar-binar senang karena memiliki Refald sebagai pendamping hidupnya.
Refald menggeleng pelan, tapi matanya masih menatap mesra calon istrinya. "Bagaimana bisa aku marah lama padamu Honey. Sekalipun kau melakukan kesalahan besar dan menentangku, cintaku padamu tak pernah berkurang dan malah semakin bertambah terus setiap detiknya. Hidupku hanya untuk mencintaimu my Honey bunny sweety, takkan kubiarkan siapapun menyakitimu ataupun menyentuhmu tanpa izin dariku." Refald mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi wajah serius.
Tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata seperti apa perasaan Fey sekarang, terharu, senang, bahagia bahkan ia juga ingin sekali tertawa ketika Refald memanggilnya dengan kata manis melebihi manisnya madu. Alhasil, mata gadis cantik itu jadi berkaca-kaca saking gembiranya.
"Kau sangat lucu kalau memanggilku seperti itu. Kau tahu, aku juga sangat mencintaimu melebihi apapun. Aku benar-benar sangat sangat sangat mencintaimu Refald. Rasanya aku tidak akan bisa hidup tanpamu disisiku."
Refald tersenyum, sifat jahilnya mulai muncul setelah Fey menyatakan cinta padanya. "Oh iya? Buktikan padaku kalau kau memang sangat mencintaiku."
"Bukti?" tanya Fey. "Masa kau tidak percaya dengan cintaku yang kupersembahkan untukmu?"
"Percaya, tapi aku butuh bukti," ujar Refald sengaja menggoda Fey.
__ADS_1
Fey mulai manyun, ia merasa Refald seakan sedang mengetesnya. Baru saja diajak terbang melayang diatas ketinggian, eh langsung dijatuhkan begitu saja.
"Haish, kau ini menyebalkan Refald, okeh ... kau butuh bukti bahwa aku sangat mencintaimu, kan? Lihat ini baik-baik!" cetus Fey meladeni tantangan Refald.
Gadis itu menatap Refald dengan tatapan mata setajam silet. Ia melirik sebentar jurang menganga lebar yang ada di samping mereka berdua. Dan dengan cepat, Fey berlari menuju jurang itu dan menerjunkan diri ke bawah dengan posisi badan menghadap kekasihnya.
"Honey!" teriak Refald dan seketika ia melesat cepat untuk menangkap tubuh Fey yang sedang terjun bebas ke dasar jurang.
Seperti yang diprediksikan Fey, Refald pasti menyelamatkan dirinya dari ambang kematian. Masa indah ini kembali mengingatkan mereka saat Fey tak sengaja jatuh ke jurang dan Refald juga melakukan hal sama seperti yang dilakukannya sekarang.
Bedanya, dulu Refald tak secara langsung menunjukkan kekuatannya dan menggunakan tali karmenter sebagai alat penyelatan, tapi sekarang berbeda, pangeran demit itu tak perlu menggunakan alat apapun untuk menyelamatkan kekasihnya. Begitu dia menangkap tubuh Fey, ia langsung melesat cepat terbang meloncat dari dinding tebing satu ke dinding tebing lainnya kemudian mendaratkan kakinya di atas pohon dekat air terjun mengalir deras di malam hari.
"Kau menyelamatkanku tepat waktu, jadi aku tidak apa-apa. Kau ini lucu Refald, kau sendiri yang minta aku untuk membuktikan cintaku padamu, giliran sudah kubuktikan kau malah marah?"
"Aku tidak minta kau terjun ke jurang! Banyak cara untuk membuktikan kalau kau memang mencintaiku, bukan berarti kau membahayakan nyawamu sendiri! Kau bisa menciumku, memelukku merayuku, atau hal-hal sweet dan romantis lainnya, itu sudah cukup untukku! Bukan dengan cara terjun ke jurang seperti ini! Untung aku istimewa, jika tidak, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri bila terjadi sesuatu yang buruk padamu."
Fey tertegun sesaat, tapi ia merasa lucu melihat wajah cemas Refald. Sungguh ia tak memikirkan cara itu ketika Refald memintanya untuk membuktikan cintanya. Fey mendekat ke arah Refald dan memberikan ciuman mesra pada pria yang sedang marah itu.
Tentu saja ciuman Fey sukses membuat amarah Refald mereda seketika. Iapun kembali memeluk Fey dengan erat dan perlahan ia turun ke bawah sampai kedua kaki pasangan sejoli itu mendarat sempurna di tanah.
__ADS_1
Baru juga Refald hendak kembali membuka suaranya, tiba-tiba saja terdengar suara jeritan wanita dari sisi pinggiran hutan. Rusak sudah nuansa romantis antara Refald dan Fey. Keduanya saling pandang karena mereka berdua mengenali suara jeritan wanita itu.
"Aaaaaarrrgggggghhhh!" teriak wanita itu lagi sehingga Refald langsung menggendong Fey kembali kepunggungnya dan melesat capat ke arah sumber suara wanita tadi.
***
Rupanya, suara jeritan wanita tadi berasal dari kampung warga yang ada di salah satu pinggiran hutan tempat Fey dan Refald berkencan. Ketika keduanya tiba, sudah banyak warga berkumpul di sebuah rumah sambil menggelandang seorang wanita. Wanita itu meronta-ronta minta dilepaskan.
"Lepaskan aku, aku bukan Kuyang seperti yang kalian tuduhkan padaku! Aku manusia biasa, gemoy, lucu, tidak sombong dan rajin menabung! Aku datang juga mau mendaki gunung? Kenapa kalian malah menangkapku?" Bentak wanita itu pada penduduk desa yang mencekalnya.
"Jangan pura-pura lagi kau wahai kuyang jadi-jadian? Sejak kau datang, tiba-tiba saja bayinya si bang Zal dan Harita hilang! Kau mendaftarkan namamu di bascamp sebagai ratukuyang, siapa lagi kalau bukan kau yang jadi kuyang dan menculik bayinya bang zal!" tuduh salah satu warga.
"Astaga, itu cuma nama samaran, nama asliku sungguh bukan ratukuyang! Lihat wajahku! Apa mirip kuyang? Nggak kan? Wajahku mirip Dilraba Dilmurat tahu! Meski aku menulis nama ratukuyang, bukan berarti aku kuyang sungguhan! Si kuyang itu benar-benar mencemarkan nama baikku!" Wanita imut itu membela diri dan meyakinkan semua orang kalau dia adalah manusia biasa dan bukannya kuyang sepeti yang dituduhkan.
Fey dan Refald yang mendengar perdebatan itu jadi tertawa sendiri karena ini kasus terlucu yang pernah pasangan sejoli itu lihat. Apalagi, hanya karena masalah nama, wanita itu jadi korban dan dituduh yang bukan-bukan.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1