
Keesokan paginya, Fey benar-benar terkejut bukan kepalang begitu melihat Refald tetap berdiri di depan pintu kamarnya. Artinya, Refald tidak pulang alias semalaman, pria tampan itu tetap ada diposisinya seperti Fey meninggalkannya semalam. Fisik seorang pangeran dedemit memang patut diacungi jempol. Kalau orang lain, pasti sudah kesemutan atau pingsan, tapi berbeda dengan Refald yang tampak biasa saja meskipun ia berdiri semalaman di depan kamar Fey tanpa beranjak sedikitpun.
Yang membuat Fey tidak habis pikir, kenapa juga Refald harus tetap berdiri saja, padahal ada banyak meja dan kursi di sini. Refald bisa duduk atau tidur di sofa bila ia mau. Entah apa yang ada dipikiran pangeran dedemit itu sampai memilih berdiri semalaman bagai patung hidup.
“Morning Honey.” Refald menyapa terlebih dulu dan membuyarkan rasa keterkejutan Fey.
“Refald … kau … kau berdiri di sini semalaman? Di sini?” tanya Fey untuk memastikan. “Kau kan … bisa tidur atau duduk, tak perlu berdiri dan menghukum dirimu sendiri seperti itu. Kau membuatku jadi merasa bersalah saja,” ujar Fey mulai kesal dengan dirinya sendiri.
Refald tidak langsung menyahut kekasihnya dan malah berjalan pelan mendekati gadis cantik yang berdiri di depannya. Tanpa minta izin terlebih dulu, Refald langsung memeluk tubuh Fey dengan sangat erat sampai kekasihnya itu serasa sesak napas. Saking eratnya, Fey sampai tak bisa bergerak dan hampir kehabisan napas.
“Refald … aku … tak bisa bernapas,” ujar Fey terbata-bata dan seketika Refald melepas pelukannya.
“Oh, maaf Honey. Maaf, kau baik-baik saja?” tanya Refald memerhatikan raut wajah Fey dengan seksama. Ia memegang kadua pipi lembut kekasihnya dan memberinya satu kecupan mesra agar Fey kembali bisa bernapas normal seperti sebelumnya.
Fey mengangguk pelan. Setelah dicium Refald, napasnya mulai kembali baik-baik saja. Namun, Fey sedih karena Refald kini menjauh darinya dan berdiri di depan jendela lantai dua kediaman Fey. Fey cuma bisa memandangi punggung Refald dari belakang. Rupanya, kalau pangeran dedemit lagi galau, bisa bikin hati trenyuh juga. Padahal sebenarnya, Fey lumayan senang karena di pagi hari yang cerah, ia mendapat sarapan ciuman manis dari Refald meskipun itu tak disengaja.
Sebagai tunangan yang baik, Fey ingin menghibur kekasihnya yang sedang galau akut itu dengan memeluk pinggang Refald dari belakang. Refald langsung menunduk ketika melihat kedua tangan mungil melingkar erat diperutnya.
__ADS_1
“Apa aku tidak boleh tahu apa yang membuat suamiku galau tingkat dewa begini? Kau lebih menakutkan dari hantu demit manapun kalau sedang galau. Wajah tampanmu jadi jelek,” ledek Fey sambil menempelkan kepalanya di punggung Refald.
Fey bermaksud mengajak Refald bercanda dan mengembalikan senyumnya meski ia tahu hal itu tidaklah mudah mengingat Refald bukan tipe orang yang mudah diajak bercanda kalau sedang dalam masalah.
“Honey … aku … sebenarnya … aku tidak tahu apakah keputusanku ini tepat atau tidak. Aku … takut … kau tidak siap menjalani semua hal paling menyakitkan di masa depan bila terus bersamaku.” Nada suara Refald terdengar sedih saat mengatakan kalimat itu pada Fey.
Tentu saja Fey terkejut karena ucapan Refald mengandung makna ambigu yang menyakitkan. Seketika Fey melepas pelukannya dan berjalan pelan supaya ia bisa berdiri berhadapan dengan kekasih hatinya.
“Maksudmu … aku akan menyalahkanmu jika terjadi sesuatu yang buruk padaku atau … pada anak-anak kita nanti? Itu kan yang kau ucapkan dari kemarin-kemarin?” mata Fey jadi berkaca-kaca melihat betapa sedihnya wajah Refald.
“Kau … kau benar Refald. Aku … ternyata …. aku salah menilaimu. Aku pikir kau adalah manusia paling sempurna yang pernah kutemui di dunia ini, aku kira kau adalah Edwarku yang luar biasa, tapi nyatanya … kau buta dan bodoh! Kau tidak mencintaiku Refald … kau bohong padaku …”
“Honey, aku sangat mencintaimu lebih dari apapun …”
“Bohong!” bentak Fey. “Kalau kau mencintaiku, kau takkan pernah bicara seperti itu padaku. Cintamu tak sekuat cintaku padamu. Jika aku menyesal bertemu denganmu, aku sudah memilih mati dari dulu. Apa kau tahu kenapa aku bertahan hidup sampai sekarang? Karena aku percaya pada cinta yang kau berikan padaku. Cintamulah sumber kekuatanku, cintamu pula yang membutaku ingin terus hidup bersamamu. Apapun yang terjadi pada kita dan keturunan kita nanti, aku takkan menyalahkan siapapun. Bagaimana bisa kau berpikiran naif begitu seolah kau tak percaya pada cinta yang kupersenmbahkan untukmu setulus hati?” Fey meneteskan air mata dan langsung menghapusnya.
Gadis itu sadar ia sedang terbawa emosi karena perasaan galau yang dialami Refald memengaruhi suasana buruk hatinya. Seketika Refald kembali merengkuh Fey kedalam pelukannya untuk menenangkan perasaan kekasihnya.
__ADS_1
“Bukan itu maksudku Honey, aku percaya cintamu padaku murni dan suci. Itulah yang membuatku datang kemari. Namun, di masa depan … akan ada banyak air mata dan kesedihan. Harusnya kau bahagia bersamaku karena aku sudah berjanji padamu akan selalu membahagiakanmu sepanjang sisa hidupku. Tapi … ada hal yang tak bisa kulakukan dan itu sudah menjadi takdir kisah kita berdua. Salah satu putra kita akan mengalami hal sama seperti yang dialami Ilham dan Susan. Mereka ditakdirkan bersama meski berbeda alam. Dan itu imbas dari keputusan yang aku buat sekarang.”
Fey mendegarkan dengan kidmad setiap kata yang keluar dari mulut calon suaminya di dunia nyata ini. Sedikit banyak, Fey mengerti apa yang dirasakan Refald saat ini setelah mendengar penjelasan penuh makna dari Refald. Kalau dicerna dengan baik maksud ucapan Refald, kedengarannya menyakitkan dan mengerikan untuk dibayangkan.
“Jika kau tahu imbas dari keputusanmu ini, kenapa kau tidak mengirim Susan ke alamnya dan biarkan mereka hidup damai di dunia mereka amsing-masing? Kau tahu kalau yang dilakukan Ilham pada istrinya itu salah.”
“Tidak bisa Honey, aku tidak bisa memisahkan mereka meskipun aku ingin mengubah jalan takdir kisah kita.”
“Kenapa?” tanya Fey penasaran, matanya terus menatap wajah sendu suaminya.
“Karena … susan sedang mengandung buah hatinya dengan Ilham. Janin itu tidak bersalah Honey. Katakan padaku … apa aku harus melenyapkan janin yang dikandung Susan juga? Dan satu hal yang harus kau tahu, bayi itu … akan menjadi jalan perpisahan kita dan malapetaka untuk putra pertama kita.”
Fey langsung mengatupkan mulutnya antara percaya dan tidak percaya dengan gambaran masa depan yang diberitahukan Refald padanya. Semencekam itukah hal yang harus ia dan Refald lalui atas konsekuensi keputusan Refald pilih saat ini? Pantas saja Refald galau akut sampai ia bersikap tak biasa seperti ini. Rupanya ini alasannya.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1