
Pangeran dedemit itu menatap nanar wajah Fey yang memandang bingung ke arahnya. Tidak mungkin juga Refald menjelaskan pada kekasihnya kalau ia barus saja pergi ke desa. Pasti Fey bakal menanyakan lagi kenapa Refald pergi ke sana dan ia tak punya alasan yang bisa diberitahukan kenapa ia pergi ke desa tujuan Fey karena kalau tunangannya ini bertanya, itu sampai ke empot-empotnya ditanyakan. Bisa gawat bin darurat kalau Fey tahu apa yang terjadi pada Eric sekarang.
“Kau tidak mau mengantarku?” tanya Fey lagi karena Refald terdiam lumayan lama. Tidak biasanya Refald bertingkah aneh begini.
“Bukan tidak mau, aku …”
“Ya sudah,” sela Fey tanpa mau mendengar alasan Refald. “Aku minta antar kak Yoshi saja kalau begitu …” gadis itu beranjak pergi tapi satu lengannya dicekal kuat oleh Refald.
“Akan kupatahkan tulang seniormu itu kalau kau berani minta dia yang menemanimu! Ayo pergi!” tandas Refald sambil menarik tangan Fey keluar dari tenda karena mulai terbakar api cemburu buta.
Padahal, Fey hanya bercanda. Ada senyum tipis menghiasi sudut bibir gadis cantik itu. Fey tahu serperti apa Refald, makanya tadi ia asal bicara saja. Lagian Yoshi dan yang lainnya sedang sibuk sekarang. Itulah alasan Fey turun tangan sendiri membeli perlengkapan yang dibutuhkan selama mereka semua kemah di hutan karena semua rekan-rekan Fey lainnya sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
Hanya Fey saja yang santai karena posisinya adalah ketua pelaksana. Tugasnya memantau dan memastikan semua acara berjalan dengan baik dan lancer tanpa kendala, makanya tunangan Refald ini tak ingin merepotkan anggota pecinta alam lainnya selagi ia bisa mengatasinya sendiri. Dan pastinya, Fey menagih janji Refald yang bakal selalu melindunginya dalam keadaan apapun. Yah bisa dibilang, Fey ingin mengetes ucapan tunanangannya sendiri apakah benar, ataukah hanya sekedar janji belaka.
“Haisss, kalau tahu begini, mending tadi aku tidak ke desa,” gerutu Refald sambil berjalan menuruni lereng di depan Fey.
“Kau bicara apa?” tanya Fey dari balik punggung Refald. Ia mendengar gerutuan kekasihnya.
“Kau sangat cantik!” ujar Refald sedikit ketus. Pertanyaan dan jawaban sama sekali tidak nyambung.
“Terimakasih atas pujianmu, tapi daridulu aku memang cantik. Kalau tidak cantik, mana mungkin kau tergila-gila padaku sampai seperti ini.” Ganti Fey yang ketularan narsisnya Refald dan terkesan besar kepala juga sehingga membuat pria tampan itu menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
Dalam hitungan detik, Refald balik badan dan menatap Fey lekat-lekat. “Kau mulai memainkan api yang sengaja kupadamkan Honey, apa kau tidak takut kalau aku … bisa meminta hakku padamu?” tanya Refald. Wajahnya terlihat sangat serius dan tak seperti biasanya.
Fey mulai sedikit aneh. Mungkin ia salah memilih waktu bercanda dengan Refald. “Memang kau punya hak apa?” Fey balik bertanya dengan wajah polosnya. Ia tetap menganggap tidak ada apa-apa dengan Refald.
“Ayolah Honey, kita berdua sudah dewasa. Dan hanya ada kau dan aku saja di tempat ini. Aku laki-laki, dan kau wanita. Kita adalah pasangan, mau melakukan sekarang atau nanti bagiku sama saja. Kau tetap milikku seutuhnya.” Refald berjalan mendekat pelan ke arah Fey yang tanpa sadar langsung berjalan mundur dan keluar dari jalur pendakian.
“Huh, kau jangan mengancamku, kau bilang kau mencintaiku, kau tak mungkin melakukan hal tak baik padaku.” Fey jadi gugup. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan jalan yang sedang ia injak.
“Kau yang memaksaku melakukannya,” ujar Refald masih menatap tajam wajah Fey yang mulai bingung dan sedikit ketakutan dengan perubahan drastis sikap Refald.
“Apa kau sedang kerasukan?” Fey berjalan mundur perlahan dan memasuki semak-semak belukar setinggi pinggang. Kaki Fey mulai gatal-gatal karena ia melewati jalur yang belum pernah dilalui manusia.
“Tidak, aku waras dan sehat.” Tanpa ragu, Refald terus berjalan mendekati kekasihnya masih dengan tatapan mata tajam yang sama. “Dibelakangmu ada gubuk kecil, sangat cocok untuk kita berdua. Sepulang dari sini, aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanku padamu.” Ekspresi Refald sangat datar seolah ia menikmati momen yang berubah menjadi menegangkan ini.
Kali ini Fey benar-benar takut. Pria didepannya ini seperti bukan Refald saja. Sangat menakutkan. Apalagi tatapan mata Refald seolah ingin melahab Fey hidup-hidup.
“Aku tidak sedang bercanda Honey. Sudah lama aku menantikan ini! Kau tak tahu betapa aku sangat mencintai dan merindukanmu, hanya kaulah yang kuinginkan. Kita sudah dewasa sekarang dan aku ingin menyalurkan pusakaku pada sarungmu.”
“Hah!” mata Fey melotot mendengar makna ambigu dari ucapan Refald barusan. Gadis itu sungguh tidak tahu harus berkata apa sekarang.
Tak ingin membuang-buang waktu, Refald mengangkat tubuh Fey dalam gendongannya dan berlari cepat menuju ke gubuk tua.
__ADS_1
“Lepaskan aku Refald! Apa yang kau lakukan! Akan ku bunuh kau jika sampai macam-macam padaku!” Teriak Fey sambil memberontak ingin melepaskan diri dari gendongan tunangannya yang entah sejak kapan jadi gila bin aneh begini.
Sayangnya, Refald terlalu kuat, tenaga Fey tak cukup mampu melawan kekuatan Refald yang sudah melebihi kapasitas manusia normal biasa. Semakin Fey memberontak, semakin erat pula pelukan Refald sehingga tenaga gadis itu terkuras habis.
Refald menendang pintu kayu gubuk yang terbuat dari tumpukan jerami dengan keras sehingga pintunya terpental lepas dari tempatnya. Dan betapa terkejutnya Fey setelah melihat ada siapa di dalam gubuk itu.
“Siapa kalian?” teriak seorang wanita muda yang tampak cantik dan sedang berhadapan dengan pemuda tinggi berkulit hitam.
Tampaknya, pemuda itu sangat terkejut dengan kehadiran Refald yang begitu tiba-tiba dan merusak pintu tanpa permisi lebih dulu. Yang lebih mengejutkan lagi, Refald datang sambil menggendong Fey. Sudah tak bisa didefinisikan betapa shocknya gadis itu dengan tingkah Refald ini. Datang ke rumah orang tanpa izin, merusak pintu pula, Fey jadi bingung, Refald ini kriminal atau siswa?
“Maaf mengganggu waktumu, cenayang Chica Asmarantaka. Mumpung kau di sini, makanya aku membawa tunanganku kemari. Ada yang ingin kutanyakan padamu.” Refald menatap wanita cantik itu dengan senyuman mencurigakan.
Fey seperti orang bodoh sekarang, yang ia tahu cenayang itu asalnya dari Korea. Tak disangka, di dalam hutan rimba begini, hiduplah seorang cenayang juga, cantik pula. Dan Fey bisa menebak siapakah pemuda berkulit hitam yang sedang duduk bersila didepannya.
“Kau tidak lihat, aku sedang ada pasien, Pangeran? Kau lebih tahu dari apa yang kutahu,” ujar wanita yang Refald sebut sebagai cenayang Chica itu. Tangannya terus menaburi kepala pemuda berkulit hitam itu sambil komat kamit baca mantra yang sama sekali tak dimengerti Fey.
“Aku akan menunggu!” ujar Refald tanpa mau melepaskan Fey dari gendongannya.
“Refald! Kau gila! Aku sedang banyak urusan! Turunkan aku! Hal gila apa lagi yang kau lakukan, ha?”
“Diamlah Honey. Sebentar saja, kapan lagi bisa ketemu cenayang sehebat dia di hutan lebat ini. Momen ini langka loh, percayalah padaku. Apa yang kau inginkan bisa kau dapatkan setelah ini. Bersabarlah.” Refald bicara sambil menahan tawa.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***