
Alasan kenapa Fey sangat terkejut ketika melihat pemuda tampan yang baru saja melewatinya, karena pemuda tersebut mirip dengan seseorang yang sangat Fey kenal. Yah, meskipun miripnya tidak 100%, tapi cukup membuat kaget juga.
Pemuda tampan itu hanya fokus pada wanita yang dituduh warga desa sebagai kuyang. Dan berkat kesaksian Fey, wanita yang biasa dipanggil Ei akhirnya tidak jadi di eksekusi warga.
Fey berjalan mendekat ke arah calon suaminya dan langsung langsung mengajukan pertanyaan, "Refald, siapa pemuda itu ... aku pikir tadi dia ...."
"Dia anak pecinta alam juga, tapi dia hanya mendaki curtens piramid dan pernah ikut bersamaku ke mount everest. Dia bukan stranger abal abal-abal Honey, dia profesional. Hanya saja, mungkin Ei tidak tahu siapa pemuda yang ia hadapi itu," terang Refald sambil menyunggingkan senyum seolah tahu apa yang terjadi pada Hesa dan Ei.
"Lalu ... di mana adikmu Leo sekarang, aku kok raguuuu ...." Fey masih mengamati gerak gerik pemuda tampan yang sedang berdiri di depan Ei.
Tatapan pemuda itu dirasa sangat tidak asing bagi Fey. Pemuda tersebut menatap Ei sama seperti saat Refald menatapnya. Hangat, dan penuh dengan cinta.
"Di sini," ujar Refald menunjukkan video callnya dengan Leo yang kebetulan sedang ada dikediamannya.
"Halo kak, hai kakak ipar? Ada apa? Aku pasti akan datang di hari pernikahan kalian. Sudah kusiapkan semuanya, kalian tenang saja," ujar Leo dari seberang, dia sedang latihan menembak dengan para pengawalnya.
Mulut Fey menganga, ia menatap Leo dan orang yang berdiri di depan Ei. Wajah dan perawakan tubuh keduanya sama. Bahkan, tinggi mereka juga sama. Cuma suaranya yang berbeda. Fey jadi yakin kalau dua orang ini lumayan mirip juga.
"Ti-tidak mungkin," ujar Fey menatap Refald.
"Nanti kutelepon lagi Leo, teruskan latihanmu!" tanpa menunggu sahutan dari adik sepupu Refald, pangeran demit itu langsung menutup panggilannya tanpa peduli pada Leo yang ngomel-ngomel karena Refald sudah membuang-buang waktunya dengan meneleponnya nggak jelas begitu.
Refald tersenyum pada Fey dan mengarahkan semua warga untuk pergi dari tempat ini karena urusan mereka sudah selesai. Atau lebih tepatnya, Refald sengaja memberikan ruang bagi pemuda tampan yang disinyalir wajahnya mirip dengan Leopard Bay Pyordova, adik sepupu Refald yang baru saja dihubunginya. Tak lupa, Pangeran demit itu langsung menggandeng Fey pergi ke rumah Zal dan Harita untuk membantu menemukan anak ke-5 mereka yang hilang diculik Kuyang.
__ADS_1
"Ayo Honey, biarkan pasangan sejoli itu menyelesaikan urusannya. Kita tak bisa ikut campur lagi. Ada hal lebih penting yang harus kita lakukan daripada menyaksikan aksi tom and jerry Hesa dan Ei."
"Hesa?" tanya Fey masih saja takjub dengan wajah pemuda yang mirip dengan calon adik iparnya.
"Ehm, nama panggilannya Hesa. Aku dilarang memberitahu siapa nama lengkapnya karena kau bakal lebih kaget lagi jika tahu seluk beluk keluarganya." Refald memicingkan mata melihat wajah Fey terpaku seketika. "Ayo, kita pergi saja dari sini. Kau ini bikin aku gemas Honey." Tanpa izin, Refald langsung menggendong Fey melesat cepat menyusul warga yang lebih dulu meninggalkan mereka.
Sementara Shreya, ia tak bisa berkutik lagi ketika pemuda yang ia katai sebagai 'codot' itu datang dan sudah berdiri didepannya. Tadinya, gadis itu pikir, Hesa tak bisa lagi mengejarnya sampai kemari mengingat pria yang dijuluki sebagai dewa kampus itu terkenal sebagai kutu buku jenius yang tahunya cuma kampus dan buku saja. Siapa sangka, kalau Hesa adalah salah satu stranger juga. Benar-benar fakta yang amat sangat mengejutkan Shreya.
"Sudah kukatakan padamu, Ei. Kau takkan pernah bisa lari dariku. Urusan kita belum selesai. Aku belum buat perhitungan denganmu karena kau terus-terusan melarikan diri dan menghilang seperti ini," ujar Hesa dengan senyum menawannya.
"Apa sih maumu? Aku sudah minta maaf atas insiden waktu itu. Salah sendiri kenapa kau punya nama sama dengan si playboy Leo itu? Jadi, kejadian waktu itu sepenuhnya bukan salahku!" cetus Shreya.
"Oke, wajah dan namaku memang mirip si gengster nggak ada akhlak itu, bukan hanya kau yang salah kira siapa aku dan siapa Leo. Hampir semua wanita sulit membedakan kami berdua. Tapi aku tak seberengsek dia. Aku adalah aku, dan jika kau ingin aku memaafkanmu atas insiden waktu itu, maka ... ayo hiking bersamaku," ajak Hesa yang langsung membuat Ei terkejut bukan kepalang.
"Kau suka naik gunung, kan? Kita lihat siapa yang sampai puncak duluan. Kalau kau menang, aku takkan pernah mengganggumu lagi ataupun muncul dihadapanmu. Tapi ... jika aku yang menang, kau harus menikah denganku."
"Apaaa?" teriak Ei kaget bukan kepalang, sebuah tawaran yang menantang. Namun, Gadis itu yakin dialah yang akan menang karena ia sudah biasa naik gunung di waktu senggang. Bisa-bisanya pemuda yang tahunya cuma buku doang menantangnya balapan naik gunung. Sama saja dengan kura-kura melawan kelinci.
Bila dibandingkan dengan si kutu buku, pengalaman mendaki gunung di medan apapun, lebih banyak Ei ketimbang Hesa tanpa gadis itu tahu kalau sang dewa kampus adalah pendaki kelas kakap. Dengan keyakinan dan kemampuan yang Ei miliki, gadis itupun memenuhi tantangan pria yang entah mengapa terus saja mengganggu kehidupannya sampai membuatnya terpaksa melarikan diri kemari.
"Okeh, aku setuju. Ingat, jika aku menang, jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi didepanku dan anggap kita tidak pernah bertemu," ucap Ei dengan penuh percaya diri.
"Baik, tapi jika aku yang menang ... kau harus menikah denganku begitu kita turun gunung!" Hesa sengaja menambah tantangannya untuk menjadikan wanita di depannya ini miliknya seutuhnya dengan cara yang tidak biasa.
__ADS_1
Tentu saja Ei tak gentar, sudah dipastikan kalau dialah yang akan menang karena wanita cantik itu memang hobi naik gunung. Hampir semua gunung yang ada di Indonesia ini pernah Ei jelajahi. Kalau ia ditantang siapa yang akan lebih dulu sampai, maka Eilah pemenangnya.
Mata kedua sejoli ini saling menatap tajam satu sama lain. Diantara keduanya seakan ada kilatan petir menyambar karena mereka sama-sama berambisi untuk memenangkan kompetisi cinta yang mereka sepakati sendiri.
"Kapan kita mulai hiking? Sekarang?" tanya Ei penuh percaya diri tingkat Dewa.
"Ini sudah malam, bahaya kalau kita naik gunung sekarang. Besok pagi setelah sarapan, kita berangkat!" jawab Hesa tegas penuh perhitungan.
"Lah, terus kita ngapain semalaman di sini?"
"Kita bantu Refald dan Fey menangkap Kuyang. Sekaligus membuktikan bahwa kau bukan kuyang jadi-jadian ..." ledeknya sembari melepas senyum.
"Tunggu ... bagaimanaa ... kau bisa mengenal Fey dan Refald?" Ei memotong kata-kata Hesa karena ia kaget pemuda kutu buku itu bisa mengenal pasangan sejoli paling fenomenal di kelompok stranger mereka.
Hesa tidak menjawab dan malah mengambil currier yang tadi sempat ia letakkan saat mendekati Shreya.
BERSAMBUNG
***
Pengumuman:
Kisah Shreya dan Hesa, akan rilis seminggu lagi dari sekarang. Seperti apa kisah mereka? Ikuti ya ...ðŸ¤ðŸ¤ Maaf episode ini sebagai sedikit promo novel baru selain Bima. Semoga kisah Hesa dan
__ADS_1
Shreya nanti bisa menghibur kalian karena penuh ketegangan. Judul novelnya masih aku rahasiakan, nanti kalau sudah rilis aku kasih pengumuman lagi.