Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 78 Pingsan


__ADS_3

Sungguh, pengakuan isi hati sang pengantin wanita terhadap arwah pria yang dicintainya, membuat hati Fey serasa ikut pedih dan perih. Istri Refald itu tidak bisa membayangkan bila hal tersebut menimpa dirinya, dipaksa menikahi mantan demi memenuhi keinginan terakhir orang tercinta. Mungkin Fey takkan pernah sanggup melakukannya.


Melihat calon istrinya tak dapat melangkah lagi, mempelai pengantin pria berjalan pelan menghampiri mempelai wanita untuk menjemputnya. Pria bule tampan bernama Daniel itu mengulurkan satu tangannya untuk wanita yang bernama Camila.


"Mungkin aku tak bisa menggantikan Pierre dihatimu, Mila. Tapi ... aku berjanji akan menjaga dan mencintaimu hingga napas terakhirku. Aku merelakanmu hidup bahagia bersamanya, tapi nyatanya takdir telah berkata lain, dia telah tiada. Hiduplah bersamaku Mila, karena aku masih mencintaimu sana seperti dulu," pinta Daniel menatap lurus wanita yang menangis di depannya.


Semakin deraslah tangisan air mata mempelai wanita kala arwah tangan Pierre, membantu membimbingnya untuk menerima uluran tangan Daniel. Pierre tersenyum manis pada Mika dengan penuh makna yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, lalu iapun melayang pergi meninggalkan pasangan pengantin yang akan melangsungkan pernikahan. Semakin lama, arwah Pierre pun menghilang dari pandangan Mila yang masih belum mau berhenti menangis.


Sedangkan Refald dan Fey, keduanya sama-sama meneteskan air mata ketika Pierre menyerahkan wanita pujaan hatinya pada pria lain bernama Daniel, mantan kekasih Mila sendiri.


Begitu Pierre pergi, Refald juga ikut bangun dari kursinya dan melangkah keluar sambil menggandeng erat tangan istrinya. Meski acara pernikahannya belum dimulai, pasangan Raja dan Ratu demit itu sengaja pergi meninggalkan kastil karena mereka merasa sudah tak ada urusan lagi di dalam sana.


Refald berdiri di samping mobil volvonya. Kedua tangannya ia taruh diatas atap mobilnya sambil terus menundukkan kepala. Yang membuat Refald sedih bukanlah calon istri Pierre menikahi pria lain setelah sahabatnya itu meninggal, melainkan karena ia tak bisa membantu sahabatnya ketika kecelakaan itu menimpanya.


Sebagai seorang Raja dedemit yang diberkahi kekuatan supranatural lebih dari manusia manapun di dunia ini, Refald tak bisa melawan garis takdir hidup seseorang. Yang dapat Refald lakukan hanyalah membantu memenuhi keinginan Pierre yang meminta supaya Mila dapat melihat arwahnya agar keinginan terakhirnya terpenuhi. Betapa besar dan dalam cinta Pierre sampai merelakan wanitanya hidup bahagia dengan pria yang tepat untuknya.


"Refald," panggil Fey dari balik punggung Refald dan menyentuh bahunya. "Kau baik-baik saja?" tanya Fey setelah sempat baper akut akibat apa yang terjadi di dalam kastil.


Tak ada yang bisa bumil itu katakan selain memahami situasi menyedihkan ini. Ia bahkan ikut menangis pilu melihat apa yang terjadi pada Mila dan Pierre.


"Ayo pulang Honey," ajak Refald sambil memegang tangan Fey yang ada dibahunya.


"Di mana Pierre sekarang?" tanya Fey masih ingin tahu.


"Aku tidak tahu, mungkin ia pergi untuk meratapi apa yang terjadi hari ini."

__ADS_1


"Apaa ... dia sudah pergi ke alam baka?"


Refald menggeleng. "Harusnya belum, setelah 40 hari, barulah arwah yang keluar dari jasadnya bisa pergi."


"Aku ingin bertemu dan bicara padanya, bisakah kau panggil dia, Refald?"


"Tidak bisa Honey, yang dapat kupanggil hanyalah pasukanku, Pierre bukan pasukanku, aku tak nisa memanggilnya. Akupun juga ingin bertemu dengannya, tapi ... saat ini mungkin ia tak ingin bertemu dengan siapapun."


Fey sedih, begitu pula dengan Refald. Namun, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk saat ini. Akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka di Swiss.


***


Malamnya, saat Refald sedang makam malam dengan istrinya, tiba-tiba saja ada yang berisik di sekitar kediaman Refald. Dengan gerakan cepat ala vampir Edward, Refald mendekat ke arah Fey untuk melindunginya jika ada sesuatu yang mencoba menyerang mereka.


"Aku merasakan hawa kebencian dari sosok makhluk astral.tak kasat mata sedang melesat cepat kemari Honey. Kau harus tetap ada didekatku, dan jangan lihat ke arah pintu." Refald mulai menunjukkan sifat over protektifnya.


Sebenarnya, Fey risih dipeluk Refald seperti ini. Ia jadi kesulitan bergerak dan tidak bisa makan dengan tenang padahal ia sangat lapar.


"Haissh, apa makhluk astral itu tak bisa menunggu sampai aku selesai makan Refald? Kenapa dia datang di saat aku sangat lapar!" protes Fey.


"Setelah aku membereskan sosok astral ini, kau bisa melanjutkan makanmu Honey, aku janji." Refald mencium kening Fey agar istrinya tidak badmood lagi.


Seperti dugaan Refald sosok arwah yang masih bergentayangan mendadak masuk menembus pintu rumah Refald hingga ke dalam tanpa permisi atau memberi salam terlebih dulu. Sosok itulah yang ditunggu Refald sejak tadi. Hampir saja makhluk astral tersebut terkena serangan Refald tapi tidak jadi karena suami Fey itu mengenali siapakah yang datang ini.


"Pierre! Ada apa denganmu?" tanya Refald setengah kaget. Feypun juga langsung terkejut melihat kedatangan arwah Pierre.

__ADS_1


Sosok astral itu sangat berbeda dengan arwah yang dilihat Fey dan Refald sewaktu mereka ada di dalam kastil. Arwah Pierre yang sekarang tampak lebih menyeramkan karena matanya merah menyala dan auranya penuh dengan kebencian yang begitu besar.


Itulah kenapa tadi Refald bersikap waspada karena mengira ada iblis jahat yang hendak menyerang mereka karena aura negatif ini. Ternyata, sosok tersebut adalah arwah sahabatnya sendiri dan tidak jadi menyerang. Yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang terjadi pada Pierre sehingga ia jadi seperti itu.


"Refald, tolong aku!" ujar Pierre, nada bicaranya terdengar putus asa. Namun, matanya tetap merah menyala.


Refald terdiam, ia bangun berdiri dan melesat cepat ke tempat Pierre berdiri sekarang. Tanpa suara, Refald menyentuh bahu arwah sahabatnya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi sehingga menyebabkan arwah Pierre jadi seperti ini.


Mata Refald terbelalak setelah mengetahui semuanya. Mendadak, semua perabotan yang ada dirumahnya melayang di udara. Fey tahu kalau kemarahan sedang menyelimuti suaminya ketika tangannya menyentuh bahu arwah Pierre.


Karena tak ingin terjadi sesuatu yang buruk, Fey berjalan cepat ke arah Refald dan langsung memeluk tubuh suaminya dari belakang.


"Hentikan Suamiku, redakan amarahmu. Aku mohon ... demi aku, demi buah hati kita, jangan sampai lepas kendali. Aku ... tak mau terpisah darimu lagi hanya karena kau tak dapat mengontrol emosimu." Fey semakin memeluk erat tubuh suaminya.


Seketika, amarah Refald sedikit demi sedikit telah mereda. Benda-benda di dalam rumah Refald yang tadinya melayang, perlahan mulai turun dan mendarat mulus di tempatnya semula.


"Maafkan aku Honey, aku hampir saja mencelakaimu dan anak kita," ujar Refald sambil berbalik badan menatap wajah sendu istrinya.


"Tidak apa-apa, sudah tugasku untuk mengingatkanmu untuk mengendalikan kekuatanmu dalam situasi dan kondisi apapun." Fey memegang salah satu pipi suaminya.


Dan tiba-tiba ... arwah Pierre jatuh terkapar melayang-layang di udara dalam kondisi pingsan. Fey terkejut, karena ini pertama kalinya dalam hidupnya, ia baru tahu kalau arwah ternyata bisa pingsan juga.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2