Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 38 Desa Kuntilanak


__ADS_3

Eric sungguh terkejut bukan kepalang begitu ia tahu ada dimana dirinya sekarang. Namun yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah kehadiran Nana yang tiba-tiba saja ada di atas tubuhnya dalam kondisi tak sadarkan diri akibat terlalu shock dan juga kesakitan setelah melintasi ruang waktu di dimensi lain. Untuk sementara, Eric mengesampingkan dulu keberadaan dirinya di tempat gelap ini dan fokus menyadarkan Nana sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan.


Sentuhan tangan Eric, perlahan membuat Nana tersadar dari pingsannya. Eric pun merasa lega karena Nana cuma pingsan biasa. Pemuda bule itu baru sadar kalau tubuhnya serasa sakit semua. Begitupula dengan Nana, gadis itu pun langsung memegangi kepalanya karena terasa sangat berat dan pusing. Namun, ia masih belum ngeh kalau dirinya ada dipelukan Eric.


“Nona, kau baik-baik saja?” tanya Eric masih sambil menahan tubuh Nana yang bersandar di dada bidangnya. Lampu senter ia arahkan ke wajah Nana untuk mengetahui kondisi gadis desa itu.


“Aduh … sakit sekali …,” rintih Nana, “Ada di mana ini?” tanyanya sambil mencoba menamatkan penglihatannya tentang keadaan disekelilingnya yang gelap gulita dan hanya ada penerang dari senter ponsel Eric.


“Nona … akhirnya … kau bisa bicara pakai bahasa Indonesia dengan baik dan benar, bukan bahasa planet lagi,” ujar Eric puas karena ia dapat mengerti bahasa yang digunakan Nana setelah gadis itu sadar dari pingsannya.


Nanapun terkejut dan langsung menjauhkan diri dari Eric. “Lapo sampean iki Mas, kok sak enak e dewe jempok-jempok!” (Ada apa ini, Mas? Seenaknya saja pegang-pegang) sentak Nana begitu ia tahu ia sudah bersandar ditubuh Eric.


Eric langsung menghela napas panjang. Baru juga ia senang karena Nana mau bicara menggunakan bahasa Indonesia, eh sekarang malah kembali lagi memakai bahasa jawa. Sepertinya hubungan keduanya bakalan susah karena perbedaan bahasa yang mereka gunakan.


“Hadeuh, kumat deh … bahasa planetnya keluar lagi,” gumam Eric sambil geleng-geleng kepala dan bangkit berdiri memeriksa keadaan sekitar. Kepalanya jadi semakin puyeng bila mengurusi logat medok jawanya si Nana.


Sahabat dekat Refald ini memilih fokus pada apa yang terjadi di tempat ini. Eric sudah tak terkejut lagi karena ia tak merasa asing dengan tempat gelap gulita yang pastinya bukan di dunia manusia. Tak ada tempat semengerikan dan segelap ini selain di dunia lain tempat tinggal para makhluk astral tak kasat mata. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa Eric dan Nana terdampar di sini? Itulah yang menjadi misteri dan harus dipecahkan Eric sendiri.


Eric memang seorang indigo, tapi ia belum mengerti kenapa ini bisa terjadi. Dan hal yang ia alami seperti sekarang bukanlah yang pertama kali. Bersama Refald, Eric sudah banyak mengarungi kejadian-kejadian mistis diluar nalar manusia lainnya dan pemuda bule itu jadi terbiasa. Namun yang aneh, ia sedang tak bersama Refald sekarang, kenapa ia tersedot ke dunia lain? Bersama Nana pula. Hal inilah yang menjadi tanda besar bagi Eric.


“Mas, sampean rung jawab pitakonku loh, onok ngendi kene saiki?” (Mas, kau belum jawab pertanyaanku. Ada di mana kita sekarang?) tanya Nana ikut berdiri disebelah Eric. Ia sungguh tidak tahu apa yang telah terjadi dan juga sedikit ngeri karena lampu senter ponsel milik Eric tak menemukan apapun di sini. Semuanya gelap gulita seolah tak berujung dan tak berbatas.


“Bisakah kau pakai bahasa indonesia saja Nona? Aku sama sekali tak mengerti kau bicara apa,” pinta Eric sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


“Lah aku kan mang seneng ngomong jowo timbang ngomong Indonesia Mas. Kan sak karepku arep nganggo basa opo. Lek gak gelem ngerungokke yo ra usah dirungokke.” (Lah aku kan memang suka bicara bahasa jawa ketimbang bicara Indonesia, Mas. Kan terserah aku mau pakai bahasa apa. Kalau tidak mau mendengarkan ya tidak usah didengarkan) Nana jadi sewot dengan Eric.


Dua orang bagai minyak dan bumi ini saling menatap sinis masing-masing. Sepertinya rasa kesal Eric sudah melebihi kapasitas sehingga ia tak bisa kesal lagi dan cenderung pasrah akan keadaan yang mengurung dirinya dan Nana di tempat yang tidak ia ketahui ada dimana ini. Entah ini apesnya Eric atau bukan yang jelas ia harus mencari jalan keluar secepatnya dari sini.


“Begini saja, kalau kau masih saja menggunakan bahasa yang tak ku mengerti, sebaiknya kita pisah dan cari jalan keluar sendiri-sendiri. Aku tak bisa bersama dengan orang yang tak bisa kupahami bahasanya seperti kau itu.” Eric mulai memberikan ancaman dan bersiap meninggalkan Nana sendirian.


Tentu saja nyali Nana langsung ciut dan iapun terpaksa harus menggunakan bahasa Indonesia saat bicara dengan Eric daripada ia ditinggal sendiri di tempat aneh dan mengerikan ini. “Ya sudah, oke. Aku bicara menggunakan bahasa Indonesia sekarang, puas!” cetus Nana kesal, tapi ia tak punya pilihan lain.


Eric tak menyahut dan hanya tersenyum. Tak ingin membuang waktu, pemuda bule itu berjalan lurus ke depan dengan hati-hati. Nana yang bingung cuma bisa mengekor di belakang Eric dan tak ingin jauh-jauh dari pria asing ini. Sebenarnya, gadis itu takut karena ini pertama kalinya ia ada di tempat yang aneh bin seram. Tanpa sadar, tangannya pun menggamit lengan Eric. Keduanya berjalan beriringan dengan hati was-was.


Tak berselang lama, tiba-tiba sebuah pintu tertutup rapat seolah sengaja mengurung Eric dan Nana berduaan disuatu ruangan. Eric bergegas berlari ke pintu tertutup itu dan mencoba membukanya. Begitu pula dengan Nana, ia melakukan hal sama seperti yang dilakukan. Mereka berdua sama-sama mencoba membuka kembali pintu tersebut tapi tidak bisa. Pintunya benar-benar terkunci rapat.


“Sial!” geram Eric mulai marah. Ia terus berusaha mendobrak pintu. “Woy! Buka!” teriak Eric.


***


Sementara di tempat Refald dan Fey, keduanya juga sedang dilanda kebingungan soal lokasi mereka yang tadinya berada di kegelapan kini berubah menjadi terang benderang. Lebih anehnya lagi, tempat pasangan sejoli itu berada seperti sebuah desa dan sangat familiar di mata Refald.


Pangeran dedemit itu sangat yakin kalau dirinya sekarang ada di desa tempat masa lalu kunti merah itu berasal. Sebab, dilihat dari pakaian penduduknya dan bangunan rumahnya, sudah jelas kalau desa ini adalah desa di era 80an. Artinya, Refald dan Fey kembali ke masa lalu dimana yang namanya ponsel masih belum ada di negara ini.


“Refald, aku serius bertanya dan jangan jawab dengan kata-kata ngawur lagi karena aku yakin kau sedang tidak belajar jadi orang gila,” sindir Fey masih tertegun melihat keadaan desa yang ada di depan matanya.


“Terimakasih atas kata-kata cintamu, Honey.”

__ADS_1


“Siapa yang bilang cinta?” cetus Fey sewot lagi.


“Lah barusan itu kan kata-kata cinta, Honey." Refald sengaja membuat kesal Fey untuk mengalihkan perhatiannya.


"Sudah jangan banyak cincong lagi, cepat katakan!”


“I love you!” goda Refald.


Ini orang memang sinting kali ya ... di suruh menjelaskan malah bilang cinta, batin Fey.


Fey memejamkan mata sambil menahan geram. “Bukan itu bodooh! Katakan ada di mana kita sekarang! Kalau sampai kau bilang habis gelap terbitlah terang atau kata-kata gombal lainnya lagi, akan kubunuh kau di sini!” ancam Fey dan Refald malah membalas ancaman itu dengan senyuman manisnya.


“Aku tidak yakin, jika aku memberitahumu ada di mana kita sekarang, aku khawatir kau bakal pingsan.”


“Cepat beritahu aku, kau buang-buang waktu saja!” desak Fey.


“Oke.” Akhirnya, Refald mau jawab juga. “Kita ada di desa kuntilanak!” jawab Refald santai menikmati wajah Fey yang langsung tercengang mendengar jawabannya.


“Hah?” mulut Fey menganga lebar.


BERSAMBUNG


**

__ADS_1


__ADS_2