Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 79 Rusaknya Suasana


__ADS_3

Refald berpaling menatap sedih Pierre yang mendadak pingsan di sampingnya. Istri Refald juga terkejut karena sesosok arwah bisa tergeletak tak berdaya tepat di depan matanya entah karena apa. Fey sungguh bingung, tapi untunglah Refald mau menjelaskan bahwa pingsannya seorang arwah bisa saja terjadi karena banyak faktor.


Salah satunya adalah sisi emosinya yang masih tertahan dalam jiwa meski jiwa tersebut telah keluar dari raganya. Mungkin Pierre sedang mengalami pergeseran emosi atau bisa jadi dia mengetahui fakta lain tentang kehidupan sebelumnya di dunia nyata, setelah kepergiannya sehingga menyebabkan jiwanya tak terima dan berubah jadi seperti ini.


"Kau tidak menyembuhkannya? Menurutmu, apa yang membuat Pierre tiba-tiba jadi begini? Bukankah ... keinginan terakhirnya sudah terpenuhi?" tanya Fey pada Refald yang sedang fokus memindahkan sosok Pierre ke sofa kursi agar lebih nyaman meski jiwa itu tak butuh tempat untuk berbaring.


"Mungkin ia mengetahui kebenaran yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bisa saja, kebenaran itu suatu hal yang sangat mengerikan. Dia akan pulih sendiri ketika emosinya mereda, Honey. Ini awal baginya karena ia meninggal baru 7 hari yang lalu."


"Apa semua jiwa yang lepas dari raganya akan seperti ini. Aku sungguh tidak tahu karena kalau aku melihat pak Po dan yang lainnya, mereka sangat santai dan enjoy aja jadi demit."


"Pasukan demitku berbeda dari yang lainnya Honey, hidup mereka memang ditakdirkan menjadi pasukanku. Bahkan pak Po rela mati demi menyelamatkan leluhurku. Yang pastinya ... berhubungan dengan leluhurmu juga. Jika tidak, mana mungkin kita ditakdirkan bersama." Refald meraih pinggang istrinya dan menempelkan dahinya di dahi Fey.


Refald tersenyum ketika ia melihat perut seksii dan rata istrinya, kini tampak sedikit lebih buncit karena didalamnya, ada calon buah hati mereka. Kedua tangan Refald mengelus pelan perut Fey dimana sang jabang bayi, mulai aktif bergerak sendiri.


"Dia bergerak, mungkin dia suka kalau ayahnya memegang perut ibunya seperti ini," ujar Refald sambil tersenyum.


"Kau ini, arwah temanmu itu sedang koaps begitu, bisa-bisanya kau sok sweet padaku, ha?" cetus Fey.


"Honey, dia tidak apa-apa, wajar Pierre jadi begitu karena secara tidak langsung, dia bisa disebut sebagai hantu baru. Jiwanya perlu adaptasi di dunia lain sebelum akhirnya dia pergi ke alam sana dengan tenang setelah 40 hari."


Fey terdiam, meskipun ini bukan kali pertama Fey berkecimpung dengan hal-hal ghaib dan mistis bersama Refald, ia tetap tak paham aturan -aturan dalam dunia supranatural suaminya. Terutama di dunia perdemitan. Namun, terlepas dari itu semua, Fey tetap bahagia menjadi pendamping pria tampan yang ia juluki sebagai Raja dedemit Refald ala Edward.

__ADS_1


"Honey," panggil Refald mesra. Keduanya tetap ada di samping Pierre sambil menunggui arwah itu sadar sendiri.


"Hmm ... ada apa?" tanya Fey biasa-biasa saja.


"Aku butuh nutrisi, beri aku ciuman manismu," pinta Refald sengaja merayu istrinya.


"Kau ini tidak tahu sikon apa? Masa kissing di depan arwah temanmu yang sedang pingsan? Kita bahkan belum tahu penyebab temanmu jadi seperti itu? Tidakkah kau khawatir padanya? Mungkin saja sesuatu hal buruk menimpanya. Dia minta tolong padamu." Fey langsung menolak permintaan gak jelas suaminya dan merasa kesal sendiri dengan Refald yang acuh tak acuh saja pada pingsannya Pierre.


"Dia kan masih pingsan Honey, takkan mungkin melihat kita berciumaan, ayolah. Satu kecupan manis saja. Percayalah padaku, dia baik-baik saja." Refald berlagak manja di depan istrinya.


"Astaga, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada pria aneh sepertimu?"


"Karena pria aneh ini juga sangat cinta mati padamu hingga nafas dan hidupnya hanya ia persembahkan untukmu."


"Ehem hem ...."


Terdengar suara dehaman dari sosok yang sangat Fey dan Refald kenal tepat di saat Refald hendak mencium istrinya.


"Pak Po, bisakah kau tidak datang disaat aku bermesraan dengan istriku? Kau mengacaukan suasana!" pekik Refald kesal karena tak jadi kissing-kissingan dengan Fey dikarenakan datangnya poci pocicu yang suka mengganggu.


"Maaf Yang Mulia Raja Mirza Banta." Pak Po menunduk dan memberi hormat dengan sangat sopan sekali. "Salah Yang mulia sendiri, kenapa bersikap romantis di saat seperti ini. Mana saya tahu kalau Anda mau buat anak lagi di sini. Kalau tahu, saya kan bisa pergi, tapi saya sudah terlanjur datang, mau pergi jadi nggak enak." Pak Po menjelaskan dengan ekspresi sok polos tanpa merasa bersalah karena sudah mengganggu privasi seseorang tanpa permisi terlebih dulu.

__ADS_1


Bahkan jika memang pak Po merasa tidak enak, harusnya dia pergi saja dan tak perlu merusak suasana romantis diantara Refald dan Fey. Lah, pak Po malah melakukan tindakan sebaliknya. Sikapnya sama sekali tak menunjukkan kalau ia merasa tidak enak hati.


Refald cuma bisa tepok jidat dengan sikap pak Po yang membuat gula darahnya naik di setiap kemunculannya. Feypun juga ikutan gedeg juga dengan pak Po. Tapi kali ini, ada baiknya pak Po muncul sehingga mesumnyaa Refald bisa ditunda.


"Pak Po, ada apa kau kemari?" tanya Fey.


"Saya datang untuk melaporkan apa yang diperintahkan Raja, Ratu," jawab pak Po dan memberi hormat pada Fey dengan menundukkan kepala.


Fey beralih menatap suaminya. "Kapan kau memerintahkan pak Po? Dan apa yang kau perintahkan?" tanya Fey.


"Tadi, saat Pierre datang kemari." Refald menatap pak Po lagi. "Katakan apa yang terjadi pada Pierre."


"Berdasarkan hasil pengamatan dan observasi yang telah saya lakukan, sebentar Raja, observasi itu apa ya?" tanya pak Po bingung sendiri dengan ucapannya. Entah ia dapat darimana kosakata istilah sepeti itu.


"Kalau kau tidak tahu artinya ... kenapa kau ucapkan! Nggak perlu sok gaya atau sok gaul begitu pak Po! Cepat katakan saja apa yang terjadi!" bentak Refald dengan suara lantang. Fey buru-buru menenangkan suaminya.


"E ... baik Raja, kan saya juga ingin tampak ke ..." pak Po tak jadi melanjutkan kata-katanya karena 2 pasang mata sedang menatapnya tajam seolah siap melemparinya dengan rudal. "Baiklah, Tuan Pierre jadi seperti ini ... karena dia tahu ... orang yang menyebabkan dirinya kecelakaan waktu itu ... adalah Daniel. Suami sari wanita yang amat ia cintai. Lebih parahnya lagi, saat ini ...Nona Mila, menghilang tanpa jejak. Saya sudah meminta rekan-rekan untuk melacak keberadaannya tapi hasilnya nihil."


"Apa?" ucap Fey tampak sangat terkejut. Seketika rasa kesalnya pada pak Po menghilang begitu saja.


Sedangkan Refald, seperti biasa, ia tetap tenang. Raja demit itu menatap arwah Pierre yang masih belum sadar. Inilah alasan Pierre meminta tolong pada Refald. Sesuatu yang buruk, mungkin saja terjadi pada Mila.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2