Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 24 Ritual Dimulai


__ADS_3

PERINGATAN: Kisah ini hanyalah kisah fiktif yang tidak ada hubungannya dengan dunia nyata. Tidak ada maksud menyinggung atau menyebar SARA. Jika ada kesamaan nama, tokoh, ras/suku, adat istiadat atau kepercayaan, maka itu hanya kebetulan semata. Kisah ini murni muncul dari hasil imajinasi. Harap bijak dalam membaca dan anggap hanya hiburan semata. Ambil hikmah dari sisi positifnya dan abaikan sisi negatifnya. Terimakasih atas pengertian dan dukungannya all …


****


Nana dibuat bingung oleh aksi Refald yang tiba-tiba saja pergi meninggalkannya begitu saja bahkan disaat ia belum mengatakan apa-apa. Sedangkan Eric, langsung diberitahu warga desa lain yang datang bersama Nana kalau Nina, putri kepala desa mereka telah diculik kunti merah dan sekarang dibawa pergi ke suatu tempat dimana hanya khusus makhluk ghaib saja yang bisa menembus tempat itu, kecuali Refald tentunya.


Pemuda tampan dengan gelar pangeran dedemit dari dunia lain, memang sudah mendapat laporan terlebih dulu dari pasukan dedemitnya. Ia tak perlu penjelasan lagi dari Nana. Makanya Refald bergegas lari lebih dulu untuk menyelamatkan Nina sebelum semuanya terlambat. Tanpa sepengetahuan penduduk desa dan juga Nana, Ericpun dibawa pergi salah satu pasukan Refald secara misterius atas perintah dari Refald sendiri. Dengan kata lain, Eric tiba-tiba saja menghilang dari gerombolan Nana dan tidak ada satupun yang menyadarinya.


Gerombolan itu baru sadar kalau Eric tidak ada diantara mereka setelah semuanya sampai di depan rumah pak Diki selaku kepala desa. Kejadian hilangnya Nina membuat gempar warga desa, ditambah sekarang Eric turut hilang juga secara misterius. Mereka semua langsung heri alias heboh sendiri dengan kejadian aneh yang menimpa mereka secara beruntun akhir-akhir ini.


Dimulai dari meningalnaya Asrok, terror kuyang dan kunti, dan yang terakhir hilangnya Nina serta pemuda asing diwaktu hampir bersamaan. Semua penduduk desa jadi merasa was-was sendiri. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang tidak berani pulang ke rumah masing-masing.


“Bagaimana ini pak Diki, kami takut ada di rumah kalau seperti ini terus,” ujar salah satu warga yang paling dekat dengan pak Diki.


“Saat ini desa kita memang sedang dalam musibah, terutama dalam hal mistis diluar kuasa kita. Dan ini merupakan bentuk kelalaian saya karena tidak bisa menjaga kalian dengan baik. Sekarang kita semua harus berkumpul di rumah pak Thohir, yang istrinya sedang hamil muda agar kuyang tak lagi datang ke rumah mereka. Bawa garam sebanyak-banyaknya, tusukkan bawang merah dan bawang putih jantan di sapu lidi lalu kita pergi ke sana sebelum kuyang datang lagi.”

__ADS_1


Tahu kalau ini adalah bagian dari rencana Refald, pak Diki berusaha menenangkan semua warganya. Ia juga memberitahu bahwa pemuda tampan yang datang ke desa mereka ini sedang berusaha keras membantu semuanya agar desa ini kembali tenang dan aman entah bagaimanapun caranya. Syukurlah masyarakat desa setempat sangat memercayai pak Diki dan mereka semua melakukan apa yang diminta kepala desa mereka. Semua warga juga dihimbau agar selalu siap sedia bila sewaktu-waktu Refald ataupun Eric membutuhkan bantuan dari mereka.


Sementara itu, Refald dan Eric kini sedang berada di batas antara dunia lain dan dunia nyata. Tepat di hadapan Refald, ada sebuah lubang hitam dimana lubang tersebut merupakan jalan menuju dimensi lain. Sebelum masuk ke dalam lubang hitam itu, Refald memejamkan mata untuk mengatur strategi agar ia bisa keluar dari lubang ini dalam keadaan hidup dan menyelamatkan semuanya.


“Brays! Ada apa ini? Kenapa kau bawa aku kemari?” tanya Eric setelah ia tiba bersama dengan si tampan mas Gen. Melihat ada dimana mereka sekarang, Eric langsung ciut dan ketakutan bahkan kakinya langsung gemetar.


“Sekarang, inilah saatnya kau menebus kesalahan kakek buyutmu, Brays. Apa kau sudah siap?” tanya Refald memastikan mental temannya dalam menghadapi apa yang menjadi takdirnya.


“Apa aku akan mati? Tidak bisakah diundur sampai aku menikah dan punya anak? Dengan begitu, aku bisa lega meninggalkan dunia fana ini dengan ikhlas.” Mata Eric mulai berkaca-kaca seolah takdir hidupnya yang malang harus selesai sampai di sini.


“Menyelesaikan masalah tidak harus mati, Brays. Pikirmu aku akan membiarkanmu koaps gitu aja sebelum kau jadi saksi pernikahanku dengan Fey kelak? Takdirmu akan menjadi pendampingku nanti. Berapa kali harus kukatakan kalau umur kita berdua ini sangat panajang. Hanya satu kunti tidak akan bisa membunuhmu.” Refald tersenyum simpul. Sama sekali tidak ada keraguan dalam diri seorang Refald.


Kebenaran tentang kejahatan yang dilakukan kakek buyut Eric dimasa lalu sudah membuatnya sangat shock. Ditambah, ia harus membayar mahal semua dosa itu dengan taruhan nyawa. Siapapun yang jadi Eric pasti tidak akan bisa terima semua ini dengan mudah.


"Jangan khawatir, Kunti merah itu takkan bisa menyentuhmu sedikitpun. Aku janji." Refald menjanjikan keselamatan sahabatnya sambil menatap lurus lubang hitam didepannya. Tentu saja Eric langsung terharu.

__ADS_1


Syukurlah Eric punya Refald. Manusia pilihan dengan segudang keistimewaan diluar nalar manusia dan bahkan tak dapat diterima oleh akal sehat manapun. Hal itu membuat Eric sedikit merasa lega dan optimis bahwa ia akan baik-baik saja seperti yang dikatakan Refald padanya. Siap tidak siap, Eric harus siap.


“Siapkan bunga 7 rupa ditanganmu, dan lakukan apa yang sudah kukatakan padamu sebelumnya.” Untuk kesekian kalinya, Refald memberikan komandonya tentang apa yang harus Eric lakukan sekarang.


Eric menurut dan mengeluarkan bunga 7 rupa di tangannya. Ia duduk bersila di samping Refald sambil membawa bunga 7 rupa tersebut di kedua tangannya. Eric mulai memejamkan mata untuk memusatkan konsentrasinya. Setelah itu, ia mengucapkan kata sandi sama seperti yang pernah diucapkan Refald di pemakaman saat tunangan Fey mengunci semua hantu yang ada di desa angker agar kembali ke alam mereka masing-masing.


Hal serupa juga diucapkan Eric, bedanya ia harus terus mengucapkannya tanpa henti sampai Refald berhasil mengalahkan kunti merah. Refald juga tak berdiam diri, ia menabur garam di sekeliling Eric tempat ia bersila seolah sedang bersemedi atau bertapa demi mensucikan diri. Tak lupa, Refald juga menabur bunga 7 rupa yang tersisa di atas taburan garam yang sudah lebih dulu Refald lakukan.


Persiapan ritual penebusan dosa atas kesalahan kakek buyut Eric dimasa lalu sudah dilakukan sebaik mungkin. Kalau orang biasa, mungkin tidak akan sanggup. Berhubung ini dibawah kendali Refald, tidak ada yang tidak mungkin baginya di dunia ini. Sekarang, tinggal menyelamatkan Nina dari cengkeraman kunti merah.


“Kalian semua jaga Eric, jangan biarkan makhluk astral manapun mendekatinya,” perintah Refald pada seluruh pasukannya yang memang siap menunggu perintah.


“Siap Pangeran. Tapi, bagaimana dengan Anda?” tanya mas Ger yang sangat mengkhawatirkan Refald. Sebab, kunti merah itu tidak mudah dikalahkan.


“Aku dan pak Po akan masuk ke dalam, kalian harus tetap ada di sini sampai kami kembali. Kalian tahu sendiri akibatnya bila melanggar perintahku,” tegas Refald dan pasukannya langsung mengiyakan dengan kompak layaknya prajurit perang yang baru saja mendapat mandat dari panglimanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


***


__ADS_2