Teror Di Desa Angker

Teror Di Desa Angker
BAB 91 Kabut Tebal


__ADS_3

Untuk sementara ini, kehidupan Refald dan Fey bisa dikatakan kembali tenang. Di masa kehamilan Fey yang pertama, Refald menjadi suami siap siaga yang menjaga dan melindungi istri tercintanya. Refald juga lebih protektif dari biasanya dan benar-benar menjaga Fey luar dalam.


Sebagai istri dari raja dedemit, tentu kehamilan Fey tidak sama seperti kehamilan manusia biasa pada umumnya. Pasti ada saja bahaya yang mengancam dan sudah menjadi tugas Refald untuk menghindarkan Fey dari bahaya-bahaya tersebut bagaimanapun sikonnya.


Sementara ini, Fey dan Refald tinggal di Swiss. Fey sangat menyukai tempat itu sehingga ia ingin menikmati masa kehamilannya di salah satu negara paling indah di dunia. Hari-hari pasangan sejoli itu berlangsung seperti kehidupan suami istri pada umumnya. Harmonis dan sangat bahagia. Apalagi keluarga mereka akan semakin lengkap dengan kehadiran buah cinta Fey dan Refald.


"Hari ini sangat cerah, aku mau jalan-jalan keliling sekitar. Apa tidak apa-apa jika kau di rumah sendirian?" tanya Fey pada Refald yang sedang sibuk dengan cetak birunya.


Sepertinya, raja demit itu bermaksud membangun sesuatu yang spektakuler. Tidak biasnya Refald seserius itu ketika mengerjakan sesuatu. Sejak tadi ia sangat fokus dan terus saja mengamati cetak biru yang baru saja ia selesaikan.


"Aku akan menemanimu, Honey. Tunggulah sebentar," ujar Refald masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Suamiku Refald, lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku bisa minta mbak Kun dan pak Po menemaniku. Kau bisa menyusulku jika sudah selesai. Jika aku menunggumu, keburu malam." Fey tak ingin Refald memaksakan diri menemaninya di kala suami tercintanya itu sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Ya sudah, bawa seluruh pasukanku untuk mengawalmu Honey. Jangan hanya pak Po dan mbak Kun saja. Aku akan menemuimu lagi setelah ini selesai. Jangan terlalu jauh jalan-jalannya. Dan jangan terlalu lelah." Refald melesat cepat mencium wajah Fey secara dadakan. Untungnya, Fey sudah terbiasa dengan sikap sweet suaminya sehingga ia tak kaget lagi.


"Ehm, aku hanya akan jalan-jalan di sekitar daerah sini saja. Aku pergi." Fey mengecup pelan pipi suaminya dan berlalu pergi keluar mansionnya diikuti oleh seluruh pasukan demit Refald.


***


Sebenarnya, Fey sengaja menggunakan kesempatan ini agar bisa leluasa berbicara dengan pak Po dan mbak Kun tanpa harus diawasi oleh Refald. Sejak insiden Ratu Badaharui beberapa waktu silam, Refald tak pernah meninggalkan Fey sendirian. Bahkan seolah ia dijauhkan dari hal-hal yang berhubungan dengan dunia perdemitan Refald. Padahal, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin Fey ajukan pada pak Po selaku makhluk paling lama yang ada di dunia ini.

__ADS_1


Untungnya, sekarang ia punya kesempatan itu. Seluruh pasukan demit Refald sedang bersama Fey tanpa Refald. Tentu saja Fey tak mau membuang-buang kesempatan emas ini.


"Pak Po ... menurutmu ... siapakah sosok yang bisa mengalahkan ratu Badaharui?" tanya Fey pada salah satu pasukan demit kepercayaan Refald saat ia sedang berjalan santai di tepi danau Sirgiswil.


"Bukankah ... Raja sudah menjelaskannya pada Anda Ratu? Kenapa Anda bertanya pada saya?"


"Aku hanya penasaran pak Po, Refald bilang, sosok itu akan lahir 20 tahun lagi dari sekarang tepat pada malam bulan merah. Apakah sosok tersebut masih satu keluarga dengan kami atau tidak. Itu saja yang ingin aku tahu."


Hati Fey benar-benar galau. Meski jiwa-jiwa yang dulu ditolongnya sudah kembali ke alamnya, tetap saja ia merasa tidak tenang selagi iblis siluman ular itu masih ada di dunia fana ini.


Ditambah lagi, Refald terikat dengan perjanjian di mana suaminya itu tak bisa membunuh sang siluman ular. Sekarang memang aman, karena Refald sudah menjauhkan iblis jahat itu dari jangkauan manusia. Tapi ini hanya sementara. Siluman ular itu bisa saja datang dan kembali kapan saja.


Pas banget sih kalau dinyanyikan, tapi kok bisa-bisanya si poci oneng itu malah nyanyi nggak jelas begitu. Apalagi situasinya tidak mendukung sama sekali untuk berkaraoke ria.


"Siapa yang bilang kalau kau itu Dewa pak Po," sengal Fey karena kesal dengan pak Po yang malah mengajak bernyanyi ria. "Aku bertanya padamu, karena kaulah yang paling lama ada di dunia ini, bahkan jauh sebelum aku dan Refald dilahirkan. Paling tidak, kau tahu apa yang terjadi masa lalu, kenapa siluman ular itu bisa jadi ratu di di dunia manusia. Bahkan tak sedikit, orang desa yang memujanya? Tidakkah itu aneh?"


"Ratu ... Anda adalah manusia istimewa yang terpilih sebagai ratu dedemit di dunia lain. Istri dari seorang raja Refald paling ditakuti oleh iblis lain. Tentu saja dia menginginkan Anda karena darah yang mengalir dalam tubuh Anda sebagai salah satu keturunan putri di zaman kerajaan sangat cocok sebagai pengganti siluman ular itu," terang pak Po.


Fey mulai memahami sedikit makna dari ucapan pak Po. Tumben dia pintar sekarang, tidak oneng seperti biasanya.


Tiba-tiba saja ... terdengar suara jeritan wanita dari rumah pojokan dekat air terjun bukit Sirgiswil. Tentu saja Fey kaget karena suara jeritan tersebut bukan suara jeritan minta tolong, melainkan suara jeritan setan yang sedang meraung-raung karena minta dilepaskan.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Fey bergegas pergi ke tempat suara itu berasal untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Tunggu Ratu, biar saya sendiri yang periksa. Tunggulah di sini sampai Raja datang." Pak Po mencegah langkah Fey dangan menwarkan diri untuk menggantikan Fey mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Ya sudah, hati-hatilah pak Po. aku merasakan hawa jahat di dalam sana."


"Tenanglah Putri, kami semua akan melindungi Anda, sebentar lagi Raja datang. Mari kita cari tempat aman," ajak mbak Kun dan seluruh pasukan Relafd membentuk barisan melingkar untuk melindungi ratu mereka kalau-kalau ada bahaya yang mengancam.


Mendadak, suasana di tepi danau sangat sepi dan sunyi seolah lama tak berpenghuni. Kabut tebal mulai menyelimuti area sekitar Fey berdiri sampai ia tak bisa melihat apa-apa. Ia bahkan tak bisa melihat para pasukan Refald padahal sebelumnya mereka semua ada di depan Fey.


"Mbak Kun, Mas Gen, Mas Ger! Kalian dengar aku? Kalian di mana? Kenapa aku tidak bisa melihat kalian?" teriak Fey tapi tidak ada sahutan.


Tentu saja Fey bingung, apalagi tiba-tiba saja sebuah tangan menarik tubuhnya tanpa izin sehingga keseimbangan tubuh Fey oleng dan hampir saja jatuh kalau saja ia tak segera ditangkap oleh seseorang.


"Siapa kau? Lepaskan aku!" teriak Fey memberontak dari pelukan orang yang memeluknya dari belakang.


Namun mulutnya malah dibekap erat oleh orang tersebut. "Sssst, pelankan suaramu Honey, ini aku ... suamimu. Rileks dan tenanglah," bisik Refald mesra sehingga Fey berhenti bergerak.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2